Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Penyusup Beraroma Parfum Mahal
"Sedang mencari sesuatu yang bukan hakmu, Bu Dosen?"
Suara Hino terdengar begitu dingin saat ia mendorong pintu kamarnya sendiri yang sedikit terbuka. Di dalam ruangan sempit itu, Linda terlonjak kecil. Tangannya yang memegang sebuah map kuning berisi catatan medis Erni langsung diturunkan ke samping paha. Sinar matahari siang yang menerobos dari celah ventilasi mempertegas garis wajah Linda yang mendadak tegang.
Linda berdeham, mencoba mengembalikan wibawa akademisnya yang baru saja runtuh karena tertangkap basah. Ia merapikan blus kerjanya, lalu menatap Hino dengan dagu terangkat. "Pintu depan tidak dikunci, Hino. Aku hanya ingin mengembalikan buku riset yang kupinjam dari Irmi, tapi aku mendengar suara mencurigakan dari kamarmu."
"Jangan berbohong di depanku," Hino melangkah masuk, lalu menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang rapat. Ia merebut map kuning dari tangan Linda dengan sekali sentakan. "Irmi sedang pergi ke bank sejak jam sepuluh pagi untuk menyetor omset minimarket, dan dia tidak akan pernah membiarkan orang lain memegang kunci serepnya. Bagaimana bisa kau masuk ke area bawah?"
Linda memundurkan langkahnya hingga tumit sepatunya membentur pinggiran ranjang kayu milik Hino dan Erni. Matanya melirik ke arah luar jendela sebelum kembali menatap Hino. "Irmimu yang kaya raya itu ceroboh, Hino. Dia meninggalkan seluruh rangkaian kunci di meja kasir gerai depan saat terburu-buru naik ke taksi online tadi. Aku hanya mengamankannya agar tidak diambil orang luar. Kebetulan, aku butuh melihat bagaimana kondisi mental istrimu dari rekam medis ini untuk keperluan bab ketiga risetku."
"Kau tidak punya hak untuk mencampuri urusan medis Erni!" Hino mengepalkan tangan, dadanya naik turun menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun. "Kau bilang kau mengambil cuti mengajar untuk fokus pada riset perilakumu? Tapi yang kulihat kau hanya seorang pengintip yang haus akan masalah orang lain!"
Linda justru tersenyum tipis, ketakutan di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh arogansi seorang wanita berpendidikan tinggi yang merasa memegang kendali atas segalanya. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga aroma parfum mahalnya yang menyengat langsung memenuhi rongga dada Hino. "Riset perilaku sosial membutuhkan keterlibatan penuh, Hino. Aku harus tahu seberapa jauh Erni bisa bertahan sebelum dia benar-benar gila karena tahu suaminya yang bekerja sebagai kepala toko di sini, ternyata digilir oleh pemilik minimarket tempatmu mencari nafkah."
"Jaga mulutmu, Linda!"
"Kenapa? Tersinggung dengan kenyataan?" Linda menepuk bahu Hino dengan pelan, sebuah gerakan yang merendahkan namun sarat akan intimidasi. "Asal kau tahu, aku sudah mengamati pola interaksimu dengan Irmi setiap jam dua belas malam setelah toko tutup. Data yang kukumpulkan sudah lebih dari cukup untuk membuat jurnal ilmiah yang sangat menarik. Sosiologi perkotaan akan sangat menyukai studi kasus tentang pria yang terjebak di dalam kosan berkedok kerajaan kecil ini."
Hino merasakan rahangnya mengeras. Tekanan psikologis yang dibawa oleh dosen ini jauh lebih berbahaya daripada ancaman finansial Irmi. Linda tidak mencari uang, dia mencari kepuasan dari pembuktian teorinya yang gila, dan itu bisa menghancurkan hidup Hino dalam sekejap jika dibiarkan terus mengganggu.
Sebelum Hino sempat membalas, pintu kamar kos terbuka dengan kasar dari luar.
Erni berdiri di ambang pintu dengan pakaian handuk yang basah di bagian pundak, wajahnya pucat dan lelah setelah pulang dari pekerjaannya sebagai pelayan panggilan di perumahan sebelah. Matanya bergerak cepat, menatap Hino dan Linda yang berdiri terlalu dekat di dalam kamar pribadi mereka.
"Ada apa ini? Kenapa Bu Linda ada di kamar kita, Mas?" tanya Erni, suaranya bergetar dengan nada curiga yang amat kental.
Linda tidak memberikan kesempatan bagi Hino untuk mengarang cerita. Perempuan itu berbalik, menatap Erni dengan senyum paling ramah namun paling beracun yang pernah Hino lihat seumur hidupnya. "Oh, Erni. Kebetulan sekali kau sudah pulang kerja. Aku hanya sedang mendiskusikan jadwal sewa kosan dengan suamimu, karena sepertinya... mulai bulan depan, ada beberapa aturan lingkungan yang harus kita sesuaikan lagi di sini."
Erni melangkah masuk, mengabaikan Linda dan langsung menatap mata Hino dengan pandangan menuntut. "Mas, katakan padaku. Apa lagi yang kau sembunyikan dariku? Kenapa perempuan ini bisa masuk ke kamar kita saat aku tidak ada di rumah?"
Hino memandangkan kedua wanita di depannya dengan rasa putus asa yang mulai berakar. Di satu sisi, ia harus menjaga agar Erni yang sedang hamil dua bulan tidak mengalami keguguran akibat stres. Di sisi lain, ia tahu Linda tidak akan berhenti mengganggu sampai hasrat risetnya terpenuhi.
"Erni, masuk ke dalam dan ganti pakaianmu," ucap Hino dengan nada rendah yang tidak menerima bantahan. Kemudian, ia berbalik menatap Linda dengan tatapan yang membuat senyum di wajah dosen itu perlahan memudar. "Dan kau, Bu Linda... serahkan kembali semua kunci yang kau ambil tadi ke meja kasir depan sekarang juga. Jangan biarkan aku kehilangan rasa hormat pada gelarmu."
Linda melipat tangannya di dada, melangkah mundur perlahan menuju pintu tanpa melepaskan pandangan menantangnya dari Hino. "Aku akan mengembalikannya, Hino. Tapi ingat, pengamatanku tidak berhenti sampai di sini. Aku akan terus mengawasi sampai ke mana arah permainan yang kau mainkan bersama dua wanita di rumah ini."