NovelToon NovelToon
OM CEO Itu Suamiku

OM CEO Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.

Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.

Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan

Paginya ia turun dengan lingkaran hitam di bawah mata yang tidak bisa disembunyikan. Rafandra ada di meja makan sudah rapi, kopi di tangan, tapi laptopnya tidak terbuka. Dia melihat waktu Zahra muncul dan membaca wajahnya dalam satu detik.

Tidak berkata apa-apa soal lingkaran hitam itu. Tidak bertanya tidurnya bagaimana. Hanya mendorong cangkir kosong ke sisi mejanya isyarat bahwa kopi sudah disiapkan di termos di dekat sana.

Zahra duduk. Menuang kopi. Minum dulu sebelum bicara apapun. Rafandra menunggu.

"Om mau kasih tau Papa kapan?" tanya Zahra akhirnya.

"Iya. Setelah aku konfirmasi beberapa hal lagi."

"Gue mau ikut."

Rafandra menatapnya.

"Itu..."

"Itu keluarga gue, Om." Zahra menatap balik bukan menantang, tapi dengan cara yang sudah tidak meminta persetujuan. "Papa gue. Paman gue. Gue mau ada di sana."

Hening sebentar. "Baik," kata Rafandra.

.

.

.

Mereka ke rumah keluarga Hendra sore itu. Zahra belum pernah kembali ke rumah itu sejak hari pernikahan hampir lima bulan. Berdiri di depan pintu rumah yang sudah dia kenal sejak lahir, Zahra merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Bukan asing tapi tidak lagi sepenuhnya miliknya juga.

Rumah yang sama. Pagar yang sama. Pohon mangga di sudut taman yang sudah ada sejak Zahra belum bisa membaca.

Tapi yang masuk ke dalamnya sekarang bukan gadis dua puluh satu tahun yang merasa hidupnya baru saja dirampas.

Seseorang yang berbeda.

Ibunya yang pertama membuka pintu dan langsung memeluk Zahra sebelum sempat bilang apa-apa. Pelukan yang terlalu erat untuk sekadar salam, yang membuat Zahra tahu bahwa ibunya sudah merasakan bahwa kedatangan ini bukan kunjungan biasa.

"Ada apa sayang?" bisik Mama Ratih di telinga Zahra.

"Nanti, Mama dengerin aja."

Pak Hendra ada di ruang kerjanya.

Rafandra yang masuk duluan berbicara singkat, pintu tertutup, Zahra yang menunggu di luar dengan ibunya yang memegang tangannya tanpa banyak bertanya.

Lima menit kemudian Rafandra membuka pintu.

"Zahra." Zahra masuk.

Ayahnya duduk di belakang meja kerjanya dengan ekspresi yang membuat Zahra tahu bahwa Rafandra sudah menyampaikan cukup untuk membuat Pak Hendra paham apa yang akan datang selanjutnya. Wajahnya tidak pucat, tidak marah. Tapi ada sesuatu di matanya yang terlihat seperti seseorang yang baru saja diperlihatkan sesuatu yang dia tidak mau percaya tapi sudah lama dicurigai.

"Duduk, Nak," kata Pak Hendra pelan.

Zahra duduk di kursi di depan meja kursi yang dulu selalu dia duduki waktu kecil waktu ayahnya mau menasihati sesuatu. Bedanya sekarang Rafandra juga ada di ruangan itu, berdiri sedikit di belakang dan di samping Zahra, dengan cara yang tidak menyolok tapi terasa seperti seseorang yang memastikan dia tidak berdiri di tempat yang salah.

Rafandra meletakkan dokumen di meja.

Pak Hendra membacanya. Ruangan itu sunyi selama hampir dua menit penuh hanya suara kertas yang sesekali dibalik, dan suara jam dinding yang Zahra ingat selalu bunyi sedikit lebih keras dari jam-jam lain.

Lalu Pak Hendra menutup dokumen itu.

Meletakkan di meja. Menyandarkan diri ke kursinya dan menatap langit-langit dengan cara yang membuat Zahra tiba-tiba ingin meraih tangannya tapi tidak tahu apakah itu tepat.

"Dito," kata Pak Hendra akhirnya. Satu nama. Dengan nada yang tidak bisa Zahra beri nama bukan marah, bukan kecewa, bukan terkejut. Sesuatu yang lebih tua dan lebih lelah dari ketiga-tiganya.

"Papa sudah curiga?" tanya Zahra pelan.

Pak Hendra tidak langsung menjawab.

"Ada hal-hal yang tidak pernah betul-betul masuk akal," katanya akhirnya. "Informasi yang bocor di waktu yang tidak seharusnya. Keputusan bisnis yang tiba-tiba diketahui pihak luar sebelum kami umumkan." Dia menggeleng pelan. "Aku tidak mau percaya. Dia adikku."

Zahra menatap ayahnya pria yang selama hidupnya terlihat seperti seseorang yang selalu punya kendali, yang selalu tahu langkah selanjutnya, yang tidak pernah kelihatan betul-betul goyah di depan anak-anaknya.

Malam ini dia terlihat tua.

Bukan dalam artian fisik tapi tua dengan cara yang lebih dalam dari itu. Seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang tidak bisa diganti.

"Pa," kata Zahra.

Pak Hendra menoleh.

"Ini bukan salah Papa." Zahra menatap ayahnya langsung. "Mempercayai saudara sendiri bukan kesalahan."

Pak Hendra diam.

Lalu untuk pertama kali dalam ingatan Zahra yang panjang matanya berkaca-kaca. Bukan menangis. Pak Hendra tidak pernah menangis di depan orang lain. Tapi mata yang berkaca-kaca itu terlihat juga, dan Zahra yang mewarisi cara menyembunyikan perasaan yang sama hanya bisa menatap mejanya sebentar sebelum kembali ke wajah ayahnya.

Rafandra yang berbicara duluan dengan nada yang Zahra tidak pernah dengar dia gunakan sebelumnya. Bukan nada CEO, bukan nada suami, tapi nada seseorang yang berbicara ke orang yang sudah dia anggap keluarga jauh sebelum pernikahan ini membuat itu resmi.

"Hendra. Kita sudah tangani situasi yang lebih buruk dari ini."

Pak Hendra menatap Rafandra.

"Ini berbeda, Rafa."

"Ya." Rafandra tidak menyangkal. "Tapi cara kita menghadapinya tidak perlu berbeda."

.

.

.

Mereka di rumah keluarga Hendra sampai hampir sembilan malam. Mama Ratih yang tidak diajak masuk ke ruang kerja akhirnya diberitahu oleh Zahra di dapur, berdua, dengan suara yang dijaga pelan supaya tidak terdengar ke ruangan lain. Ibunya mendengarkan dengan dua tangan yang dipegang di pangkuan dan wajah yang semakin diam semakin Zahra bicara.

Waktu Zahra selesai, Mama Ratih tidak langsung berkata apa-apa. Hanya meraih tangan Zahra. Menggenggamnya.

"Kamu baik-baik saja, Nak?" bisiknya akhirnya bukan tentang situasinya, bukan tentang Om Dito atau Irwan atau dokumen itu. Hanya tentang Zahra.

Zahra menatap ibunya.

"Baik, Ma." Dan kali ini untuk pertama kali dalam waktu yang lama kalimat itu bukan setengah bohong. "Beneran baik."

.

.

.

Perjalanan pulang, di dalam mobil, Jakarta malam yang macet di beberapa titik Zahra dan Rafandra duduk berdampingan dalam diam.

Bukan diam yang tidak nyaman. Bukan diam yang penuh hal yang belum dikatakan. Tapi diam yang muncul di antara dua orang yang baru saja mengalami sesuatu yang berat bersama dan tidak perlu mengisinya dengan kata-kata.

Di lampu merah Semanggi, Rafandra berkata tanpa menoleh:

"Kamu dengar apa yang diktakan ayahmu." Suaranya pelan.

Zahra menatap jendela di sisinya. "Gue cuma bilang itu tidak salah."

"Aku tahu." Hening sebentar. "Tapi tidak semua orang bisa melakukan itu melihat seseorang yang dicintai terluka dan tetap cukup tenang untuk bilang hal yang benar."

Zahra tidak menjawab langsung. Di luar, lampu merah berganti hijau. Mobil bergerak.

"Om tadi," kata Zahra akhirnya. "Waktu Om ngomong ke Papa... kita sudah tangani situasi yang lebih buruk dari ini. Itu..." Dia berhenti sebentar. "Itu..?."

Rafandra tidak berkomentar. Tapi Zahra melihat dari sudut matanya cara tangannya di setir sedikit mengendur.

Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Dan di diam itu di antara lampu-lampu Jakarta yang bergerak di luar jendela, di dalam mobil yang membawa dua orang yang lima bulan lalu hampir tidak saling kenal ada sesuatu yang tidak perlu diucapkan untuk terasa nyata.

Bahwa mereka sudah jauh dari titik awal itu.

Dan bahwa perjalanan yang masih panjang di depan dengan Irwan yang belum selesai, dengan Om Dito yang belum dikonfrontasi, dengan semua yang belum betul-betul tuntas tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus ditanggung sendiri.

"Selalu," kata Rafandra semalam.

.

.

.

1
Liadjamileba 08
bagussss bangettt
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼
jlianty: sabar ya, masih dalam peninjauan bab selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!