Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.
Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.
Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.
Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.
Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi
Akhirnya, sayuran terakhir masuk ke keranjang.
"Selesai," katanya.
Will menghela napas lega.
Mereka membawa keranjang masing-masing yang penuh dengan sayuran hijau segar, berjalan menuju bangunan kecil di tepi perkebunan.
Di sana, timbangan besar berdiri di atas meja kayu.
Upah akan ditentukan dari berat keranjang.
Perempuan itu meletakkan keranjangnya. Jarum timbangan bergerak. Ia mencatat angka di buku kecil.
"Giliranmu,"
Will mengangkat keranjangnya yang berat. Ia letakkan di atas timbangan, walaupun dia merasa keberatan.
Perempuan itu melihat angkanya.
"Lumayan berat. Hasil bagus untuk pertama kali,"
Ia menulis sesuatu di buku, lalu menghitung koin.
"Ini bagianmu,"
Will menerima beberapa koin perunggu.
"Terima kasih, Kak,"
Perempuan itu tersenyum. "Sama-sama. Besok kalau mau kerja lagi, bisa cari aku di Guild,"
Will mengangguk. Tapi pikirannya tidak di situ.
Sekarang atau tidak sama sekali.
"Kak..."
"Iya?"
Will menarik napas.
"Aku perlu bicara sesuatu,"
Perempuan itu mengerjap. "Tentang apa?"
"Maukah kau bergabung dengan timku?" tanya Will dengan ragu.
Will memilih langsung mengajaknya.
Perempuan itu terdiam.
Seketika suasana terasa kaku. Angin berembus pelan. Daun-daun sayur sisa panen bergeser di tanah.
Lalu...
"Aku mau,"
Will mengerjap. "Eh?"
"Kenapa?" tanyanya, antara bingung dan terkejut.
Perempuan itu tersenyum. Bukan senyum ramah seperti tadi. Tapi senyum yang lebih dalam. Seperti orang yang sudah lama menunggu sesuatu, tapi tidak tahu sedang menunggu apa.
"Kau tahu, selama aku kerja... tidak pernah ada yang membantuku atau mengajakku bergabung dengan tim mereka,"
Ia menatap kosong ke arah ladang.
"Itulah kenapa aku selalu membawa banyak kertas misi Guild sendirian,"
Will terdiam.
Ia ingat saat perempuan itu masuk Guild tadi pagi, membawa tumpukan kertas, berjalan cepat ke meja resepsionis, lalu berbicara pelan. Tidak ada yang membantunya. Tidak ada yang menawarkan diri.
"Jadi..." Will memecah sunyi.
"Kau mau bergabung?"
Perempuan itu menatapnya.
"Iya. Aku harap kau tidak membuatku kecewa,"
Will mengangguk. "Baik,"
"Namaku Will. Siapa namamu?"
"Aku Clara. Senang berkenalan denganmu,"
Mereka berjabat tangan. Genggaman Clara kuat.
"Karena kita tim, bagaimana kalau kita mengerjakan misi ranking B?"
Will mengangguk. "Iya, ayo kita kerja sama,"
Will tidak menyangka akan secepat ini.
Ia pikir harus berhari-hari, berminggu-minggu, atau mungkin berbulan-bulan untuk meyakinkan Clara. Tapi perempuan ini langsung setuju. Tanpa banyak tanya. Tanpa syarat yang rumit.
Will berdiri diam di tepi perkebunan. Clara sudah berjalan lebih dulu menuju gerbang, membawa keranjang kosong.
"Kamu tidak ikut?" teriak Clara dari kejauhan.
Will tersentak. "Iya, tunggu aku,"
Ia berjalan cepat menyusul.
"Sekarang... apa yang harus kulakukan?" batin Will.
"Misi ranking B. Aku tidak tahu apa itu,"
"Clara mungkin tahu. Tapi kalau aku terlalu banyak bertanya, dia akan curiga,"
Will berjalan di samping Clara. Pikirannya kalut.
"Kamu kenapa diem aja?" tanya Clara.
"Eh, tidak. Aku hanya... senang,"
Clara tersenyum tipis. "Jangan senang dulu. Nanti lihat saja misinya,"
Will mengangguk. Tapi dalam hati, ia mulai panik.
"Aku harus tanya Aisa," pikirannya.
"Tapi tidak sekarang. Nanti saja, saat Clara tidak ada,"
Sesampainya di gerbang, mereka berdua langsung masuk.
Penjaga gerbang yang sudah mengenal mereka, membiarkan mereka.
"Misi rank B, ini kesempatanku untuk membuatnya percaya," pikirnya.
Sesampainya di depan pintu Guild.
Clara berjalan lebih dulu ke belakang, mengembalikan keranjang dan sabit yang ia bawa tadi pagi. Will mengikuti, melakukan hal yang sama.
Seorang pekerja perkebunan menerima keranjang itu, memeriksanya sebentar, lalu mengangguk.
"Besok kalau mau panen lagi, datang lebih pagi," katanya.
Clara mengangguk. Will hanya tersenyum.
Mereka keluar dari pintu belakang Guild dan kembali ke ruang utama. Suara ramai masih sama seperti tadi. Beberapa orang baru masuk, beberapa sudah duduk di bangku panjang sambil memegang gelas.
Clara menatap Will.
"Besok jam 8. Jangan telat."
Will mengangguk. "Baik."
Clara berbalik dan berjalan keluar Guild. Mungkin menuju restoran tempatnya bekerja.
Will berdiri di tempatnya beberapa saat. Matanya mengikuti punggung Clara sampai menghilang di balik pintu.
"Besok jam 8," pikirannya.
Ia menghela napas.
"Sekarang... cari tahu tentang misi rank B,"
Will berjalan menuju papan pengumuman.
Matanya menyusuri kertas-kertas yang terpajang.
Tulisan hitam untuk pemula.
Tulisan merah untuk rank B ke atas.
Ia mencari yang merah.
Dan menemukannya.
"Misi Rank B: Mengusir monster di hutan timur. Hadiah 50 koin emas,"
Will membaca pelan-pelan.
"Monster,"
Ia belum pernah bertarung dengan monster sebelumya.
Tapi ia tidak bisa mundur.
Ia mencatat nama misi itu dalam hati, lalu berbalik meninggalkan papan.
Kemudian menemui resepsionis Guild.
"Permisi,"
Resepsionis yang sedang menulis itu mengangkat wajah.
"Iya?"
"Kalau aku punya tim, bolehkah aku mengerjakan misi rank B?"
Resepsionis itu menghentikan tulisannya. Ia menatap Will beberapa saat, seperti menilai.
"Boleh saja, kalau kau setim dengan Clara,"
Will mengangguk. Tidak bertanya lebih lama. Tidak ingin terlihat mencurigakan.
"Terima kasih,"
Ia berbalik dan berjalan cepat menuju pintu keluar.
Di belakangnya, resepsionis hanya keheranan melihat itu.
"Baru sehari bergabung, sudah mau misi rank B? Anak ini..."
Ia menggeleng pelan, lalu kembali menulis.
------------
Will keluar dari Guild. Udara sore mulai terasa sejuk. Orang-orang mulai pulang. Pedagang kaki lima membongkar lapaknya.
Ia berjalan menuju penginapan.
Pikirannya penuh.
"Besok jam 8, misi rank B, monster di hutan timur," pikirnya.
"Clara setuju ikut. Tapi apakah dia tahu kalau aku belum pernah bertarung?"
"Aku harus siap,"
Will masuk ke kamarnya, mengunci pintu, lalu duduk di tepi kasur.
Ia mengeluarkan batu komunikasi.
"Kak Aisa,"
Batu itu hangat.
"Will? Ada apa lagi?"
"Besok aku akan misi rank B. Di hutan timur. Mengusir monster,"
Diam, Aisa tidak langsung menjawab.
"Kak?"
"Kau yakin?"
"Clara yang minta. Aku tidak bisa menolak,"
Aisa menghela napas.
"Baiklah. Kau ingat saat latihan memperkuat kemampuan menirumu dulu?"
Will mengerjap. "Iya, kenapa?"
"Coba kau tiru kemampuan orang-orang kuat. Kau kan bisa meniru kekuatan orang, walaupun orang itu tidak memperlihatkan kekuatannya secara langsung,"
Will terdiam. Matanya membesar sedikit.
"Benar juga,"
Selama ini ia hanya meniru wujud benda mati, pohon, batu, lampu tidur. Tapi Aisa sudah mengajarinya lebih dari itu. Meniru esensi, sifat, kekuatan dan sebagainya.
Will mengangguk. "Baik, Kak. Akan kucoba meniru orang kuat di sekitarku,"
"Jangan asal pilih. Cari yang benar-benar kuat. Atau kau bisa cari di papan buronan Guild, lihat ranking mereka,"
Will mengangguk lagi. "Paham,"
"Hati-hati. Jangan asal meniru kekuatan orang, kau harus fokus melihatnya,"
Will teringat, saat ia fokus melihat Clara bertani, ia berhasil menirunya dengan sempurna hanya dalam beberapa detik.
Tanpa sadar, gerakan Clara dari cara memegang sabit, cara memotong batang, cara memilih sayur yang matang, semuanya terserap begitu saja. Seperti bayangan yang menempel, lalu menjadi bagian dari dirinya.
"Baik, Kak,"
Batu itu dingin kembali.
Will menyimpannya.
Ia berbaring di kasur, menatap langit-langit.
"Orang kuat di sekitarku..."
"Clara?"
"Resepsionis Guild? Penjaga gerbang? Atau..."
Ia teringat papan buronan di Guild tadi pagi.
"Para buronan rank S, SS, bahkan SSS,"
"Mereka pasti kuat,"
"Tapi meniru kekuatan buronan dari gambar? Apakah itu mungkin?"
Bersambung...