NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Trauma masa lalu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: HaluBerkarya

Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.

Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.

Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Aturan

Aurin dan Revan duduk agak jauh dari Geanetta agar pembicaraan mereka tidak terdengar. Revan menatap Aurin beberapa saat dengan sorot mata yang sulit ditebak sebelum akhirnya mengeluarkan selembar surat dari saku jasnya dan menyerahkannya tanpa banyak bicara.

​"Apa ini, Pak?" tanya Aurin pelan. Jemarinya tampak gemetar saat menerima surat tersebut.

​"Baca saja, Nona."

​Nada datar itu terdengar seperti perintah, bukan permintaan.

​Dengan hati-hati Aurin membuka lipatan kertasnya. Matanya mulai bergerak perlahan menyusuri setiap kalimat yang tercetak rapi di sana. Namun semakin jauh ia membaca, semakin kuat jemarinya mencengkeram lembaran itu hingga nyaris kusut di bagian tepinya.

​"Dibanding tugas istri, ini lebih seperti pekerjaan pembantu..." batinnya lirih.

​Di dalam surat itu, namanya bahkan tidak ditulis sebagai seorang istri, melainkan pihak kedua yang harus menuruti semua aturan yang dibuat oleh pihak pertama. Gallelio Alastar tercantum sebagai pihak pertama dengan sederet aturan yang terasa dingin dan menyesakkan.

​Dia diwajibkan membantu pekerjaan rumah dan menggantikan sebagian tugas Bibi Tika selama tinggal di kediaman itu. Membersihkan rumah, mencuci pakaian secara manual, memastikan segala sesuatu tetap rapi, menemani Geanetta, bahkan menjadi guru les anak itu saat sedang berada di rumah. Semua tertulis jelas dan sangat detail, seolah keberadaannya memang hanya dibutuhkan untuk memenuhi fungsi tertentu.

​Bukan untuk diterima. Bukan pula untuk dianggap sebagai bagian dari keluarga itu.

​Aurin juga tidak diperbolehkan makan sesuka hati sebelum dipersilakan. Dia harus menjaga sikap, memahami posisi, dan tidak bertindak seolah dirinya memiliki hak di rumah tersebut. Barang-barang mahal yang ada di Kediaman Alastar adalah area terlarang yang tidak boleh disentuh sembarangan.

​Namun bagian yang paling membuat Aurin merasa sesak adalah larangan mengenai kamar utama dan ruang kerja Gallelio.

​Kedua tempat itu disebut sebagai area pribadi yang tidak boleh dimasuki siapa pun tanpa izin khusus, terlebih oleh orang asing. Dia tidak diperkenankan menyentuh, memindahkan, ataupun membersihkan benda apa pun di sana. Termasuk foto-foto yang tergantung di beberapa sudut rumah.

​Kalimat itu membuat Aurin tanpa sadar mengangkat kepalanya. Dia menatap bingkai-bingkai foto yang sejak tadi terpajang diam di dinding rumah megah tersebut. Foto-foto itu seolah sedang tertawa mengejek ke arahnya, menegaskan bahwasanya dia tidak lebih dari seorang pelayan, bukan istri. Wajah wanita di dalam foto itu seakan menunjukkan kemenangan mutlak. Meskipun raga wanita itu sudah tiada, suaminya akan tetap menjadikannya yang utama, bukan Aurin.

​Aurin menghela napas kasar. Rasanya sangat berat namun berusaha dia terima. Benda-benda itu memang bukan sekadar pajangan bagi Gallelio, melainkan kenangan yang dijaga mati-matian agar tidak terusik.

​Dia juga dilarang mencampuri urusan pribadi Gallelio dalam bentuk apa pun. Jadwal pria itu, kegiatan yang dilakukan, hingga tamu yang datang berkunjung, semuanya bukan urusannya. Bahkan untuk memulai percakapan pun terdapat batasan tersendiri. Aurin tidak diperbolehkan bicara pada Gallelio jika tidak ada kepentingan yang benar-benar mendesak.

​Dadanya terasa makin penuh saat membaca bagian berikutnya. Keberadaannya di rumah itu hanyalah sebagai tamu sementara yang menumpang, bukan sebagai nyonya rumah di Kediaman Alastar.

​Aurin menarik napas panjang perlahan. Namun saat dia sedikit menurunkan kertas itu, lembar berikutnya kembali menjuntai ke bawah. Masih ada lagi. Dan entah mengapa, semakin panjang surat itu, semakin jelas terasa bahwa pernikahan ini sama sekali tidak memberinya tempat untuk sekadar berdiri tegak.

...****************...

Aurin merasakan tangannya semakin gemetar saat mencapai bagian terakhir. Kalimat-kalimat di sana terasa begitu tajam, seolah-olah Gallelio berdiri tepat di hadapannya dan menunjuk wajahnya tanpa sedikit pun keraguan. Surat itu bukan lagi sekadar peraturan, melainkan penegasan bahwa keberadaannya di rumah itu hanyalah sesuatu yang ditoleransi, bukan diterima.

​"Kalau Nona melanggar salah satu saja dari poin tersebut..."

​Suara Revan memecah keheningan. Ia sempat berhenti sejenak, ragu melanjutkan kalimat yang sudah menjadi pesan dari tuannya sendiri.

​"...maka Nona harus meninggalkan rumah ini saat itu juga. Tanpa pengecualian."

​Aurin terdiam.

​Perlahan, jemarinya meremas pinggiran kertas itu, seakan berharap kekuatan bisa ditarik dari benda tipis tersebut. Namun yang ia rasakan justru sebaliknya. Semakin lama, semakin jelas bahwa posisinya di rumah itu bukanlah sebagai bagian dari keluarga, melainkan seseorang yang hanya diberi tempat singgah sementara di bawah aturan yang tidak bisa dinegosiasikan.

​Seperti penjara yang tidak memiliki jeruji, hanya batas-batas tak terlihat yang sudah ditentukan sejak awal.

​Aurin menarik napas pelan. Dadanya sesak, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia menatap Revan. Bukan dengan ketakutan, bukan pula dengan permohonan. Hanya tatapan datar yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dijatuhkan posisinya hingga ke dasar.

​Baginya, pekerjaan seperti itu bukan hal baru. Selama ini pun ia terbiasa melakukan pekerjaan yang seharusnya bukan bagian darinya. Di rumah paman dan bibinya, ia sudah lama belajar bagaimana rasanya menjadi orang yang hanya diminta bekerja tanpa banyak bertanya. Karena itu, meski menyakitkan, aturan-aturan itu tidak sepenuhnya asing.

​"Sampaikan pada Tuan..."

​Aurin berhenti sejenak, mengatur napasnya agar tidak bergetar.

​"Saya mengerti. Saya akan mematuhi semuanya."

​Ia melipat kembali surat itu dengan tenang, lalu meletakkannya di sisi meja. Tindakan itu layaknya sedang menutup sesuatu yang tidak lagi perlu dilawan, sebuah penerimaan pahit atas takdir barunya di kediaman ini.

.

.

"Bibi, nanti tolong ajarkan Nona Aurin cara membersihkan rumah ini. Semua area, kecuali kamar Tuan dan ruang kerjanya," ujar Revan sembari menghampiri Bibi Tika.

​Wanita paruh baya itu sempat terlihat bingung sesaat, namun kemudian mengangguk pelan. Meski tidak sepenuhnya mengerti mengapa nyonya rumah yang baru ini harus melakukan pekerjaan kasar, ia sudah cukup lama bekerja di sana untuk tahu satu hal. Permintaan Revan selalu berarti perintah langsung dari Gallelio.

​Aurin berdiri tidak jauh dari mereka, mendengarkan tanpa menyela. Setiap contoh dan kalimat yang diucapkan Bibi Tika ia simpan baik-baik. Ia mengulangnya dalam kepala seperti sedang menghafal sesuatu yang sangat penting, sesuatu yang bisa menentukan apakah ia akan tetap diizinkan bertahan di rumah itu atau tidak.

​Gerakannya pelan dan penuh kehati-hatian, bahkan untuk sekadar mengangguk pelan.

​"Untuk kamar Tuan, nanti Bibi yang akan membersihkannya sendiri," lanjut Bibi Tika kemudian, benar-benar ingin memastikan Aurin tidak melanggar zona terlarang tersebut.

​Aurin mengangguk lagi.

​Lalu ia mengikuti langkah wanita itu, menjaga jarak sedikit di belakang. Ia melangkah seakan setiap sudut rumah memiliki aturan tak terlihat yang bisa membuatnya salah langkah kapan saja. Di bawah kemegahan lampu kristal dan lantai marmer yang mengilat, Aurin mulai menyadari bahwa rumah ini bukan tempatnya untuk bersandar, melainkan tempatnya untuk mengabdi demi sebuah keamanan yang semu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Rosita Zaky
bagisss
ChaManda
😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
cih kesal
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
kan kan kan kocak ini si Gel... bilang aja aku minta no kamu biar kalau ada apa-apa gampang/Curse//Curse//Curse//Curse/ pke alesan sebagai terima kasih
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: gengsi kk🤣🤣😭
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
🤔 apa ini? kau mulai water? cihhh... dasar Gelooooooo/Curse//Curse//Curse//Curse//Curse/
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: 🤣🤣jangan lama2 dia dinginnya, ntar beku kak
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
huhuhuair mataku😭😭😭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
jeng jeng jeng jeng..... Gel... baik2 bini mu incaran adik lelaki mu
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: maca iya yuk lah buat Erza nyemek2
total 4 replies
ChaManda
aduhh kasian juga yaa si Clara
ChaManda
🫵🏻🫵🏻🫵🏻
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
ihhh msh kesel sama pak duda ngeselin😑
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
heh astagaaa keliarga gilaa ku penggal juga itu kepala kalian biar sekalian gk ounya otak😑
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
idih.... mulai nyaman dia natap yang belum tumbuh🤭
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Udah tumbuh tapi belum keliatan menarikknya🤣🤣
total 1 replies
ChaManda
buat istrimu atau buat kamu?☺️
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Gallelio: buat gadis itu, biar gak kuyuss krempeng
total 1 replies
ChaManda
🤣🤣🤣
ChaManda
🤣
ChaManda
🤣😭🫵🏻
ChaManda
🤣🤣🤣🤣 aku suka gayamuu
ChaManda
😭😭😭
ChaManda
🤣🤣🤣
ChaManda
heleh heleh🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!