NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Kesempatan dalam kesempitan

 "Aku berusaha untuk membuatnya jatuh cinta lagi"

-- Devan Alaric Wijaya

"Wih.. Bunda masih pengen sate lagi. Kamu beli dimana, Nak?" Bunda tampak sibuk dengan sate yang dibeli Hanum tadi.

"Besok-besok kalau kita ke pantai kita beli lagi ya," kata Bunda pada Hanum.

"Iya Bun, aman kalau itu mah," ucap Hanum sambil tersenyum. "Hanum izin ke kamar ya, Bun."

Bunda mengangguk.

"Kamu tadi ketemu sama dia, ya?" Bunda bertanya pada Devan. "Lah kok kayak gak semangat gitu anak Bunda ini. Ada sesuatu kah?"

Devan pun menceritakan sekilas tentang ucapan Hanum tadi.

"Sudah jangan dibawa pusing kalau cuman itu doang mah. Bunda bisa kok ngebujuk Hanum. Kamu berusaha saja di setiap kesempatan nanti," Bunda menenangkan Devan. Lalu pria itu pergi masuk ke kamarnya.

Bunda menggelengkan kepalanya. Mengurus dua muda mudi seperti mereka memang cukup rumit.

Keesokan paginya, Hanum telah bersiap untuk berangkat ke kantornya. Seperti biasa, dia membantu Bi Inah terlebih dulu untuk menyiapkan sarapan.

"Bun, Hanum duluan dulu ya," segera dia mencium tangan Bunda.

"Eh? Kok kamu pergi sendiri? Barengan Devan aja sana," kata Bunda menyuruh Devan untuk mengantarkan Hanum sekalian.

"Gapapa, Bun. Devan katanya ada meeting pagi ini. Iya kan?" Hanum mengedipkan matanya sekilas tanda dia harus berakting.

Bunda menatap pada Devan. Sementara itu, Devan tersenyum tipis. "Nggak kok, Bun."

Hanum menatap tajam, kenapa??

"Masak sih, Van? Bukannya kemarin kamu bilang mau ada meeting ya jam tujuh ini?" Hanum sekali lagi pura-pura bertanya.

"Gak ada kok, Num. Ya udah kami berangkat dulu ya, Bun," kata Devan mencium tangan bundanya. Sedangkan Bunda tampak keheranan menatap kedua orang itu.

"Assalamualaikum "

"Waalaikumsalam..,"

"Kamu tuh gimana sih, Van? Iya in aja kek tadi," ucap Hanum menggerutui Devan. Sementara itu, diam-diam Devan tertawa karena polah tingkah laku perempuan yang kini duduk di sampingnya itu.

"Biar kamu hemat, gimana mau ganti duit kemarin kalo kamu sering ngojek?" balas Devan lagi dengan alasan yang cukup logis untuk Hanum.

"Iya sih.., tapi.. Ah sudahlah!" Hanum memilih untuk diam karena tidak dapat memungkiri pernyataan Devan barusan.

"Aku tuh cuma segan aja sama kamu, masak tiap hari dianterin melulu," kata Hanum.

"Van??" Hanum memastikan pria itu mendengarnya sebab tak ada reaksi apa pun dari Devan.

"Kamu tuh dengerin gak sih? Mau aku jewer?" kata Hanum.

Devan pura-pura diam lagi. Seolah-olah tidak mendengarkan. Hingga akhirnya Hanum menjewer telinganya sampai merah.

"Aduh ampun ampun!!! Iya deh iyaa aku dengerin kok." Devan memegangi telinga kirinya yang panas. Sementara tangannya sibuk mengemudikan mobil.

"Lagian sih, pagi ini kamu nyebelin tau??"

Pertama kalinya Devan menyaksikan tingkah Hanum yang persis sama seperti saat mereka masih SMA.

"Kamu nya kali yang lagi sebal sendiri," celetuk Devan.

Hanum pun mencubit lengan pria itu. Yang dicubit menjerit.

"Haha, iya deh iyaa. Aku salah!" kata Devan sambil tertawa. "Udahan deh marahnya, ntar aku gak fokus nyetir lagi," kata Devan.

"Ya udah, aku turun aja!" Hanum hendak membuka pintu mobil, tetapi pintu itu sudah terkunci.

"Ada-ada aja sih kamu, mau turun di tengah jalan raya gini?"

Hanum terdiam tidak menjawab. Dia pun akhirnya tersipu malu. Lupa akan batasan yang seharusnya dia jaga, sebab usianya tak lagi sama seperti dulu.

"Makasih," ucap Hanum langsung pergi meninggalkan Devan.

Devan tersenyum. Mengingat ucapan bundanya tentang "kesempatan" kemarin.

"Pagi, Mbak Hanum!! How are you today?" sapa Nunung saat Hanum memasuki butik.

"Haloo, hehe tumben nih pagi-pagi udah nyampe," kata Hanum.

"Iya dong, Mbak. Saya kan karyawan top di butik ini, ya kan Bu Del?" ucap Nunung pada Dela yang sedang memeriksa barang satu persatu.

"Haha, iya iya. Nih kalian sarapan dulu ya, sudah aku bawa ini," Dela memberikan beberapa kotak bubur ayam yang menggugah selera.

"Wah.., makasih banyak Ibuuu!!! Sehat selalu, hidup damai aman nyaman, ya Buu!" Dengan cepat Nunung mengambil kotak itu dan menyantap nya langsung.

"Hanum? Ayo buruan diambil," kata Dela menyuruh Hanum untuk mengambilnya.

"Makasih ya, Kak."

Hanum tidak menduga kalau mereka bakalan seramah ini. Dalam hati dia merasa bersyukur atas apa yang telah ia dapatkan.

"Ntar habis ini kamu ikut ke ruangan saya ya, Hanum." Dela membawa beberapa kardus ke ruangannya. Salah satu karyawan hendak menawarkan bantuannya, tetapi Dela menyuruhnya untuk sarapan terlebih dahulu saja.

"Baik, kak," kata Hanum lagi. Rasanya dia masih canggung untuk memanggil Dela sebagai kakak.

Setelah menyelesaikan sarapannya, Hanum segera pergi menuju ruangan Dela. Disana dia melihat Dela sedang membuka barang berupa setelah baju dan beberapa gaun yang terlihat hendak dipaketkan.

"Eh, ini mau dikirim ya kak?" tanya Hanum lagi.

"Iya, coba kamu tebak siapa yang mesan?"

"Hm.., siapa ya?" Hanum tak bisa menebaknya.

"Vanya."

Hanum mengangguk. "Oh.., lah kok dia mesan?"

Kemudian Dela menggeleng. "Sebenarnya bukan dia yang mesan, Hanum. Tapi aku yang minta beberapa barang yang perlu di stok ulang. Cuma coba kamu lihat, barangnya buruk sekali." Dela menunjukkan bagian yang robek, kusam, bahkan ada coretan atau kotoran yang menempel.

Hanum tak habis pikir melihatnya.

"Berarti saat ini Vanya yang mengelola butik kamu?" tanya Dela lagi.

"Sepertinya iya, Kak. Soalnya waktu itu Mas Bram bilang ke aku kalau butik itu dia kasih untuk Vanya. Maaf ya kak kalau barang dari butik itu sekarang jadi seperti ini," kata Hanum.

"Eh jangan kayak gitu dong. Kok malah kamu yang minta maaf? Harusnya mereka lah yang minta maaf ke kamu. Sebenarnya aku cuma mau nunjukin ini aja. Aku harap suatu hari nanti butik itu kembali lagi ke tangan kamu ya, Hanum," kata Dela lagi.

Hanum hanya tersenyum tipis. "Semoga saja lah, Kak. Aku juga masih ingin mengelola butik itu, karena itu hasil usaha aku sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, mereka sudah curangin aku," kata Hanum.

"Setidaknya kamu sudah dapat pembelajaran nya, bukan?" Dela mencari sisi positifnya.

Hanum mengangguk.

"Tapi Hanum, yakin deh. Setiap masalah ada solusiny. Di situasi kamu aku yakin, kamu bakalan ada kesempatan untuk meraihnya lagi. Inget aja, dalam kesempitan ada kesempatan," kata Dela lagi.

Hanum tersenyum lebar.

"Eh, aku terlalu formal ya?" Dela tiba-tiba bingung.

"Haha nggak kok, Kak."

Hanum jadi tertawa sendiri sebab baru kali ini dia melihat atasan dan bawahan di kantor se akrab ini.

"Kamu jangan kaget kalau kami pada deket, soalnya ya aku rekrut mereka juga buat jadi temen hehe, pandai-pandai kita aja," katanya lagi. "Kamu juga harus pandai-pandai memilih orang ya, apalagi kalau ada yang ngelamar kamu," lanjutnya.

"Haha iya kak, amann"

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!