Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.
Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.
Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:
Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.
Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.
Saat sumpah itu terucap—
DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.
Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.
Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Panel Pertama
Panel itu melayang diam di hadapan Xu Tian.
Tidak ada suara. Tidak ada getaran. Tidak ada tekanan aneh yang memaksa atau menarik. Cahaya kebiruan pucat memancar lembut, stabil, seolah keberadaannya memang seharusnya ada di sana. Transparan, namun jelas. Nyata, namun terasa asing.
Xu Tian tidak bergerak.
Napasnya masih berat, dadanya naik turun perlahan. Setiap tarikan udara terasa dingin, menusuk paru-paru yang lelah. Luka di tubuhnya belum benar-benar berhenti berdenyut, rasa sakitnya masih nyata, mengikatnya pada kenyataan yang keras. Jika ini mimpi, maka rasa sakit itu terlalu jelas. Jika ini halusinasi, maka pikirannya terlalu tenang.
Ia menatap panel itu tanpa berkedip.
Waktu berlalu begitu saja.
Tidak ada hitungan. Tidak ada ukuran. Hanya kesunyian yang menggantung di antara dirinya dan cahaya tipis itu.
“Jangan gegabah,” batinnya pelan.
Tangannya yang sedikit gemetar tetap berada di samping tubuh. Ia tidak mengangkatnya. Tidak mencoba menyentuh. Tidak mencoba memanggil apa pun. Pengalaman hidupnya telah mengajarinya satu hal yang pahit: setiap harapan yang datang terlalu tiba-tiba selalu menuntut harga yang kejam.
Angin malam menyapu pelataran luar gerbang Sekte Awan Giok. Debu halus berputar, menyentuh sepatunya yang lusuh, lalu menghilang. Di belakangnya, gerbang tinggi itu berdiri membisu, gelap, seolah sama sekali tidak peduli pada keberadaan seseorang yang baru saja dihancurkannya.
Xu Tian menarik napas lebih dalam.
Bayangan masa lalu muncul tanpa diminta.
Tatapan merendahkan. Tawa tertahan. Suara ejekan yang berulang-ulang mengingatkannya akan tempatnya yang rendah. Janji-janji kosong tentang kerja keras yang tak pernah cukup. Semua itu menumpuk di dadanya, berat, menyesakkan.
Jika ini palsu…
Jika ini hanya hasil dari kelelahan, rasa sakit, dan tekanan yang mematahkan pikirannya…
Maka harapan terakhir yang muncul barusan hanyalah ejekan lain dari dunia.
Xu Tian mengatupkan rahang.
Ia menatap panel itu lagi, kali ini lebih fokus.
Di bagian atas, ada tulisan samar. Huruf-hurufnya tidak bersinar terang, tidak mencolok, namun jelas terbaca seolah langsung tercetak di kesadarannya.
“Sistem Sekte Terkuat.”
Di bawahnya, bidang-bidang lain tersusun rapi. Kolom status. Informasi dasar. Namun hampir semuanya kosong. Tidak ada angka kekuatan. Tidak ada peningkatan kultivasi. Tidak ada janji tentang jalan pintas atau mukjizat.
Sebagian besar bagian ditutupi oleh simbol pengunci tipis, redup, menandakan sesuatu yang belum dapat diakses.
Xu Tian menyipitkan mata.
“Tidak seperti cerita-cerita bodoh itu,” pikirnya.
Tidak ada ledakan kekuatan. Tidak ada gelombang energi yang mengguncang langit. Bahkan panel ini pun tampak… sederhana. Dingin. Fungsional.
Ia melangkah setengah langkah ke depan, lalu berhenti.
Panel itu tidak bereaksi.
Jaraknya kini cukup dekat untuk melihat detail halus pada permukaannya. Garis-garis cahaya seperti ukiran tipis bergerak perlahan, hampir tak terlihat, membentuk struktur yang konsisten. Tidak ada distorsi. Tidak ada tanda ketidakstabilan.
Xu Tian menelan ludah.
Tangannya terangkat sedikit, berhenti di udara.
Ingatan lain menyusup.
Saat ia pernah berharap pada kata-kata tetua. Saat ia percaya pada penilaian bakat yang dijanjikan akan berubah jika ia bertahan. Saat ia menunggu keajaiban yang tak pernah datang.
Tangannya turun lagi.
“Jika aku menyentuhnya… dan ini menghilang,” batinnya, “aku tidak yakin bisa berdiri lagi.”
Keheningan terus berlanjut.
Panel itu tidak mendesaknya. Tidak memanggil. Tidak mengeluarkan suara apa pun. Seolah ia ada di sana bukan untuk membujuk, melainkan untuk menunggu keputusan.
Xu Tian memejamkan mata sejenak.
Gelap.
Namun kali ini, di balik kelopak mata, tidak ada panel yang menghilang. Tidak ada cahaya yang pudar. Sensasi keberadaannya tetap ada, tenang, konsisten.
Ia membuka mata kembali.
Panel itu masih di sana.
Napasnya bergetar sedikit, bukan karena kegembiraan, melainkan karena kewaspadaan yang semakin tajam.
“Jika ini ilusi,” pikirnya, “maka pikiranku sudah terlalu jauh.”
Ia menggeser pandangan ke sisi panel, mencoba melihat dari sudut berbeda. Cahaya tetap stabil. Bayangannya sendiri tidak terdistorsi. Bahkan pantulan samar cahaya itu jatuh di tanah, tipis, hampir tak terlihat.
Nyata.
Setidaknya, cukup nyata untuk tidak bisa diabaikan begitu saja.
Xu Tian duduk perlahan di tanah, punggungnya sedikit membungkuk karena kelelahan. Ia tidak mengalihkan pandangan dari panel itu, seolah takut begitu ia lengah, semuanya akan lenyap.
Dingin tanah merembes melalui pakaiannya, membantu pikirannya tetap jernih.
“Anggap saja ini ujian,” batinnya pelan. “Jika aku salah, aku tidak akan kehilangan apa pun selain sisa harapan yang memang sudah tipis.”
Panel itu tetap diam.
Waktu kembali berjalan tanpa tanda.
Xu Tian mulai membaca setiap bagian yang terlihat, meski sebagian besar hanya simbol kosong. Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada suara yang membimbing. Semua terasa seperti kerangka awal, belum diisi.
Di sudut bawah panel, ada satu baris kecil, hampir tersembunyi.
“Status: Tidak Ditentukan.”
Kata-kata itu membuat dadanya terasa aneh.
Tidak ditentukan.
Bukan gagal. Bukan berhasil. Bukan kuat, bukan lemah. Seolah sistem itu sendiri belum memberi penilaian apa pun padanya.
Xu Tian tertawa kecil, kering, hampir tak terdengar.
“Bahkan ini pun ragu,” gumamnya pelan.
Namun justru keraguan itu terasa… jujur.
Ia mengangkat kepalanya, menatap langit yang mulai gelap. Senja telah benar-benar memudar, menyisakan warna biru tua yang dingin. Bintang pertama muncul samar, jauh, tak terjangkau.
Ia kembali menatap panel.
Tangannya terangkat lagi, kali ini lebih mantap. Jari-jarinya masih gemetar, namun tidak ragu seperti sebelumnya.
Ia tidak menyentuhnya.
Ia hanya memikirkan satu hal sederhana.
“Siapa aku?”
Panel itu berkedip pelan.
Sangat pelan.
Tidak ada suara. Tidak ada kilatan. Hanya perubahan kecil yang hampir tak terlihat, namun cukup untuk membuat jantung Xu Tian berdegup lebih keras.
Satu baris teks muncul perlahan, seolah ditulis satu per satu.
“Pendiri: Xu Tian.”
Xu Tian membeku.
Bukan karena kegembiraan. Bukan karena bangga. Melainkan karena keheningan yang menyertai pengakuan itu terasa terlalu nyata.
Pendiri.
Bukan murid. Bukan bawahan. Bukan penerima anugerah.
Pendiri.
Ia menghela napas panjang, dadanya terasa berat. Kata itu menekan pikirannya, membawa implikasi yang belum sepenuhnya ia pahami. Tidak ada kekuatan yang menyertainya. Tidak ada rasa aman. Hanya posisi.
Sebuah titik awal.
Panel itu kembali diam.
Xu Tian menatap nama itu lama, seolah memastikan ia tidak salah membaca. Namun teks itu tidak berubah, tidak memudar.
“Jadi… ini bukan mimpi,” batinnya.
Kesadaran itu tidak datang seperti petir. Tidak menghantam. Ia meresap perlahan, dingin, membuat pikirannya semakin waspada.
Jika ini nyata…
Maka apa pun yang akan datang tidak akan gratis.
Xu Tian menurunkan tangannya, mengepalkan jari perlahan. Rasa sakit di sendi masih ada. Luka-lukanya masih nyata. Dunia di sekitarnya masih kejam dan tidak berubah hanya karena satu panel melayang di udara.
Namun kini, di tengah kehancuran total, ada satu hal yang tidak runtuh bersamanya.
Sebuah sistem yang berdiri netral.
Tidak menjanjikan keselamatan.
Tidak menawarkan keajaiban.
Hanya membuka pintu.
Xu Tian duduk diam di hadapan panel itu, di luar gerbang yang telah menolaknya, dengan tubuh yang terluka dan pikiran yang penuh kehati-hatian. Di antara senja yang mati dan malam yang datang, ia menyadari satu hal dengan kejelasan yang sunyi.
Hidup lamanya telah berakhir.
Dan apa pun yang akan dimulai selanjutnya… tidak akan mudah.
...
Xu Tian tetap duduk tanpa bergerak.
Nama itu masih terpampang di panel, tenang, seolah tak peduli pada gejolak yang muncul di dadanya. “Pendiri: Xu Tian.” Tidak ada gelar tambahan. Tidak ada pujian. Tidak ada beban yang dijelaskan. Hanya satu penetapan yang kering dan dingin.
Ia menatapnya lama.
Lalu, perlahan, ia mengangkat tangan dan kali ini benar-benar menyentuh permukaan cahaya itu.
Tidak ada sensasi listrik. Tidak ada panas atau dingin yang ekstrem. Ujung jarinya hanya merasakan sedikit perlawanan, seperti menyentuh permukaan air yang tenang. Panel itu beriak tipis, garis-garis cahaya bergerak mengikuti sentuhannya.
Xu Tian menarik tangannya kembali sejenak, memastikan.
Panel itu tidak menghilang.
Ia menyentuhnya lagi, lebih mantap.
Cahaya meredup sesaat, lalu beberapa baris teks baru muncul di bawah status pendiri. Tulisan-tulisan itu tersusun rapi, tanpa ornamen, seolah dicetak oleh aturan yang tak memihak.
“Status Sekte: Tidak Ada.”
Xu Tian mengernyit.
“Wilayah Sekte: Tidak Ditentukan.”
“Anggota Sekte: 0.”
Setiap baris muncul tanpa suara, namun masing-masing terasa seperti pukulan tumpul. Tidak menyakitkan, tetapi cukup untuk mengingatkannya pada kenyataan yang telanjang.
Tidak ada.
Ia benar-benar tidak memiliki apa pun.
Xu Tian tertawa pelan, suaranya serak. “Masuk akal,” gumamnya. Dunia tidak akan memberinya ilusi tentang kemegahan yang belum ada.
Matanya bergerak turun, membaca dengan perlahan. Di bagian samping panel, beberapa ikon kecil terlihat, semuanya terkunci. Ketika ia memfokuskan pikiran pada salah satunya, sebuah keterangan singkat muncul.
“Fitur Terkunci. Syarat belum terpenuhi.”
Tidak ada penjelasan tambahan.
Ia mencoba ikon lain. Hasilnya sama. Terkunci. Tidak dapat diakses. Sistem itu seolah hanya menunjukkan apa yang belum bisa ia sentuh, bukan apa yang bisa ia dapatkan.
Xu Tian menarik napas panjang.
“Setidaknya jujur,” pikirnya.
Ia kembali menyentuh panel, kali ini tanpa target khusus. Cahaya berdenyut pelan, lalu sebuah baris notifikasi muncul, lebih besar dari sebelumnya.
“Sinkronisasi Dasar Selesai.”
Xu Tian menegang.
Tidak ada rasa asing yang menyerbu pikirannya. Tidak ada informasi yang dipaksa masuk. Hanya pemahaman samar yang muncul, seperti kesimpulan yang lahir setelah berpikir lama.
Sistem ini… terhubung dengannya, namun tidak mengendalikannya.
Ia bukan wadah. Ia bukan pion.
Ia adalah titik pusat.
“Pendiri,” batinnya mengulang kata itu. Bukan kehormatan, melainkan posisi yang menuntut konsekuensi.
Panel itu kembali berubah. Beberapa baris teks baru muncul, singkat dan langsung.
“Fungsi Dasar Aktif.”
“— Sistem Sekte Terkuat bertujuan untuk pembangunan, pengelolaan, dan pertumbuhan sekte.”
“— Semua pertumbuhan bersifat bertahap.”
“— Tidak ada hadiah tanpa aksi.”
Xu Tian membaca setiap baris dengan saksama.
Tidak ada kalimat yang berlebihan. Tidak ada janji bahwa ia akan menjadi kuat dengan cepat. Sistem itu bahkan tidak menyebut kultivasi secara langsung.
Ia menutup mata sesaat.
Di kepalanya, kenangan tentang ejekan lama berkelebat. Tentang betapa seringnya ia dianggap tidak berguna karena kemajuannya yang lambat. Jika sistem ini memang bergantung pada tindakan nyata, maka jalan yang terbentang di depannya tidak akan mudah.
Justru sebaliknya.
Ia membuka mata kembali.
“Baik,” gumamnya pelan. “Lebih baik seperti ini.”
Panel itu tidak menanggapi. Namun beberapa detik kemudian, cahaya di permukaannya berubah sedikit lebih terang. Sebuah garis tipis memisahkan bagian atas dan bawah panel, seolah membuka halaman baru.
Xu Tian menegakkan punggungnya tanpa sadar.
Satu notifikasi muncul, kali ini dengan simbol sederhana di sampingnya.
“Misi Awal.”
Jantung Xu Tian berdetak lebih cepat.
Ia tidak langsung membaca deskripsinya. Matanya terpaku pada judul itu saja, seakan satu kata tersebut mengandung beban yang lebih berat daripada semua penghinaan yang ia terima hari ini.
Misi.
Bukan anugerah. Bukan bantuan.
Tugas.
Ia menarik napas, lalu mengalihkan fokusnya ke bagian bawah.
Teks itu muncul perlahan, baris demi baris.
“Misi: Bertahan dan Menetapkan Titik Awal.”
Xu Tian menelan ludah.
“Deskripsi: Sebagai pendiri, Anda harus memastikan keberlangsungan diri dan menciptakan fondasi pertama.”
“Tujuan: Menentukan lokasi awal sekte.”
“Status: Belum Dimulai.”
Tidak ada batas waktu yang tertera. Tidak ada ancaman hukuman yang dijelaskan. Namun justru ketidakjelasan itu membuat misi ini terasa lebih nyata.
Menentukan lokasi awal.
Xu Tian memandang sekelilingnya.
Di belakangnya, gerbang Sekte Awan Giok menjulang gelap, dingin, dan tertutup selamanya baginya. Di depannya, hanya jalan gunung yang memanjang ke kegelapan, hutan yang sunyi, dan dunia yang tidak ramah pada mereka yang tidak memiliki latar belakang.
Tidak ada tempat yang aman.
Tidak ada wilayah yang siap menerimanya.
Xu Tian kembali menatap panel.
“Jadi… aku harus memilih,” batinnya.
Bukan sekadar bertahan hidup. Bukan hanya mencari perlindungan. Ia harus menentukan titik awal bagi sesuatu yang bahkan belum memiliki bentuk.
Sekte.
Kata itu terasa berat di lidah pikirannya. Ia, yang baru saja diusir dan diinjak-injak, kini dihadapkan pada konsep membangun sesuatu dari nol.
Tanpa murid.
Tanpa sumber daya.
Tanpa nama.
Xu Tian menghela napas panjang. Rasa takut muncul, pelan tapi nyata. Takut gagal lagi. Takut berharap terlalu jauh. Takut bahwa semua ini hanyalah jalan lain menuju kehancuran.
Namun di balik ketakutan itu, ada sesuatu yang lain.
Arah.
Untuk pertama kalinya sejak ia melangkah melewati gerbang itu, hidupnya tidak sepenuhnya kosong. Ia tidak tahu apakah jalan ini akan membawanya pada kebangkitan atau kehancuran total, tetapi setidaknya… ada jalan.
Panel itu tetap melayang, tenang, seolah menunggu.
Xu Tian menatap tulisan “Belum Dimulai” cukup lama, lalu mengalihkan pandangan ke depan. Ke jalan gelap yang terbentang. Ke dunia yang tidak lagi mengakuinya sebagai bagian dari apa pun.
Ia berdiri perlahan. Tubuhnya masih sakit, namun kakinya tetap menahan berat badannya. Angin malam kembali berhembus, membawa dingin yang menusuk, namun pikirannya kini lebih jernih daripada sebelumnya.
Xu Tian melangkah satu langkah ke depan.
Panel itu bergerak mengikutinya, melayang di samping, tidak menghalangi, tidak mendesak.
Di belakangnya, dunia lama telah runtuh tanpa sisa.
Di hadapannya, jalan baru terbuka—sunyi, gelap, dan penuh ketidakpastian.
Xu Tian menatap ke depan dengan mata yang masih menyimpan ketakutan, namun kini juga memantulkan tekad yang tenang.
Ia tidak tahu apakah ia akan berhasil.
Namun ia tahu satu hal.
Ia tidak lagi berdiri tanpa arah.