Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Diseret ke Cahaya
Foto itu muncul pukul 06.07.
Tidak besar. Tidak dramatis. Hanya potongan layar yang diunggah akun anonim—lalu disalin, dibagikan, dipelintir. Carmela melihatnya saat notifikasi beruntun membangunkannya: wajahnya sendiri, lebih muda, berdiri di sebuah lorong sempit, tangan memegang map cokelat, mata menatap kamera dengan ketegangan yang tak pernah ia ingat untuk dipamerkan.
Judulnya singkat.
“Perempuan Ini Pernah Menjadi Kurir.”
Carmela duduk. Jantungnya tidak berdegup lebih cepat—yang bergerak justru ingatan. Lorong itu. Bau lembap. Sepatu yang terlalu besar. Pintu besi yang berderit. Ia tahu tepat kapan foto itu diambil.
Matteo bangun, meraih ponselnya, lalu terdiam. “Mereka menyeretmu ke masa sebelum—”
“Sebelum segalanya,” potong Carmela. “Sebelum aku punya hak untuk menjelaskan.”
Di luar kamar, vila masih tenang. Di dalam layar, dunia sudah berisik.
Pagi itu, tim komunikasi berdatangan lebih cepat dari biasanya. Kopi dingin. Mata merah. Grafik percakapan publik menanjak—bukan tajam, tapi stabil. Itu yang berbahaya.
“Mereka tidak menuduh langsung,” kata kepala komunikasi. “Mereka bertanya. Dan pertanyaan menyebar lebih cepat.”
“Pertanyaan apa?” tanya Matteo.
“Apakah Carmela pernah terlibat. Apakah ia diselamatkan oleh jaringan tertentu. Apakah kekuasaannya dibangun di atas utang lama.”
Carmela mendengarkan tanpa menyela. Ia tahu pola ini. Mereka tidak ingin kebenaran—mereka ingin narasi.
“Rekomendasi?” tanyanya akhirnya.
“Kita diam,” jawab kepala komunikasi. “Jika kita menjawab sekarang, kita memberi panggung.”
Matteo menoleh padanya. “Kita diam.”
Carmela tidak langsung setuju. “Diam itu aman. Tapi aman untuk siapa?”
Keheningan jatuh.
Di ruang kerja pribadinya, Carmela membuka laci yang jarang disentuh. Map cokelat—mirip dengan yang ada di foto—tersimpan rapi. Di dalamnya, dokumen lama, catatan tangan, dan satu surat yang tak pernah dikirim.
Ia duduk, membaca kembali.
Dulu, ia memang kurir. Bukan untuk kejahatan besar—lebih seperti pembawa pesan di pinggiran sistem. Orang-orang yang tidak punya suara, yang hanya tahu bahwa bergerak diam-diam adalah satu-satunya cara bertahan. Ia tidak bangga, tapi ia tidak malu. Itu bagian dari hidupnya.
Yang berbahaya bukan masa lalunya. Yang berbahaya adalah siapa yang memotretnya dan kenapa sekarang.
Ponselnya bergetar. Pesan masuk—tanpa nama.
Kamu bisa tetap diam. Kami bisa membuatnya hilang.
Carmela mengunci layar.
Siang menjelang. Pertanyaan berubah menjadi opini. Opini menjadi spekulasi. Spekulasi mengeras jadi tuduhan halus.
Matteo duduk di ruang tamu, berbicara dengan satu orang lewat panggilan terenkripsi. Suaranya rendah, terukur.
“Tidak,” katanya. “Belum. Kita tunggu.”
Ia menutup panggilan dan menatap Carmela. “Aku bisa bicara. Satu pernyataan. Aku ambil panggung.”
Carmela tahu maksudnya. Matteo punya suara yang dipercaya—dan jika ia bicara, badai bisa berbelok. Tapi ada harga.
“Kalau kamu bicara,” kata Carmela pelan, “mereka akan bilang aku bersembunyi di belakangmu.”
“Dan kalau kamu bicara,” balas Matteo, “mereka akan bilang kamu defensif.”
Carmela tersenyum tipis. “Jadi pilihan kita buruk di kedua sisi.”
“Tidak,” kata Matteo. “Ada satu pilihan lain.”
Carmela menatapnya. “Apa?”
“Kebenaran. Tapi waktunya yang kita atur.”
Sore itu, seorang jurnalis senior meminta wawancara singkat. Bukan sensasional. Bukan ramah. Profesional—yang berarti berbahaya dengan cara berbeda.
“Kami tidak akan menjawab hari ini,” kata kepala komunikasi.
Carmela mengangkat tangan. “Aku akan menemuinya.”
Matteo terdiam. “Sekarang?”
“Bukan wawancara,” jawab Carmela. “Percakapan. Off the record.”
Mereka bertemu di ruangan kecil, dinding kaca buram. Jurnalis itu membuka buku catatan, lalu menutupnya lagi.
“Aku tidak ingin sensasi,” katanya. “Aku ingin konteks.”
Carmela mengangguk. “Aku tidak akan menyangkal foto itu.”
Alis jurnalis terangkat.
“Aku memang kurir,” lanjut Carmela. “Dulu. Sebentar. Tanpa senjata. Tanpa uang besar.”
“Kenapa berhenti?”
“Karena aku belajar bahwa bergerak diam-diam tidak cukup. Aku ingin mengubah aturan.”
Jurnalis itu menulis. “Kenapa orang baru memunculkannya sekarang?”
“Karena aku berhenti bergerak diam-diam,” jawab Carmela jujur.
Percakapan berakhir tanpa janji. Tapi Carmela tahu—benih konteks telah ditanam.
Malam turun. Matteo berdiri di balkon, memandang lampu-lampu jauh. Carmela menyusul.
“Aku tahu kamu ingin melindungiku,” katanya.
Matteo menoleh. “Aku ingin berdiri di sampingmu.”
“Itu berbeda,” balas Carmela lembut. “Kalau kamu bicara sekarang, kamu mengubah cerita ini menjadi tentang kita. Mereka ingin itu.”
Matteo menghela napas. “Dan kalau aku diam?”
“Kamu memberiku ruang untuk bicara dengan caraku.”
Matteo menatapnya lama. “Aku tidak suka melihatmu diserang.”
Carmela menggenggam tangannya. “Aku tidak sendiri.”
Pukul 22.00, Carmela menyalakan kamera di ruang kerja. Bukan konferensi pers. Bukan siaran besar. Hanya video pendek—tenang, tanpa latar dramatis.
Ia bicara pelan.
“Ada foto tentang masa laluku. Foto itu nyata. Aku pernah menjadi kurir. Aku melakukannya untuk bertahan. Aku berhenti ketika aku punya pilihan untuk membangun sistem yang lebih adil.”
Ia berhenti sejenak.
“Aku tidak akan minta maaf atas hidup yang membawaku ke sini. Tapi aku akan bertanggung jawab atas keputusanku hari ini. Nilailah aku dari apa yang aku lakukan sekarang.”
Video itu diunggah. Tanpa musik. Tanpa editan.
Reaksi tidak langsung berubah. Tapi nada percakapan retak. Dari tuduhan ke diskusi. Dari gosip ke pertanyaan yang lebih jujur.
Namun malam belum selesai.
Pesan lain masuk. Kali ini dengan lampiran: foto kedua. Lebih tua. Lebih dekat. Seseorang berdiri di belakang Carmela—wajahnya disamarkan.
Besok kami lepaskan yang ini.
Matteo melihatnya. Rahangnya mengeras. “Sekarang aku bicara.”
Carmela menggeleng. “Belum.”
“Ini menyentuh keselamatanmu.”
“Ini menyentuh kendali,” balas Carmela. “Kalau kamu bicara sekarang, mereka menang. Kita perlu satu langkah di depan.”
Matteo menatapnya, lalu mengangguk. “Apa rencanamu?”
“Audit asal foto. Siapa yang menyimpannya. Dan kenapa mereka menunggu.”
Matteo tersenyum tipis—tegang. “Aku akan jaga pintu.”
Menjelang tengah malam, laporan awal masuk. Foto-foto itu disimpan oleh satu pihak yang seharusnya sudah tidak punya akses. Nama yang muncul bukan besar—tapi terhubung ke nama yang lebih besar. Benang itu jelas.
Carmela menutup laptop. “Besok kita tidak bereaksi. Besok kita menyerang balik—bukan dengan emosi, tapi dengan bukti.”
Matteo meraih tangannya. “Aku bersamamu.”
Carmela menatapnya. “Aku tahu.”
Di kamar, sebelum tidur, Carmela menulis satu kalimat di catatan yang sama.
Jika masa lalu diseret ke cahaya, biarkan ia berdiri—jangan diseret kembali ke gelap.
Lampu padam. Di luar, kota tetap bergerak. Di dalam, dua orang bersiap—bukan untuk bertahan, tapi untuk mengubah arah.
Bab ini selesai. Besok, kebenaran tidak akan datang sendiri—ia akan dipanggil.