Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.
Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.
oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EKSEKUSI YANG DIGAGALKAN THIEN
Hari itu, langit Kerajaan Chhai Lian Hoe Po, wilayah vazal Kekaisaran Cia Agung, terasa lebih kelabu dari biasanya.
Bukan karena mendung. Bukan pula karena musim hujan yang datang lebih awal. Namun karena sejak seminggu lalu, saat keputusan eksekusi turun dari singgasana Raja Vazal Kok Leng Tiat, seluruh rakyat negeri penghasil teh bunga dan herbal itu langsung mengadakan puasa raya. Mereka hanya makan sekali sehari. Mereka tidur di lantai yang ditaburi kelopak bunga krisan. Mereka berdoa dengan kening menyentuh ubin dingin, memohon kepada Thien—Langit, Tuhan yang maha melihat—agar mengabulkan satu permohonan:
Jangan ambil Pangeran Koh Eng Sok dari kami.
Koh Eng Sok baru genap tiga puluh tiga tahun. Masih muda. Masih duda tanpa anak. Istrinya meninggal minggu lalu bersama anak di perutnya karena turunnya keputusan eksekusi serampangan itu. Tapi bagi rakyat Chhai Lian Hoe Po, ia lebih dari sekadar perdana menteri vazal yang mengabdi pada Kekaisaran Cia Agung. Ia adalah pelindung. Pemimpin yang tidak pernah duduk manis di istana sambil minum teh sambil rakyatnya kelaparan.
Lima tahun lalu, ketika Suku Gurun Preman dari benteng Long Yah Chng—Benteng Sarang Serigala—terus menerus merampok hasil tani, merenggut gadis-gadis desa, dan membakar lumbung padi, pasukan kerajaan Cia Agung sudah tiga kali dikirim. Tiga kali pula mereka pulang dengan tangan hampa. Para preman itu seperti tikus: dibasmi satu lubang, muncul sepuluh lubang baru. Biro investigasi Cia Agung yang terkenal di sembilan benua tidak bisa menemukan celah.
Hingga suatu hari, Pangeran Eng Sok turun sendiri. Bukan dengan pasukan besar. Hanya seratus orang. Seratus pasukan bersenjatakan panah silang modifikasi hasil rancangannya sendiri—crossbow dengan jangkauan dua kali lipat dan kemampuan tembakan beruntun yang belum pernah dilihat dunia. Ia menerobos masuk ke Long Yah Chng di malam buta, saat para preman sedang mabuk anggur rampasan. Pemimpin Suku Gurun itu: Long Yah Ong akhirnya dieksekusi dan kepalanya dikelilingkan sebagai peringatan agar jangan suka merampok orang lain.
Pertempuran epik itu berlangsung hanya tiga jam. Sepuluh ribu preman lenyap dalam semalam.
Konon, Thien sendiri memberkati pertempuran itu. Karena sejak malam itu, Suku Gurun Preman benar-benar lenyap dari muka bumi. Kalau pun masih ada sisa, mereka sekarang lebih memilih hidup tenang sebagai perajin jaket bulu yang nyaman dan fashionable—berdagang di pasar, membayar pajak, bahkan sesekali menyumbang untuk perbaikan jembatan desa.
Itulah Pangeran Koh Eng Sok. Bukan tipe pahlawan yang mengangkat pedang tinggi-tinggi sambil berteriak. Ia pendiam. Matanya teduh tapi tajam. Orang-orang mengatakan bahwa di balik sorot matanya yang kalem, tersimpan perhitungan yang lebih akurat dari sempoa Giok Eng Cia Agung yang paling canggih di sembilan benua.
Namun hari ini, mata itu merah. Bukan karena menangis. Tapi karena menahan sakit.
---
Ruang eksekusi Hoeh panas membara.
Lengkungan batu di sekelilingnya mulai memerah, menghirup asap dari obor-obor yang dipasang di empat penjuru. Kok Leng Tiat, sepupu sekaligus Raja Vazal yang baru bertahta, berdiri di ambang pintu dengan senyum puas. Tangannya menjuntai ke samping, jari-jarinya bergerak-gerak seperti memainkan alat musik tak terlihat. Ia menikmati pemandangan di depannya: delapan ajudan setia Eng Sok sudah tergeletak di lantai, satu per satu tumbang setelah meneguk anggur beracun yang disuguhkan sebagai "minuman perpisahan".
"Mana ada raja sebaik aku?" Leng Tiat tertawa kecil. "Kutawarkan harta, wanita, bahkan takhta. Tapi sepupuku yang terhormat ini…" Ia menggeleng pura-pura iba. "…lebih memilih mati sebagai pahlawan. Padahal, siapa yang akan mengingatmu, Sok? Hah?"
Sekujur tubuh Eng Sok menggigil. Bukan karena takut. Namun karena hatinya perih. Pelipisnya berdenyut. Dadanya sesak. Ia muntah darah, air matanya deras. Ia belum minum racun. Tapi ia sudah mati dalam hati.
"Tidak mau harta, tidak mau wanita, pasti kamu mau takhta!" Leng Tiat berteriak, suaranya memantul di antara dinding batu yang mulai menghitam terbakar. Eng Sok menolak selir minggu lalu. Dan mendadak dihukum. Istrinya yang hamil sampai meninggal bersama bayinya karena stress. Ya, dia hanya ingin umur panjang. Tidak ingin aneh-aneh.
"Sekarang, kamu dan delapan ajudanmu masuk ke ruang eksekusi Hoeh. Minum anggur ini dulu. Anggur ini kemurahan hatiku, biar kamu tidak kesakitan kena api di kulit mulusmu itu!"
Raja Vazal itu menyeringai. Matanya seperti serigala. Bibirnya yang merah muda membentuk garis yang aneh. Kepalanya sedikit miring ke kiri. Tangannya yang penuh cincin memegang pelipisnya.
"Kulit mulus yang dulu bikin heboh seluruh Cia Agung saat pemilihan istri, ingat? Seluruh dayang-dayang di ibu kota bergosip tentang Pangeran Tampan dari Chhai Lian Hoe Po selama berbulan-bulan! Hahahahaha!"
Leng Tiat melemparkan plakat kayu berisi putusan eksekusi ke lantai. Plakat itu tergelincir di antara para pesakitan. Setelah itu mereka dimasukkan ruang Hoeh: gubuk kecil yang siap dibakar di tengah alun-alun Chhai Lian Hoe Po.
"Anggur itu kutitipkan khusus. Racun dari akar bunga krisan—campurannya kutambah sedikit Leng Tiat asli. Dingin seperti besi. Tapi panas di kerongkongan. Nikmati, sepupuku."
Ia berbalik, lalu melambai tanpa menoleh.
"Ruang ini akan terbakar dalam sepuluh menit. Tubuhmu akan hangus. Tidak ada yang tersisa. Tidak ada yang perlu dikubur. Tidak ada yang perlu diratapi. Bukankah itu indah? Kau lenyap seperti… Kembang api. Tenang saja, kuburanmu sudah jadi. Semua lukisan dan kerajinanmu aku taruh di sana. Mayat istri dan anakmu juga… biar gak kesepian.", kata Leng Tiat sambil bertopang dagu dengan senyum datar dan mata membulat.
Pintu kayu itu ditutup dengan bunyi bergemuruh. Terdengar suara gesekan anak kunci, lalu derap sepatu bot yang menjauh. Sebelum benar-benar pergi, Leng Tiat berteriak dari balik pintu:
"Oh, satu lagi! Kurasa delapan ajudanmu itu kurang sopan. Jadi sudah kukirim algojo dari benteng Long Yah Chng untuk mengamankan perjalanan kalian menuju Istana Giam Ong (Raja Akhirat). Kalau-kalau ada yang masih bernapas. Mereka ahli dalam memotong." Suaranya naik, bahagia. "Selamat berpisah, Sepupu Tampanku."
Detik berikutnya, lengannya teracung. Seseorang di atas atap bergerak. Ruang Hoeh dibakar. Di dalam, pesakitan meminum anggur satu per satu.
---
Eng Sok memejamkan mata.
Ia mendengar suara gesekan genteng. Langkah kaki yang berusaha pelan. Dua orang, mungkin tiga. Turun dengan tali dari lubang di langit-langit ruangan.
Satu persatu.
Ia tidak menghitung. Ia tidak perlu. Tangannya sudah bergerak sebelum matanya terbuka.
Jarum.
Tiga batang jarum beracun melesat dari sela-sela jari kirinya. Hasil racikan sendiri. Dari bunga krisan yang sama—ironisnya—tapi dengan tambahan ekstrak buah lerak yang membuat efeknya sepuluh kali lebih cepat.
Dua algojo pertama jatuh sebelum lutut mereka menyentuh lantai.
Yang ketiga sempat menghunus golok. Tapi lehernya sudah tertusuk jarum keempat dari sudut yang tidak terduga. Ia terjengkang ke belakang dengan mata melotot, tidak mengerti bagaimana seorang terhukum yang tengah muntah darah bisa bergerak secepat itu.
Yang keempat—algojo terakhir—masih tergantung di tali setengah jalan. Ia melihat tiga rekannya tewas dalam hitungan detik. Ia membuka mulut hendak berteriak minta tolong.
Tenggorokannya tertusuk jarum kelima sebelum suara keluar.
Eng Sok tersungkur ke lantai. Bukan karena lemah. Tapi karena dadanya terasa seperti diremas-remas oleh tangan raksasa tak terlihat. Racun dari uap anggur itu semakin kuat. Matanya berkunang-kunang.
Tidak.
Ia menggigit bibir sampai berdarah. Rasa sakit di bibir membantunya tetap sadar. Dengan tangan gemetar, ia merangkak mendekati algojo terakhir yang baru tewas. Tubuh pria itu masih hangat. Pakaiannya—serba hitam dengan topeng menyeramkan bergambar taring serigala—masih utuh.
"Maafkan aku," bisik Eng Sok.
Ia mulai membuka baju algojo itu. Satu per satu kaitan besi yang rumit. Seragamnya sendiri, yang dihiasi bordir emas bunga teratai simbol kebanggaan Chhai Lian Hoe Po, ia lepaskan dengan susah payah. Lalu ia kenakan pakaian hitam bertaring serigala itu.
Sisa kekuatannya hampir habis. Ia mengambil plakat eksekusi dari lantai, lalu menyelipkannya ke saku jubah algojo yang sudah ia kenakan. Tangannya meraba-raba wajah pria malang itu. Bentuknya… mirip. Tidak identik. Tapi dalam kondisi terbakar, siapa yang akan memperhatikan detail?
Ia memiringkan guci anggur ke mulut mayat itu. Beberapa tetes. Cukup untuk meninggalkan jejak. Sisanya ia pecahkan di lantai.
"Seumur hidup aku mengabdi pada kerajaan Cia Agung," gumamnya, suaranya parau. "Memajukan Chhai Lian Hoe Po… Apa salahku sampai harus mati seperti ini?"
Tidak ada jawaban.
Hanya gemeretak api yang mulai menjalar ke dinding kayu ruangan.
---
Tiba-tiba, suara.
"Eng Sok…"
Ia terkesiap. Suara itu tidak datang dari pintu. Tidak dari langit-langit. Tidak dari mana pun yang bisa dilihat mata. Suara itu… ada di dalam kepalanya. Tapi pada saat yang sama, terdengar nyata. Lembut. Berwibawa.
Seperti suara seorang raja.
Dan sekonyong-konyong Eng Sok teringat pada Ah Me Lui—kasim tua perawatnya dulu, yang sudah meninggal tujuh tahun lalu. Ah Me Lui pernah berkata dengan wajah sangat serius di suatu malam:
"Pangeran, jika suatu hari Pangeran berada di tempat mustahil, tidak ada jalan keluar, dan kemudian ada suara yang memanggil nama Pangeran dari dalam hati… segeralah menjawab 'Ong Thien, Ya, Raja Langit.' Dan jangan ragu. Ikuti suara itu ke mana pun ia membawa."
Saat itu Eng Sok hanya tertawa kecil. Menganggap kasim tuanya mulai pikun.
Tapi sekarang?
"Ong Thien," bisik Eng Sok.
Tidak ada jawaban.
"Ya, Raja Langit."
"Eng Sok. Pergilah ke lorong ini."
Tiba-tiba, di sudut ruangan yang sedetik lalu hanya berupa dinding batu polos, muncul celah. Sebuah lorong gelap. Panjang, tak berujung. Dan di sekeliling tepi lorong itu… api.
Api biru.
Bukan api biasa. Api itu tidak panas. Eng Sok bisa merasakan hawa dingin dari lidah-lidah biru yang menari-nari di bingkai lorong. Api yang terbalik. Api yang berasal dari tempat yang tidak dikenal.
Api dari dunia lain.
Di belakangnya, ruang eksekusi mulai ambruk. Balok kayu berjatuhan. Jeruji besi meleleh. Asap tebal mulai memenuhi ruangan hingga tenggorokannya terasa perih.
Eng Sok tidak berpikir dua kali.
Ia melompat.
---
Yang ia rasakan pertama adalah kehampaan.
Bukan jatuh. Bukan melayang. Tapi seperti ia direntangkan menjadi jutaan benang yang sangat tipis, lalu dirajut ulang oleh tangan yang tidak terlihat.
Ada suara angin. Ada suara air. Ada suara sesuatu yang mirip dengan doa.
Lalu—
Gedebuk.
Ia jatuh di permukaan yang keras. Aspal.
Matanya terbuka. Perlahan.
Apa ini?
Di sekelilingnya, benda-benda aneh berwarna mencolok. Kendaraan tanpa kuda, berkilap seperti kaca, berjejer rapi di suatu garis putih di permukaan hitam. Tiang-tiang tinggi menyala dengan cahaya pijar yang tidak berasal dari obor. Dan di kejauhan, sebuah bangunan besar dengan tulisan yang tidak ia kenali.
Tapi yang membuat jantungnya berhenti sejenak bukanlah semua itu.
Namun seorang pria yang melayang di depannya.
Pria itu… mirip.
Sangat mirip.
Wajah yang sama. Hidung yang sama. Bahkan bentuk alis yang sama. Satu-satunya perbedaan—rambutnya sangat pendek. Hanya sebahu. Tidak diikat gelung, tidak disanggul, tidak memakai mahkota atau tusuk konde.
Dan ia melayang. Kakinya tidak menyentuh aspal.
Eng Sok menatap pria itu lekat-lekat. Tangan kanannya perlahan meraba wajahnya sendiri, lalu menunjuk ke arah pria itu.
Pria melayang itu mengangkat lengannya.
Seolah memintanya mengambil sesuatu.
Eng Sok membeku. Mulutnya terbuka. Dadanya berdegup. Ia menatap pusing ke sekeliling tempat sepi itu.
Di situ hanya tersisa potongan kain persis dengan pakaian yang Eng Sok pakai. Juga darah muncrat di sepanjang rel kereta. Tidak ada tubuh. Hanya potongan kain berdarah.
BERSAMBUNG
---
Bagaimana nasib Eng Sok?
Siapakah pria melayang itu?
Di manakah Eng Sok sekarang?
🪷👩❤️👨💐