Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Bulan
Bulan memantul lembut di permukaan danau qi, menciptakan riak cahaya yang berkelip perlahan. Lin Feiyan duduk di teras kuil, tubuhnya membungkuk sedikit, tangan menggenggam kain jubahnya sendiri. Suasana malam begitu sunyi hingga setiap desir angin terdengar seperti bisikan halus, mengelus telinganya dengan dingin.
Dari bayangan kolom kuil, Xi Qinxue muncul dengan langkah lembut. Rambutnya yang hitam pekat berkilau samar diterpa cahaya bulan, wajahnya tenang dan tak tergoyahkan. “Feiyan,” suaranya pelan, selembut embun malam. “Aku ingin membantumu memahami dirimu sendiri. Bolehkah aku membacakan batinmu?”
Feiyan menoleh, matanya masih sedikit berkaca karena rasa lelah. “Batin…ku?” tanyanya lirih, sedikit ragu. Ia tidak tahu apa yang dimaksud, namun ada sesuatu dalam ketenangan Qinxue yang membuatnya merasa aman, meski samar.
Xi Qinxue duduk di sebelah Feiyan, menekankan kakinya dengan anggun di lantai teras. Dengan gerakan halus, ia mengangkat telapak tangannya, dan Qi halus mulai mengalir dari tubuhnya, membungkus Feiyan seperti kabut lembut yang tak terlihat. Napas Feiyan melambat, tubuhnya terasa ringan, hampir melayang antara sadar dan tidur.
Dunia di sekitarnya mulai berubah. Kabut tipis menebal, bayangan bulan memanjang dan menari di tanah, seolah bergerak sendiri. Angin sepi berhembus membawa bisikan yang samar, suara yang tidak sepenuhnya nyata. Feiyan menatap ke sekeliling, matanya melebar. Kilasan masa depan muncul di pandangannya: jalan yang samar, cahaya yang retak, sosok gelap berdiri jauh di kejauhan, namun bentuknya tak jelas.
Sebuah rasa takut samar merayapi dirinya. Jantung Feiyan berdebar, tapi ia tidak bisa menepis bayangan itu. Ia ingin lari, namun kakinya seperti tertahan di tanah kabut. Xi Qinxue tetap duduk di sampingnya, tenang, wajahnya tanpa ekspresi, hanya menatap Feiyan dengan mata dingin yang penuh kontrol.
“Kau harus berhati-hati… dunia ini tidak sesederhana yang kau kira,” bisik Xi Qinxue lembut. Kata-katanya mengalir seperti air tenang, tetapi di balik ketenangannya, ada sesuatu yang menanam benih keraguan di hati Feiyan. Ia mulai bertanya-tanya tentang dunia dan orang-orang di sekitarnya, meski ia belum sepenuhnya menyadari jebakan yang sedang menunggu.
Feiyan berjalan perlahan di padang ilusi yang tak berujung. Setiap langkahnya menimbulkan riak kabut, bayangan bulan memantul di permukaan tanah yang gelap. Ia melihat bayangan dirinya sendiri di kejauhan, mencoba menatapnya, tetapi bayangan itu menolak kontak mata, seperti memberi pesan samar: “Kau tidak cukup siap.”
Ketakutan dan rasa ingin tahu bercampur, membuat hati Feiyan bergejolak dengan emosi kompleks yang tak bisa ia jelaskan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi setiap tarikan terasa seperti menelan udara gelap yang menempel pada jiwanya.
Xi Qinxue menutup ilusi perlahan, menarik Feiyan kembali ke teras kuil. Tubuh Feiyan terengah, namun sedikit lega. Ia menatap danau qi di bawah bulan, merasa masa depan mungkin berbahaya—namun masih belum memahami manipulasi yang tersembunyi.
Dari lengan jubahnya, Xi Qinxue mengeluarkan gulungan kecil dan pena tinta hitam halus. Dengan gerakan cepat, ia menulis:
“Hati ini bisa pecah… saat yang tepat.”
Ia menatap Feiyan sebentar, senyum tipis muncul di wajahnya—tenang, penuh perhitungan, dan sabar. Feiyan, yang masih termenung di bawah sinar bulan, tidak tahu bahwa langkah hidupnya selanjutnya akan diarahkan oleh tangan Xi Qinxue. Catatan rahasia itu tersimpan di bayangan kuil, tanda bahwa hatinya bisa pecah kapan saja.
Feiyan masih duduk di teras, matanya menatap riak cahaya di danau qi. Suasana malam begitu sunyi hingga terdengar detak jantungnya sendiri, berdenyut seolah berkoordinasi dengan bulan yang memantul di permukaan air. Rasa penasaran bercampur takut samar menggulung dalam dada, membuat tubuhnya sedikit tegang. Ia mencoba mengusir perasaan itu, tetapi bayangan-bayangan samar dalam pikirannya semakin tebal, mengaburkan batas antara nyata dan mimpi.
Xi Qinxue bergerak perlahan mendekat, duduk di depan Feiyan dengan sikap anggun. Tangannya terangkat, menyalurkan Qi halus lagi, kali ini lebih lembut namun lebih dalam. Setiap aliran Qi seolah menyentuh lapisan batin Feiyan yang paling rapuh, membaca ketakutannya, rasa ingin tahunya, bahkan kecemasan yang tidak ia sadari. Feiyan merasakan ada sesuatu yang menempel di hatinya—hangat namun menekan, nyaman namun membuatnya goyah.
“Kau merasakan dunia ini… begitu luas, bukan?” suara Xi Qinxue lembut, hampir seperti bisikan angin malam. “Ada hal-hal yang tidak bisa kau kendalikan, hal-hal yang tersembunyi… dan ada bagian dari dirimu yang mungkin belum kau temui.”
Feiyan menelan ludah, dadanya terasa sesak. Ia ingin bertanya, namun kata-kata macet di tenggorokannya. Setiap kali ia menatap Xi Qinxue, matanya seolah menembus pikiran Feiyan, membaca tiap ketidaktahuan dan rasa takut samar. Ada rasa hangat aneh, seperti dipeluk, namun Feiyan tidak sepenuhnya nyaman.
Xi Qinxue tersenyum tipis, mencondongkan tubuhnya sedikit, menulis di udara dengan Qi halus sebuah simbol yang hanya bisa dirasakan, bukan dilihat. Simbol itu menyentuh pikiran Feiyan tanpa ia sadari, menanamkan benih keraguan yang lembut namun persisten: apakah orang-orang di sekelilingnya benar-benar tulus? Apakah dunia ini aman baginya?
Feiyan menggeleng kecil, mencoba menepis perasaan itu, tetapi setiap kali ia menutup mata, bayangan samar muncul kembali: jalan yang tidak berujung, sosok gelap yang menatap dari kejauhan, dan kilasan cahaya yang seolah memanggilnya untuk berhati-hati. Ia mulai merasa kecil, tidak berdaya, seolah berada di dunia yang lebih besar dan lebih gelap daripada yang pernah ia bayangkan.
Xi Qinxue menutup jaraknya sedikit, menepuk lembut bahu Feiyan, mengembalikan rasa nyaman sementara. “Jangan takut, aku di sini,” katanya selembut sutra malam, namun setiap kata mengarahkan pikiran Feiyan semakin dalam ke labirin ketidakpastian. Feiyan menunduk, menatap tangan yang terlipat di pangkuannya, merasakan denyut Qi halus yang ditinggalkan Xi Qinxue—tenang di permukaan, namun menanam kecemasan halus di dasar hatinya.
Dengan gerakan cepat namun halus, Xi Qinxue menarik gulungan kecil dari jubahnya dan menulis catatan baru di bawah cahaya bulan. Tinta hitamnya mengalir seperti bayangan yang hidup:
“Semua hal baik di sekelilingnya hanyalah permukaan. Hati ini… akan pecah saat saatnya tiba.”
Ia menatap Feiyan sebentar, senyumnya tidak berubah—tetapi matanya menahan sesuatu yang lebih dalam, sebuah niat yang tersembunyi rapi di balik tenangnya wajah. Feiyan masih termenung, tidak menyadari bahwa pikirannya telah diarahkan oleh Xi Qinxue, langkahnya perlahan dipengaruhi, dan benih keraguan itu telah menancap di hatinya.
Malam terus berlanjut. Cahaya bulan menembus kabut tipis, menyorot danau qi yang berkilau. Feiyan duduk sendirian, dadanya penuh campuran ketakutan samar dan rasa ingin tahu, tidak tahu bahwa di balik bayangan Xi Qinxue yang menghilang ke sudut kuil, catatan rahasia itu tersimpan—tanda pertama dari manipulasi yang akan membentuk jalan hidupnya selanjutnya.
Dalam kesunyian, satu hal terasa pasti: hati Feiyan kini berada di ambang retak, dan tangan Xi Qinxue siap menunggu saat yang tepat.