Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Dua Sosok Yang Tak Sama Namun Sama Teguhnya
"Tidak harus sekarang pergi ke pesantren," kata Shafiya. "Jadwalmu padat. Dan kamu butuh istirahat." Ia menatap wajah itu--yang kini kian jelas perbedaannya.
Sagara tidak langsung menjawab.
Tatapannya tertahan pada Shafiya untuk beberapa saat. Seolah menimbang sesuatu yang tidak diucap.
Sagara kemudian berpaling.
Botol di tangannya ditutup kembali. Diletakkan di posisi semula.
“Tidak perlu," ujarnya singkat.
“perjalanan ini sudah dijadwal."
Dan lagi-lagi ini soal peraturan. Jadwal yang sudah ditetapkan dan tidak bisa dilanggar.
Tangannya kembali mengambil berkas.
Namun kali ini--tidak langsung dibuka.
“Saya tidak suka menunda apa yang bisa saya lakukan hari ini," ucapnya lagi. Terdengar seperti kalimat biasa.
Namun bagi Shafiya, itu bukan sekedar ungkapan biasa. Ia bahkan masih menoleh, seolah belum sepenuhnya percaya kalau itu diucapkan oleh Sagara.
Ternyata memang benar. Ia tidak salah dengar.
Kalimat yang serupa juga pernah ia dengar.
Dari orang yang berbeda.
Saat itu, dengan sengaja, Shafiya menunda salah satu tugasnya di pesantren. Ia absen tanpa alasan. Gus Ilzam tak menegur. Hanya mengiriminya sebuah pesan. kalimat berbahasa arab.
Laa tu’ajil ilal ghod. Maa yumkinuka an takmalahul yaum.
Jangan kau tunda sampai esok…
apa yang bisa kau lakukan hari ini.
Sama seperti yang diucapkan Sagara barusan.
Dan itu bukan sekedar ucapan. Itu prinsip.
Shafiya memejamkan mata sejenak.
Bukan karena lelah.
Tapi karena… kemiripan cara pandang gus Ilzam dan Sagara itu terlalu nyata untuk diabaikan.
Mereka seperti memiliki cara pandang yang sama. Padahal dalam bingkai dunia yang berbeda.
Shafiya membuka matanya perlahan.
Sagara masih di sampingnya.
Dengan berkas di tangan.
Dengan dunia yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan.
Dan di satu sisi ingatan Shafiya--ada sosok lain.
Sosok yang lebih tenang dan lebih sederhana.
Namun… sama teguhnya. Gus Ilzam.
Sagara menoleh. Tatapan mereka bertemu. Namun tak ada kata yang menerjemahkan arti tatapan.
Shafiya membanting pandangan ke luar. Ke arah jalanan.
Mobil melaju meninggalkan kepadatan kota perlahan. Gedung-gedung tinggi berganti deretan ruko, lalu menyusut menjadi rumah-rumah sederhana yang berdiri dengan halaman terbuka. Jalanan tak lagi dipenuhi suara klakson, hanya sesekali kendaraan melintas dengan ritme yang lebih tenang.
Di dalam mobil, percakapan sudah lama berhenti. Sagara kembali diam dengan berkas di tangannya, meski tak lagi benar-benar dibaca. Sementara Shafiya memandang keluar, mengikuti perubahan pemandangan yang terasa semakin akrab--seolah jarak yang ditempuh bukan sekadar perjalanan, tapi juga pergeseran dunia.
Semakin jauh mereka melaju, udara terasa berbeda. Lebih ringan, dan lebih hidup. Pohon-pohon rindang mulai mendominasi, dan jalan kecil yang mereka masuki membawa pada suasana yang tak lagi asing bagi Shafiya.
Ketika gerbang pesantren akhirnya terlihat, langkah waktu seakan melambat. Tempat itu tetap sama--sederhana, hangat, dan penuh kehidupan. Sangat kontras dengan dunia yang mereka tinggalkan beberapa saat lalu.
Dan di sanalah kemudian, Sagara menutup sepenuhnya berkas yang ada di tangannya.
Mobil berhenti tepat di halaman kediaman kiai Fakih.
Belum sepenuhnya berhenti saja, suasana sudah terasa berbeda.
Suara langkah kaki, sapaan yang saling bersahut, dan lantunan ayat yang mengalun dari dalam area pesantren menyambut mereka.
Pintu mobil terbuka lebih dulu dari sisi Shafiya. Ia turun. Langkahnya pelan… tapi pasti. Tatapannya langsung tertuju ke dhalem utama--kediaman kyai Fakih, sambil mengulas senyum.
Beberapa santri yang melintas langsung menunduk hormat.
“Assalamu’alaikum, Ning Shafiya…”
Suara-suara itu datang dengan suara hangat dan tulus.
Shafiya membalas dengan senyum kecil.
“Wa’alaikumussalam…”
Di sisi lain, Sagara baru turun beberapa detik kemudian. Gerakannya selalu tenang seperti biasa. Namun seperti tidak menyatu dengan ritme tempat itu.
Beberapa pasang mata sempat melirik ke arahnya. Penuh tanya. Tapi tak berani diucap.
Mungkin karena apa yang mereka lihat saat ini, terasa berbeda. Ning pondok mereka yang lembut, datang bersama pria yang tidak membawa penampilan layaknya seorang gus.
“Abi di dalam?” tanya Shafiya pelan pada salah satu santri.
“Iya, Ning. Di ruang utama.”
Shafiya mengangguk. Pandangannya berhenti pada sebuah mobil yang parkir tak jauh di samping masjid.
"Ada tamu ya?" Ia bertanya pada santri itu.
"Iya, Ning. Kyai Sholih bersama Nyai."
Jawaban itu membuat Shafiya diam, beberapa saat. Nama yang disebut adalah orang tua gus Ilzam. Dan itu yang membuat langkahnya terhenti. Sampai terasa ada seseorang yang berdiri di sampingnya.
Ia menoleh.
"Tidak langsung masuk?" tanya Sagara.
Shafiya mengangguk. Menarik napas pelan.
Lalu melangkah lebih dulu.
Sagara menyusul tanpa diminta.
Sementara Agam dan supir tetap menunggu di luar. Namun salah satu santri datang dan menyilakan keduanya untuk ke area tamu depan.
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣