HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran yang ditolak
BAB 11 — LAMARAN YANG DITOLAK
Hingga akhirnya tibalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh hadirin, sebuah peristiwa yang dianggap sebagai titik awal dari sebuah perjalanan hidup yang indah, namun bagiku justru menjadi kesempatan pertama untuk memutarbalikkan seluruh skenario yang telah mereka susun dengan sangat rapi. Arga berdiri tegak dari tempat duduknya, di tangannya tergenggam sebuah kotak beludru berwarna hitam yang tampak mewah dan elegan, seolah menjadi simbol dari sebuah masa depan yang dijanjikannya. Seluruh mata yang ada di ruangan itu seolah terpusat hanya padanya; banyak di antara para tamu yang tersenyum haru, bahkan ada yang menahan rasa terharu, mengira bahwa mereka sedang menyaksikan awal dari sebuah kisah cinta yang akan abadi selamanya. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa di balik kemegahan, keramahan, dan ketulusan yang dipamerkan, tersembunyi niat jahat yang telah direncanakan jauh hari sebelumnya—rencana yang bertujuan untuk menghancurkan nama baik keluarga, merampas seluruh harta warisan, dan menguasai seluruh aset yang dimiliki oleh keluarga Wibisono.
Dengan langkah yang tenang, terukur, dan penuh percaya diri, Arga berjalan mendekat ke arahku, lalu berlutut tepat di hadapanku dengan sikap yang seolah-olah penuh rasa hormat dan ketulusan—persis seperti yang ia lakukan dua tahun silam, di saat aku masih buta akan kenyataan pahit yang sebenarnya. “Violet,” panggilnya dengan suara yang sengaja dibuat lembut, hangat, dan terdengar begitu tulus, padahal aku tahu betul bahwa itu hanyalah kepura-puraan belaka yang telah dilatih sedemikian rupa. “Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku hanya di sisimu, berbagi suka dan duka. Maukah kau menerima cincin ini sebagai tanda keseriusanku, dan bersedia menjadi istriku?”
Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti duri tajam yang menusuk telingaku, membuatku ingin segera menutup pendengaranku. Semua ucapan itu hanyalah kebohongan belaka, diucapkan semata-mata untuk memanipulasi perasaanku agar ia bisa mendapatkan akses penuh terhadap kekayaan dan nama baik keluargaku. Seolah diatur oleh satu kesepakatan, ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap, dan semua mata tertuju padaku, menanti jawaban yang sudah mereka yakini akan diterima dengan sukacita dan air mata bahagia. Di antara kerumunan itu, aku bisa melihat sosok Eliana yang berdiri agak di belakang kerabat lainnya, dengan senyum tipis yang menyiratkan rasa kemenangan dan kepuasan yang tak tersembunyi. Ia begitu yakin bahwa segala sesuatunya akan berjalan sesuai dengan rencana yang telah mereka susun matang-matang, tanpa menyadari bahwa ada satu variabel yang tidak pernah mereka perhitungkan: ingatanku tentang masa lalu yang kelam. Namun sayang bagi mereka, hari ini semuanya akan berbeda. Sangat berbeda.
Aku berdiri perlahan dari tempat dudukku, menatap langsung ke dalam mata Arga tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan atau menunjukkan keraguan. Untuk sesaat, aku bisa melihat keyakinan yang begitu kuat terpancar dari sorot matanya—keyakinan yang persis sama seperti yang ia tunjukkan di masa lalu, di mana aku dulu akan menerima lamarannya dengan perasaan terharu dan hati yang penuh harapan. Namun kali ini, yang kurasakan hanyalah rasa kasihan yang bercampur dengan kebencian yang telah terpendam dalam-dalam selama dua tahun penderitaan yang aku lalui sebelumnya.
“Arga,” panggilku dengan suara yang tenang namun jelas dan tegas, sehingga dapat terdengar oleh setiap orang yang hadir di ruangan itu, tanpa ada getaran atau ketakutan sedikit pun.
Ia tersenyum sedikit, merasa yakin bahwa jawabanku akan sesuai dengan apa yang diharapkannya, bahkan mungkin berharap aku akan menangis bahagia seperti yang ia bayangkan. “Ya, Violet?”
Dengan gerakan yang tenang, terkontrol, dan tidak tergesa-gesa, aku mengambil kotak cincin itu dari genggamannya. Suasana langsung diisi dengan bisikan-bisikan pelan di antara para tamu yang mulai berbicara satu sama lain, yang semuanya mengira bahwa aku akan segera menerima lamarannya, persis seperti yang diharapkan oleh Arga dan Eliana. Namun beberapa detik kemudian, perlahan namun pasti, aku menutup kembali kotak beludru itu dan mengembalikannya tepat ke dalam tangannya yang tergantung di udara. Senyum yang sedari tadi terukir di wajah Arga seketika membeku, matanya terbelalak lebar seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, seolah ia tidak menyangka akan menghadapi situasi seperti ini.
“Maaf,” ucapku singkat dan lugas, tanpa penjelasan berlebihan.
Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap, begitu hening hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri berdenyut teratur dan suara napas para tamu yang tertahan. Wajah Arga berubah menjadi pucat pasi, seolah-olah darahnya telah surut, tidak mampu mencerna kenyataan yang baru saja dihadapinya.
“Apa maksudmu, Violet?” tanyanya dengan nada suara yang mulai bergetar dan kehilangan ketenangannya, berusaha menyembunyikan rasa panik yang mulai menyelinap masuk.
Aku menatapnya dengan tatapan yang datar, dingin, dan tanpa ekspresi, tidak menunjukkan sedikit pun rasa bersalah atau ragu. “Maksudku sangat jelas. Aku menolak lamaranmu.”
Beberapa tamu langsung terlihat terkejut, saling berpandangan satu sama lain seolah ingin memastikan bahwa pendengaran mereka tidak salah, sementara ada juga yang mengira bahwa aku sedang bercanda atau sedang merasa gugup berlebihan sehingga tidak berpikir jernih. Arga perlahan berdiri kembali, raut wajahnya kini mulai menunjukkan kekacauan yang berusaha keras ia sembunyikan di balik topeng ketenangannya yang mulai retak.
“Kenapa? Apakah aku telah melakukan sesuatu yang salah sehingga membuatmu berubah pikiran? Jika ada hal yang tidak berkenan di hatimu, kita bisa membicarakannya baik-baik dan mencari jalan keluarnya bersama-sama,” ucapnya berusaha mempertahankan sikapnya dan mencoba mempengaruhi perasaanku agar merasa bersalah.
Itulah kalimat yang persis sama yang pernah ia ucapkan di masa lalu. Jika aku tidak mengetahui kebenaran di balik segala kepalsuan yang ia bangun, mungkin aku akan merasa tersentuh dan justru merasa bersalah telah membuatnya merasa tidak enak. Namun kini aku mengenal betul siapa dirinya yang sebenarnya, apa yang ada di dalam hatinya, dan apa tujuan utamanya mendekatiku.
“Aku hanya berubah pikiran,” jawabku singkat, tidak ingin memberikan penjelasan yang tidak perlu yang bisa mereka gunakan untuk memutarbalikkan fakta.
“Berubah pikiran?” ulangnya dengan nada yang mulai meninggi, membuat suasana di ruangan itu semakin terasa tegang dan canggung. “Apa alasannya? Aku yakin pasti ada sesuatu yang membuatmu berubah keputusan secara tiba-tiba seperti ini.”
Aku menatapnya dalam waktu yang cukup lama, membiarkan keheningan menyelimuti sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan kalimat yang membuat seluruh wajahnya berubah pucat pasi dan kehilangan kata-kata. “Karena aku tidak mencintaimu.”
Tiba-tiba terdengar suara benda pecah yang cukup keras dari salah satu sudut ruangan. Aku menoleh dan melihat Eliana berdiri mematung di tempatnya, wajahnya pucat pasi, matanya membelalak lebar seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, sementara pecahan gelas yang tadinya ia pegang tergeletak berserakan di dekat kakinya. Untuk pertama kalinya sejak aku kembali ke masa lalu, aku merasakan sedikit kepuasan melihat ekspresi panik dan bingung yang terpancar dari wajah mereka—perasaan yang dulu tidak pernah mereka rasakan saat dengan kejamnya menghancurkan hidupku dan keluargaku tanpa belas kasihan.
“Kakak pasti sedang merasa gugup dan tidak berpikir jernih, bukan? Mungkin karena terlalu terharu hingga berbicara sembarangan,” tanya Eliana dengan suara yang bergetar hebat, berusaha menyelamatkan situasi yang mulai kacau dan memutarbalikkan keadaan agar tidak ada yang curiga.
Aku hampir tertawa melihat usahanya yang terasa begitu dipaksakan dan sia-sia itu. “Aku sangat tenang dan tahu persis apa yang aku katakan. Aku tidak ingin menikah denganmu, Arga.”
Eliana langsung menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mataku lebih lama lagi, menyadari bahwa upayanya untuk mengendalikan situasi kali ini tidak akan berhasil. Biarkan mereka merasa takut, bingung, dan kehilangan arah, karena ini hanyalah permulaan dari segala hal yang akan terjadi selanjutnya.
Acara lamaran yang seharusnya berlangsung penuh kebahagiaan, harapan, dan kehangatan akhirnya berakhir dalam kekacauan dan keheningan yang canggung. Keluarga Arga pergi meninggalkan rumah dengan wajah yang dipenuhi rasa malu, kebingungan, dan amarah yang tertahan, sementara para tamu undangan pulang dengan berbagai pertanyaan yang belum terjawab dan rasa penasaran yang besar. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengerti alasan di balik keputusanku yang tiba-tiba itu, dan aku tidak berniat menjelaskan apa pun kepada siapa pun saat ini. Aku masih membutuhkan waktu untuk bersiap, mengumpulkan bukti-bukti yang diperlukan, dan menyusun rencana yang matang dan kuat agar tidak ada celah bagi mereka untuk menyerang balik. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Malam harinya, aku berdiri sendirian di balkon kamarku, membiarkan hembusan angin malam yang sejuk menyentuh wajahku dan menenangkan pikiranku yang mulai dipenuhi berbagai rencana. Aku tahu betul bahwa Arga tidak akan menyerah begitu saja; ia tidak akan membiarkan kesempatan untuk menguasai kekayaan keluarga Wibisono lepas begitu saja. Aku yakin Eliana pasti sedang merasa panik dan sibuk mencari tahu apa yang telah berubah dan apa yang salah dari rencana mereka yang selama ini dianggap sempurna. Aku juga tahu mereka akan berusaha keras mengembalikan keadaan seperti semula, memutarbalikkan fakta, atau bahkan mencoba memfitnahku. Namun justru itulah yang aku inginkan—biarkan mereka bingung, kehilangan kendali, dan membuat kesalahan yang akan menjadi senjata bagiku nantinya. Selama dua tahun di kehidupan sebelumnya, akulah yang selalu menjadi pion dalam permainan kotor mereka, dikendalikan dan dimanfaatkan sesuka hati. Namun kali ini, giliranku yang memegang kendali penuh atas setiap langkah yang akan diambil.
Di dalam benakku, satu nama terlintas dengan jelas—seseorang yang bahkan tidak pernah aku perhatikan atau anggap penting di masa lalu, namun kini menjadi sosok yang sangat krusial dan menjadi kunci dari segalanya. Dialah satu-satunya orang yang tidak pernah berpihak pada Arga, satu-satunya orang yang ditakuti oleh mereka berdua beserta sekutunya, dan satu-satunya yang memiliki kekuatan, pengaruh, serta wibawa untuk menghancurkan seluruh rencana jahat yang telah mereka bangun. Sherkan, paman dari Arga, seorang pengusaha sukses yang dikenal luas memiliki sifat dingin, tegas, tidak mudah terpengaruh, dan sangat menjunjung tinggi kejujuran serta keadilan—bahkan ditakuti oleh anggota keluarganya sendiri karena ketegasannya dalam bertindak.
Perlahan sebuah senyum tipis namun penuh keyakinan terukir di bibirku. Besok pagi, aku akan pergi menemuinya. Dan kali ini, aku tidak akan lagi membuat pilihan yang sama seperti sebelumnya yang hanya akan membawa aku pada kehancuran. Aku akan memilih jalan yang berbeda, jalan yang penuh risiko namun juga penuh harapan, jalan yang akan membawaku menuju kebenaran dan akhirnya meraih kemenangan yang sesungguhnya.
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
aku padamu Sherkan ♥️🫰
apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
semangat Mak Eva 💪🥰