NovelToon NovelToon
Arsip Hati: Karena Fisika Nggak Sebercanda Itu

Arsip Hati: Karena Fisika Nggak Sebercanda Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Ketos / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen Angst / Romantis
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: salsabilah *2009

Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.


Tokoh Utama:

Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.

Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Liburan dan Tragedi Salah Kostum

Libur telah tiba! Kata-kata itu bagi Ghea adalah musik paling indah, melebihi suara bel pulang sekolah ataupun suara denting notifikasi saldo masuk. Setelah drama Malam Keakraban yang menguras air mata dan maskara, Ghea merasa otaknya butuh di-refreshing total.

"Ar, pokoknya liburan kali ini lo nggak boleh pegang buku, nggak boleh pegang laptop, dan dilarang keras ngomongin soal akreditasi!" seru Ghea sambil menggebrak meja Arlan di hari terakhir sekolah.

Arlan yang sedang merapikan alat tulisnya cuma bisa menghela napas. "Terus gue harus ngapain? Diem kayak patung di pinggir jalan?"

"Kita liburan! Juna udah dapet pinjeman villa punya tantenya di Puncak. Kita bakal camping ceria, bakar jagung, dan liat bintang. Tanpa rumus Fisika!" Ghea memasang wajah penuh harap.

Arlan terdiam sejenak. "Villa? Puncak? Gue harus izin bokap dulu, Ghe. Lo tahu sendiri kan liburan bagi bokap gue itu artinya 'waktu tambahan buat belajar materi semester depan'."

"Tenang! Gue udah punya solusinya," Ghea nyengir lebar. "Gue udah minta Pak Broto buat bikin surat tugas fiktif kalau kita ada 'Studi Banding Organisasi' di luar kota. Jadi bokap lo bakal mikir lo lagi kerja, padahal kita lagi seru-seruan!"

Arlan melotot. "Ghea! Itu namanya penipuan publik!"

"Ih, bukan penipuan, Ar. Itu namanya 'Strategi Relaksasi Terpadu'. Ayolah, Robot... masa lo mau liburan di kamar doang sambil ngitung algoritma?"

Akhirnya, dengan segala bujuk rayu maut dan bantuan Juna yang ikut meyakinkan, Arlan setuju. Ini akan menjadi liburan pertama Arlan tanpa pengawasan ketat ayahnya.

Hari keberangkatan tiba. Mereka berkumpul di depan gerbang sekolah. Juna datang dengan mobil jeep tua milik ayahnya yang suaranya lebih mirip traktor sawah daripada kendaraan pribadi.

"Woy! Penumpang gelap, silakan naik!" teriak Juna yang memakai kacamata hitam kegedean dan kemeja pantai warna kuning mentereng.

Ghea muncul dengan gaya yang sangat "siap liburan": topi pantai lebar, kacamata hitam, dan tas ransel yang gedenya hampir menutupi tubuh mungilnya. "Puncak, I'm coming!"

Lalu muncul Arlan.

Ghea dan Juna kompak melongo. Arlan berjalan santai membawa koper kabin kecil. Dia memakai kemeja flanel yang dikancing sampai atas, celana bahan kain yang sangat rapi, dan sepatu pantofel hitam yang mengkilap. Jangan lupa, kacamata tipisnya masih bertengger dengan gagah.

"Ar... lo mau liburan ke Puncak atau mau rapat pemegang saham?" tanya Juna sambil menahan tawa.

"Kenapa? Kostum gue salah?" Arlan melihat penampilannya sendiri. "Ini pakaian standar untuk bepergian jauh. Rapi dan efisien."

Ghea menepuk jidatnya. "Arlan sayang... kita mau ke hutan, ke villa yang banyak rumputnya, bukan mau ke Istana Negara! Lo pake pantofel di sana yang ada lo kepeleset pas lagi nyari kayu bakar!"

"Gue nggak punya baju pantai kayak Juna yang mirip jemuran berjalan itu, Ghe," bela Arlan.

"Udah, udah, naik aja dulu. Nanti di sana gue dandanin lo jadi anak alam," kata Ghea sambil mendorong Arlan masuk ke kursi belakang.

Perjalanan menuju Puncak adalah sebuah komedi berjalan. Juna menyalakan musik dangdut koplo dengan volume maksimal supaya nggak ngantuk, sementara Arlan terlihat sangat menderita karena setiap kali mobilnya menghantam lubang, kepalanya terbentur atap mobil.

"Juna, bisa tolong kecilkan volumenya? Secara akustik, frekuensi suara ini bisa merusak konsentrasi mengemudi lo," protes Arlan.

"Yah, Robotnya kumat! Ar, ini namanya seni! Musik ini yang bikin mobil tua ini tetep jalan karena dia merasa disemangati!" balas Juna sambil ikut nyanyi nggak jelas.

Ghea di kursi depan cuma bisa ketawa-tawa sambil ngunyah keripik pedas. "Udah Ar, nikmatin aja! Liat tuh di luar, pohonnya hijau-hijau, nggak kayak kertas laporan lo yang warnanya putih kusam."

Begitu sampai di villa, suasananya memang sangat asri. Villanya agak tua, tapi halamannya luas dan langsung menghadap ke bukit. Udara dingin mulai menusuk tulang.

"Oke, agenda pertama: Pasang tenda di halaman! Biar dapet feel petualangannya!" seru Ghea.

Arlan melihat tumpukan kain tenda di tanah dengan bingung. "Gimana cara kerjanya? Di mana manual book-nya?"

"Nggak butuh buku, Ar! Pakai insting!" Juna mulai menarik-narik tali.

Satu jam kemudian, tenda mereka bukannya berdiri tegak, malah lebih mirip tumpukan sampah kain. Arlan akhirnya turun tangan. "Minggir, minggir. Kalian berdua cuma pakai otot, nggak pakai otak. Secara struktural, tiang ini harusnya jadi pondasi diagonal."

Dengan ketelitian seorang Ketua OSIS, Arlan mulai menyusun tiang tenda. Ghea dan Juna cuma bisa melongo liat Arlan yang tadinya kaku, sekarang sangat cekatan memasang pasak.

"Tuh kan, kepinteran lo kepake juga di sini, Ar!" puji Ghea.

"Gue cuma nerapin prinsip gaya tekan dan keseimbangan statis," jawab Arlan tanpa menoleh, tapi Ghea bisa liat kalau Arlan mulai menikmati kegiatannya.

Malam hari tiba. Udara Puncak makin dingin, bikin hidung Ghea jadi merah kayak tomat. Juna bertugas menyalakan api unggun, tapi setelah menghabiskan satu kotak korek api, apinya nggak kunjung nyala.

"Ini kayunya lembab, atau koreknya yang emang lagi mogok kerja sih?" keluh Juna kesal.

Ghea mendekat. "Coba sini, gue punya minyak goreng dikit dari sisa goreng bakwan tadi."

Wush! Begitu minyak goreng disiram, api langsung menyambar tinggi.

"Ghea! Itu bahaya! Secara kimiawi minyak goreng itu—" Arlan baru mau mulai ceramah, tapi Ghea langsung menyumpal mulut Arlan pakai sosis bakar.

"Diem dan makan, Robot! Jangan rusak momen romantis ini dengan penjelasan kimia!"

Mereka bertiga duduk melingkari api unggun. Juna mulai memetik gitar tuanya dan menyanyikan lagu-lagu galau yang nggak nyambung dengan suasana. Arlan duduk di samping Ghea, masih dengan kemeja flanelnya yang sekarang sudah sedikit kotor terkena abu.

"Gimana, Ar? Seru kan?" tanya Ghea sambil menatap api.

Arlan mengangguk pelan. Dia merasakan kehangatan yang beda. Bukan cuma hangat dari api, tapi hangat karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia nggak merasa harus menjadi "Arlan yang Sempurna".

"Gue baru sadar, selama ini gue cuma liat dunia lewat jendela kamar atau layar laptop," ucap Arlan pelan. "Makasih ya, Ghe. Udah maksa gue ke sini."

Ghea tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Arlan. Arlan sempat kaget dan tubuhnya mendadak kaku lagi (mode robot aktif), tapi perlahan dia mulai rileks.

"Woy! Yang di sana jangan pacaran terus! Inget, di sini ada jomblo yang lagi berjuang melawan hipotermia!" teriak Juna dari seberang api unggun.

"Iri bilang bos!" balas Ghea sambil menjulurkan lidahnya.

Tiba-tiba, dari kegelapan di balik semak-semak villa, terdengar suara geraman rendah. Suasana yang tadinya ceria mendadak jadi mencekam.

"Suara apa itu?" tanya Ghea sambil mencengkeram lengan Arlan.

"Mungkin cuma kucing hutan," kata Arlan menenangkan, meskipun dia sendiri mulai waspada.

"Kucing hutan nggak mungkin suaranya seberat itu, Ar..." bisik Juna sambil mengambil sepotong kayu yang masih menyala.

Tiba-tiba, seekor anjing liar besar muncul dari balik semak, matanya berkilat kena cahaya api. Anjing itu tampak lapar dan agresif. Ghea menjerit kecil dan bersembunyi di belakang Arlan.

"Ar, gimana nih?! Lo punya rumus buat ngusir anjing nggak?" tanya Juna panik.

Arlan berdiri tegak. Dia mengambil botol air mineral kosong dan beberapa kaleng soda yang sudah habis. "Juna, lempar kayunya ke arah sana buat alihin perhatian! Ghea, ambil panci di belakang lo!"

"Buat apa?"

"Bikin suara berisik! Anjing takut sama suara frekuensi tinggi yang tiba-tiba!"

Ghea langsung memukul-mukul panci dengan sendok logam sekuat tenaga. TRANG! TRANG! TRANG! Juna melemparkan kayu berapi ke dekat anjing itu. Arlan sendiri berteriak dengan suara paling lantang yang pernah dia keluarkan.

Anjing itu kaget, menggonggong sekali, lalu lari terbirit-birit masuk kembali ke kegelapan hutan.

Suasana kembali hening. Ghea napasnya tersengal-sengal, sementara Juna langsung terduduk lemas di tanah. "Gila... petualangan kita kok jadi horor begini?"

Arlan kembali duduk, napasnya juga agak cepat. Dia melihat tangannya yang sedikit gemetar. Ghea langsung memeluk lengan Arlan. "Ar! Lo keren banget tadi! Gue kira lo bakal pingsan atau ngajak anjing itu diskusi soal tata tertib."

Arlan terkekeh, kali ini tawanya terdengar sangat lega. "Gue juga takut, Ghe. Tapi gue baru inget kalau di buku biologi dibilang hewan liar biasanya takut suara gaduh."

"Tuh kan! Kepinteran lo emang berguna di segala medan!" seru Ghea bangga.

Malam itu berakhir dengan mereka yang akhirnya tidur di dalam tenda yang sempit. Juna di pojok kiri dengan dengkuran yang kayak suara mesin jet, Ghea di tengah, dan Arlan di pojok kanan.

Di tengah kegelapan tenda, Ghea berbisik pelan, "Ar, tidur belum?"

"Belum. Dingin banget," jawab Arlan singkat.

"Besok kita ke air terjun ya?"

"Asal nggak ada anjing liar lagi, gue oke aja."

Ghea tersenyum dalam gelap. Dia merasa liburan ini akan menjadi memori yang nggak akan pernah bisa dihapus dari "arsip" hatinya. Tapi mereka nggak tahu, kalau di Jakarta, Shinta sedang sibuk mencari tahu lokasi villa milik tante Juna karena dia curiga Arlan berbohong soal 'Studi Banding'.

Liburan mereka baru saja dimulai, dan tantangan yang lebih besar sudah menunggu di balik kabut Puncak.

1
Esti 523
aq vote 1 ya ka ug syemangad
Huzaifa Ode
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!