Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.
Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.
Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Tamu Dari Masa Lalu
Bel istirahat kedua berbunyi dengan nyaring, memecah konsentrasi murid-murid XI MIPA 1 yang baru saja bergelut dengan rumus Fisika yang rumit. Seperti biasa, suasana kelas langsung berubah riuh. Sarah sudah bersiap menarik lengan Cinta untuk menuju kantin, namun Cinta menahan tangannya.
"Sar, kamu duluan saja ya sama yang lain," ucap Cinta pelan.
Sarah mengerutkan kening, matanya melirik ke arah Rian yang sedang merapikan bukunya di sebelah Cinta. Sebuah senyum jahil langsung tersungging di bibir Sarah. "Oh, mengerti. Mau ada sesi balas budi ya? Oke, oke. Aku tidak mau jadi obat nyamuk di antara kalian. Yuk, Gas! Kita duluan!"
Setelah Sarah dan teman-temannya menghilang di balik pintu, Cinta menoleh ke arah Rian. Cowok itu tampak sedikit letih, sisa-sisa jemuran matahari pagi tadi masih terlihat dari wajahnya yang agak memerah.
"Rian, ayo ke kantin. Aku yang traktir hari ini," ajak Cinta dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Rian menaikkan sebelah alisnya. "Traktir? Dalam rangka apa? Merayakan kemenanganku melawan terik matahari?"
"Dalam rangka permintaan maaf dan terima kasih karena kamu sudah meminjamkan sabukmu," jawab Cinta sambil berdiri.
"Ayo, jangan protes. Ini perintah dari Bu Sekretaris."
Rian tertawa kecil, suara rendah yang selalu berhasil membuat jantung Cinta berdebar. "Baiklah, kalau itu perintah, aku tidak punya pilihan lain."
Kantin sekolah sedang berada di puncak keramaiannya. Asap dari gerobak bakso dan aroma nasi goreng memenuhi udara. Namun, Cinta memilih meja di pojok yang agak jauh dari kerumunan agar mereka bisa mengobrol dengan lebih tenang.
"Mau makan apa?" tanya Cinta.
"Samakan saja denganmu," jawab Rian singkat.
Cinta memesan dua porsi mie ayam dan dua gelas es teh manis. Selama menunggu pesanan, Rian hanya duduk diam sambil memperhatikan sekeliling. Cinta menyadari sesuatu yaitu sabuk hitam milik Rian masih melingkar di pinggangnya sendiri. Ia merasa sedikit canggung, namun teringat kata-kata Rian tadi bahwa ia harus memakainya sampai pulang agar aman dari razia.
"Rian, apa kakimu tidak pegal?" tanya Cinta khawatir.
"Hanya berdiri satu jam, Cinta. Di tempat latihanku dulu, hukumannya bisa jauh lebih berat dari ini," jawab Rian santai.
Ia menopang dagunya dengan tangan, menatap Cinta dengan intens. "Justru aku yang khawatir padamu. Kamu terlihat sangat tertekan selama upacara tadi."
Cinta mendengus pelan. "Bagaimana tidak tertekan? Aku merasa jadi orang paling jahat karena membiarkan temanku sendiri dihukum atas kesalahanku."
"Kamu bukan orang jahat. Kamu hanya sedang tidak teliti, dan kebetulan aku punya solusinya," Rian mengambil gelas es teh yang baru saja diantarkan penjual. "Lagipula, melihatmu tidak jadi berdiri di depan tiang bendera itu sudah cukup bagiku."
Mereka makan dalam suasana yang hangat. Percakapan mengalir tentang banyak hal, mulai dari tugas sekolah hingga draf novel Cinta. Rian sesekali memberikan masukan tentang karakter laki-laki dalam novel Cinta yang menurutnya terlalu sempurna.
"Laki-laki itu harus punya celah, Cinta. Kalau dia terlalu sempurna, dia jadi tidak nyata. Manusia itu menarik karena kekurangannya," ucap Rian filosofis.
Cinta terdiam, menatap Rian. "Seperti kamu?" batinnya.
Rian punya banyak celah, dia dingin, terkadang ketus, dan punya masa lalu yang rumit. Tapi justru celah-celah itulah yang membuat Cinta ingin terus mencari tahu lebih dalam.
...****************...
Waktu berlalu cepat hingga bel pulang sekolah berbunyi. Sesuai janji, Cinta mengembalikan sabuk Rian di kelas yang sudah sepi. Saat mereka berjalan menuju parkiran, Rian menoleh ke arahnya.
"Pulang denganku?" ajak Rian. "Tidak ada penolakan, arah rumah kita sama dan aku ingin memastikan kamu sampai di rumah dengan selamat."
Cinta tersenyum lebar. "Baiklah, karena hari ini kamu sudah jadi pahlawan sabuk, aku ikut."
Rian mengeluarkan motor besar hitamnya. Cinta naik ke kursi penumpang, mencengkeram sisi jaket denim Rian seperti biasanya. Namun, saat motor itu baru saja mulai bergerak perlahan menuju gerbang sekolah yang masih dipadati murid, sebuah suara melengking memecah kebisingan.
"RIAN!"
Suara itu terdengar sangat keras dan penuh penekanan. Rian mendadak menginjak rem dengan spontan, membuat motornya berhenti mendadak. Cinta nyaris menabrak punggung Rian karena kaget.
Dari arah gerbang, seorang gadis berlari dengan tergesa-gesa. Gadis itu tidak memakai seragam SMA 1 Nusa Bangsa. Ia mengenakan gaun selutut berwarna putih dengan tas branded yang tersampir di bahunya. Rambutnya panjang kecokelatan, wajahnya dipoles makeup yang tampak mahal namun saat ini terlihat berantakan karena keringat dan air mata yang menggenang.
Cinta membeku. Ia mengenali wajah itu dari ingatan samar di layar ponsel Rian kemarin.
"Rian... akhirnya aku menemukanmu," ucap gadis itu terengah-engah saat sudah sampai di depan motor Rian.
Wajah Rian berubah pucat, lalu sedetik kemudian menjadi sangat kaku. Tangannya yang memegang stang motor tampak mencengkeram sangat kuat hingga urat-uratnya menonjol.
"Clarissa? Apa yang kamu lakukan di sini?" suara Rian terdengar dingin, lebih dingin dari biasanya.
"Aku mencarimu ke mana-mana, Rian! Aku tanya teman-temanmu di Jakarta, aku cari alamat keluargamu, sampai akhirnya aku tahu kamu pindah ke sini," gadis yang ternyata bernama Clarissa itu mulai terisak. Ia tidak memedulikan tatapan murid-murid lain yang mulai berkumpul karena penasaran.
"Kenapa kamu pergi tanpa pamit? Kenapa kamu memblokir nomorku?"
Cinta merasa detak jantungnya seolah berhenti. Ia duduk di kursi penumpang, merasa seperti orang asing yang terjepit di antara dua dunia. Ia melihat bagaimana Clarissa menatap Rian dengan tatapan yang begitu penuh kerinduan sekaligus luka. Dan ia melihat Rian... Rian tampak sangat terganggu, namun ada kilatan emosi yang sulit dijelaskan di matanya.
Cinta menyadari posisinya. Gadis ini datang jauh-jauh dari Jakarta, menyeberangi kota demi mencari Rian. Sementara dia? Dia hanyalah teman sebangku yang baru dikenal beberapa minggu.
Cinta perlahan turun dari kursi motor.
"Sepertinya kamu harus bicara dengannya dulu," ucap Cinta dengan suara setenang mungkin, meski di dalam dadanya terasa ada yang remuk.
"Dia sudah jauh-jauh datang ke sini."
"Tapi aku mau mengantarmu pulang, Cin," protes Rian, ada nada kepanikan dalam suaranya.
Cinta menggeleng pelan, ia memberikan senyum tipis yang ia paksakan. "Tidak apa-apa, aku bisa naik ojek atau angkot. Selesaikan dulu urusanmu. Dia lebih membutuhkanmu sekarang."
Clarissa menatap Cinta sejenak, tatapannya tampak bingung sekaligus waspada, namun ia kembali fokus pada Rian, memegang lengan jaket Rian dengan erat. "Tolong, Rian... sebentar saja."
Rian menatap Cinta dengan tatapan yang seolah meminta maaf, namun ia juga tidak bisa melepaskan cengkeraman Clarissa di depan umum seperti ini.
"Maaf, Cinta," bisik Rian pelan.
"Tidak apa-apa," jawab Cinta. Ia segera berbalik dan berjalan cepat menuju gerbang sekolah, meninggalkan motor hitam dan dua orang dari masa lalu itu di belakangnya.
Setiap langkah yang Cinta ambil terasa sangat berat. Ia berusaha tidak menoleh ke belakang. Di dalam hatinya, rasa kecewa itu mulai menjalar. Ia teringat penjelasan Rian kemarin tentang awal yang baru, namun hari ini masa lalu itu datang menjemput secara nyata.
"Bodoh kamu, Cinta. Kamu bukan siapa-siapanya. Kamu hanya sebatas teman di hidupnya, sementara Clarissa adalah bagian dari sejarahnya," batinnya menyalahkan diri sendiri.
Saat ia sudah berada di dalam angkot yang membawanya pulang, Cinta menatap ke luar jendela. Langit sore yang biasanya ia sukai kini tampak abu-abu di matanya.