NovelToon NovelToon
DiBuang Suami Di Pungut Om

DiBuang Suami Di Pungut Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AmeeraKa94

Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..

selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.

malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.

seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.

plak
plak
plak

"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.

pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.

Cring

Zzzzzrrkkk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Sapa Yang Hilang

Pagi masuk lewat celah gorden. Cahaya matahari tidak terlalu terang, hanya cukup untuk membuat bayangan di lantai kayu kamar itu bergerak perlahan.

Netha mengerjapkan mata beberapa kali. Penglihatannya masih kabur. Kepalanya terasa berat, seperti habis dihantam sesuatu. Tenggorokannya kering. Seluruh tubuhnya terasa lemas.

Ia menggerakkan tangan untuk menyentuh dahinya. Hangat. Ada handuk kecil di atasnya yang jatuh ketika ia bergerak.

"Di mana aku...," gumamnya pelan. Suaranya serak. "Kenapa kepala ini sakit sekali."

Ingatannya terputus-putus. Ia ingat lorong belakang gedung. Pria bertopeng. Pisau. Teriakan. Lalu gelap.

Netha mencoba duduk. Pandangannya berputar sebentar sebelum akhirnya fokus. Kamar ini besar. Kasurnya empuk. Selimut yang menyelimutinya tebal dan terasa asing. Bukan selimut di rumahnya.

Ia menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada siapa-siapa. Hanya meja nakas, vas bunga, dan pintu kamar mandi yang tertutup.

Saat itulah pintu kamar mandi terbuka.

Arsen keluar dengan langkah santai. Ia baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah. Beberapa tetes air jatuh ke pundaknya. Tubuh bagian atasnya tidak mengenakan apa-apa, hanya handuk putih yang melilit di pinggang.

Ia berhenti ketika melihat Netha sudah duduk di ranjang. Matanya sedikit melebar, tapi ekspresinya tetap datar. Ia menyandarkan punggung ke kusen pintu, menyilangkan tangan di dada.

"Akhirnya sadar juga," kata Arsen tenang.

Netha langsung menoleh ke arah suara itu. Matanya membulat ketika melihat sosok pria di depannya.

Satu detik hening.

Lalu jeritan memecah keheningan kamar itu.

"AAAAAA!!!"

Jeritan Netha tinggi dan panjang. Ia refleks menarik selimut sampai ke leher, seolah itu bisa menjadi perisai.

Arsen terkejut. Ia tidak menyangka reaksinya akan sebesar itu. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat ke arah ranjang dan langsung menekan tubuh Netha ke kasur agar tidak jatuh atau berontak terlalu keras.

Satu tangannya membekap mulut Netha. Tangan satunya lagi menahan kedua pergelangan tangan Netha di atas kepala.

"Diam," bisik Arsen di telinga Netha. Nadanya rendah, tapi cukup tegas untuk membuat Netha berhenti berteriak, meski tubuhnya masih meronta.

"Hmph... hmph...," Netha berusaha bicara dari balik bungkaman tangan Arsen.

Mata mereka bertemu. Jarak mereka terlalu dekat. Nafas Arsen terasa di wajah Netha. Detak jantung Netha begitu kencang hingga ia yakin Arsen juga bisa merasakannya.

Arsen tidak langsung melepas. Ia memastikan Netha sudah cukup tenang sebelum sedikit mengendurkan pegangannya.

"Kamu aman," kata Arsen pelan. "Ini rumah Mama. Tidak ada orang lain."

Netha masih menatapnya dengan mata penuh ketakutan. Napasnya tersengal.

Dalam keadaan panik itu, kaki Netha bergerak refleks ke depan. Tendangannya tepat mengenai bagian sensitif Arsen.

Arsen mengerang tertahan. Pegangannya langsung lepas. Ia terjungkal ke belakang dan meringis sambil memegangi perut bagian bawahnya.

"Argh... sial," desis Arsen. Wajahnya berubah merah karena sakit dan menahan malu.

Netha langsung duduk dan mundur ke sudut ranjang. Selimut masih ia peluk erat. Dadanya naik turun karena takut dan marah.

"Kamu gila!" bentak Netha. "Main tindih orang seenaknya! Dasar om-om mesum!"

Arsen mengangkat wajahnya perlahan. Matanya menyipit menatap Netha. "Tadi kamu bilang apa?"

"Om-om mesum!" ulang Netha dengan suara lantang. "Kurang jelas?"

Arsen menghela napas panjang. Ia berdiri dengan susah payah, masih sedikit membungkuk. "Dasar wanita tidak tahu berterima kasih."

Netha tidak menjawab. Ia langsung turun dari ranjang. Kakinya sedikit gemetar, tapi ia memaksa berjalan menuju pintu. Ia membukanya dan langsung membanting pintu itu keras.

Brak!

Arsen memejamkan mata. Ia mengumpat pelan. "Dasar cewek... tadi gue yang nolongin, sekarang gue yang disalahin."

 

Suara bantingan pintu itu terdengar sampai ke ruang tamu di lantai bawah.

Rita sedang duduk di sofa, membaca majalah. Ia langsung menoleh ketika mendengar suara itu, lalu melihat Netha turun dari tangga dengan langkah cepat. Wajah Netha merah. Napasnya masih tidak teratur.

Netha tidak menyadari Rita sampai namanya dipanggil.

"Netha."

Netha menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan melihat Rita sudah berdiri di dekat sofa. Wajah wanita tua itu tenang, tapi matanya menyimpan tanya.

"Pagi, Oma," sapa Netha pelan. Ia menghampiri Rita dan mencium punggung tangan wanita itu dengan hormat.

Rita membalas senyumnya. "Bagaimana keadaanmu sekarang, Sayang?"

"Sudah lebih baik, Oma. Alhamdulillah," jawab Netha. Ia masih memegang selendang tipis yang ia ambil dari dalam kamar tadi untuk menutupi bajunya yang agak kusut.

Rita mengangguk. "Oma kaget sekali semalam. Tiba-tiba Arsen datang membawamu dalam keadaan pingsan. Oma pikir terjadi sesuatu yang buruk."

Netha menunduk. Rasa bersalah muncul di wajahnya. "Maaf, Oma. Sudah merepotkan."

Belum selesai kalimatnya, suara lain terdengar dari arah tangga.

"Bukan cuma Oma yang kamu repotin. Gue juga," kata Arsen. Ia sudah mengenakan kemeja hitam dan celana panjang. Rambutnya masih setengah basah, tapi penampilannya sudah rapi.

Ia berdiri beberapa langkah di belakang Netha, menatapnya dengan sorot mata tajam.

Rita langsung menegur. "Arsen, jangan bicara seperti itu."

Arsen mengangkat bahu. "Memang kenyataannya. Dan lebih parahnya, orang yang gue tolong malah pergi begitu saja tanpa permisi."

Netha menoleh dengan cepat. Wajahnya langsung berubah kesal. "Saya pergi karena Om tidak sopan! Menindih saya di tempat tidur itu perbuatan tidak pantas!"

"Siapa yang mau menindih kamu?" Arsen membalas dengan nada tinggi. "Itu gue lakukan biar kamu diem dan nggak jatuh dari ranjang!"

Netha mengangkat dagunya. "Apapun alasannya, tetap saja tidak sopan. Om itu om-om mesum."

Rita menatap putranya tajam. "Arsen."

"Ma, dengar dulu penjelasan Arsen," kata Arsen cepat. Ia mulai gelagapan.

Rita memotong. "Sekarang kamu minta maaf pada Netha. Sekarang juga."

Arsen terdiam. Ia menatap Mama, lalu menatap Netha yang masih berdiri dengan tangan menyilang di dada. Wajahnya tidak suka.

"Tapi Ma--"

"Tidak ada tapi," potong Rita tegas. "Kamu salah karena membuat dia ketakutan. Minta maaf."

Arsen menghela napas kasar. Ia menatap Netha selama beberapa detik sebelum akhirnya membuka mulut.

"Oke. Gue minta maaf," ucapnya singkat.

Netha menatapnya dari ujung kaki sampai kepala. "Yang ikhlas Om. "

"Arsen," Rita mengingatkan lagi.

Arsen mengacak rambutnya dengan frustrasi. Lalu ia membuang napas dan berkata dengan nada lebih pelan, "Aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku tidak bermaksud membuatmu takut."

Netha mengangguk kecil. Senyum tipis muncul di wajahnya, meski ia berusaha menyembunyikannya. "Nah, begitu dong. Sekarang giliran saya. Terima kasih, Om, karena sudah menolong saya dari orang itu semalam."

Arsen terdiam. Ia tidak menyangka Netha akan berterima kasih setelah semua keributan tadi. Tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit terangkat. Tapi ia langsung menyembunyikannya dengan berdehem.

"Hmm," jawabnya datar. Lalu ia langsung berbalik dan berjalan menuju dapur tanpa menoleh lagi.

Rita menggeleng pelan melihat sikap putranya. "Kamu jangan ambil hati, Nak. Arsen memang seperti itu. Dingin, tapi hatinya tidak sekeras sikapnya."

Netha mengangguk. "Saya mengerti, Oma. Saya tidak marah."

Rita tersenyum dan mengelus pipi Netha. "Kamu anak baik. Oma senang kamu ada di keluarga ini."

Netha tersenyum canggung. "Oma... saya mau pulang. Takut Queen dan Mas Keenan mencari saya."

Rita mengerutkan alis. "Tidak minta dijemput Keenan?"

"Tidak usah, Oma. Pasti dia juga capek habis kerja," tolak Netha halus. "Saya naik taksi saja."

"Yakin tidak mau diantar Arsen?" tanya Rita lagi.

"Benar, Oma. Saya bisa sendiri," jawab Netha pasti.

Rita tidak memaksa. "Baiklah. Ayo Oma antar kamu sampai depan."

Mereka berjalan bersama ke pintu depan. Rita memeluk Netha sebentar sebelum melepasnya. "Hati-hati di jalan, ya. Kalau butuh apa-apa, hubungi Oma."

"Terima kasih, Oma," kata Netha sebelum masuk ke dalam taksi yang sudah dipanggilkan.

Taksi melaju meninggalkan rumah besar itu. Netha menatap keluar jendela. Pikirannya masih dipenuhi kejadian semalam. Pria bertopeng. Arsen yang menolongnya. Jeritannya di kamar tadi.

Ia menutup mata sebentar. Kepalanya masih terasa berat.

 

Tiga puluh menit kemudian, taksi berhenti di depan rumah Netha dan Keenan. Rumah itu sepi. Tidak ada suara Queen. Tidak ada mobil Keenan di halaman.

Netha membayar taksi dan masuk ke dalam rumah. Ia mengunci pintu di belakangnya.

"Mas?" panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Ia berjalan ke ruang tamu. Suasana rumah terasa dingin. Tiba-tiba, suara dari belakang membuatnya berhenti.

"Masih ingat jalan pulang?"

Netha terkejut. Ia menoleh dan melihat Keenan berdiri di sana. Bersedekap. Wajahnya datar. Matanya menatap Netha tanpa ekspresi.

"Mas... kamu di rumah? Kamu ngagetin aku," kata Netha sambil tersenyum canggung.

Keenan tidak membalas senyumnya. "Dari mana kamu?"

Netha mengerutkan alis. "Aku... semalam pingsan. Ada yang mau nyerang aku di belakang gedung. Untungnya Om Arsen nolongin. Aku dibawa ke rumah Oma buat dirawat."

Keenan mengangguk pelan. Tapi sorot matanya berubah. "Jadi kamu nginep di rumah Om Arsen?"

"Iya, Mas. Aku pingsan. Dokter bilang aku harus istirahat," jelas Netha cepat. "Aku mau telpon kamu, tapi HP aku mati. Terus..."

"Berhenti," potong Keenan. Suaranya datar, tapi dingin.

Netha terdiam.

Keenan maju satu langkah. "Mulai hari ini, aku minta kamu berhenti kerja. Berhenti syuting. Berhenti jadi aktris."

Netha mengerutkan kening. "Apa, Mas?"

"Aku bilang, berhenti kerja," ulang Keenan dengan tegas. "Kamu fokus urus Queen. Urus rumah ini. Urus aku. Paham?"

Netha terdiam. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Mas... kenapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Netha pelan.

"Karena aku capek," jawab Keenan. "Capek lihat kamu sibuk di luar. Capek lihat kamu dekat dengan Om Arsen. Capek jadi suami yang selalu ditinggal."

Netha menggeleng. "Mas, pekerjaan ini bukan hanya soal aku. Ini soal tanggung jawab. Soal kontrak. Soal mimpi aku juga."

"Aku tidak peduli mimpi kamu," kata Keenan dingin. "Yang aku peduli adalah keluarga ini. Dan kalau kamu masih mau jadi bagian dari keluarga ini, kamu harus pilih. Aku atau pekerjaan itu."

Netha menatap Keenan lama. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia menahannya.

"Mas... ini tidak adil," bisiknya.

"Adil atau tidak, itu keputusan aku," jawab Keenan. "Jadi, pilih sekarang."

Netha tidak menjawab. Ia hanya berdiri di tempatnya. Tangan di sisi tubuhnya mengepal.

Keenan menatapnya menunggu. Tapi Netha tetap diam.

Keheningan itu terasa lebih menyakitkan daripada bentakan.

To be continued...

1
Anwar Ghazi
bagus cerita nya
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!