NovelToon NovelToon
Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Keluarga & Kasih Sayang / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:276
Nilai: 5
Nama Author: Rootea

Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!

Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.

Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....

Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.

Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31 - Normalitas

Setelah pernikahan suci dilangsungkan, kehidupan berjalan seperti semula. Hari-hari yang tenang mengisi istana Astryion. Entah bagaimana mekanismenya bekerja, kabarnya kasus miasma berhasil ditangani.

Berkah kekuatan naga kembali menaungi Kaelros, orang-orang berkata.

Sihir milik Althea bekerja dengan sempurna berkat penyatuan sakral dengan putra mahkota.

Kekuatan protagonis, kalau aku boleh bilang. Plot armor memang tidak selalu bisa dijelaskan, tapi paling ampuh untuk menyelesaikan apapun.

Aku menguap dan menggeliat dari posisi tidurku. Seekor kupu-kupu yang sejak tadi bertengger di atas kepalaku pun terusik. Dia terbang dan memilih hinggap di atas dandelion.

Cuaca sudah menghangat. Bunga warna-warni sudah kembali menghiasi Kaelros. Matahari yang sedikit tersembunyi di balik awan putih ini sungguh cuaca yang sempurna untuk tidur siang.

Kehidupan kembali normal.

Dan aku tidak tahu harus melakukan apa.

Rasanya tidak ada motivasi untuk melakukan apapun.

Tidak ada hal yang menarik untuk dilakukan.

Juga, tidak tahu kenapa hatiku tidak tenang. Keresahan yang menyebabkan aku tidak bisa menikmati aktivitas apapun. Mengingatkanku pada kenangan buruk, seperti setiap tiap kali aku mengambil cuti, namun tidak bisa menikmatinya karena merasa dikejar deadline.

Sungguh menyebalkan.

...*...

...*...

...*...

Sudah dua tahun di sini, kupikir seluruh istana Astryion sudah aku jelajahi. Rupanya aku salah.

Tempat ini memiliki banyak area tersembunyi. Seperti ruang rahasia di labirin bersama Caelian waktu lalu. Juga gua misterius di belakang singgasana. Lalu sekarang,

Aku terperosok ke dalam lubang di antara semak di bawah pohon ek besar di sudut belakang istana. Setahuku ini adalah area paling ujung. Tempat yang sedikit terbengkalai. Air danau di dekat situ bahkan dipenuhi ganggang dan lumut seperti tidak ada yang membersihkan.

Aku tidak sengaja kemari gara-gara mengejar seekor kupu-kupu. Mungkin, seharusnya, setelah insiden aneh di ruang singgasana itu aku lebih berhati-hati. Tapi, apa daya. Semakin lama, godaan untuk mengejar stimuli semacam itu semakin sulit ditolak.

Mulanya kupikir ini hanya lubang perangkap biasa. Mungkin seorang pelayan pernah membuatnya untuk menangkap musang atau hewan penyusup lain yang menyelinap ke istana. Tapi, ternyata lubang itu adalah terowongan kecil, seperti lubang kelinci yang menghubungkan tempat berbeda.

Lubang itu tidak seberapa besar, hanya cukup dilewati hewan kecil seukuranku. Ujung lain lubang itu membawaku ke sebuah pekarangan. Bukan pinggir hutan di luar istana seperti yang aku kira, melainkan pekarangan dengan tata letak yang senada dengan sisi istana Astryion lainnya. Seolah-olah tempat ini memang bagian dari istana.

Di hadapanku ada sebuah bangunan. Tidak seberapa besar dan tampak terdiri dari dua lantai. Yang menarik perhatian adalah sepasang pilar naga di depan pintunya. Sudah ratusan bahkan ribuan kali melihat, aku yakin naga itu berbeda dengan yang ada di gerbang depan istana, ataupun yang ada di atas singgasana. Aneh sekali memang aku mengatakan ini, seolah aku bisa mengenali naga-naga yang hanya berupa patung itu.

Bangunan itu dipenuhi jendela, tapi tak sedikitpun bisa melihat ke dalam.

Adalah keuntungan tubuhku kecil dan lentur, aku berhasil menyelinap lewat lubang ventilasi. Begitu masuk, aku langsung mengenali tempat itu sebagai sebuah perpustakaan. Lebih tepatnya, perpustakaan yang sangat tua, dipenuhi rak tinggi dengan buku-buku yang sama tuanya. Meski tampak terdiri dari dua lantai, bangunan itu rupanya hanya satu lantai, membuat langit-langitnya jadi begitu tinggi dengan palang kayu melintang sebagai penopang.

Di salah satu sudut ruangan terdapat sebuah meja. Mungkin meja penjaga perpustakaan. Ada sebuah pintu di belakang meja itu. Dugaanku, itu adalah ruang istirahat si penjaga, di mana mungkin saat ini dia berada, karena aku tidak melihat siapa-siapa di sekitar sini.

Di tengah ruangan terdapat sebuah meja batu besar. Begitu mendekat, rupanya itu bukan meja biasa, tapi berisi peta. Sepertinya peta Kaelros dengan negara-negara perbatasannya.

Peta itu memenuhi seisi meja, seolah dibuat tepat di atasnya, dalam bentuk tiga dimensi yang merepresentasikan topografi wilayah.

Dengan mudah aku menemukan Solmara di selatan. Aku menyusuri peta itu, merasakan teksturnya di bawah telapak kaki. Wilayah benteng Amatsurugi di timur Kaelros rupanya tidak seberapa jauh dari Solmara.

Sementara itu, Varkath, negeri misterius di mana Raien berada saat ini, berada jauh di utara. Ia terhalang pegunungan tinggi dan terjal. Kepergiannya ke sana, baru aku sadari, memang terasa seperti pembuangan. Isolasi.

Area barat adalah wilayah yang dikata paling berbahaya di Kaelros. Hutan Selubung Maut, kabarnya, membuat jalur menuju dan dari Kaelros di arah sana tidak bisa diakses siapapun. Seperti segitiga bermuda yang selalu menelan jiwa. Kini tak seorang pun berani mendekat.

Aku menatap wilayah peta itu cukup lama. Hanya ada hutan pekat yang digambarkan di peta. Entah apa saja yang ada di sana.

Mungkinkah benar bahwa Hutan Selubung Maut itu adalah portal menuju dunia lain?

Tanpa suara, aku melompat turun dari atas meja. Berjalan lebih jauh ke dalam, aku melihat sebuah taman. Taman di dalam ruangan! Dipenuhi bunga-bunga cantik beragam warna dan kupu-kupu bersayap perak yang terbang ke sana kemari.

Ternyata ini adalah markas kupu-kupu perak yang aku kejar tadi!

Sebelum sadar, aku sudah melompat-lompat mengejar mereka.

Satu ekor kupu-kupu terbang begitu tinggi dan aku mengejarnya sampai memanjat kolom kayu. Aku melompat di antara palang di langit-langit, hampir saja menangkapnya.

“Xerxes? Apa itu kau?”

Tubuhku membeku mendengar suara itu.

Seorang pria. Suaranya tenang seperti hujan yang lembut di sore hari, sedikit parau penanda usia senja. Aku berusaha diam tak bergerak sedikitpun, berharap pria itu tidak akan mendongak dan melihatku.

“Master.”

Rupanya ada seorang lain yang datang, dan pada orang itulah pria tadi berbicara.

Perlahan aku bersembunyi di bawah bayangan dan melongok ke bawah. Benar saja, ada dua orang yang kini berdiri tak jauh dari meja batu. Satu orang pria dengan rambut sepenuhnya putih, sedikit bungkuk dan memegang tongkat bantuan untuk berjalan. Seorang lain lebih muda—sepertinya sih lebih muda bila menilik suara dan gerak-geriknya. Ia berpakaian serba hitam, memakai tudung kepala dan penutup wajah. Satu-satunya yang terlihat dari wajahnya hanya matanya. Penampilannya mengingatkanku pada seorang ninja—kalau saja ada pedang di punggungnya.

“Apa Yang Mulia mengirimmu?”

Pria tua berambut putih tadi kembali bertanya.

“Ada yang harus kuperiksa di hutan Karne.”

“Ah. Kalau begitu, kau membutuhkan ini.”

Pria tua tadi bergerak ke arah meja kerjanya, mengambil sesuatu dari salah satu laci, lalu menyerahkannya pada si pemuda.

Aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang diberikan. Arah pandangku terhalang oleh palang kayu.

Kepalaku terjulur, ingin melihat lebih jelas. Sempat aku berpikir untuk melompat ke palang kayu lain, mencari posisi yang bisa lebih memberi akses.

Tapi, hal itu tidak pernah terlaksana.

Sebelum aku sadar, tiba-tiba seseorang ada di belakangku.

Pemuda berpakaian hitam itu!

Hanya dalam sepersekian detik, iq telah berpindah tempat. Bukan saja menyadari keberadaanku, tapi—dia—dia!

Bagaimana dia bisa naik ke atas sini secepat itu!!??

Dia mengangkat tubuhku dengan cara menjepit tengkuk. Susah payah aku memberontak dan berusaha mencakar tangannya.

Usaha sia-sia.

“Kucing nakal. Bagaimana caramu masuk kemari?”

Sambil berkata begitu, pemuda itu membawaku keluar—ralat, menjepit tubuhku dan menjinjingnya seperti kantung keresek—lantas melemparku begitu saja.

Ia melemparku begitu kuat, tahu-tahu aku tersangkut di antara dahan pohon ek.

Aku menggeram dan mendesis, tidak terima dengan perlakuan tidak sopan itu!

Awas saja! Aku akan mencakar wajahnya!

Ketika membalik tubuh, hendak kembali melompat ke pekarangan di mana perpustakaan itu berada, aku tertegun. Dari atas pohon ek besar ini, seharusnya pekarangan itu akan terlihat dengan mudah. Harusnya aku bisa melompat dari sana ke sisi lain tembok.

Akan tetapi, aku tidak melihat apa-apa.

Yang ada hanyalah pinggiran hutan di luar istana.

Bagaimanapun, aku tetap mencoba melompat melewati benteng—dan berakhir berada di jalanan berbatu di luar Astryion.

Aku mencoba memasuki lagi lubang kelinci di antara semak, tapi kali ini lubang itu hanya lubang biasa. Buntu. Tidak membawaku ke mana-mana.

Apa-apaan??

Ke mana perginya tempat tadi?

Kenapa aku jadi tidak bisa ke sana??

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!