NovelToon NovelToon
Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!

Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi / Time Travel / Masuk ke dalam novel / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Calista F.

Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Mentari pagi masuk perlahan melalui jendela besar mansion keluarga Vane. Begitu hangat, tenang, dan damai.

Berbeda dengan Freya yang memiliki pemikiran absurd… itu merupakan pertanda bencana.

Karena hidupnya tidak pernah benar-benar damai lebih dari dua puluh empat jam.

Saat ini Freya sedang tenggelam dalam selimut sambil mengalami kehancuran mental total.

"AKU TIDAK AKAN KELUAR KAMAR."

Crimson Valkyrie melayang santai di dekat langit-langit kamar sambil memperhatikan tragedi manusia itu dengan penuh hiburan.

"Itu keputusan yang sangat pengecut."

Freya menarik bantal lalu menutupi wajahnya sendiri. "Aku dipermalukan di depan banyak orang."

"Kau hanya hampir jatuh lalu ditangkap pria tampan."

"JUSTRU ITU MASALAHNYA."

DEG.

Memori semalam langsung muncul lagi di kepala Freya.

Tangannya di pinggangnya. Wajah Zevian yang terlalu dekat. Tatapan mata biru gelap itu.

Dan..."Telinga Anda merah."

Freya langsung menjerit pelan ke bantal.

Crimson Valkyrie tertawa tanpa ampun. "Kau benar-benar lemah terhadap romance."

"Itu bukan romance. Itu serangan jantung."

"Bedanya tipis."

Freya memegangi dadanya sendiri sambil berguling di kasur.

"Kenapa hidupku berubah jadi drama kerajaan murahan…"

"Karena kau pemeran utamanya."

"Aku mau resign."

"Kau tidak bisa resign dari takdir."

"Itu terdengar sangat menyebalkan."

TOK TOK TOK.

Suara ketukan terdengar dari pintu kamar.

Freya langsung diam membeku.

"Nona Freya?" suara salah satu pelayan terdengar lembut dari luar. "Duchess meminta Anda sarapan."

Freya menatap pintu dengan tatapan kosong. "…Katakan aku pingsan."

Pelayan itu hening beberapa detik. "…Saya tidak yakin bisa mengatakan itu pada Duchess."

"Kalau begitu bilang aku hilang."

"Anda terdengar seperti kriminal."

Crimson Valkyrie tertawa lagi.

Freya akhirnya menghela napas panjang menyerah. "…Baiklah."

Namun jauh di dalam dirinya… Ia masih ingin melompat ke danau dan menghilang dari peradaban.

Di sisi lain mansion… Sebuah kereta hitam berhenti tepat di depan gerbang utama keluarga Vane.

Seorang pria turun perlahan dari sana.

Rambut cokelat gelapnya sedikit berantakan karena perjalanan panjang. Mantel formal hitamnya masih rapi sempurna, namun wajahnya… Wajahnya terlihat seperti seseorang yang baru melewati perang.

Dan memang benar.

Perang administrasi.

Cedric - tangan kanan sekaligus asisten terpercaya Duke Cassius Vane - berdiri diam sambil menatap mansion di depannya.

Hening. Lalu perlahan ia memejamkan mata kecil. "…Aku akhirnya kembali."

Beberapa pelayan langsung membungkuk hormat. "Selamat datang kembali, Tuan Cedric."

Cedric mengangguk kecil lelah.

Di kepalanya sekarang hanya ada satu keinginan sederhana.

Tidur.

Tidur panjang.

Mungkin tiga hari.

Karena selama sepuluh hari terakhir ia harus:

- menyelesaikan masalah perbatasan

- mengurus laporan wilayah utara

- menghadapi bangsawan idiot

- membereskan konflik monster abyss

Sendirian.

Karena Duke Cassius berkata:

"Freya dalam bahaya. Aku harus kembali."

Cedric waktu itu benar-benar terharu.

Namun sekarang, "…Kenapa Duke belum kembali juga?"

Aura lelah mulai keluar dari tubuhnya.

Salah satu pelayan terlihat gugup kecil. "Ah… Duke memang masih tinggal di mansion akhir-akhir ini."

"…Aku bisa melihat itu."

Cedric berjalan masuk ke mansion dengan langkah berat.

Dan beberapa menit kemudian…Ia membuka pintu ruang kerjanya sendiri.

TOK.

Hening.

Cedric membeku.

DEG.

Karena meja kerjanya…

PENUH DOKUMEN.

Benar-benar penuh.

Setumpuk surat hampir menutupi seluruh meja besar itu.

Sedangkan…

Cedric perlahan menoleh ke meja kerja Duke Cassius di sisi lain ruangan.

Bersih.

Elegan.

Damai.

Hanya ada beberapa lembar dokumen kecil di sana.

Hening panjang muncul. Lalu Cedric berkata dengan suara kosong, "…Aku ingin resign."

TOK.

Pintu ruangan terbuka lagi. Edgar masuk sambil membawa tumpukan dokumen lain.

Dan begitu melihat Cedric… Ia membeku. Cedric juga melihatnya.

Hening emosional langsung muncul di antara dua pekerja overworked itu.

"…Kau juga?" tanya Edgar pelan.

Cedric perlahan duduk di kursi seperti kehilangan separuh jiwanya. "…Aku juga."

DEG.

Aura penderitaan langsung terhubung secara spiritual.

Edgar berjalan mendekat perlahan lalu menepuk pundaknya pelan.

"Aku mengerti penderitaanmu."

"Duke berkata akan segera kembali."

"Duke Blackwood juga."

"Aku menyelesaikan perang administrasi sendirian."

"Aku juga."

Hening. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup mereka… Mereka menemukan seseorang yang benar-benar memahami penderitaan masing-masing.

TOK.

Pintu terbuka lagi. Cain masuk membawa beberapa surat kerajaan.

Lalu berhenti.

Melihat Edgar.

Melihat Cedric.

Dan entah kenapa… Ia langsung mengerti.

"…Yang Mulia belum pulang selama hampir seminggu," katanya datar.

Edgar perlahan menunjuk sofa.

Cain duduk.

Hening penuh depresi memenuhi ruangan.

Cedric memijat pelipis perlahan. "…Aku tidur tiga jam dalam dua hari."

Edgar tertawa hampa. "Aku tidur dua jam."

Cain diam beberapa detik sebelum berkata, "...Aku lupa rasanya tidur nyenyak."

Hening lagi.

Lalu mereka bertiga bersama-sama, "...Majikan kita benar-benar keterlaluan."

Beberapa saat kemudian… Freya berjalan santai di koridor sambil membawa roti kecil hasil curian dari dapur.

Ia sebenarnya berniat hidup damai hari ini.

Menghindari Zevian. Menghindari Ares. Menghindari rasa malu.

Namun saat melewati ruang kerja samping, Ia mendengar dan merasakan aura depresi.

Freya berhenti. "…Kenapa suasananya seperti ruang interogasi?"

Crimson Valkyrie langsung menyeringai kecil. "Aku mencium aroma penderitaan."

Dan tentu saja… Freya langsung mengintip.

Begitu melihat isi ruangan… Ia membeku kecil. "…Astaga."

Tiga pria tampan formal sedang duduk dengan aura pekerja kantoran yang kehilangan harapan hidup.

Edgar memegangi kepala.

Cain menatap kosong ke depan.

Cedric terlihat seperti veteran perang.

Dan lebih parah lagi…Ares ternyata sudah duduk santai di sudut ruangan sambil menggigit apel.

"Kau juga menguping?" tanya Freya.

"Ya."

"Itu jujur sekali."

Ares mengangkat bahu santai. "Ini hiburan gratis."

Di dalam ruangan…Edgar membuka mulut duluan. "Duke pergi memancing kemarin."

Cedric langsung membeku. "…Apa? Beliau memancing. Di saat dokumen menumpuk?"

"Ya."

Cain perlahan menutup mata. "…Yang Mulia juga menunda tiga agenda kerajaan."

Cedric tertawa kecil kosong. "Duke Vane meninggalkan seluruh laporan wilayah utara padaku."

Hening. Lalu Edgar berkata lirih, "…Kita korban majikan."

Cain mengangguk pelan.

Cedric mulai mempertanyakan seluruh hidupnya.

Freya sekarang benar-benar menahan tawa sampai bahunya gemetar kecil.

Crimson Valkyrie mendesah panjang. "Kau menikmati penderitaan orang lain."

"Sedikit."

"Itu psikopat."

Namun tepat saat Freya tertawa kecil… Cain perlahan mengangkat kepala. Tatapannya bergerak ke arah Freya. Lalu…ke arah lain.

Freya mengikuti arah pandangnya.

DEG.

Zevian berdiri di ujung koridor. Entah sejak kapan. Dan seperti biasa…tatapannya langsung jatuh tepat pada Freya.

DEG.

Freya refleks langsung menegang kecil.

Cain memperhatikan semuanya dalam diam. Karena ini sudah ketiga kalinya hari ini Yang Mulia langsung mencari Freya begitu muncul.

Dan itu…sangat mencurigakan.

Ares juga mulai menyeringai penuh dosa. "Oh…"

Freya langsung punya firasat buruk. Benar saja. Ares menggigit apel santai lalu berkata keras-keras, "Yang Mulia terlihat mencari seseorang."

DEG.

Freya langsung menunjuknya panik. "JANGAN MULAI."

"Aku bahkan belum menyebut nama."

"Itu lebih menyeramkan."

Edgar perlahan mulai sadar suasana berubah aneh.

Cedric mengangkat alis tipis.

Sedangkan Cain…Cain sekarang benar-benar yakin hidupnya akan jauh lebih rumit mulai sekarang.

Untungnya sebelum Freya benar-benar meledak malu…Felix muncul di koridor. Tatapan merahnya langsung menyapu seluruh ruangan. Dan suasana otomatis terasa seperti inspeksi militer.

"…Kenapa kalian berkumpul di sini?"

Hening.

Edgar langsung duduk tegak refleks.

Cain otomatis mode formal.

Cedric bahkan hampir berdiri hormat.

Ares malah terlihat terhibur.

Freya perlahan mundur kecil.

Karena kalau Felix sudah bicara dengan nada dingin begitu, naluri bertahan hidup semua orang langsung aktif.

Siang harinya… Ruang makan mansion kembali ramai.

Dan Freya sekarang sedang menjalankan misi bertahan hidup.

Misinya sederhana yaitu jangan lihat Zevian.

Sayangnya…hidup sepertinya sangat membencinya. Karena kursi Zevian hari ini tepat berhadapan dengannya.

DEG.

Freya langsung fokus ekstrem pada sup di depannya. 'Jangan lihat atas. Jangan lihat atas. Jangan...'

"Freya..."

DEG.

Freya langsung mengangkat kepala refleks. Dan tentu saja…tatapan biru gelap Zevian langsung bertemu dengannya.

"Y-Ya?"

"Kau menjatuhkan sendok."

"…Oh."

Freya melihat ke bawah. Benar saja. Sendoknya jatuh. '…Aku ingin mati.'

Crimson Valkyrie tertawa tanpa ampun.

Dan hidup Freya rasanya semakin hancur karena…Ares membuka mulut santai. "Jangan jatuh lagi ya hari ini."

DEG.

Seluruh meja langsung diam sepersekian detik.

Freya langsung membeku total.

Ophelia perlahan mulai tersenyum.

Silas meminum teh sambil pura-pura tidak mendengar.

Seraphina terlihat menahan senyum kecil.

Sedangkan Cassius…tatapan Duke Vane langsung mengarah tajam pada Ares.

"Ares."

"Apa?"

"Diam."

"Baik."

Namun senyum iblis sosial itu tidak hilang sedikit pun.

Freya sekarang benar-benar ingin melempar Ares ke danau.

Dan situasi makin buruk karena…Cain melihat jelas jika ujung telinga Zevian sedikit merah lagi.

DEG.

Cain perlahan menatap langit-langit. "…Aku mengerti sekarang."

Edgar berbisik pelan, "Apa?"

Cain menjawab datar, "…Kita tidak akan pulang dalam waktu dekat. Setidaknya sampai pengumuman kembali ke akademi."

Setelah makan siang… Aria akhirnya menyelamatkan Freya dari kematian sosial.

"Ayo ke taman."

Freya langsung hampir menangis haru. "Aria aku mencintaimu."

Aria tertawa kecil malu.

Mereka berjalan pelan di taman belakang mansion. Angin sore bertiup lembut melewati bunga-bunga putih. Dan untuk pertama kalinya hari itu…Freya merasa tenang lagi.

"…Aku benar-benar dipermalukan tadi."

Aria menahan tawa kecil. "Sedikit."

"Bahkan kau juga menikmatinya."

"Maaf."

Namun senyum Aria tetap lembut. Dan Freya perlahan menyadari sesuatu lagi. Aria sekarang jauh lebih sering tertawa. Lebih santai. Lebih nyaman. Lebih hidup. Dadanya terasa hangat kecil.

Crimson Valkyrie memperhatikan mereka diam-diam."…Kau benar-benar menyukai keluarga ini ya."

Freya terdiam kecil.

Lalu menjawab pelan dalam hati. 'Ya.'

Karena untuk pertama kalinya… Ia merasa benar-benar punya tempat pulang.

"Freya."

Freya menoleh pada Aria.

Aria terlihat ragu kecil sebelum akhirnya berkata, "Seperti…Yang Mulia Zevian terlihat berbeda akhir-akhir ini."

DEG.

Freya langsung error spiritual. "…Hah?"

"Beliau lebih sering tersenyum."

DEG.

"…APA?"

Aria berkedip polos. "Sedikit."

Freya sekarang benar-benar ingin menghilang dari dunia.

Malam hari… Mansion mulai tenang. Freya berdiri sendirian di balkon kamarnya sambil menatap langit malam. Angin dingin meniup rambut panjangnya pelan. Dan di telapak tangannya… Api crimson kecil muncul perlahan.

FWOOSH.

Api itu menyala lembut.

Stabil.

Hangat.

Tidak liar lagi.

Freya menatapnya diam beberapa detik. "…Aku benar-benar mulai bisa mengendalikannya."

Karena kali ini… Ia bahkan tidak perlu memaksa mana-nya keluar. Seolah tubuhnya sendiri mulai mengingat kekuatan itu.

Crimson Valkyrie memperhatikannya cukup lama. Dan untuk pertama kalinya malam itu… artefak itu terlihat serius."…Tubuhmu bangun lebih cepat dari perkiraanku."

Freya langsung menoleh kecil. "…Apa maksudmu?"

Namun Crimson Valkyrie langsung kembali mode santai. "Tidak ada."

"HEY."

"Kau terlalu lemah untuk penjelasan panjang."

"Itu penghinaan."

"Itu fakta."

Freya mendecih kecil. Namun saat melihat api crimson itu lagi… Entah kenapa dadanya terasa aneh. Hangat. Familiar. Seolah kekuatan itu memang selalu menjadi bagian dirinya. Dan tanpa sadar…Kelopak matanya mulai terasa berat.

Freya akhirnya duduk di kursi balkon sambil memeluk lutut kecil. Angin malam terasa nyaman. Terlalu nyaman. Dan perlahan…Ia tertidur.

Beberapa waktu kemudian…Suara langkah kaki pelan terdengar di koridor luar balkon. Zevian berjalan melewati area itu dengan tenang. Namun langkahnya perlahan berhenti.

DEG.

Karena Freya tertidur di balkon.

Rambut emasnya bergerak pelan tertiup angin malam. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibanding biasanya. Dan api crimson kecil masih menyala samar di dekat tangannya.

Zevian memperhatikannya diam beberapa detik. Lalu perlahan berjalan mendekat.

Angin malam cukup dingin sekarang. Tanpa banyak bicara… Ia melepas mantel hitamnya perlahan. Dan menyelimuti tubuh Freya. Gerakannya tenang sekali. Namun tepat saat Zevian hendak menarik tangannya kembali…Freya bergerak kecil dalam tidurnya.

Lalu… menggenggam ujung mantelnya pelan.

DEG.

"…Jangan pergi…"

Suara itu lirih sekali. Namun membuat Zevian langsung membeku.

Karena kalimat itu…terlalu familiar.

Potongan memori kecil muncul samar di kepalanya.

Taman istana. Malam dingin. Freya kecil menggenggam bajunya sambil berkata, "Jangan pergi…"

DEG.

Zevian perlahan menunduk menatap Freya lagi. Tatapan biru gelapnya sedikit goyah untuk pertama kalinya malam itu. Dan jauh di dalam dirinya…Sebuah perasaan aneh mulai tumbuh semakin kuat.

Seolah…ia akhirnya menemukan seseorang yang telah lama hilang.

1
aku
lagi 😁
aku
😭😭 alasan nmr 83 😭😭 🤣🤣🤣no.1 nya cembokurr 🤣🤣
aku
mulai mekar kah bunga asmara pangeran?? 😁
aku
🤣🤣🤣🤣 jlebbb 🤣🤣🤣
aku
aduduh,ngabrut 🤣🤣🤣 seminar ekonomi 🤣🤣🤣
aku
jangan2 si ares kyk emaknya 🤣
frina ayu: faktor genetik kak 😭
total 1 replies
paijo londo
lyra dulu meninggal karena TDK ada yg membantu untuk menutup gerbangnya hingga mengambil nyawanya sedangkan Freya mulai banyak yg munyukainya hingga tanpa ragu berani mengorbankan nyawanya untuk Freya 💪freya
paijo londo
celetukan Freya bikin Ares suka ketawa
paijo londo
frey lucu ya kalo ngumpat dalam hati kita yg baca jadi ketawa ngakak 🤣🤣
aku
kok kesian sm monster2 nya 😭😭
aku
res, lu lama2 gue gibeng jg. bkin reader kepo maksimal. 😭😭 agk curiga tp jg menghibur 🤣
aku
ceileeeehhh terkesimo kah kau frey 😌😌
aku
ares, lama2 kau makin mengerikan 😭😭
aku
selamatkan jantungmu frey 🤣🤣
aku
bnr, tidak fantassttt ish ish ish 😌😌🤣🤣
aku
ceplas ceplos dn bar bar kah aslinya ra??? 🤣🤣🤣
frina ayu: asbun kak dia🤣
total 1 replies
aku
heh 🤣🤣 nyukurin yg asli mati duluan 🤣🤣 astagaa
frina ayu: takutnua kalo gak dimatiin nanti rebutan tubuh kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!