Laki-laki muda yang menikah karena perjodohan dengan wanita yang tak ia kenali dan wanita yang sedang sakit akibat kecelakaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yushang-manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13

"Boutique terbesar di arab?" tanya Fatih
"Iyah, tapi sekarang punya cabang di Jakarta. Keren kan? Jadi gimana tawaran gue tadi?"
"Hm, kita butuh dana banyak, apa mungkin boutique Haulah mau?" ragu Fatih
Yasmine melirik khaulah lalu tersenyum seolah meminta persetujuan hal itu diacungi jempol oleh khaulah membuat senyum Yasmine melebar.
"Berapa emangnya?"
"500 miliyar."
"What? Seriously, that's a huge amount of money. But it doesn't matter. Temen gue pasti mau kok, jadi kalau kalian butuh waktu buat mikir dulu gapapa. gue sama Salma mau pulang soalnya."
Fatih mengangguk. "Yasudah kalian pulang saja, sudah malam. Istirahat yang cukup biar tidak sakit lagi."
"Gue gak disuruh istirahat Al?" Yasmine tersenyum jahil.
"Ehem, yah maksudnya kamu juga Yasmine istirahat biar gak sakit." gugup Fatih, hal itu membuat telinga nya memerah.
"Yaudah gausah malu gitu, Salma seneng kok diperhatiin, yah kan sal?"
"Eeum, kita pamit dulu, assalamu'alaikum." khaulah menarik lengan Yasmine. Membawanya keluar masjid. "Jangan seperti itu Yasmine. Saya malu."
"Bercanda sal. Maaf yah?"
"Iyah.., yuk."
Kedua sahabat itu berjalan pelan namun cepat menuju ndalem. Saat akan sampai ndalem seseorang berlari ke arah mereka,.sontak membuat mereka reflek berhenti.
"Yasmine, Salma,.Afwan mengganggu perjalanan kalian."
Yasmine dan khaulah menghembuskan napas lega. "Lo nih Al, ngagetin aja tau gak?!"
"Afwan..." maaf Fatih
"USTADZ, NING, TUNGGU SAYA." teriak amar dari jauh. Sampainya ia dihadapan mereka dengan napas yang tersengal. "Hah..., ustadz kenapa tidak nungguin saya?" ucapnya terbata.
"Afwan amar, saya kira kamu masih lama."
"Ada apa sih?" tanya Yasmine
"Soal temen kamu." jawab Fatih
"Oh, jadi gimana?"
"Kita terima!" teriak amar bersemangat. Meraka menatap cengo amar. "Maksudnya, kita mau kenalan dan terima tawaran mba Yasmine."
"Mba mba Lo pikir gue kakak Lo apa?" sewot Yasmine
"Anti kan tidak mau dipanggil Ning, yasudah saya panggil mba saja, bener toh?"
"Salah! panggil nama aja kan bisa!, apa susahnya sih?"
"Susah, mba Yasmine."
Salma memotong ucapan Yasmine saat ia hendak protes. "Kalau gitu, sebaiknya kita bicarakan di rumah saja. Tidak enak jika kita bicara diluar seperti ini apalagi hanya ada kami ber 4."
"Yah betul, jika ada pihak keamanan yang lihat nanti bisa bahaya." Fatih membenarkan pendapat Salma.
Kemudian mereka melanjutkan langkahnya menuju ndalem. Fatih dan amar berada di depan sedangkan Yasmine dan khaulah mengikuti nya dari belakang. Sampainya di ndalem, mereka langsung masuk ke dalam. Fatih mempersilahkan mereka untuk duduk, sedangkan khaulah masih berdiri hendak mengambil air minum untuk mereka.
"Eh, sal, Lo mau kemana?"
Khaulah menghentikan langkahnya. "Buat minum di dapur."
"Eh, gausah. Sini Lo duduk, gue aja."
Pintu kamar terbuka memperlihatkan Hafshah yang baru saja keluar dari kamarnya. Hafshah tersenyum saat mendapati ada tamu dirumah nya. Lantas ia pun menghampiri mereka yang tengah melihat dirinya berjalan mendekat.
"Ma syaa Allah, sejak kapan kalian kumpul disini?"
"Baru umma." Fatih menjawabnya.
"Kenapa tidak diambilkan minum Al. Tunggu sebentar yah uma buatkan minuman dulu buat kalian." Hafshah hendak melangkah ke dapur namun permintaan seseorang mengurung niatnya.
"Uma, biar saya saja yang buatkan minuman. Uma kemarilah, duduk saja disini." khaulah menepuk sofa disampingnya.
"Eh, jangan dong. Gue aja, Uma sama Salma disini aja duduk oke." Yasmine mengambil peran.
"Tidak usah, biar Uma aja udah kalian duduk anteng di sini oke?" setelahnya Hafshah segera pergi meninggalkan ruang tamu.
"Bisa dimulai?" tanya Fatih.
Yasmine melirik khaulah meminta persetujuan dan hak itu disetujui oleh khaulah. "Yah mulai aja."
"Baik, sebelumnya saya mau tahu dulu siapa pemilik dari boutique Haulah itu? Karena di artikel tidak disebutkan nama pemiliknya." ujar Fatih. "Hanya ada clue di situ KH seorang perempuan."
"Memangnya menjadi investor harus tahu dulu nama pemilik perusahaan nya?" tanya khaulah.
Fatih mengangguk. "Ya, kita harus tahu lebih dulu pemiliknya siapa, supaya nanti tidak ada kesalahpahaman, keselisihan.* jelasnya.
"Tidak bisa jika dirahasiakan saja?" tanyanya lagi.
"Bisa, tapi untuk sesama pemilik perusahaan yang bekerjasama itu tidak ada kerahasiaan tentang identitas. Rahasia identitas itu diperuntukkan untuk para karyawan ataupun lawan bisnis jika memang perlu." jelas Fatih lagi. "Jadi, siapa pemilik boutique Haulah tersebut, Yasmine?"
"Pemilik boutique Haulah itu...." Yasmine menjeda ucapannya. Membuat Fatih dan amar semakin penasaran
"Serius banget bahas apa sih hm?" Hafshah datang dengan senampan minuman dibawanya. "Nih, minum dulu."
"Syukron Uma."
"Sama-sama." Hafshah tersenyum. "Lagi bahas—"
"Perusahaan Uma." jawab Fatih.
"Oh, sangat penting yah?" semua mengangguk bersamaan. "Yasudah Uma masuk ke kamar yah kalian lanjut aja meeting nya. Al, kalau butuh Uma, panggil aja yah? Yasmine nanti ajak Salma istirahat yah."
"Siap Uma."
Hafshah kembali masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan mereka kembali melanjutkan obrolan yang tertundanya.
"Siapa mba Yasmine? Ayo toh cepet kasih tahu."
"Sabar Napa sih Lo ih." sewot Yasmine. "KH itu singkatan dari.... Khaulah Hayek."