Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.
Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.
Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.
Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Sugar Daddy KR
Pagi itu, suasana di Lantai 30 terasa kaku dan dingin, jauh lebih dingin dari AC sentral yang disetel Lingga. Udara terasa tebal, dipenuhi oleh ketegangan tak terucapkan dari malam sebelumnya.
Ayu keluar dari kamar tamu sekitar pukul 06.30 pagi, mengenakan kaus oversized Lingga dan celana training yang sama. Rambutnya sudah kering dan tertata rapi. Ia menemukan Lingga di dapur, sudah berpakaian lengkap dalam setelan jas yang sempurna—kecuali dasi yang belum terpasang—dan sedang membuat kopi.
Aroma pahit kopi yang kuat bercampur dengan bau deterjen yang samar dari pakaian Ayu.
"Pagi, Tuan," sapa Ayu pelan, merasa sedikit canggung.
"Pagi, Ayu," jawab Lingga, bahkan tanpa menoleh. Suaranya datar, sedatar meja marmer di hadapannya.
Ia menyerahkan secangkir kopi hitam—sama persis dengan yang biasa diminum Ayu di kantor—tanpa bertanya.
"Terima kasih," kata Ayu, menerima cangkir itu.
Lingga, yang sedang meninjau berita bisnis di tabletnya, akhirnya mendongak. Matanya yang tajam menyapu penampilan Ayu.
Meskipun kaus itu sama, cahaya pagi yang alami membuatnya terlihat sedikit berbeda. Lingga segera mengalihkan pandangannya kembali ke layar.
Ia menahan diri untuk tidak menanyakan apa pun tentang pakaiannya, tentang tidurnya, atau tentang apa pun yang bisa mengingatkannya pada malam yang membuatnya tersiksa.
Namun, rasa penasaran itu masih membara, mengubahnya menjadi lebih mengawasi dari biasanya.
"Pipa air di apartemenmu sudah selesai diperbaiki pukul tiga pagi," ujar Lingga, fokus pada tablet. "Kau sudah bisa kembali. Ken akan mengantarmu, dia akan tiba di bawah dalam lima belas menit."
"Baik, Tuan. Saya akan segera berkemas," kata Ayu. Ia segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja kopi, berniat mengirim pesan kepada Ken.
Lingga merasakan ketidaknyamanan yang tiba-tiba. Tadi malam, Ken adalah pelampiasan dari rasa cemburunya. Hari ini, Ken adalah penyelamat yang akan membawa pergi sumber kegilaannya.
"Kau mau mengetik apa?" tanya Lingga tiba-tiba, suaranya tajam.
Ayu terkejut, berhenti mengetik. "Hanya memberi tahu Ken bahwa saya sudah siap, Tuan."
"Tidak perlu," potong Lingga, menutup tabletnya dengan bunyi klik yang tegas. "Dia sudah tahu. Jadwalku pukul delapan, dan aku tidak suka ada penundaan. Kau tidak perlu memberitahu dia setiap detail pergerakanmu. Dia asistenku, bukan personal secretary pribadimu."
Ayu mengangguk, menyimpan ponselnya. Sikap dingin Lingga pagi ini sungguh luar biasa, pikirnya.
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Lingga berdiri, membiarkan matanya yang mengawasi itu sekali lagi menyapu sekilas.
Ah, sial! Rasa penasaran pada sesuatu di balik kaos longgar dan tipis yang dipakai Ayu semalam—khususnya area yang disentuh Ayu dengan malu-malu—kembali membakar otaknya. Lingga merasa marah pada dirinya sendiri karena fokusnya benar-benar terganggu.
Dia mencoba mencari alasan logis untuk melakukan kontak mata, atau setidaknya interaksi yang membuatnya merasa seperti CEO yang berkuasa.
"Ayu," panggilnya.
"Ya, Tuan?"
"Kau tidak bisa pulang dengan pakaian itu," kata Lingga, menunjuk kaus kebesaran di tubuh Ayu.
Ayu mengerutkan dahi. "Saya tidak punya pakaian lain, Tuan. Semua basah."
"Aku tidak peduli," Lingga mendengus. "Itu kaus tidurku. Itu... melanggar kode berpakaian korporat. Kita tidak ingin ada paparazzi yang mengambil gambar asistenku dengan kaus tidurku di lobi."
Ayu menahan diri untuk tidak berkomentar bahwa Lingga Mahardika, CEO, tidak akan pernah difoto di lobi apartemennya sendiri.
"Saya akan mengambil jaket saya di apartemen. Ken bisa menunggu saya di bawah," usul Ayu.
"Tidak. Terlalu berisiko membiarkanmu berlama-lama di sana sendirian, mungkin ada kerusakan tersembunyi," kata Lingga cepat, alasan yang terdengar dibuat-buat.
Lingga berjalan ke kamarnya, meninggalkan Ayu dalam kebingungan. Dia kembali beberapa detik kemudian, membawa sebuah hoodie abu-abu tebal dan baru. Hoodie itu berlogo perusahaan mereka, Mahardika Group.
"Pakai ini," perintah Lingga, menyerahkan hoodie itu. "Ini seragam baru yang belum sempat dibagikan. Ukurannya terlalu besar untukmu, tapi setidaknya itu terlihat resmi dan tebal."
Dia menekankan kata tebal.
Ayu mengambil hoodie itu. "Terima kasih, Tuan. Ini pasti sangat mahal."
"Harganya tidak penting," Lingga memotong, menyilangkan tangan di dada, mendesak Ayu untuk segera memakainya.
Ayu pun mengenakan hoodie tebal itu di atas kaus putihnya. Begitu hoodie itu tertutup, Lingga merasakan ketegangan di tubuhnya sedikit mereda, meskipun hanya sekejap.
Garis-garis yang mengganggu pandangannya sekarang telah tertutup rapat oleh kain tebal dan berlapis.
Bagus. Tersembunyi. Aman.
"Nah," kata Lingga, suaranya kembali menjadi CEO yang dingin dan otoriter. "Sekarang kau terlihat seperti asisten yang kompeten.
Jangan pernah lagi datang ke penthouse-ku dengan pakaian yang kurang pantas, bahkan dalam keadaan darurat."
Lingga menoleh, mengambil dasi sutra merah maroon dari punggung kursi dan mulai memasangnya.
"Sekarang pergilah. Dan pastikan semua berkas Tuan Dirga sudah siap saat kita bertemu di kantor pukul 09.00."
Ayu memberi hormat kecil yang sopan. "Siap, Tuan."
Ia bergegas ke lift. Lingga, yang kini sendirian, bersandar di meja dapur, merasakan penderitaan yang aneh.
Ayu pergi. Keinginannya untuk melihat dan memilikinya terbungkus di dalam hoodie perusahaan yang tebal.
Lingga menyentuh cangkir kopi Ayu yang tertinggal. Hangat.
Ken akan mengantarnya pulang. Ken akan memastikan dia baik-baik saja.
Sial! Kenapa bukan aku?
Lingga menggerutu kesal.
***
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....