Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Riani masuk dengan rambut yang masih basah dan wajah yang tampak sangat segar.
Tanpa menunggu perintah kakaknya, pandangan Riani langsung tertuju pada seragam-seragamnya yang menggantung di dinding.
Saking bersemangatnya, Riani mengambil seragam itu. Ia pergi ke balik tirai kain pembatas di sudut kamar untuk berganti pakaian.
Alneo membalikkan badannya agar adiknya bisa berganti baju dengan leluasa.
"Kak Alneo... Riani sudah selesai," panggil Riani dengan nada malu-malu.
Alneo membalikkan badannya. Detik itu juga, napas Alneo seolah tercekat.
Riani berdiri di sana, mengenakan kemeja putih bersih dan rok rampel biru tua yang pas di tubuhnya yang ramping.
Meskipun tubuh adiknya masih terlihat agak kurus akibat kurang gizi selama beberapa bulan terakhir, kecantikan alami dan aura kecerdasannya terpancar sempurna dalam balutan seragam itu.
"Bagaimana, Kak? Kelihatan aneh ya? Roknya agak sedikit kepanjangan," tanya Riani sambil memegangi ujung roknya, wajahnya bersemu merah karena cemas melihat kakaknya hanya diam melotot.
Alneo mengerjapkan matanya, lalu berjalan mendekat. Ia berdiri di depan adiknya, merapikan kerah baju Riani yang sedikit terlipat.
"Tidak aneh sama sekali. Adik Kakak... kelihatan sangat cantik dan pintar," suara Alneo sedikit bergetar karena menahan haru. "Soal rok yang kepanjangan, tidak apa-apa. Nanti kalau kamu makin tinggi, ukurannya akan jadi pas."
Riani tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit. Ia melihat bayangan dirinya di kaca jendela kamar yang agak buram. "Riani... rasanya seperti mimpi, Kak. Riani pikir, Riani enggak akan pernah bisa pakai seragam ini lagi setelah kita pergi..."
Alneo berdiri, lalu menepuk pundak adiknya lembut. "Ini bukan mimpi, Riani. Ini baru awal dari masa depanmu. Mulai besok, Kakak yang akan antar jemput kamu sekolah."
"Tapi Kak, jika kakak antar jemput Riani, kakak pasti akan kecapean," kata Riani, raut wajahnya mendadak berubah cemas.
"Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Kakak akan menjamin hidup mu aman dari orang-orang yang menganggu mu," ucap Alneo dengan nada tenang.
"Nah, sekarang lepaskan dulu seragamnya dengan hati-hati biar tidak kotor. Kita harus pergi dari sini sekarang," kata Alneo tersenyum.
Riani menghentikan gerakan tangannya yang baru saja mau membuka kancing teratas seragam putih-abunya.
"Ha? Sekarang? Tapi kan kita baru saja menyewa tempat ini untuk sebulan, dan kita mau pergi lagi?" tanya Riani kebingungan.
"Iya, kita akan pergi ke suatu tempat dan tempat itu kau pasti suka. Ayo beres-beres seragam sekolahmu dulu, masukkan dalam tas barumu. Kakak ingin menunjukkan tempat itu padamu," kata Alneo tersenyum penuh misteri.
Riani bergerak melepas dasi abu-abunya dengan hati-hati.
"Tempat apa sih, Kak? Jangan bikin aku takut deh. Kita ini pelarian atau bagaimana? Kok rasanya kayak buronan yang dikejar intel," kata Riani.
"Lalu uang sewa kos ini bagaimana? Hangus begitu saja? Sayang banget, Kak, cari uang itu susah!" katanya merasa di sayangkan.
Alneo terkekeh geli mendengar omelan adiknya. Ia mendekat, lalu mengacak rambut Riani dengan gemas.
"Sudah, jangan banyak protes. Uang kos itu anggap saja sedekah untuk pemilik kos. Percaya sama Kakak, tempat yang baru ini sangat-sangat bagus," kata Alneo sengaja mengatakan itu agar adiknya tidak kecewa.
"Ah, baiklah," kata Riani menurut.
Meskipun dalam hati ia dipenuhi ribuan pertanyaan tentang dari mana kakaknya mendapatkan uang untuk tas baru dan rencana mendadak ini, ia tahu ia tidak punya pilihan lain.
Bagaimanapun juga, ia tetap harus ikut dengan kakaknya. Hanya Alneo yang ia miliki di dunia ini.
Riani melangkah ke balik tirai pembatas untuk mengganti pakaiannya dengan kaos santai dan celana panjang baju tadi siang.
Sementara itu, Alneo kembali sibuk mengecek barang-barang mereka. Ia memastikan tidak ada yang tertinggal.