“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”
Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.
Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Blood in the Ocean
Kesunyian di balkon The Sovereign terasa seperti permukaan es yang siap retak. Cahaya bulan purnama yang tadi terasa puitis kini tampak seperti lampu sorot interogasi yang dingin. Kael Arden masih mengurung Aurelia di antara lengannya, menghirup aroma black rose yang memabukkan, ketika insting yang telah ia asah selama bertahun-tahun di puncak kekuasaan tiba-tiba berteriak.
Ada sebuah anomali. Bukan pada suara mesin kapal pesiar mewah ini, melainkan pada keheningan malam di tengah samudra yang terlalu sempurna.
Matanya yang tajam menangkap kilatan mikroskopis dari arah dek observasi di atas mereka, pantulan cahaya bulan pada lensa optik.
"Tiarap!"
Kael tidak memberikan peringatan kedua. Ia tidak sekadar mendorong Aurelia, ia melompat, membungkus tubuh wanita itu dengan tubuhnya sendiri dan menjatuhkan mereka berdua ke lantai balkon yang dingin tepat saat suara thwack yang diredam terdengar. Sebuah peluru kaliber 300 Blackout menghantam pagar balkon jati, tepat di posisi kepala Aurelia berada beberapa detik yang lalu, menyisakan serpihan kayu yang beterbangan.
"Kael!" Aurelia terkesiap, napasnya tertahan saat punggungnya menghantam lantai, namun beban tubuh Kael yang berat dan hangat segera menindihnya, menguncinya dalam perlindungan mutlak.
"Jangan bergerak," desis Kael. Suaranya bukan lagi suara sang Perdana Menteri, itu adalah suara seorang pemburu yang sedang terpojok.
Peluru kedua menghantam kaca pintu balkon, membuatnya hancur berkeping-keping. Kael segera berguling, menarik Aurelia ke balik pilar beton dekoratif yang cukup tebal untuk menahan tembakan. Dalam kegelapan yang diselingi kilatan peluru, Kael merogoh bagian belakang pinggangnya, menarik sebuah Glock 19 yang ia ikat pada pangkal pahanya.
"Siapa mereka?" tanya Aurelia. Suaranya datar, tanpa nada panik sedikit pun. Matanya yang sehitam obsidian menatap serpihan kaca dengan ketenangan yang mengerikan. Pembunuhan dan serangan seperti ini adalah makanan sehari-harinya sebagai penguasa Vane Group.
"Pihak yang tidak ingin kau bangun besok pagi," jawab Kael dingin. Ia memeriksa magasinnya dengan gerakan mekanis yang presisi. "Apakah tidak ada tombol darurat dan pengawalanmu, Aurelia?"
Aurelia menyunggingkan senyum tipis yang tenang, sama sekali tidak terintimidasi oleh situasi hidup dan mati ini. "Sayangnya ini area steril pribadiku, Kael. Tapi kau tidak perlu khawatir, menara pelacakan dan pengawalan yacht ku ini akan segera sadar dan mengirim pengawal ke mari."
Kael mengertakkan rahangnya. Area steril berarti mereka benar-benar terisolasi di dek atas ini untuk beberapa menit ke depan sebelum bantuan domestik kapal tiba. Namun sebelum Kael sempat membalas, sebuah ledakan kecil mengguncang bagian lambung kapal. The Sovereign miring ke kiri, memaksa Aurelia kehilangan keseimbangan.
Kael dengan sigap menangkapnya, namun di saat yang sama, seorang penembak ketiga muncul dari tikungan koridor gelap yang terhubung dengan balkon.
Kael tidak memiliki sudut tembak yang bersih untuk melindungi mereka berdua tanpa celah. Tanpa ragu, sang Perdana Menteri memutar tubuhnya, membalikkan posisi mereka, dan menjadikan punggungnya sendiri sebagai perisai hidup bagi Aurelia Vane.
Tshak!
Suara peluru yang merobek daging terdengar jelas di telinoa Aurelia. Ia merasakan tubuh Kael tersentak hebat, kepalanya terkulai di ceruk leher Aurelia. Namun pria itu tidak mengeluarkan erangan sakit sedikit pun. Dengan sisa tenaga dan fokus yang brutal, Kael membalas tembakan dengan tangan kirinya, mengenai kepala penyerang itu dalam satu gerakan putar yang presisi.
Aurelia membeku. Sifat dinginnya yang terbiasa melihat kematian mendadak terusik oleh sesuatu yang tidak logis. Untuk pertama kalinya, ada sebuah letupan kehangatan yang asing dan aneh menjalari dadanya. Pria ini, seorang Perdana Menteri yang arogan, yang selalu ia coba jatuhkan martabatnya, baru saja menerima peluru yang seharusnya menembus jantungnya sendiri.
"Kael, kau tertembak," ujar Aurelia. Suaranya tetap tenang namun ada getaran halus di dalamnya yang tidak bisa ia sembunyikan. Noda merah dengan cepat menyebar di bahu kemeja putih mahal milik Kael yang terbuka.
Kael mengabaikan rasa sakit yang membakar sarafnya. Adrenalin telah mengubah rasa sakit itu menjadi obsesi yang murni. Ia menarik Aurelia masuk ke dalam lift pribadi menuju dek navigasi, menekan kode akses darurat yang mengunci pintu besi tersebut.
"Hanya luka gores," bohong Kael. Wajahnya pucat, keringat dingin membesit di dahinya, namun matanya tetap setajam elang. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding lift, napasnya memburu.
Aurelia mendekat, jemarinya yang dingin menyentuh luka di bahu Kael. Darah hangat merembes ke jemarinya, menghancurkan warna emas pada kuku-kukunya yang glamor.
"Kenapa?" bisik Aurelia, matanya menatap tajam langsung ke netra Kael. "Kau bisa saja bergeser dan membiarkanku mati, Kael. Kematianku di kapal ini akan menyelesaikan semua masalah politikmu. Kau akan bebas dari skandal dan bebas dari ancamanku."
Kael menatap Aurelia. Di dalam lift yang sempit itu, di tengah aroma besi darah dan mesiu, Kael menyunggingkan senyum yang paling jujur, sekaligus paling mengerikan yang pernah ia miliki.
"Bagaimana aku bisa membiarkanmu mati?" Kael meraih wajah Aurelia dengan tangannya yang ternoda darah, mengotori pipi mulus sang ratu bisnis. "Dunia bisa memiliki perdamaiannya, tapi aku... aku hanya ingin memiliki neraka ini bersamamu. Jika kau mati, siapa lagi yang akan mengingatkanku bahwa aku masih memiliki jiwa?"
Pintu lift terbuka di dek navigasi yang gelap. Kael menarik Aurelia keluar, namun langkahnya mulai limbung. Kehilangan darah mulai memengaruhi koordinasi motoriknya. Pria itu jatuh bertumpu pada satu lutut, menggunakan konsol navigasi utama untuk menahan berat tubuhnya.
"Dengarkan aku, Aurelia..." Kael mencengkeram pergelangan tangan Aurelia, napasnya semakin berat. "Di bawah meja navigasi ini... ada tuas manual darurat untuk meluncurkan sekoci taktis. Pergilah sekarang. Aku akan menahan sisa tikus-tikus itu di sini."
Mendengar perintah itu, Aurelia tidak bergerak mundur. Sebaliknya, ia justru tertawa sinis, sebuah tawa meremehkan yang terdengar begitu seksi sekaligus berbahaya di tengah desing maut.
"Hey, ini yachtku! Sopan sekali kau menyuruhku pergi dan berhutang budi padamu," potong Aurelia dingin.
Tanpa menunggu persetujuan Kael, Aurelia langsung merebut pistol Glock 19 dari cengkeraman tangan Kael yang mulai melemah. Ia berdiri tegak dengan tumit tinggi dan jas abu-abu mahal Kael yang terlalu besar untuk tubuhnya yang ramping, Aurelia membalikkan tubuh menghadap pintu lift yang kembali berdenting terbuka. Tidak ada lagi defensif, aura female dominance nya keluar sepenuhnya.
Dengan gerakan yang sangat ganas namun presisi, Aurelia mengambil alih medan tempur.
Bam! Bam! Bam!
Tiga orang penyerang yang baru saja melangkah keluar dari lift lainnya langsung disambut oleh timah panas. Tembakan Aurelia begitu dingin dan terukur. Peluru pertama menembus dada, peluru kedua menghantam leher, dan yang ketiga tepat meremukkan dahi pemimpin penyerang sebelum mereka sempat membidikkan senjata taktis mereka.
Aurelia menembak dengan ritme yang mematikan, maju satu langkah demi satu langkah seolah dek navigasi yang penuh darah ini adalah panggung runway pribadinya. Kilatan tembakan menerangi wajahnya yang cantik dan dingin, memantul di mata Kael yang menatapnya dengan obsesi yang semakin menggila.
"Kau tahu Kael, kau belum tahu siapa aku sebenarnya," ujar Aurelia tanpa menoleh ke belakang, matanya berkilat penuh rahasia dan dominasi absolut saat ia memastikan tidak ada satu pun musuh di depannya yang masih bernapas.
Pintu lift kembali tertutup setelah menelan jasad-jasad yang bersimbah darah. Suasana dek navigasi kembali sunyi, menyisakan kepulan asap mesiu dan napas Kael yang semakin memburu di balik konsol. Kata-kata Aurelia barusan bergaung di kepala Kael, sebuah petunjuk samar yang jauh lebih besar dan mengerikan daripada sekadar ego seorang CEO korporasi.
"Aurelia..." panggil Kael parau, kesadarannya mulai berada di ambang batas akibat kehilangan darah, namun senyum puas sekaligus penasaran terukir di bibirnya melihat keganasan wanita itu.
"Diamlah, Kael. Simpan tenagamu untuk menciumku saat semua orang ini sudah mati," potong Aurelia dingin, matanya mengawasi lorong luar sembari menunggu tim pengawalnya yang mulai terdengar bergerak naik dari dek bawah.
Serangan ini murni penyerangan terencana yang rapi dan diam-diam. Aurelia memperhatikan dek bawah The Sovereign yang semakin liar berpesta ketika para wanita-wanita bayaran mulai memasuki area.
Malam itu, di atas The Sovereign, darah di samudra hanyalah awal. Bagi Kael dan Aurelia, keselamatan hanyalah jeda singkat sebelum mereka masuk ke babak baru yang jauh lebih meminta penyerahan diri, sekaligus bersiap menghadapi puncak pertemuan para serigala dunia bawah.