Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Marni berdiri menghadang pintu depan, kedua tangannya direntangkan lebar-lebar untuk menghalangi jalan Hendra yang sudah memegang beberapa kantong plastik besar berisi barang pemberian Rima.
"Langkahi dulu mayat Ibu kalau kamu berani mengembalikan barang-barang ini, Hendra!" teriak Marni dengan mata melotot, wajahnya memerah menahan amarah yang meledak-ledak.
Hendra menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan kelelahan yang luar biasa setelah malam yang panjang dan penuh tekanan. Pikirannya kacau, apalagi setelah kejadian di hotel dan bayangan wajah Aisya yang pucat.
"Bu, tolong mengerti. Barang-barang ini tidak benar. Rima punya niat lain, dia mau merusak rumah tangga kami. Aku tidak mau berutang budi pada wanita seperti dia. Ibu seharusnya malu dong, sama saja Rima merendahkan harga diriku sebagai seorang anak!"
"Niat lain apa?! Niatnya baik, ingin menyenangkan hati orang tua!" Marni berkacak pinggang dengan napas memburu, ia tak peduli dengan harga diri anaknya, yang ia pedulikan hanyalah kilau kemewahan di tangannya. "Kalau kamu kembalikan ini, Ibu bersumpah tidak akan menyentuh makanan satu suap pun! Biar saja Ibu mati kelaparan di rumah ini! Biar kamu puas melihat Ibu menderita karena membela istri mandul mu itu!"
Aisya yang baru saja selesai mencuci piring di dapur, berdiri terpaku di balik pintu. Ia meremas ujung daster lusuhnya, tubuhnya bergetar mendengar kata "mandul" kembali terlontar dengan begitu kejam dari mulut mertuanya. Setiap kata yang diucapkan Marni seperti sembilu yang menyayat jantungnya.
Mendengar ancaman mogok makan dari ibu mertuanya membuat jantung Aisya berdenyut nyeri. Ia merasa seperti duri di tengah kehidupan mereka, sebuah penghalang bagi kebahagiaan yang diinginkan mertuanya.
"Ibu jangan bicara begitu..." sahut Aisya memberanikan diri mendekat, suaranya parau menahan tangis.
"Diam kamu!" bentak Marni. "Ini semua gara-gara kamu! Kamu kan yang menghasut Hendra semalam? Kamu iri karena tidak sanggup membelikan ibu tas bagus, lalu kamu meracuni pikiran anakku supaya mengembalikan pemberian orang lain? Dasar licik!"
"Bukan begitu, Bu. Aku tidak pernah—"
"Sudah, Aisya. Jangan dijawab," potong Hendra, terdengar sangat putus asa. Hendra menatap ibunya dengan tatapan mengalah. Ia tahu jika ibunya sudah mulai membawa-bawa nyawa dan mogok makan, ia tidak akan pernah menang.
Dengan berat hati, Hendra meletakkan kembali tas-tas mewah itu di atas sofa. Suara benturan tas itu ke sofa terasa seperti hantaman di kepala Aisya.
"Baiklah kalau ini mau Ibu. Aku tidak akan mengembalikannya sekarang. Tapi tolong, jangan libatkan Rima lagi dalam urusan keluarga kita," ucap Hendra seraya berbalik, menatap Aisya yang tertunduk lesu dengan bahu yang bergetar.
Lalu ia mendekat dan mengusap bahu istrinya. Hendra ingin memeluk, tapi ia merasa terlalu kotor setelah apa yang terjadi semalam. "Mas berangkat dulu, ya. Jaga diri baik-baik di rumah."
"Iya, Mas. Hati-hati." Aisya mengangguk lemah, tanpa berani menatap mata suaminya.
Begitu pintu depan tertutup dan suara motor Hendra menjauh, suasana di dalam rumah berubah menjadi neraka bagi Aisya. Marni tidak lagi terlihat seperti orang yang ingin mogok makan; ia justru tampak penuh energi untuk melampiaskan sisa amarahnya pada menantu yang dianggapnya tidak berguna itu.
"Puas kamu sekarang?!" Marni mendekati Aisya. Kini wajahnya hanya berjarak beberapa senti, matanya berkilat penuh kebencian. "Lihat Hendra, dia pergi dengan wajah kusut begitu karena ulahmu! Kamu itu cuma beban bagi dia, Aisya!"
Aisya mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh, meski dadanya terasa sangat sesak. "Aku minta maaf kalau selama ini menjadi beban untuk kalian, Bu. Tapi sungguh, aku sayang sama Mas Hendra."
"Sayang katamu?! Sayang tidak bisa dimakan! Cinta tidak bisa membelikan aku sepatu bermerek!" seru Marni tertawa sinis, suaranya memenuhi ruang tamu yang sempit itu.
"Seharusnya kamu itu sadar diri. Berkaca sana! Kamu itu menantu yang tidak ada harganya. Masak tidak bisa yang enak, rumah berantakan, dan yang paling parah rahimmu itu mati! Kamu sudah menutup jalan Hendra untuk punya keturunan!"
Aisya terisak pelan, bahunya terguncang hebat. "Ini ujian dari Allah, Bu..."
"Halah! Jangan bawa-bawa Tuhan untuk menutupi kekuranganmu!" Marni menjentikkan jarinya ke dahi Aisya dengan kasar. "Dengar ya, Rima itu jauh lebih segalanya dari kamu. Dia cantik, kaya, dan yang pasti dia bisa memberikan cucu yang hebat buat Ibu. Kalau kamu memang sayang sama Hendra, seharusnya kamu pergi! Lepaskan dia supaya dia bisa hidup layak dengan wanita yang sederajat dengan dia!"
Aisya merosot ke lantai, ia tidak kuat lagi menopang berat tubuhnya. Di tengah tumpukan barang mewah milik Rima yang bergelimpangan di sofa, Aisya merasa dirinya hanyalah debu yang tidak berharga, sampah yang sewaktu-waktu bisa dibuang.
"Ibu benar-benar mau aku pergi?" tanya Aisya di sela isaknya, suaranya begitu kecil dan penuh luka.
"Sangat mau! Tapi kamu kan tidak tahu malu, tetap saja bertahan di sini dan numpang hidup!" Marni mendengus jijik, lalu ia mengambil salah satu tas barunya dengan bangga dan berjalan masuk ke kamar, meninggalkan Aisya yang bersimpuh di lantai ruang tamu yang dingin.
Aisya menatap lantai yang baru saja dipel nya tadi pagi. Air matanya jatuh menetes ke ubin. Ia teringat janji Hendra semalam untuk mencari kontrakan, tetapi melihat kenyataan pagi ini, ia ragu suaminya itu akan mampu melawan Marni. Hendra selalu kalah jika dihadapkan pada ancaman ibunya.
Rasa bersalah menghujam hatinya. Ia merasa telah menghambat kesuksesan Hendra, menghalangi kebahagiaan mertuanya, dan menjadi sumber keributan setiap harinya. Ia merasa seperti pecundang yang hanya bisa menangis.
"Ya Allah... apakah aku memang harus menyerah?" bisik Aisya lirih, suaranya tenggelam dalam kesunyian rumah yang mencekam.
Dunia seolah tertutup bagi Aisya. Di rumah ini, suaranya tidak pernah didengar, dan keberadaannya hanya dianggap sebagai luka yang menganga. Namun, di tengah keputusasaannya, terbit sebuah keinginan kecil yang mulai menguat.
"Sepertinya aku harus mulai bekerja seperti dulu, supaya Ibu tidak menganggap ku tak berguna lagi. Aku harus punya harga diri, aku tidak boleh hanya diam diinjak-injak."
Aisya mengusap air matanya dengan kasar. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, Kaisar sedang merencanakan sesuatu yang akan mengubah hidupnya selamanya.
apa Sarah nama tengah belakang atau samping 🤣