Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap Cair dan Langkah Bayangan
Suasana di sekitar area mess karyawan sejak senja sudah tampak jauh lebih ramai dan hidup daripada biasanya. Deretan bus jemputan karyawan yang baru saja kembali dari area tambang disambut oleh riuh rendah obrolan para pekerja yang berhamburan turun.
Rana melangkah turun dari anak tangga bus dengan raut wajah heran. Ia merapatkan jaketnya, menatap ke arah halaman tengah di dekat kantin utama yang kini sudah dipasangi beberapa tenda kain dan panggangan besi berukuran besar. Asap putih tipis beraroma gurih samar mulai membubung ke langit yang hampir gelap itu.
"Ada acara apa, Mas? Kok ramai sekali?" tanya Rana kepada Budi yang berjalan sedikit mendahuluinya di jalan setapak berbatu.
Budi menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dengan kening berkerut.
"Kamu tidak membaca pengumuman di grup, Na?"
Rana menggelengkan kepalanya pelan, ekspresinya tampak kikuk.
"Ponselku kehabisan baterai sejak siang tadi, Mas. Dan aku lupa tidak membawa charger ke kantor."
"Astaga, anak ini! Bisa-bisanya kuper di era digital." seloroh Budi sambil tertawa kecil, menggeleng-gelengkan kepala melihat kepolosan stafnya.
"Kamu kan bisa pakai charger yang ada di kantor. Punya siapa saja yang nganggur, pakai saja." kata Dino yang menyusul.
Rana hanya tersenyum tipis karena sampai sekarang dirinya masih sungkan jika terus merepotkan rekan-rekannya.
"Malam ini ada acara penyambutan untuk bos kita yang baru, Superintendent Warehouse. Seluruh staf logistik dan divisi yang berkaitan wajib kumpul. Rusa hasil buruan warga lokal yang tadi sore sempat kamu lihat diturunkan dari mobil operasional itu adalah menu utamanya malam ini. Makanya kita pulang cepat hari ini."
"Oh," Rana hanya ber-oh pendek.
Mendengar kata 'kumpul' dan 'ramai', garis-garis keengganan langsung tergambar di wajahnya. Rana secara otomatis berniat untuk meringkuk saja di dalam kamar mess-nya sepanjang malam, mengabaikan pesta daging tersebut demi ketenangan mentalnya.
Namun, Budi yang sudah sangat hafal dengan tabiat asosial dan sifat penyendiri Rana, segera melancarkan serangan verbal sebelum gadis itu sempat menyusun alasan.
"Kamu harus datang, Rana! Tidak ada alasan absen kali ini. Kamu itu bagian dari administrasi Warehouse, bagaimana mungkin kamu tidak hadir di acara penyambutan atasanmu sendiri? Nanti malah dikira tidak sopan dan tidak solid," tegas Budi dengan tatapan mata yang tidak bisa dibantah.
Dino sampai menahan tawa melihat wajah Rana dan Budi yang terlihat seperti seorang ayah yang mendikte anaknya.
Mau tidak mau, Rana akhirnya menganggukkan kepalanya tanda setuju, meskipun di dalam hati ia merasa sangat enggan dan malas menghadapi keramaian yang menurutnya melelahkan itu.
Malam harinya, setelah menyelesaikan ibadah shalat Isya di dalam kamarnya, pintu kamar Rana diketuk dari luar. Ketukan itu berasal dari Yulia, salah satu admin dari divisi Accounting yang malam ini tampil rapi dengan blus kasual. Yulia sengaja datang untuk mengajaknya pergi ke kantin bersama-sama agar tidak berjalan sendirian ke kantin.
Setelah memastikan seluruh lampu mati dan mengunci pintu kamarnya dengan rapat, Rana mengikuti langkah Yulia yang berjalan di depan bersama dengan Umi, staf senior dari divisi Plan.
Sesampainya mereka di area kantin utama, mereka langsung disambut oleh sorakan riuh dan gelak tawa ratusan karyawan yang telah sampai lebih dulu. Pemandangan di dalam kantin malam itu terlihat sangat timpang.
Perbandingan jumlah karyawan perempuan dan laki-laki di site pertambangan ini bisa mencapai 1 banding 5, membuat keberadaan para karyawan perempuan yang berpakaian rapi terlihat sangat kontras dan mencolok di tengah-tengah lautan para pria yang rata-rata masih berseragam.
Rana yang merasa risih secara instingtif ingin langsung bergabung dan duduk di meja belakang bersama rekan-rekan perempuan lainnya demi keamanan. Namun, harapannya pupus ketika menyadari bahwa seluruh tempat duduk malam ini telah diatur ketat berdasarkan sekat divisi masing-masing demi mempermudah sesi perkenalan dengan bos baru nanti.
Rana berjalan dengan langkah kaku menuju barisan meja paling depan di dekat panggung kecil, di mana Budi, Dino, Tinus, dan beberapa rekan helper dari divisinya sudah duduk berkumpul.
Sejak langkah pertama Rana memasuki pintu kantin yang terbuka lebar, sebenarnya ada dua pasang mata yang tidak pernah lepas memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu.
Pasang mata pertama adalah milik Pradika, yang malam ini duduk di barisan meja mekanik dealer tidak jauh dari posisi Rana. Pradika menatap Rana dengan binar mata yang dipenuhi tekad matang setelah pembicaraannya dengan rekan-rekannya siang tadi. Sementara pasang mata kedua milik Sapo yang duduk di sudut dekat mesin pendingin, menatap Rana dengan seulas seringai licik dan tatapan beracun yang sarat akan niat terselubung.
Acara berjalan dengan meriah. Pidato sambutan dari Superintendent baru selesai disampaikan, disusul oleh pembagian potongan daging rusa bakar yang harum dan empuk ke setiap meja. Suasana kantin semakin riuh oleh denting sendok dan obrolan keras khas orang-orang lapangan.
Di tengah-tengah riuhnya acara makan dimulai, Umi tiba-tiba berdiri dari mejanya, berjalan melintasi para karyawan laki-laki, lalu mendekati meja tempat Rana duduk. Di tangan kanan Umi, terdapat sebuah gelas kaca besar berisi cairan soda berwarna cokelat pekat dengan es batu yang bergemerincing.
"Ini, Rana. Minum dulu supaya makannya lebih segar," kata Umi sambil mengulas senyum lebar, menyerahkan gelas tersebut langsung ke hadapan Rana.
Rana menatap gelas itu dengan ragu. Sejujurnya, ia memiliki sensitivitas lambung yang kurang baik terhadap minuman dingin.
"Maaf, Kak Umi. Aku tidak minum soda. Aku minum air putih saja yang ada di botol ini," tolak Rana secara halus dan sopan sembari memegang botol air mineralnya.
"Ah, sekali-kali saja, Rana. Jangan kaku begitu. Lihatlah, malam ini semua orang juga minum minuman segar untuk merayakan syukuran. Tidak enak kalau kamu cuma minum air putih sendiri," bujuk Umi lagi, nadanya mendesak dengan halus.
Budi dan Dino yang duduk di sebelah Rana ikut menganggukkan kepala mereka, mengira itu hanyalah bentuk keramahan biasa antar staf perempuan.
"Iya, Na. Ambil saja, tidak apa-apa sekali-kali minum yang bersoda di pesta," sahut Budi santai.
Merasa tidak enak hati karena terus-menerus menolak di depan para senior, Rana akhirnya menerima gelas kaca itu dengan perasaan enggan.
"Terima kasih, Kak Umi," ucapnya pelan.
Di sudut ruangan, Sapo yang sejak tadi mengawasi pergerakan Umi segera mengembangkan senyum licik yang teramat puas. Ia menarik napas dalam, memutar-mutar tutup botol dengan jemari yang gemetar karena luapan rencana yang hampir berhasil.
Rana sendiri seumur hidupnya hampir tidak pernah menyentuh atau meminum minuman bersoda. Sejak dulu, minuman berkarbonasi seperti itu hanya dibeli khusus untuk Rani, sehingga Rana sama sekali tidak akrab dengan rasa asli dari minuman tersebut. Ketidaktahuannya itulah yang menjadi celah fatal malam ini; ia tidak akan pernah tahu jika cairan cokelat berbusa yang kini dipegangnya telah terkontaminasi oleh zat lain.
Rana mendekatkan bibir gelas ke mulutnya, lalu meminum cairan itu satu tegukan besar untuk menghargai pemberian Umi.
Namun, baru saja cairan cokelat itu melewati pangkal tenggorokannya, Rana langsung tersedak kecil. Ia merasakan sensasi aneh, diantara rasa manis ada rasa getir menyengat yang membuat tenggorokannya seperti terbakar hebat.
Baru saja ia meletakkan kembali gelasnya ke meja, sebuah denyutan keras menghantam kepalanya. Pandangan matanya mendadak buram sesaat, dan rasa pening yang luar biasa langsung berputar hebat di dalam otaknya, membuat bumi seolah berayun ke kiri dan ke kanan.
Merasa ada yang sangat salah dengan kondisi fisiknya secara mendadak, Rana mencengkeram tepi meja besi untuk menahan tubuhnya agar tidak limbung. Keringat dingin mulai keluar di pelipisnya.
"Mas Budi..." bisik Rana dengan suara yang mendadak parau dan lemas.
"Aku... aku izin ke toilet sebentar ya. Perutku mendadak kurang nyaman."
Budi yang sedang asyik mengobrol dengan Tinus hanya menoleh sekilas, tidak terlalu menyadari perubahan drastis pada wajah pucat Rana.
"Oh, iya, Na. Pergilah. Kamu keluar dari pintu itu belok kiri. Toilet ada di ujung lorong."
"Iya, Mas." jawab Rana lemah.
Rana berusaha berdiri dengan kaki yang terasa seperti jeli, lalu berjalan dengan sedikit terhuyung keluar menembus kerumunan pintu belakang kantin.
Letak toilet utama mess karyawan memang didesain sedikit jauh dan terpisah di bagian belakang kompleks kantin, melewati sebuah lorong terbuka yang berbatasan langsung dengan area gelap pembatas hutan luar.
Jarak sekitar sepuluh puluh meter itu terasa sangat panjang bagi Rana malam ini. Sepanjang langkahnya, ia harus berpegangan di dinding-dinding kayu kantin dan sekuat tenaga menahan rasa pening berputar yang kian lama kian mencengkeram kesadarannya dengan brutal.
Di dalam kantin, Pradika yang sejak awal kedatangan Rana tidak pernah mengalihkan fokusnya, langsung menangkap gelagat yang tidak beres. Ia melihat bagaimana Rana menerima gelas dari Umi, meminumnya, dan bagaimana sedetik kemudian ekspresi wajah gadis itu berubah putih pucat pasi seperti orang yang kehilangan darah. Saat melihat Rana berjalan keluar dengan langkah yang tidak stabil dan tangan yang meraba dinding, alarm bahaya di dalam kepala Pradika langsung berbunyi keras.
Pradika meletakkan garpunya dengan sentakan kasar ke atas piring, membuat Pangki dan Hasrul terkejut.
"Ada apa, Dik?" tanya Pangki bingung.
Tanpa menjawab pertanyaan rekannya, Pradika langsung berdiri dari kursinya. Pandangan matanya sempat menyapu sudut dekat mesin pendingin, dan dadanya bergemuruh hebat ketika menyadari bahwa kursi tempat Sapo duduk tadi kini sudah kosong melompong. Laki-laki gempal itu sudah menghilang dari dalam kantin.
"Sialan!" batin Pradika mengumpat kasar, firasat buruknya terbukti.
Dengan langkah lebar dan cepat, Pradika bergerak memotong kerumunan, mengabaikan beberapa panggilan dari rekan divisi lain. Ia mendorong pintu belakang kantin dengan tegas, melangkah keluar menembus hawa dingin malam, bergerak cepat mengikuti langkah bayangan gadis penuh rahasia itu ke arah lorong toilet yang sunyi. Kebenaran harus ditegakkan malam ini, sebelum semuanya terlambat.