NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Gaun Sutra

Dosa Di Balik Gaun Sutra

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:78.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.

Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.

Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.

Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.

Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....

"Apa salahku?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harapan di tengah kehancuran

Waktu seolah kehilangan maknanya di dalam ruangan beton yang senyap itu. Sudah dua bulan berlalu sejak malam kelam di mana Salsa diseret dan dibuang dari dunianya yang megah.

Dua bulan pula wanita itu dikurung dalam ruangan yang dingin, gelap, dan lembab, terasing dari peradaban seolah dirinya telah mati dan dihapus dari muka bumi.

​Setiap hari, tanpa absen satu kali pun, Salsa dicekoki obat-obatan dalam jumlah yang begitu banyak.

Pil-pil berwarna-warni dipaksakan masuk ke dalam tenggorokannya yang kering, dan tak terhitung pula sudah berapa banyak jarum suntik yang menusuk kulit lengannya yang kini dipenuhi bekas memar kebiruan.

Zat kimia dosis tinggi itu bekerja tanpa ampun, menghancurkan benteng pertahanan mentalnya hari demi hari.

​Sekarang, Salsa tidak lagi diikat tangan dan kakinya di atas brankar besi. Pihak rumah sakit jiwa menilai Pasien 5006 tidak lagi menunjukkan kecenderungan agresif yang membahayakan.

Namun, pelonggaran itu terjadi karena sebuah kondisi yang tragis: kesadaran Salsa sudah mulai hilang. Efek destruktif dari obat penenang konsentrasi tinggi telah menumpulkan fungsi kognitifnya secara perlahan.

​Salsa kini hanya bisa melamun di sudut ruangan, duduk meringkuk di atas lantai marmer yang dingin dengan kedua lutut ditekuk di depan dada.

Sepasang matanya yang kosong menatap lurus tanpa berkedip ke arah satu titik cahaya kecil yang menyusup dari lubang beton di bagian atas dinding.

Tatapan itu menyiratkan sebuah keputusasaan yang teramat dalam, seolah-olah ia masih menyimpan secercah harapan kecil yang semu, berharap ada seseorang, entah itu papanya atau bahkan keajaiban, yang akan datang mengetuk pintu besi itu dan menjemputnya pulang dari neraka ini.

​Penampilan Salsa telah berubah total, nyaris tidak lagi menyisakan jejak sebagai seorang putri konglomerat yang dulu selalu tampil menawan dan glamor.

Rambutnya yang dulu panjang, hitam legam, dan berkilau terawat, sekarang tampak kusut, kusam, dan berantakan karena tidak jarang tersentuh sisir.

Wajahnya yang tirus terlihat sangat sayu, kulitnya pucat pasi kehilangan rona kehidupan, dan kedua matanya tampak cekung dikelilingi lingkaran hitam yang tebal.

​Salsa tidak lagi berteriak histeris. Ia tidak lagi menggedor-gedor pintu atau meminta tolong dengan suara melengking seperti bulan-bulan pertama. Suaranya telah habis, begitu pula dengan energinya.

Di tengah keheningan ruangan yang mencekam, bibir pucatnya kini hanya sesekali bergerak tanpa suara, bergumam lirih mengulang satu pertanyaan yang sama seolah menjadi mantra kepasrahannya....

"Apa salahku...?"

​Kondisi fisik dan mental Salsa yang memburuk membuat sensor sarafnya mulai terganggu secara serius. Jiwanya seolah telah menarik diri dari cangkang tubuhnya. Karena itulah, ketika suara dentum berat pintu besi ruangan itu terbuka lebar, Salsa tidak memberikan respon sedikit pun. Kepalanya tidak menoleh, jemarinya tidak bergerak, dan fokus matanya tetap terpaku pada titik cahaya di dinding beton.

​Seorang perawat wanita yang usianya sudah paruh baya melangkah masuk ke dalam ruangan. Wanita itu mengenakan seragam putih bersih, membawa sebuah nampan berisi semangkuk sup daging hangat dan segelas air putih. Namanya Suster Weni.

Di antara sekian banyak staf medis yang memperlakukan Salsa seperti objek uji coba tak berharga, hanya Suster Weni yang selalu memandang wanita muda itu dengan mata kemanusiaan.

​Suster Weni menghentikan langkahnya beberapa jengkal di depan Salsa. Ia berlutut di atas lantai yang dingin, menaruh nampan makanan itu di dekat kaki Salsa.

Matanya menatap lekat tubuh kurus di hadapannya dengan pandangan yang sarat akan rasa prihatin dan iba yang teramat mendalam.

Namun, sebagai pekerja rendahan yang terikat sistem dan perintah atasan serta ancaman dari orang-orang berkuasa di balik penahanan Salsa, Suster Weni tidak bisa berbuat apa-apa untuk membebaskannya.

​"Makanlah Salsa!" Pinta wanita paruh baya itu dengan nada suara yang sangat lembut, hampir menyerupai bisikan seorang ibu.

​Salsa tetap diam mematung bagai patung lilin. Tidak ada respon, tidak ada kedipan mata yang menandakan bahwa ia mendengar suara tersebut.

Tubuhnya yang kini terbungkus gaun pasien longgar, bukan lagi kain tipis ternoda, tampak semakin kurus kering, tulang selangkanya menonjol tajam karena ia terlalu sering menolak makanan yang diberikan.

​Melihat keras kepalanya sang pasien, Suster Weni menghela napas panjang. Ia memajukan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Salsa, lalu berbisik dengan nada yang penuh penekanan rahasia.

"Kamu harus makan Salsa. Kamu harus kuat supaya tubuhmu bisa melawan racun dari obat-obatan yang setiap hari disuntikkan ke dalam tubuhmu! Jika kamu menyerah dan berhenti makan, obat-obat itu akan menghancurkan otakmu sepenuhnya"

​Bisikan bernada mendesak dari Suster Weni seolah berhasil menembus lapisan kabut tebal yang menyelimuti pikiran Salsa.

Perlahan, dengan gerakan yang sangat lambat dan kaku, Salsa menolehkan kepalanya. Ia menatap mangkuk sup daging yang ada di depannya.

​Uap hangat mengepul dari permukaan sup, membawa serta aroma kaldu gurih yang berpadu kuat dengan aroma bawang putih dan merica.

Namun, entah mengapa, indra penciuman Salsa yang sensitif menangkap aroma itu sebagai sesuatu yang teramat memuakkan. Detik itu juga, isi perutnya terasa bergolak hebat secara mendadak. Rasa mual yang luar biasa naik merayap ke tenggorokannya.

​"Huek... huek..."

​Salsa seketika membekap mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya membungkuk saat ia mengalami refleks muntah yang hebat. Tidak ada apa pun yang keluar dari mulutnya karena perutnya kosong, namun tubuhnya bergetar hebat menahan siksaan rasa mual yang melilit lambungnya.

​Suster Weni dengan sigap langsung mengusap punggung Salsa yang bergetar, mencoba meredakan gejolak di tubuh pasiennya. Namun, di sela-sela tindakannya, gerakan tangan Suster Weni mendadak terhenti.

Sepasang mata tua itu melebar, dipenuhi oleh sebuah kesadaran mengejutkan yang tiba-tiba melintas di kepalanya.

​Di sisa kesadarannya yang tumpul, Salsa sendiri merasakan ada sesuatu yang aneh dan tidak biasa pada tubuhnya akhir-akhir ini. Rasa mual ini bukan sekadar mual biasa akibat efek samping obat.

​Begitu pula dengan Suster Weni. Sebagai perawat senior yang bertugas mengurus seluruh kebutuhan sanitasi dan personal Salsa, ia tiba-tiba teringat satu detail penting, Salsa belum pernah sekalipun datang bulan semenjak pertama kali menginjakkan kaki di rumah sakit jiwa ini dua bulan lalu.

​Selama ini, Suster Weni menduga keterlambatan itu murni terjadi karena pengaruh buruk dari komparasi zat kimia penenang yang mengacaukan sistem hormon di dalam tubuh Salsa.

Namun, melihat reaksi mual yang begitu spesifik terhadap aroma makanan pagi ini, dikombinasikan dengan fakta hilangnya siklus datang bulan selama delapan minggu, Suster Weni menarik sebuah kesimpulan lain yang jauh lebih mencengangkan dan mengerikan.

​Salsa, kemungkinan besar sedang mengandung.

​Rasa syok seketika melanda batin Suster Weni, diikuti oleh gelombang ketakutan yang membuat jantungnya berdegup kencang. Jika dugaan ini benar, maka ini adalah sebuah keajaiban sekaligus tragedi terbesar.

Janin itu tumbuh di dalam rahim seorang wanita yang setiap hari dicekoki obat penenang dosis tinggi di dalam sel isolasi.

​Suster Weni menatap sekeliling dengan waswas, memastikan tidak ada kamera pengawas yang merekam atau perawat lain yang menguping di balik pintu besi yang sedikit terbuka. Ia kembali mendekatkan wajahnya ke arah Salsa yang masih lemas setelah muntah.

​"Tenang, kamu harus tenang Salsa" Bisik Suster Weni dengan suara yang gemetar namun tegas.

"Dengarkan aku dengan baik. Aku akan menyembunyikan hal ini dulu dari siapa pun di rumah sakit ini, terutama dari dokter kepala, sebelum aku bisa memastikannya secara medis"

​Suster Weni menatap perut rata Salsa dengan tatapan mata yang berkaca-kaca oleh rasa iba.

"Kalau benar kamu sedang hamil, demi Tuhan, aku hanya bisa berharap dan berdoa agar bayimu baik-baik saja dan tumbuh kuat di dalam sana, melawan banyaknya zat obat keras yang selama ini masuk ke dalam tubuhmu"

​Salsa menatap Suster Weni dengan pandangan mata yang sayu dan berkabut, tidak sepenuhnya mencerna arti kata hamil atau bayi karena otaknya yang tumpul oleh pengaruh obat.

Namun, getaran ketakutan dan ketulusan dari suara perawat paruh baya itu berhasil menyentuh bagian terdalam dari nuraninya.

​"Sekarang, aku minta kepadamu, makanlah sup ini sedikit saja!" Perintah Suster Weni dengan nada memohon yang mendalam, menyodorkan kembali mangkuk itu.

"Lakukan ini demi dia, demi janin yang sebenarnya belum pasti ada atau tidak di dalam tubuhmu saat ini. Jika dia benar-benar ada, dia butuh nutrisi darimu untuk bertahan hidup"

​Suster Weni bangkit berdiri dengan terburu-buru, merapikan letak pakaian seragamnya yang sedikit kusut.

"Aku akan keluar sekarang untuk mencari alat tes kehamilan secara diam-diam di luar area rumah sakit untuk memastikannya. Ingat, jangan tunjukkan gejala mual ini di depan dokter atau perawat lain!"

​Sebelum melangkah pergi, Suster Weni sempat mengusap punggung Salsa sekali lagi dengan lembut, memberikan kehangatan manusiawi yang sudah lama tidak Salsa rasakan.

Setelah itu, dengan langkah yang lebar dan terburu-buru, perawat paruh baya itu keluar dari ruangan, menutup pintu besi dengan rapat dan menguncinya dari luar.

​Setelah kepergian Suster Weni yang mendadak, keheningan yang pekat kembali menguasai ruangan segi empat tersebut. Bau sup daging yang mengaburkan aroma bawang putih masih menguar di udara, namun kali ini Salsa tidak lagi merasa mual.

​Salsa kembali diam membeku di sudut ruangan. Namun, ada sebuah gerakan yang berbeda kali ini. Perlahan-lahan, tangan kanannya yang kurus dan dipenuhi bekas tusukan jarum bergerak turun.

Jemarinya yang gemetar meraba permukaan perutnya sendiri yang masih terasa rata di balik kain gaun pasien yang kusam.

​Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari belahan bibirnya yang pecah-pecah. Keheningan itu begitu terasa.

Namun, di tengah kekosongan ekspresinya, air mata Salsa mulai berjatuhan satu per satu. Butiran air hangat itu mengalir melewati pipinya yang cekung, menetes jatuh di atas jemarinya yang masih setia mendekap perutnya.

​Sebuah naluri keibuan yang murni, yang belum sempat terenggut oleh zat kimia penenang, mendadak bangkit dan berdenyut lemah di dalam dadanya.

Di dalam rahimnya, di tengah-tengah lingkungan yang beracun dan penuh kebencian ini, mungkinkah ada sebuah kehidupan baru yang sedang berjuang untuk tumbuh?

Buah dari malam terkutuk yang penuh paksaan bersama Arkan. Salsa terus menangis dalam diam, merasai setiap tetes air matanya yang jatuh bersamaan dengan rahasia besar yang kini mulai berdenyut di dalam tubuhnya yang ringkih.

1
Cahaya
lanjut
Agnezz
Aku bisa merasakan trauma Salsa yg begitu mendalam , di bab 17 penjara tanpa batas waktu aku bacanya sampai hamoir gak bernapas, ngeri dan mencekam. Memang Nabila wanita berdarah dingin dan sadis. Pandai memanipulasi hingga Arkan terjerat pesonanya. Arkan laki2 yg ego nya tinggi, Nabila memainkan peran seakan wanita lemah. dipuaskan egonya Arkan menjadi pria pahlawan bagi Nabila si wanita lemah lembut. Kesalahan Arkan krn mengutamakan egonya. Seharusnya ketika Arkan setuju menikah dengan Salsa, dia harus terima konsekwensi benar2 jadi suaminya Salsa. bukan malah selingkuh dengan Nabila. Ini namanya Arkan gak tau berterima kasih.
Agnezz
wow detail banget pejabaran ttg pengakit Salsa, otornya rajin cari nasa sumber mungkin bisa dari psikiater langsung, atau literasi. 👍👍👍 menjadikan ceritanya bermutu gak cuma halu. sayang novel sebagus ini gak masuk rangking.
Agnezz: iya gimana caranya?
total 2 replies
Cahaya
secepat itu salsa kamu sadar
Agnezz
dendam dibalas dengan dendam gak menyelesaikan masalah. Memang benar orang yg bersalah harus dicari agar dia bertanggung jawab atas perbuatannya. kalo dendam, aura kemarahan.akan terasa dihati dan energi akan terasa disekitarnya. padahal Salaa butuh suasana yg tenang penuh kehangatan. Jadilah suami yg penyayang dan sabar agar Salsa lambat laun bisa senbuh.
Agnezz: iya pastinya Nabila harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tapi Arkan jangan sampai kebawa emosi, belajar mengendalikan ego dan emosinya. Laki2 itu harus mengandalkan logika.
total 2 replies
Felycia Fernandez
semoga hidupnya juga menderita
Melly
nanyain mantan Ka? mau balas dendam ya
🌿🌺WINA🌸🌿
Arkan sedang mencari wanita rubah itu yg membuat salsa jadi gila, cari nabila gusti sampai ketemu... arkan akan menjebloskan nabila kepenjara dengan bukti-bukti sudah ada....

Sabar arkan doakan salsa aja bisa lekas sembuh, serahkan semua sama dokter yg menangani salsa...

kesembuhan salsa butuh proses lama, secara salsa gangguan jiwa, menyesal sudah terlambat arkan semua telah terjadi , gak usah menyalahkan diri itu semua ujian dan cobaan buat kamu...
berusahalah kuat jadi didepan salsa dan ayu siapa lagi nanti akan menjaga dan melindungi salsa dan ayu... perbaiki semua kesalahanmu membahagiakan salsa dan ayu, mungkin tuk saat ini salsa dan ayu menolak kehadiranmu arkan ayu anggap kamu penjahat...

pelan-pelan dekati salsa dan ayu buat merasa nyaman dulu, pasti seiring berjalannya waktu salsa dan menerima kehadiranmu arkan.....
SasSya
Nabila harus menikmati karmanya secara sepadan
Hanima
Tidak usah cari monster yg lain, Kau dan Bapak dan Ibu mu lah Induk nya Monster ..
Mati saja lah kalian ke dalam rasa bersalah yang tidak berujung 😡
Jumi🍉
Ih nggak sabar lihat Nabila dapat balasan dari Arkan pokoknya Nabila harus lebih parah dari Salsa saat ini. /Angry/
Silvia
ayo mulai misi pembalasan arkan💪💪
mili
semoga salsa cepat sembuh dan kembali seperti semula berkat mukjizat dari othor
Nureliya Yajid
Semangat lanjut thor
Nureliya Yajid
Lanjut
Lily
harus buat Nabila ,lebih parah dri salsa.ke enakan Nabila 6thun di biarkan sama arkan hidup bahagia sma suaminya. klau bisa slma 6tqhun itu hrus menderita
Ceu Markonah
lanjut kk
Nar Sih
wanita mana yg kau cari arkan,nabila kah,ya..buruan cari wanita iblis itu yg telah buat salsa menderita gangguan jiwa ,bikin nabila sama seperti salsa klau perlu lebih parah dri nya🤣
Nurminah
perlu 70 episode lagi buat sembuh🤭🤭🤭
partini
ga segampang itu pelan" sabaran nya harus seluas samudra Hindia dan Atlantik lah Arkan aihhh secara bertahun-tahun di siksa mental dan fisik,
monster mau lihat seberapa kejam pembalasan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!