Bos mafia yang konon kejam dan tanpa ampun ternyata bisa memiliki sisi lembut dan perhatian. Atau, protagonis wanita selalu dianiaya oleh bos mafia, namun dalam perlawanannya ia secara bertahap dihargai, dan akhirnya meraih kebebasan serta cinta sejati. Bagaimana rasanya dipaksa menggantikan kakak atau adiknya untuk menikahi bos mafia yang ditakuti? Cerita seperti apa yang akan terjalin dalam prosesnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyonya Baru di Singgasana Hitam
Setelah badai masa lalu yang dibawa oleh Arthur dan Alana berhasil dihalau keluar dari perbatasan New York, suasana di dalam mansion Barrett berubah total. Tidak ada lagi ketakutan yang mengintai di balik pilar-pilar marmer atau koridor yang sunyi.
Status Elena bukan lagi seorang tahanan yang menyamar, melainkan Nyonya mutlak dari kekaisaran Barrett. Semua pelayan, termasuk Thomas dan Christian yang merupakan orang kepercayaan tertinggi Nicholas, kini menaruh hormat yang setinggi-tingginya pada Elena. Mereka melihat sendiri bagaimana gadis yang dulunya dianggap sebagai tumbal itu berhasil menjinakkan monster paling ditakuti di pantai timur.
Pagi itu, Elena berdiri di depan cermin besar di dalam kamar. Dia tidak lagi memilih pakaian-pakaian milik Alana yang serba ketat dan mencolok. Atas perintah Nicholas, seluruh isi lemari itu telah diganti dengan koleksi baru yang sesuai dengan kepribadian Elena.
Dia memilih sebuah gaun rajut lengan panjang berwarna merah muda salmon yang elegan, berpotongan sopan namun tetap memancarkan keanggunan seorang istri penguasa. Warna pink tetap menjadi warna energinya, warna yang mengingatkannya bahwa di tengah dunia hitam ini, dia tidak kehilangan jati dirinya yang lembut.
Ketika dia melangkah turun ke ruang makan, dia melihat Nicholas sudah duduk di ujung meja. Namun, pemandangan hari ini berbeda. Di samping cangkir kopi hitam suaminya, tidak ada lagi lembaran koran kriminal atau laporan pembantaian pelabuhan, melainkan beberapa map kulit berwarna cokelat dan sebuah laptop yang menampilkan grafik manajemen inventaris.
Nicholas mendongak saat mendengar langkah kaki Elena. Sepasang mata abu-abunya yang biasanya dingin seketika melembut, memancarkan binar kepemilikan yang hangat. Pria itu bangkit dari kursinya sebuah gestur yang kini selalu dia lakukan khusus untuk Elena dan mengecup kening istrinya dengan lembut sebelum Elena duduk di kursinya.
"Tidurmu nyenyak, istriku?" tanya Nicholas, suaranya berat dan serak, namun sarat akan kehangatan.
"Sangat nyenyak, Nicholas. Terima kasih," jawab Elena dengan senyuman tulus yang membuat wajah cantiknya terlihat semakin bersinar.
Thomas kemudian datang menyajikan sarapan mereka, wafel hangat dengan sirup mapel, buah-buahan segar, dan teh kamomil kesukaan Elena. Suasana sarapan yang dulunya mencekik kini berubah menjadi momen paling intim yang selalu mereka nantikan setiap hari.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Nicholas tidak langsung pergi ke ruang kerja atau keluar rumah bersama Christian. Dia justru menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Elena, lalu membuka salah satu map kulit cokelat di depan mereka.
"Elena, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu," kata Nicholas, membalikkan beberapa lembar dokumen berkop resmi.
"Ini adalah berkas tentang lini bisnis legal milik keluarga Barrett. Selama ini, duniaku terlalu fokus pada jalur logistik ilegal, pelabuhan, dan pengamanan wilayah. Tapi aku tahu, kau memiliki latar belakang dan minat yang besar dalam hal manajemen administrasi dan seni."
Elena menatap dokumen itu dengan bingung. "Nicholas, apa maksudnya ini?"
"Aku baru saja mengakuisisi sebuah yayasan galeri seni terbesar di Manhattan, serta mendirikan sebuah perusahaan logistik legal baru yang akan memegang jalur distribusi tekstil dan kosmetik di pantai timur," jelas Nicholas, jemarinya yang panjang menunjuk pada kolom struktur organisasi perusahaan tersebut. Di bagian paling atas, tertera nama
*Elena Barrett, Direktur Utama*.
Jantung Elena berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa tidak percaya yang luar biasa. "Kau... kau mempercayakan perusahaan ini padaku? Nicholas, aku hanyalah gadis yang menghabiskan waktunya melukis di basement. Aku tidak tahu apakah aku bisa memimpin sebuah perusahaan besar."
Nicholas meraih tangan kanan Elena, menggenggam jemari lembut istrinya di dalam telapak tangannya yang besar dan kasar. Dia menatap dalam-dalam ke mata abu-abu kecokelatan Elena dengan keyakinan yang mutlak.
"Kau bisa, Elena. Aku melihat bagaimana kau mengatur emosimu saat menghadapi Marcus Moreno di pesta, dan bagaimana kau tetap tenang saat menghadapi Alana dan Arthur tempo hari. Kau memiliki kecerdasan administrasi yang luar biasa yang selama ini ditekan oleh ayahmu. Perusahaan legal ini adalah jalanmu untuk menunjukkan pada dunia siapa dirimu yang sebenarnya. Dan lebih dari itu..." Nicholas mendekatkan wajahnya, berbisik di dekat telinga Elena dengan suara serak yang seksi.
"...aku ingin kekaisaran Barrett memiliki sisi yang bersih, sisi yang dibangun oleh tangan lembutmu."
Air mata haru menggenang di sudut mata Elena. Selama hidupnya, dia selalu dianggap tidak berguna, sebuah bayangan yang tidak pernah diberi kesempatan untuk berkembang. Namun pria di hadapannya ini seorang bos mafia yang ditakuti seluruh kota justru menjadi orang pertama yang melihat potensi besar di dalam dirinya dan memberikannya panggung untuk bersinar.
"Aku akan melakukannya, Nicholas. Aku tidak akan mengecewakanmu," bisik Elena, membalas genggaman tangan suaminya dengan erat.
"Aku tahu kau tidak akan pernah mengecewakanku, Elena-ku," balas Nicholas dengan senyum tipis yang sangat menawan.
---
Siang harinya, Elena mulai bekerja di ruang kerja barunya yang terletak di sayap timur mansion. Ruangan itu didesain khusus oleh Nicholas, memiliki jendela kaca besar yang menghadap ke halaman penuh bunga mawar, dengan meja kerja kayu ek putih yang elegan dan sebuah kanvas lukis besar di sudut ruangan untuk tempatnya menyalurkan hobi di sela-sela pekerjaan.
Christian masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. Tangan kanan Nicholas itu kini juga bertugas membantu Elena dalam hal keamanan operasional kantor baru.
"Nyonya Barrett," sapa Christian dengan membungkuk hormat.
"Ini adalah laporan audit awal dari Galeri Seni Manhattan yang baru saja dipindahkan ke bawah kepemimpinan Anda. Semua staf di sana sudah diberitahu tentang posisi Anda, dan mereka sangat menantikan kedatangan Anda minggu depan."
Elena mengambil map itu dari tangan Christian. "Terima kasih, Christian. Bagaimana dengan situasi keamanan di luar? Apakah orang-orang Moreno masih memantau tempat ini?"
Christian tersenyum tegas. "Setelah Mr. Barrett menghancurkan tiga jalur pasokan utama mereka di Pelabuhan Timur, Marcus Moreno kini sedang sibuk menjilat lukanya sendiri di sarangnya. Dia tidak memiliki kekuatan atau sekutu lagi untuk mengusik kita. Wilayah kita benar-benar aman sekarang, Nyonya."
Elena mengembuskan napas lega. Dia membuka laporan audit tersebut, dan dengan cepat matanya yang jeli menemukan beberapa kejanggalan dalam pencatatan arus kas yang dilakukan oleh manajemen lama sebelum galeri itu diakuisisi oleh Nicholas. Jiwa administrasi yang tajam di dalam dirinya seketika bangkit.
"Christian, tolong jadwalkan pertemuan dengan kepala keuangan galeri ini besok pagi di rumah. Ada beberapa angka manipulasi yang harus kubereskan sebelum kita membuka kembali galeri ini untuk pameran musim panas," perintah Elena dengan nada suara yang tenang namun sarat akan otoritas yang tegas sebuah nada suara yang sangat mirip dengan cara Nicholas memerintah bawahannya.
Christian menaikkan sebelah alisnya, merasa kagum dengan ketegasan baru yang dimiliki oleh Nyonya mudanya. "Baik, Nyonya Barrett. Akan segera saya siapkan."
---
Malam harinya, setelah menyelesaikan seluruh berkas administrasi pertamanya, Elena kembali ke kamar utama. Nicholas sudah berada di sana, berdiri di balkon kamar sambil menikmati sebatang cerutu mahal di bawah taburan bintang malam yang cerah. Pria itu hanya mengenakan celana kain hitam dan kemeja putih yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, menampilkan perban di bahu kanannya yang kini sudah mulai mengering.
Elena melangkah perlahan menuju balkon, mendekati Nicholas dari belakang. Dia melingkarkan kedua lengan kecilnya di pinggang kokoh suaminya, menyandarkan pipinya di punggung tegap Nicholas yang hangat.
Nicholas tersenyum di dalam kegelapan malam. Dia mematikan cerutunya di asbak kristal di pagar balkon, lalu berbalik di dalam pelukan Elena. Dia melingkarkan lengan kirinya yang kuat di pinggang Elena, menarik tubuh istrinya hingga menempel sempurna pada dadanya.
"Kudengar dari Christian, kau baru saja menemukan manipulasi keuangan di galeri baru dalam waktu kurang dari dua jam?" tanya Nicholas dengan nada suara yang penuh kebanggaan.
Elena mendongak, menatap mata abu-abu Nicholas yang berkilau di bawah cahaya bulan. "Mereka mengira aku adalah Alana yang bodoh dan gila harta yang bisa dibohongi dengan angka-angka palsu. Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan Elena Barrett."
Nicholas tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat lepas dan bahagia sesuatu yang sangat jarang terjadi dalam hidupnya yang kelam. Dia menundukkan kepalanya, menyatukan kening mereka, membiarkan embusan napas hangat mereka saling beradu.
"Kau benar-benar luar biasa, sayang," bisik Nicholas penuh kekaguman.
"Kau membuatku menyadari bahwa keputusan terbaik yang pernah kubuat seumur hidupku adalah membiarkan Alana lari malam itu, agar aku bisa membawamu masuk ke dalam rumahku, ke dalam hidupku, dan ke dalam hatiku yang paling dalam."
Nicholas tidak menunggu jawaban Elena. Dia langsung mengunci bibir istrinya dalam sebuah ciuman yang mendalam, sarat akan gairah, cinta, dan komitmen mutlak untuk masa depan mereka.
Di bawah saksi malam yang sunyi dan bintang-bintang yang berkilau, sang pengantin pengganti telah sepenuhnya bertransformasi menjadi sang Ratu sejati di samping penguasa kegelapan pantai timur. Sandiwara telah berakhir, dan kisah cinta mereka yang sesungguhnya baru saja dimulai.