NovelToon NovelToon
Misi Terlarang Sang Mayor

Misi Terlarang Sang Mayor

Status: tamat
Genre:Kehidupan Tentara / Tamat
Popularitas:263
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Pasir Hitam

​Matahari Sahara tidak mengenal ampun. Cakrawala bergetar karena fatamorgana panas yang membakar. Di tengah hamparan pasir yang tak berujung, sebuah jip militer tua yang telah dimodifikasi menderu pelan. Elara duduk di kursi penumpang, mengenakan pakaian taktis gurun berwarna pasir dan syal shemagh yang menutupi separuh wajahnya. Matanya yang tajam tetap fokus pada layar radar genggam.

​"Dua kilometer lagi," bisik Elara. Suaranya sedikit serak karena udara kering. "Fasilitas 'Black Sand' ada di balik ngarai batu di depan. Kael, bagaimana status pengintaian udara?"

​Kael, yang berada di markas bergerak beberapa ratus mil jauhnya, menjawab melalui satelit. "Drone mikro menunjukkan aktivitas tinggi. Ada setidaknya dua unit artileri bergerak dan sistem pertahanan udara jarak pendek. Iron Sight tidak main-main. Mereka memperlakukan tempat ini seperti ibu kota baru."

​Zian, yang mengemudikan jip, memperlambat kecepatan saat mereka memasuki bayang-bayang tebing batu raksasa. "Mereka tahu kita akan datang, Elara. Volkov mungkin sudah mengirim sinyal sebelum kita menangkapnya. Kita tidak bisa masuk lewat pintu depan."

​Zian menghentikan jip di celah batu yang sempit. Dia menatap Elara. "Ingat rencana kita. Kau masuk melalui sistem ekstraksi udara di sisi utara. Aku akan memicu pengalihan di tangki penyimpanan bahan bakar. Kita punya jendela waktu sempit sebelum badai pasir yang diprediksi Kael menghantam area ini."

​Elara memeriksa senapan serbu kompaknya. "Badai pasir itu bisa jadi kawan atau lawan kita, Zian."

​"Jika kita bergerak cepat, itu akan menjadi perlindungan kita untuk keluar," jawab Zian. Dia menarik Elara mendekat, mencium keningnya melalui kain syal. "Tetaplah di frekuensi radio. Jika aku tidak menjawab dalam sepuluh detik, kau harus segera keluar dari sana."

​"Aku tidak akan meninggalkanmu di gurun ini, Zian," balas Elara tegas sebelum menghilang di balik bebatuan.

​Infiltrasi Elara berlangsung dengan presisi. Dia merayap melalui saluran udara yang dipenuhi debu panas. Di bawahnya, para ilmuwan berbaju pelindung putih tampak sibuk bekerja di laboratorium bawah tanah yang luas. Tabung-tabung kaca raksasa berisi gas VX berwarna kehijauan berjejer rapi—cukup untuk memusnahkan sepuluh kota besar.

​Elara memasang peledak magnetik di setiap titik krusial. Namun, saat dia mencapai ruang kontrol pusat, dia melihat sesuatu yang membuatnya membeku. Di layar monitor besar, terpampang foto satelit ayahnya yang sedang berada di rumah aman.

​"Zian, ini jebakan!" Elara berbisik mendesak ke radio. "Mereka tahu lokasi ayahku. Mereka mengawasi kita sejak dari Monte Carlo!"

​Tiba-tiba, suara tawa yang sangat dikenal terdengar dari pengeras suara di ruangan itu.

​"Selamat datang di gurun, Elara," suara Tristan bergema. Dia ternyata selamat dari luka tembaknya, meskipun kini suaranya terdengar lebih parah dan penuh dendam. "Kau pikir kau bisa melumpuhkanku? Iron Sight memiliki teknologi medis yang tidak bisa dibayangkan oleh militer negaramu yang medioker. Sekarang, lihatlah saat duniamu runtuh."

​Di layar monitor, sebuah drone Iron Sight terlihat mengunci koordinat rumah aman ayahnya.

​"Zian! Mereka akan menyerang Ayah!" Elara berteriak.

​"Kael, tangkis serangan itu!" suara Zian terdengar dari radio, diikuti suara tembakan beruntun. "Elara, aku tertahan di sektor bahan bakar! Ada unit mekanis di sini! Aktifkan peledaknya sekarang, atau kita tidak akan punya kesempatan!"

​Elara dihadapkan pada pilihan mustahil: menyelamatkan ayahnya dari jarak jauh atau menghancurkan pabrik gas VX sebelum didistribusikan.

​"Maafkan aku, Ayah," bisik Elara dengan air mata mengalir. Dia menekan tombol detonator.

​BOOOM!

​Ledakan berantai mengguncang fasilitas bawah tanah itu. Api membubung tinggi dari tangki bahan bakar di atas, menciptakan kekacauan masif. Elara melompat dari saluran udara, menembak dua penjaga yang mencoba menghalanginya, dan berlari menuju pusat komunikasi untuk memutus kendali drone.

​Jari-jarinya menari di atas keyboard. "Kael! Aku mengirimkan kode pembatalan untuk drone itu! Terima sekarang!"

​"Diterima! Drone dinonaktifkan! Elara, cepat keluar! Badai pasir sudah menghantam perimeter!"

​Elara berlari menembus asap tebal. Dia bertemu Zian di koridor utama yang mulai runtuh. Zian tampak terluka di bahunya, darahnya merah kontras dengan pakaian gurunnya.

​"Zian!" Elara memapah pria itu.

​Mereka keluar dari fasilitas tepat saat dinding pasir setinggi seratus meter menghantam area tersebut. Dunia menjadi gelap, dipenuhi pasir yang berputar dengan kecepatan mematikan. Penglihatan mereka terbatas hanya pada jarak satu meter.

​"Kita harus mencapai jip!" teriak Zian di tengah raungan angin.

​Dalam kebutaan total, mereka saling berpegangan tangan. Elara menggunakan kompas digital di pergelangan tangannya untuk menemukan arah. Pasir terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulit mereka. Tiba-tiba, sesosok bayangan muncul dari balik debu.

​Tristan berdiri di sana, mengenakan baju zirah berat dan helm full-face. Dia memegang senapan mesin berat.

​"Ini akhirnya, Elara!" Tristan melepaskan tembakan membabi buta ke arah suara mereka.

​Zian mendorong Elara ke bawah pasir. "Tetap merunduk!"

​Zian melepaskan granat asap, bukan untuk menutupi jejak, melainkan untuk menciptakan turbulensi di dalam badai yang membuat peluru Tristan meleset. Elara merangkak di bawah deru angin, menarik pisau panjangnya. Dia mendekati Tristan dari arah belakang, memanfaatkan suara badai sebagai penutup.

​Dengan satu gerakan eksplosif, Elara melompat dan menghujamkan pisaunya ke sendi baju zirah Tristan di bagian leher. Tristan berteriak kesakitan, menembakkan senjatanya ke udara saat dia jatuh ke pasir.

​"Kau... tidak akan pernah... menang..." rintih Tristan sebelum badai pasir menelan tubuhnya yang lumpuh.

​Zian menarik Elara. "Ayo! Jipnya ada di sana!"

​Mereka berhasil masuk ke dalam jip dan menutup pintu rapat-rapat. Mesin menderu, berjuang melawan timbunan pasir. Zian mengemudi dengan insting murni menembus kegelapan badai.

​Dua jam kemudian, badai mereda. Jip mereka berhenti di puncak bukit pasir, dikelilingi oleh kesunyian gurun yang luas. Fasilitas 'Black Sand' kini hanyalah tumpukan puing yang tertimbun pasir.

​Zian menyandarkan kepalanya di setir, napasnya berat. Elara menyentuh bahu Zian, memeriksa lukanya.

​"Ayahmu selamat, Elara," kata Zian pelan. "Kael baru saja memberi sinyal hijau. Drone itu jatuh satu mil dari rumah aman."

​Elara menghela napas lega, air matanya kini benar-benar jatuh. Dia memeluk Zian erat di dalam kabin jip yang sempit. "Kita melakukannya, Zian. Kita menghentikan mereka."

​Zian membalas pelukan itu, mencium rambut Elara yang penuh pasir. "Tapi Tristan benar tentang satu hal. Ini belum berakhir. Iron Sight akan mengirim lebih banyak orang. Dan sekarang, mereka tahu siapa yang paling kita sayangi."

​Elara menatap ke arah cakrawala gurun. Dia tahu bahwa hidupnya sebagai "Tentara Seksi" telah lama mati, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih kuat: seorang pelindung.

​"Biarkan mereka datang," kata Elara dingin. "Kita punya satu gurun lagi untuk dikubur."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!