"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22
"Paksu, kalau Ismut pegang dada Paksu sambil merem, itu dihitung olahraga melatih otot tangan atau melatih kekuatan iman?"
Suara bisikan Calla yang terlampau dekat di daun telinga Alaric membuat pria bertubuh kekar itu kembali menegang di atas ranjang. Malam sudah larut, udara pangkalan di luar terasa dingin, namun di dalam kamar tidur mereka, atmosfernya justru terasa kian memanas.
Calla sudah menyelinap masuk ke bawah selimut, mengenakan piyama satin bertali tipis warna hitam. Posisi tubuh mungilnya sangat berani, ia telungkup di samping Alaric dengan satu tangan lentiknya sudah mendarat dengan sukses di atas dada bidang suaminya, meraba tekstur otot dada Alaric yang keras di balik kaus dalam militer.
Alaric menarik napas dalam-dalam, menatap langit-langit kamar dengan pandangan lurus, berusaha keras mempertahankan sisa-sisa pertahanannya. "Calla, tanganmu. Sudah saya katakan, ini sudah jam sebelas malam."
"Ih, Ismut kan cuma minta jatah yang tadi siang tertunda, Paksu sayang," sahut Calla manja, jari-jarinya mulai bergerak nakal, menelusuri lekuk dada Alaric hingga naik ke arah leher kokohnya. "Katanya tadi sore bunganya sudah menumpuk banyak? Masa Komandan tega membiarkan Ismut tidur dengan perasaan penasaran?"
Alaric memejamkan matanya rapat-rapat saat merasakan sentuhan lembut namun mematikan dari jemari Calla. "Saya tidak pernah mengajarkan sistem bunga-berbunga di pangkalan, Ismut."
"Tapi Ismut yang bikin hukumnya di rumah dinas ini!" Calla mendongak, menopang dagunya di atas dada Alaric, menatap suaminya dengan mata kucing yang berkilat nakal di bawah temaram lampu tidur. "Ayo dong, Paksu. Satu ciuman pengantar tidur. Yang lama, yang kayak semalam sebelum diganggu telepon Mama Diah."
Alaric melirik ke bawah, menatap bibir ranum Calla yang sengaja dimajukan dengan sangat menggoda. Detak jantung di dalam dadanya langsung berdegup anarki. Sial, batin Alaric merutuk, daster satin tipis dan tatapan sayu istrinya benar-benar kombinasi mematikan yang sanggup merubuhkan benteng pertahanan militernya dalam sekejap.
"Kamu benar-benar tidak tahu bahayanya memancing saya di jam seperti ini, Calla," bisik Alaric, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah, serak, dan berbahaya.
"Nggak takut tuh~" cengenges Calla tanpa rasa bersalah.
Sebelum kata-kata berikutnya sempat lolos dari bibir Calla, Alaric sudah bergerak secepat kilat. Tangan besarnya mencengkeram pinggang mungil Calla, membalikkan posisi mereka hingga kini Calla berada di bawah kungkungan tubuh tegapnya. Alaric menundukkan wajahnya, langsung memagut bibir ranum Calla dengan penuh rasa lapar yang terpendam sejak siang.
"Emhh..." Calla melenguh pelan, matanya langsung terpejam rapat saat kehangatan bibir Alaric menyergapnya tanpa ampun.
Ciuman itu berjalan dengan tempo yang lambat namun teramat intens dan dalam. Alaric menghisap belahan bibir Calla bergantian, memiringkan kepalanya untuk memperdalam pagutan mereka seolah ingin menegaskan kepemilikannya secara mutlak. Tangan Calla yang awalnya berada di dada Alaric kini bergerak naik, meremas rambut pendek suaminya dengan erat, mendesah pelan di sela-sela ciuman panas mereka.
Sentuhan tangan Calla di rambutnya, ditambah dengan gesekan kain satin tipis di bawah tubuhnya, seketika membuat gairah pria dewasa di dalam diri Alaric meledak hebat. Kejantanan Alaric di balik celana training-nya langsung menegang maksimal, mengeras dan terasa sangat menyesakkan.
Alaric mengerang rendah, memutus pagutan mereka secara sepihak dengan napas yang memburu anarki. Ia menyandarkan dahinya di bahu mulus Calla, terengah-engah hebat mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya sebelum semuanya terlambat.
"Haaah... haaah... Calla..." panggil Alaric terbata-bata dengan suara yang teramat parau.
"P-Paksu..." Calla ikut terengah-engah dengan wajah merah padam, matanya sayu menatap suaminya penuh harap.
Alaric memejamkan mata, meremas seprei kasur dengan kencang. Pikiran tentang janji setianya pada almarhum ayah Calla dan prinsipnya untuk menghormati sang istri sampai hari resepsi resmi kembali berputar di otaknya seperti rem darurat.
"Saya... saya harus ke kamar mandi sekarang," ujar Alaric kaku.
Dengan gerakan cepat, Alaric langsung bangkit dari atas tubuh Calla, melompat turun dari ranjang tanpa melirik istrinya lagi. Pria berusia 38 tahun itu berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Calla yang masih terlentang di kasur dengan napas tidak teratur.
CEKLEK. GEJURRR!
Suara guyuran air dingin dari dalam kamar mandi terdengar sangat jelas di keheningan malam. Calla yang mendengarnya langsung merubah posisinya menjadi duduk, lalu menarik bantal untuk menutupi wajahnya, tertawa cekikikan sendirian.
"Bwahaha! Aduh Paksu, mandi air dingin lagi malam-malam!" Calla memukul kasur dengan gemas. "Padahal Ismut cuma minta cium, eh dia yang kepanasan sendiri sampai harus diguyur air es. Lucu banget sih om-om tentara gue!"
Keesokan paginya, pukul enam tepat. Suasana rumah dinas Komandan yang biasanya sunyi dan damai mendadak berubah menjadi zona perang penuh kehebohan.
"Hwaaa! Tolong! Paksuuu! Minyaknya lompat-lompat, Ismut diserang!"
Alaric yang baru saja selesai memakai seragam PDL lorengnya di dalam kamar mandi langsung tersentak kaget mendengar teriakan histeris istrinya dari arah dapur. Tanpa membuang waktu, sang Komandan langsung berlari cepat menuju dapur transit dengan tangan yang refleks bersiap mengambil posisi siaga tempur.
Namun, begitu sampai di ambang pintu dapur, langkah kaki tegap Alaric langsung berhenti mendadak. Matanya melotot sempurna menatap pemandangan paling ajaib seumur hidupnya.
Di depan kompor, Calla sedang berdiri dengan penampilan yang luar biasa heboh. Gadis itu mengenakan jas hujan plastik berwarna hijau cerah yang panjangnya mencapai mata kaki, lengkap dengan helm motor bogo berwarna merah muda yang kacanya diturunkan rapat sampai ke dagu. Tangannya memegang sebuah sudit kayu panjang seperti sedang memegang sebilah pedang samurai.
PTAAAK! BZZZT!
"Hwaaa! Mamiii!" teriak Calla lagi, melompat mundur sejauh dua meter saat minyak goreng di dalam wajan meletup keras ke udara.
Alaric memijat pangkal hidungnya yang mendadak berdenyut nyeri, menghela napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya yang sempat panik. "Callanta... apa yang sedang kamu lakukan dengan pakaian seperti itu di dapur?"
Mendengar suara bariton suaminya, Calla langsung menoleh. Dari balik kaca helm yang agak berembun, mata kucingnya menatap Alaric dengan pandangan meminta pertolongan.
"Paksu! Tolongin Ismut! Ismut mau bikin sarapan romantis buat Paksu, tapi minyaknya jahat banget, dari tadi nembakin Ismut terus!" adu Calla dengan suara yang teredam dari dalam helm.
Alaric melangkah mendekat dengan tenang, menatap ke dalam wajan penggorengan. Di sana, ada sebuah telur mata sapi yang bentuknya sudah tidak karuan. Warnanya putih kecoklatan, dan yang paling parah, beberapa pecahan cangkang telur berukuran besar ikut tergeletak manis di dalam minyak, ikut termasak dengan sukses.
Di sebelah wajan, ada sebuah piring yang berisi nasi goreng buatan Calla. Warnanya coklat pekat, hampir hitam karena Calla sepertinya menuangkan setengah botol kecap manis ke dalamnya, ditambah beberapa bagian nasi yang sudah terlihat gosong dan berasap tipis.
"Calla... kenapa cangkang telurnya ikut digoreng?" tanya Alaric dengan nada suara yang teramat sabar, menunjuk ke dalam wajan.
"Eh? Ikut masuk ya?" Calla mendekatkan wajah ber-helmnya ke arah wajan, lalu cengengesan tanpa rasa bersalah. "Hehehe, tadi pas Ismut getok telurnya ke pinggir wajan, telurnya langsung meledak terus cangkangnya ikut nyemplung, Paksu. Ismut mau ambil tapi takut, minyaknya galak banget kayak komandan pangkalan!"
Alaric menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah, melihat tingkat kegagalan total dari sarapan romantis yang dimaksud istrinya. Ia mematikan tombol kompor gas portabel dengan satu gerakan tenang, menghentikan peperangan minyak goreng tersebut.
"Buka helm dan jas hujanmu, Calla. Udara dapur panas, kamu bisa dehidrasi di dalam plastik itu," perintah Alaric, tangannya bergerak membantu membuka pengait helm bogo di dagu Calla lalu mengangkat helm tersebut dari kepala istrinya.
Begitu helm terbuka, wajah Calla yang sudah penuh dengan keringat dan rambut yang berantakan langsung terlihat. Calla mengerucutkan bibirnya, menatap piring nasi goreng coklat pekat buatannya dengan lesu. "Yah... gosong ya, Paksu? Padahal Ismut udah bumbuin pakai cinta yang banyak tahu."
Alaric menatap nasi goreng hitam dan telur bercangkang itu bergantian, lalu menatap wajah kuyu istri kecilnya. Rasa gemas yang amat sangat kembali merayap di dadanya. Pria 38 tahun itu mengambil sendok, lalu menyendok sedikit bagian nasi goreng yang tidak terlalu gosong dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Gimana, Paksu? Enak nggak?" tanya Calla dengan mata yang kembali berbinar penuh harap.
Alaric mengunyahnya dengan tempo yang sangat lambat, merasakan sensasi rasa manis yang teramat pekat beradu dengan rasa pahit gosong di lidahnya. Namun, sang Komandan tetap menelannya dengan wajah yang sangat datar dan tenang.
"Sedikit terlalu manis karena kecapnya kebanyakan, dan agak pahit," ujar Alaric jujur namun tetap lembut. "Tapi... masih bisa dimakan. Terima kasih untuk sarapannya, Ismut."
Calla langsung memekik kegirangan, melompat maju dan langsung memeluk leher tegap Alaric dengan erat, membuat jas hujan plastiknya berbunyi kresek-kresek berisik. "Hwaaa! Paksu beneran suami terbaik se-dunia! Nanti malam Ismut kasih bonus raba dada gratis deh sebagai imbalan!"
Alaric seketika membeku dengan wajah yang kembali memerah padam, mengingat perjuangannya mandi air es tadi malam yang tampaknya akan kembali terulang nanti malam akibat kelakuan ajaib istrinya ini.
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨