NovelToon NovelToon
Pijar Hati

Pijar Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.

Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.

yuk baca kisahnya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 13 pertemuan singkat antara tunangan dan mantan kekasih

Sore ini sengaja Regan datang ke kantor Ratih untuk menjemputnya pulang kantor.

Di dalam ruang kantornya sana terlihat Regan sudah bersiap untuk meninggalkan ruang kerjanya tersebut.

Regan beranjak dari tempat duduknya dan meraih kunci kontak mobil yang dia letakkan di atas meja kerjanya.

Dia melangkah keluar dari ruang kantornya dan segera berjalan menyusuri ruangan demi ruangan gedung kantor itu sampai akhirnya tiba di basement parkir.

Regan mengeluarkan kunci mobilnya dan menghidupkan remote control mobil yang ada di tangannya itu sehingga mengeluarkan bunyi nyaring dari mobilnya.

Dia berjalan mendekat ke arah mobil Alphard hitam miliknya itu dan membuka pintu mobil yang sudah di buka dari remote control tadi. Regan duduk di belakang kemudi setirnya dan bersiap menjalankan mobilnya untuk pergi dari area basement tersebut.

Perlahan mobil Regan meluncur keluar dari area basement dan melaju di jalanan yang sudah padat karena memang sekarang adalah waktunya jam pulang kerja.

...----------------...

Sementara itu di gedung kantor Dimas.

Terlihat Bu Bella sedang berjalan menuju ke ruangan Dimas sambil membawa sebuah undangan di tangan kanannya.

"Tok.tok.tok," Bu Bella mengetuk pintu kantor Dimas perlahan.

"Masuk!" suara Dimas terdengar lantang dari dalam ruang kantornya itu.

Bu Bella memindahkan undangan dari tangan kanannya ke tangan kiri dan selanjutnya dia memegang gagang pintu kantor Dimas dengan tangan kanannya dan membukanya perlahan.

Dia berjalan menuju ke arah meja kerja Dimas ," permisi pak."

Dimas mendongakkan kepalanya saat Bu Bella sudah berdiri tepat di depan meja kerjanya ," ada apa Bu Bella?" tanya Dimas.

"Ini ada undangan acara makan malam dari pak Stevano pemilik PT. Jaya raya group pak," Bu Bella menyodorkan undangan yang ada di tangan kanannya ke arah meja Dimas.

"Oh ya terimakasih." Dimas meraih kertas undangan tersebut dan mulai membaca isinya.

"Nanti malam?" tanya Dimas pada Bu Bella sambil masih memegang kertas undangan itu.

"Iya pak. Hotel Aston," Bu Bella menambahi.

"Baik."

"Kalau begitu saya permisi pak."

"Ya."

Bu Bella melangkah menuju pintu dan berjalan keluar dari ruangan itu. Bu Bella berjalan menuju masuk ke dalam ruang kantor Ratih.

"Rat. Tolong file-file berkas yang kemaren kamu print dan serahkan ke pak Dimas sekarang juga," perintah Bu Bella ketika sudah berdiri di depan meja kerja Ratih.

"Baik," ucap Ratih tanpa bertanya apapun.

Bu Bella melangkah pergi meninggalkan ruangan Ratih.

Cindy menoleh pada Ratih sambil menyunggingkan senyumnya yang penuh arti ," kamu mau antar sendiri berkas itu ke ruangan pak Dimas? Atau...kamu butuh bantuan dari temanmu yang selalu baik ini?"

"Gak perlu, aku tetap profesional dalam menjalankan tugas," nada suara Ratih terdengar tegas dia tidak mau menimbulkan kecurigaan lagi pada Cindy kalau tadi dia menolak mengantarkan berkas itu ke Dimas.

"Nah gitu dong. Profesionalisme dalam pekerjaan itu sangat wajib dan abaikan semua perasaan yang gak penting. Oke!" Cindy menipiskan bibirnya menatap Ratih.

"Jangn mulai deh," ucap Ratih kesal pada Cindy.

"Oke. Selamat menjalankan tugas," secepatnya Cindy memutar kepalanya menghadap pada komputer yang ada di hadapannya itu.

Ratih mendengus kesal tapi ini pekerjaan dan harus dia laksanakan dia tidak mau keprofesionalan nya terganggu lagi hanya karena hal-hal kecil seperti ini. Dia harus mampu menjaga sikap profesionalnya.

Ratih mulai mencetak satu persatu semua file itu dan menatanya dengan rapi ke dalam sebuah map kertas berwarna hijau tua. Setelah semua berkas selesai tercetak Ratih siap-siap untuk mengantarkannya ke ruangan Dimas. Dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruangannya sambil menggendong map hijau tua yang berisi berkas-berkas.

Secara sembunyi-sembunyi Cindy menatap Ratih dengan ekor matanya. Dia tersenyum geli melihat sahabatnya itu. Dia yang merasa sangat bahagia kalau Ratih bisa ketemu dan berhadapan langsung dengan Dimas.

"Kenapa ya Aku merasa sepertinya ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh Ratih tentang pak Dimas," Cindy mengerutkan keningnya memikirkan hal itu.

Sementara itu Ratih yang membawa berkas-berkas untuk Dimas sudah sampai di depan pintu kantor Dimas. " Tok tok tok," Ratih mengetuk pintu kantor itu.

"Masuk!" terdengar suara Dimas.

Jantung Ratih sedikit berdegup kencang saat dia mulai membuka pintu kantor itu dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam berjalan menuju ke meja kerja Dimas.

Mata Dimas tak lepas memandang Ratih yang sedang berjalan menuju ke arahnya.

"Ini berkas-berkas nya," Ratih meletakkan map hijau tua itu ke atas meja kerja Dimas.

"Hm," Dimas tak bergeming dari tempatnya duduk.

Situasi seperti inilah yang sepertinya di inginkan oleh Ratih. Mereka berdua seperti orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain.

"Aku permisi keluar."

Dimas tidak menyahut. Dia tetap tak bergeming dari tempatnya sementara dengan perlahan Ratih memutar tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan Dimas yang masih mematung itu.

Dimas menatap punggung Ratih yang perlahan menghilang di balik pintu kantornya itu. Getir dan perih yang saat ini dia rasakan tak menyangka kalau Ratih akan memintanya untuk tidak mengenal dirinya lagi.

Ratih berdiri terpaku di balik pintu kantor Dimas. Dia menarik nafas dalam-dalam menahan perasaannya yang terdalam. Hal inilah yang dia mau dan Dimas sudah menuruti permintaannya.

...----------------...

Jam kantor sudah usai.

Ratih sudah berada di dalam mobil Regan yang akan mengantarkannya pulang. Tadi Regan sudah memperlihatkan undangan makan malam di hotel Aston pada Ratih dan dia berencana mengajak Ratih untuk menghadiri acara makan malam itu.

"Nanti malam aku jemput jam tujuh kamu siap-siap ya," ucap Regan ketika sudah tiba di apartemen Ratih.

"Ya," jawab Ratih yang kemudian bergegas masuk ke dalam apartemennya.

...----------------...

Malam ini pukul tujuh di hotel Aston tempat jamuan makan malam berlangsung terlihat Regan dan Ratih keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam hotel tersebut.

Ratih berjalan berdampingan dengan Regan sambil melingkarkan lengannya ke dalam pergelangan tangan Regan.

"Wah cantik sekali tunangan pak Regan ya," ucap salah seorang pria teman Dimas yang duduk di sampingnya yang juga menjadi tamu undangan di acara makan malam itu.

Dimas menatap ke arah Regan dan Ratih yang sedang berdiri sambil mengobrol dengan beberapa orang teman Regan. Pandangan mata Dimas jatuh pada tangan Ratih yang masih melingkar di lengan Regan. Tatapan mata Dimas yang tajam tiba-tiba meredup perlahan, hatinya terasa pedih melihat pemandangan itu.

"Gimana Dim. Cantik kan tunangannya pak Regan itu?" tanya teman Dimas padanya.

"Hm," jawab Dimas pendek.

"Oh ya pak Regan silahkan bergabung dengan para pimpinan perusahaan di sini," ucap seseorang yang menyuruh Regan untuk duduk di sofa tempat Dimas dan beberapa pimpinan perusahaan yang lain.

"Ya. Terimakasih," Regan duduk di kursi sofa di ikuti Ratih yang juga duduk di sampingnya.

Ratih sedikit tersentak karena tepat di sofa yang berhadapan dengannya terlihat Dimas sedang duduk di sana sambil memperhatikan dirinya dan Regan. Pandangan mata mereka beradu beberapa detik tapi Ratih buru-buru membuang mukanya menghindari kontak mata dengan Dimas.

"Pak Regan perkenalkan yang duduk di samping kanan saya ini adalah pak Dimas dia adalah pemegang PT. Mahakarya dan dia termasuk salah satu investor terbesar di PT. Mahakarya," ucap orang yang tadi membawa Regan ke tempat Dimas dan teman-temannya itu.

"Senang bertemu dengan anda pak Dimas," Regan mengulurkan tangan kanannya dan tersenyum pada Dimas.

"Sama-sama."

Dimas menyalami tangan Regan dan menyunggingkan seulas senyum tipisnya pada Regan. Sementara itu jantung Ratih berdegup kencang saat melihat Regan dan Dimas berjabat tangan.

"Oh ya sepertinya pak Dimas juga kenal sama tunangan saya?" Regan sengaja memancing Dimas.

Jantung Ratih berdegup lebih kencang untuk yang kedua kalinya mendengar pertanyaan yang di lontarkan Regan pada Dimas. Ratih menatap tajam ke arah Dimas dia berharap Dimas tidak mengatakan sesuatu tentang masa lalu mereka.

"Ya. Saya memang kenal dengan Ratih," nada suara Dimas terdengar tegas.

Ratih mendelik detak napasnya hampir saja berhenti seketika kalau saja Dimas tidak melanjutkan perkataannya.

"Saya mengenal Ratih sebagai rekan kerja," Dimas menipiskan bibirnya menatap Regan.

"Oh," Regan tersenyum tipis mendengar jawaban Dimas.

Ratih menghembuskan nafasnya dengan perlahan-lahan, sesak yang tadi memenuhi dadanya kini sudah menghilang. Ternyata Dimas menepati janjinya untuk menjaga profesionalisme antara mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!