Alena Rahmawati tidak pernah menyangka bahwa menemukan dompet seorang pria asing di tengah bioskop tengah malam yang akan akan mengubah kehidupannya.
Demi biaya sekolah adiknya Dimas, Alena menerima tawaran aneh dari Arven Alfarizi, seorang CEO muda yang tampak memiliki segalanya. Sebagai imbalan sejumlah uang, Alena harus membuat Arven jatuh cinta kepada dirinya dalam waktu tiga puluh hari.
Awalnya semua hanya kesepakatan. Namun seiring berjalannya waktu, batas antara sandiwara dan perasaan yang sesungguhnya mulai menghilang. Saat Alena benar-benar jatuh cinta, ia baru mengetahui rahasia yang selama ini Arven sembunyikan.
Mampukah Alena membuat Arven jatuh cinta ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 ( Gue Khawatir Arven )
Pagi ini Alena bangun langsung membuka ponselnya.
Tanpa ia sadar, hal pertama yang ia lakukan adalah membuka ponselnya untuk melihat pesan Arven.
Namun pagi ini Alena tak mendapatkan pesan Arven.
Alena merasa aneh dan juga khawatir.
Akhirnya Alena pun lebih dulu mengirim pesan kepada pria itu.
[Alena : Lo masih hidup kan ? ]
Alena menunggu Arven balasan Arven dengan cemas
Beberapa menit kemudian, Arven pun membalas pesan Alena.
[Arven : Belum mati]
Alena pun langsung membalas pesan itu.
[Alena : Syukurlah kalau begitu]
[Arven : Kenapa ? Kangen dapet chat gue pagi-pagi ?]
[Alena : Ga usah kepedean lo]
[Arven : Gue tunggu misi lo hari ini]
[Arven : Btw lo ga usah pakai pakaian kayak kemarin]
Alena menaikkan satu alisnya dan menjawab pesan Arven
[Alena : Kenapa ? Aneh ya ? ]
[Arven : Bukan..]
[Alena : Terus ? ]
[Arven : Lo cantik tanpa harus jadi orang lain, Alena ]
Alena tersenyum dengan lebar membaca pesan itu, tanpa ia sadar ia melempar ponselnya dan menutup wajahnya dengan bantal miliknya
Alena memegangi dadanya, ia merasakan jantungnya yang terus berdebar dengan kencang.
" Alena tenang, lo harus tenang Alena " ucap Alena sendiri.
....
Saat Alena sampai di kampus, Alena mendapatkan berita buruk.
Uang kuliahnya memang sudah dibantu oleh Arven, tetapi ia mendapatkan kabar jika ada beberapa biaya yang harus Alena bayar untuk kegiatan kampus.
Biayanya bisa terbilang cukup besar bagi Alena, dan Alena tak memiliki uang sebanyak itu untuk sekarang.
Temen-temen Alena sempat bergosip mengenai Alena.
" Enak ya si Alena, katanya lagi Deket sama cowok kaya "
" Iyah, gue denger juga katanya uang kuliahnya di lunasin tuh sama cowoknya "
" Apa dia jadi simpenan ya "
" Kayaknya dia jadi Ani Ani deh "
Alena pun merasa kesal mendengar gosip aneh itu, bahkan ia tak tau dari mana awal gosip itu tercipta.
Tapi Alena bukan perempuan yang senang dengan keributan, ia lebih memilih diam soal gosip murahan itu.
..
Sore hari Alena pun mendatangi kantor Arven..
Saat Alena masuk, Alena melihat Arven yang memegangi kepalanya dan hampir terjatuh.
Alena melihat wajah Arven yang sedikit pucat.
Beruntung Alena masih sempat membantu Arven saat itu.
" Arven "
Ucap Alena panik
" Al.. "
Arven mencoba untuk tersenyum
" Santai Alena "
" Gue belum mati "
Namun Alena tidak tertawa kali ini
Ia benar-benar khawatir dengan kondisi Arven saat ini
Alena membantu Arven untuk duduk di sofa, tepatnya disamping dirinya.
Alena juga mengambilkan segelas air yang ada di meja kerja Arven.
" Minum dulu " kata Alena dengan raut wajah cemas
Arven pun meneguk air itu hampir habis.
Alena melihat Arven nampak sangat lelah
Untuk pertama kalinya, Alena puh merasa marah kepada Arven.
" Lo kenapa sih Arven ? "
" Kalau sakit itu istirahat "
" Kenapa masih maksa kerja sih ? "
" Lo pikir perusahaan ini bakal hancur karena lo cuma tidur satu atau dua jam ? "
Arven terdiam..
Setelah ibunya meninggal, tidak pernah ada yang memarahi dirinya seperti dulu ibunya memarahi dirinya.
Anehnya..
Arven merasa hangat, bahkan ia senang.
" Sekarang lo tidur yah "
" Lo cape "
" Kalau bukan lo sendiri yang perduli sama diri lo sendiri, terus siapa Arven ? "
Tanpa Alena sadar ia meneteskan air mata.
" Al, jangan nangis "
Kata Arven dengan panik
" Gue ga nangis, mata gue kelilipan "
Arven menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.
" Yaudah gue tidur sebentar, ga apa apa kan ? "
" Bagus lah, asal jangan tidur selamanya aja "
Arven tersenyum..
Arven pun merebahkan tubuhnya diatas sofa, tak sampai 5 menit Arven pun sudah tertidur dengan pulas.
Saat Arven tidur, Alena terus memandangi wajah Arven yang nampak lebih tenang.
Alena tak tau apa yang Arven hadapi saat ini..
Tapi Alena tidak suka melihat Arven yang menanggung semua bebannya sendirian.
Ting..!!
Ponsel Arven menyala, mendapatkan sebuah pesan masuk.
Ting..!!
Ting..!!
Awalnya Alena tidak berniat untuk membuka ponsel tersebut.
Tapi Alena penasaran, siapa yang mengirimkan pesan kepada Arven.
Saat layar itu kembali menyala, layar itu menampilkan sebuah pesan masuk dengan nama Dokter Reza.
[Dokter Reza : Jangan lupa minum obatnya]
[Dokter Reza : Kondisi kanker Lo mulai memburuk, Arven ]
[Dokter Reza : Lo harus yakin, kalau lo masih punya waktu yang banyak]
Alena membeku..
Tangannya bergetar
Ia merasa tubuhnya tak bisa ia gerakan saat ini.
Jantungnya berdetak dengan kencang, bukan karena ucapan manis Arven.
Tapi karena sebuah kebenaran yang akhirnya Alena tau saat ini.
Alena membacanya berulang-ulang kali, ia memastikan bahwa ia salah membaca pesan itu.
Tapi nyatanya pesan itu tidak berubah..
" Kanker " ucap Alena pelan
Dadanya terasa sesak
Air matanya tak bisa ia tahan
Alena kembali menatap Arven yang sedang tertidur
Untuk pertama kalinya
Ia melihat Arven bukan sebagai CEO muda yang kaya raya
Bukan Arven yang menyebalkan
Bukan target misi
Melainkan seseorang yang sedang berjuang melawan waktu.
Air mata Alena kembali jatuh..
Kali ini Alena tak bisa menyembunyikan kesedihannya..
" Jadi ini alasan Lo, Arven ? "
" Tapi kenapa cuma tiga puluh hari? "
" Lo masih punya banyak waktu Arven "
Alena menggenggam ponsel itu dengan erat, untuk kali ini ia merasa takut kehilangan seseorang.
" Kalau lo sakit kenapa lo nyuruh gue menjauh sih ? "
" Dan kenapa lo nyuruh gue jangan jatuh cinta ? "