Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raya kembali bekerja
Andini mengintip dari balik pintu.Napasnya pendek, tangannya mengepal kuat. Terlalu cinta atau obsesi semata? Dia sendiri tidak tahu bedanya lagi. Yang dia tahu. Bagas sudah tidak lagi menatapnya seperti dulu.Tidak ada senyum miring. Tidak ada candaan garing yang membuat Bagas klepek klepek.
Didalam ruangan. Satria masih menyender, matanya tajam. Tidak lepas dari wajah Bagas.
" Kamu mau hak asuh anak, Gas? Tapi kamu lupa satu hal." Kata Satria datar.
" Pengadilan juga melihat lingkungan. Kamu kerja disini, tapi kalau gosip kamu sama Andini masih ada disini, kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. " Lanjut Satria.
Bagas mendongak. Rahangnya mengeras " Tapi aku sudah tidak ada lagi urusan dengannya. "
" Tapi dia masih ada urusan sama kamu." Satria menunjuk kearah pintu dengan dagunya. " Dan dia mendengarkan kita dari tadi." Lanjutnya .
Bagas menengok. Pintu sudah keburu ditutup pelan. Hanya ada bayangan yang lari dari balik kaca buram.
Dirumah Bu Sri.
Raya berdiri didepan cermin. Blazer hitam yang dulu sedikit sempit, Sekarang agak longgar. Rambutnya di biarkan terurai. Dimeja rias. bedak tipis dan lipstik warna natural yang di pinjamkan Nisa.
" Mama cantik." Gilang nyelonong masuk kekamar sambil membawa mobil mobilannya." Mama mau kondangan, ya?"
Raya tersenyum. Jongkok. Meluruskan kerah baju Gilang." Mama mau kerja sayang. Doakan Mama ya."
Galang muncul dari balik kalem. Lebih kalem. " Kerja dimana, ma?"
" Ditempat dulu Mama pernah kerja, sayang."
Galang hanya mangut mangut dia." Nanti mama pulang jam berapa?"
" Belum tahu, sayang. semoga Mama bisa pulang cepat ya. Kamu jagain adek dirumah ya. Jangan nakal nakal dan nurut apa kata nenek sama bude." Nyesel. Tapi Raya tahan.
Baru kali ini Raya meninggalkan anak anak nya. Ada rasa sedih dihatinya.
Bu Sri mengintip dari balik pintu. Matanya berkaca." Berangkat yang tenang, Raya. Anak anakmu biar sama Ibu. kamu jangan khawatir, ya."
Raya tersenyum tipis kearah ibunya. Bu Sri selalu tahu apa yang ada di dalam hatinya.
" Terimakasih bu, titip anak anak ya, Bu. Maaf kalau Raya masih menyusahkan Ibu. "
Bu Sri mengeleng.
" Tidak sama sekali. Ibu justru sangat senang dengan adanya kalian disini."
Raya memeluk ibunya. hangat. sebelum dia berangkat bekerja. Raka sudah menunggu didepan. Kunci mobil berputar putar dijarinya.
" Siap, dek." Raka bertanya saat melihat Raya yang sudah keluar dari rumah.
Raya menggangguk. Sekali lagi dia melihat pantulan dirinya dicermin. Bukan Raya yang sepuluh tahun lalu. Ini adalah Raya yang bangkit demi anak anaknya.
Kantor pak Darto.
Ruangannya masih sama. Bau kertas. kopi dan lainnya. Pak Darto berdiri begitu Raya masuk. Senyumnya lebar.
" Keluarga tetap Keluarga, Raya." Katanya tanpa basa basi." Duduk, kita tidak Interview hari ini. kita ngobrol."
Raya duduk. Tangannya dingin. Tapi suara pak Darto bikin hatinya hangat. Seperti suara ayah yang menasihati putrinya.
" Raka sudah cerita semuanya. sepuluh tahun mengurus rumah sendiri, plus makan dari mertua. kamu hebat. " Pak Darto tertawa. " Divisi finance kita sedang butuh orang teliti. Gaji. Tunjangan, Fleksibel. anak anak bisa kamu jemput sendiri. "
Airmata Raya hampir. Jatuh." Makasih pak..Om."
" Eist, Dikantor panggil, Pak." Pak Darto mengedipkan matanya sebelah." Dirumah baru panggil Om, Senin depan kamu mulai kerja."
Raya angguk cepat." Deal, pak."
Sore dikantor Bagas.
Bagas sedang beres beres, Banyak sekali tumpukan kertas yang belum selesai dikerjakannya.
Pintu diketuk, Andini masuk tanpa menunggu jawaban. " Kita harus bicara, Mas." Suaranya pelan. Dibuat sehalus mungkin.
Bagas sama sekali tidak menatapnya. " Tidak ada yang perlu kita bicarakan." Tangan Bagas masih sibuk dengan kertas kertasnya.
" Aku dengar kamu mau rebut hak asuh anak." Andini maju selangkah. " Kamu tidak akan menang kalau mereka tahu kamu selingkuh. Aku bisa jadi saksi yang meringankan..atau memberatkan. " Andini memaikan ujung rambutnya.
Bagas menatap Andini. " Kamu sedang mengancam, Aku?"
" Bukan ancaman." Andini tersenyum tipis." Tapi, Nego. kamu balik sama aku, maka aku akan diam dan kamu bisa jadi bapak yang baik dipengadilan ."
" Simpan saja Nego busukmu itu." Bagas keluar dari ruangan.
Sesak rasanya lama lama satu ruangan dengan wanita yang menjadi penyebab rumah tangganya hancur.
Andini tersenyum santai. Baginya Bagas kali ini menantang. Dia suka itu.
" Kamu tidak akan pernah bisa lepas dari aku, Bagas." Andini tersenyum licik.
Andini kembali keruangannya, berpura-pura tidak terjadi apa apa.
Bagas banting pintu mobil. nafasnya naik turun saat Andini masuk kedalam ruangannya. Baginya Andini sama sekali tidak punya malu. Padahal jelas jelas dia sudah menampakkan wajah marah. Tapi Andini masih tidak punya muka.
Satria datang dari belakang, mereka sama sama ingin pulang. Hari ini Bagas tidak ingin lembur, Karena muak melihat wajah Andini.
" Bagaimana?" Sapa Satria.
" Apanya yang bagaimana?" Bagas balik bertanya.
" Andini?" Satria mengangkat bahunya.
Bagas menarik nafas kasar. " Aku tidak tahu, aku sama sekali tidak peduli lagi dengannya, gara gara dia rumah tanggaku berantakan. Aku.."
" Dulu aku sudah mengingatkan kamu. Tapi kamu malah melangkah semakin jauh. Jangan salahkan Andini sekarang,tapi coba koreksi dirimu sendiri. " Satria menepuk bahu Bagas. sebelum dia berjalan ke mobilnya.
Bagas terdiam. kata kata yang diucapkan Satria memang benar adanya. Dia yang sudah merusak semuanya. Andini datang disaat dia memang sedang bosan dan butuh hal yang baru.
Bagas masuk kedalam mobilnya. Membanting setir." Sial." Umpatnya.
Bagas mengeluarkan HP-NYA dari dalam saku. Melihat galeri foto dilayar. Foto kenangan dirinya bersama dengan Raya dan anak anak masih tersimpan disana.
Dulu mereka sangat bahagia. Senyum. Tidak ada beban. Semuanya terasa sangat menyenangkan. Bagas rindu hal itu.
" Sayang. apa kita bisa memperbaiki semuanya. aku benar benar tidak bisa seperti ini, aku merindukan kalian." Bagas mengirim pesan kepada Raya.
Bagas menyetir mobilnya. Dan berharap Raya mau kembali padanya. Dia seperti kehilangan arah sekarang.
Raya sudah pulang kerumah, besok dia baru akan mulai bekerja. HPnya sedari tadi bergetar, Namun Raya sama sekali tidak memperdulikannya. Baginya sekarang bertemu dengan anak anak adalah hal yang utama.
Raya pulang membawa kantong plastik. Didalamnya ada lima potong es krim berbagai rasa. Galang dan Gilang berebut lari ke pintu.
" Mama sudah pulang.." Gilang berteriak paling kencang.
Baru juga beberapa jam Raya diluar, anak anaknya sudah sangat merindukannya, begitu juga dengan Raya.
" Iya sayang.. " Raya melihatkan kantong plastik yang berisi eskrim kepada Gilang.
" Wah, eskrim.." Gilang teriak kegirangan.
" Mama bawa eskrim, ya?" Galang juga ikut bersuara.
" Iya sayang. Kamu tidak nakal kan?" Raya mengusap wajah Galang.
" Tidak ma".
" Anak pintar." Raya melihat Ibunya. Ibu tersenyum bangga.
Malam harinya. Semua sudah tidur, Raya belum bisa tidur. Dia melihat HP-Nya sebentar. satu pesan masuk dari Bagas.
Raya sama sekali tidak tertarik untuk membacanya. Blokir.
ditunggu upnya ya semoga bagas masih punya kesempatan balik sama keluarganya lagi...💪🙏