Warning 21+ guys ... harap cek umur dulu sebelum baca.
***
Arya seorang Presdir di sebuah perusahaan terjebak pesona sekretaris pribadinya sendiri yang setiap hari sering berinteraksi dengannya.
Suatu hari mereka terpaksa tinggal satu kamar dan tidur satu ranjang. Bisakah Arya bertahan dengan godaan ranjang dari sekretaris mudanya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Nggak Boleh Liburan
Dimas dan Arum pun makan di belakang rumah kontrakan ini yang memang cukup bagus karena harga sewanya pun lumayan mahal tidak seperti rumah kontrakan biasa pada umumnya.
"Rum, kamu kok nggak pernah cerita kalau kamu diperlakukan seperti pembantu sama keluargamu?" keluh Dimas pada kekasihnya.
"Aku mana mungkin ceritain keburukan keluargaku meski mereka hanyalah keluarga tiri kepada orang luar. Mereka yang selama ini memberikanku tempat bernaung dan juga makanan. Meski aku harus bekerja seperti pembantu tapi aku nggak ada pilihan lain. Dulu aku hanyalah bocah cilik tanpa ada sanak saudara yang bisa merawat atau kumintai pertolongan," jawab Arum yang kini mulai menghela napas lelah.
"Iya juga sih." angguk Dimas yang membenarkan sikap yang diambil oleh Arum. "Oh iya, aku ngerasa heran kenapa aku diundang untuk makan malam di rumah ini sama mereka? Kalau mereka memang tidak menganggapmu."
Arum mulai menampilkan raut wajah sedihnya lagi. "Aku juga tidak tahu. Tapi sewaktu mereka tahu aku sudah punya pacar, mereka minta untuk undang kamu ke sini."
Dimas terdiam dan mulai terhanyut dengan pikirannya sendiri dan mulai berpikiran yang tidak-tidak dengan keluarga tiri pacarnya itu.
***
Keesokan harinya, suasana di rumah keluarga Arya begitu hangat karena memang di keluarga ini sangat sedikit sekali pertengkaran, bahkan bisa dibilang tidak ada huru-hara selama ini.
Nisa lebih banyak mengiyakan dan jarang sekali membantah ucapannya Arya karena dia memang sejak dulu selalu ditekankan oleh kedua orang tuanya agar selalu baik dan menurut saja.
"Pah, kapan kita berkunjung ke rumah kakek?" tanya Vania yang memang sudah sangat merindukan suasana kampung yang ditinggali oleh ayahnya Arya.
Ayahnya Arya semenjak tidak menjabat lagi di perusahaan yang kini dikelola oleh anaknya memilih untuk menghabiskan masa tuanya di pedesaan yang sejak dulu dia impikan.
Meski Arya dulu sempat meminta ayahnya untuk tinggal dengan dirinya di kota saja, namun lelaki tua yang sudah membulatkan tekadnya sejak dulu -sangat susah untuk digoyahkan pendiriannya.
"Kapan ya?" bimbang Arya. "Papa masih banyak pekerjaan. Mama kamu juga kan baru melahirkan, belum boleh pergi jauh-jauh."
"Tapi aku udah kangen banget sama kakek. Lagian ini sedang hari libur sekolah juga kan. Mumpung masih lama liburannya, Pah. Vania pengen tinggal di desa bareng kakek," rajuk gadis itu.
"Aduh, keadaan kita tidak memungkinkan, Sayang."
"Kalau gitu biarin aku pergi sendiri aja ke sana, Pah!"
"Nggak!" larang Arya tegas.
"Kalau pergi sama Abang aja gimana, boleh nggak?" tawar gadis muda itu yang masih belum menyerah untuk pergi ke kampung.
"Abang nggak bisa, Dek," ucap Dimas yang langsung menolak keras rencana itu. "Abang lagi ngerintis bisnis di kota ini. Selama liburan Abang mau fokus berdagang aja."
"Huft, menyebalkan semuanya," keluh Vania.
"Untuk tahun ini kamu sabarin aja liburan di rumah aja ya, Sayang!" rayu Arya pada anak gadis kesayangannya.
"Ya udah deh, mau gimana lagi," sahut Vania dengan bibir yang cemberut.
"Udah siang nih," cakap Arya yang kini mulai sibuk menyelesaikan makannya, "Papa berangkat kerja dulu ya!" pamit lelaki itu pada semua keluarga kecilnya.
Kening Vania pun dikecup sekilas oleh Arya dan Nisa pun mencium pundak tangan suaminya.
"Hati-hati di jalan ya, Mas," pesan wanita itu.
"Hm," jawab Arya cepat yang langsung melengos pergi dari rumah ini begitu saja.