Di Benua Langit Azure, kekuatan bela diri dan kedalaman Qi menentukan segalanya. Ye Chen, seorang jenius dari keluarga cabang klan Ye, dikhianati dan "Akar Roh" miliknya dicuri oleh saudara sepupunya sendiri demi ambisi klan utama. Menjadi cacat dan dibuang ke pinggiran desa, nasibnya berubah ketika sebuah meteorit hitam jatuh di dekatnya. Meteorit tersebut menyimpan warisan dari "Kaisar Kekosongan" dari era kuno, memberikannya seni kultivasi terlarang yang tidak membutuhkan Akar Roh, melainkan menyerap energi bintang. Ye Chen kini harus merangkak dari bawah, bersembunyi dari musuh-musuh kuat, dan menapaki jalan kultivasi untuk membalas dendam serta mencari kebenaran di balik hancurnya para Dewa Kuno
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Tamparan Penguasa dan Harga Sebuah Kesombongan
Udara di gerbang Kota Suci mendadak terasa lebih berat. Puluhan pasang mata menatap tak percaya pada sosok Lin Chen yang melangkah santai mendekati kereta kencana yang hancur.
Wang Teng, sang Tuan Muda Keluarga Wang, merasa harga dirinya diinjak-injak hingga rata dengan tanah. Sebagai jenius alkemis dan keturunan tetua Kuil Suci, tidak pernah ada satu orang pun yang berani menatapnya dengan pandangan meremehkan seperti itu, apalagi seorang manusia fana tanpa Dantian!
"Kau mencari mati! Jangan pikir karena fisikmu kebal senjata tajam, kau bisa menantang kultivator sejati!" raung Wang Teng.
Api berwarna emas kemerahan tiba-tiba menyembur dari kedua telapak tangan Wang Teng. Itu adalah Api Teratai Emas, jenis api spiritual tingkat tinggi yang sangat langka, kebanggaan para alkemis elit. Panas dari api itu membuat aspal batu obsidian di sekitarnya mulai meleleh.
Jurus Rahasia Keluarga Wang: Cengkeraman Naga Teratai Emas!
Wang Teng melompat ke udara, tangannya yang terbakar membentuk cakar naga raksasa yang menyambar langsung ke arah kepala Lin Chen. Tekanan dari serangan Inti Emas tingkat menengah ini membuat kerumunan di sekitarnya berhamburan mundur sambil menjerit kepanasan.
"Habislah pelayan itu! Api Teratai Emas bisa membakar tulang menjadi abu dalam sedetik!" seru salah satu kultivator di kerumunan.
Namun, Lin Chen tidak repot-repot menghindar. Ia bahkan tidak memancarkan energi petir kosmisnya. Menghadapi api emas yang diklaim bisa membakar segalanya itu, Lin Chen hanya mengangkat tangan kanannya dan melayangkan sebuah tamparan punggung tangan yang sangat biasa.
Gerakannya terlihat pelan, seperti seseorang yang sedang mengusir lalat yang mengganggu.
Tapi saat punggung tangan Lin Chen membentur cakar api naga raksasa tersebut...
PLAAAAAKKK!!!
Suara tamparan keras bergema sangat nyaring, menenggelamkan suara gemuruh api.
Api Teratai Emas yang dibanggakan Wang Teng seketika padam tanpa sisa, seolah ditiup oleh badai topan. Dan bukan hanya apinya yang hancur, telapak tangan Lin Chen mendarat telak di pipi mulus Tuan Muda yang arogan itu.
KRAAAK!
"Pfffttt—!"
Gigi-gigi Wang Teng rontok dan melesat keluar dari mulutnya bersama semburan darah kental. Tubuhnya yang sedang berada di udara langsung berputar seperti gasing rusak akibat tenaga tamparan yang mengerikan, lalu terhempas keras ke tanah.
Ia terseret sejauh belasan meter hingga wajahnya membajak jalanan batu, sebelum akhirnya berhenti di bawah kaki patung penjaga gerbang.
Hening. Sunyi senyap seperti di pemakaman.
Kerumunan mematung. Penjaga gerbang lupa cara bernapas. Harimau-harimau raksasa yang tadinya ketakutan, kini semakin merunduk menyembunyikan wajah mereka ke tanah.
Tuan Muda Wang Teng... si jenius jenius alkemis... ditampar pingsan hanya dengan satu pukulan ringan?!
Pipi kiri Wang Teng membengkak hebat seperti bakpao raksasa, mengubah wajah tampannya menjadi sangat konyol. Ia pingsan seketika, tidak berdaya sama sekali.
Lin Chen menurunkan tangannya sambil menghela napas bosan. Ia mengeluarkan saputangan, mengelap jari-jarinya, lalu membuang saputangan itu tepat di atas tubuh kusir yang pingsan tadi.
"Kalian orang-orang Ibukota selalu berteriak paling keras, tapi tulangnya paling rapuh," cibir Lin Chen dengan suara datar.
Ia lalu menoleh perlahan ke arah penjaga gerbang berzirah perak yang tadi sempat memalak dan menghinanya. Mendapat tatapan dari Lin Chen, penjaga gerbang itu langsung merosot hingga lututnya membentur tanah. Wajahnya pucat pasi, pedang tombaknya jatuh bergemerincing.
"T-Tuan... Tuan Besar... A-Ampuni saya! Saya hanya menjalankan tugas! Jangan bunuh saya!" penjaga itu meratap histeris, air matanya menetes. Seseorang yang bisa menampar jenius Inti Emas hingga koma jelas bisa mencabut nyawanya hanya dengan hembusan napas.
Lin Chen tersenyum tipis. Ia berjalan mendekati penjaga yang gemetar itu.
Bukannya memukul, Lin Chen justru memasukkan tangannya ke dalam sakunya, lalu melemparkan sebuah kantong kecil yang berat. Kantong itu jatuh berdebum di pangkuan penjaga gerbang. Isinya tumpah, menampilkan kilauan cahaya dari ratusan Batu Roh Tingkat Menengah yang sangat murni.
"Itu dua ratus batu roh untuk biaya masukku dan Kakak Senior-ku," kata Lin Chen santai. "Sisa seratusnya untuk biaya membersihkan sampah di depan gerbang ini. Aku tidak suka melihat jalanan yang kotor."
Penjaga itu menelan ludah, menatap batu roh yang berkilauan lalu menatap wajah Lin Chen dengan rasa tidak percaya. "B-Baik, Tuan! Terima kasih, Tuan! Selamat datang di Kota Suci!"
Lin Chen berbalik dan melambaikan tangannya ke arah Su Yue yang masih berdiri mematung di belakang.
"Ayo, Kakak Senior. Kita harus mencari penginapan yang bagus. Berdiri di luar sini membuat kulit kering," ucap Lin Chen sambil melangkah masuk melewati gerbang kota yang tinggi menjulang, seolah-olah baru saja menyelesaikan jalan pagi yang santai.
Su Yue buru-buru berlari menyusul Lin Chen. Sesampainya di samping pemuda itu, Su Yue mencubit lengan Lin Chen pelan, matanya melotot memperingatkan.
"Lin Chen! Kau benar-benar gila! Itu Tuan Muda Keluarga Wang! Kau baru saja menginjakkan kaki di Benua Tengah dan sudah menyatakan perang dengan salah satu keluarga penguasa Kuil Suci?!" desis Su Yue panik.
"Tenanglah, Kakak Senior. Kalau kita membungkuk di hadapan anjing liar, anjing lain akan ikut menggigit," jawab Lin Chen dengan nada tanpa dosa. "Lagi pula, aku kemari bukan untuk bersembunyi. Kalau Keluarga Wang mau bermain, aku akan menemani mereka sampai mereka menangis memohon ampun."
Di dalam lautan kesadaran Lin Chen, Guru Lin Tian tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Begitulah muridku! Di dunia ini, tidak ada yang namanya 'merendah'. Singa tidak pernah meminta maaf karena menginjak semut!"
Begitu melewati gerbang, pemandangan Kota Suci Benua Tengah langsung membuat Su Yue menahan napas kagum.
Kota ini adalah keajaiban dunia. Gedung-gedung pencakar langit terbuat dari batu giok dan kristal spiritual, memancarkan cahaya warna-warni yang menerangi langit senja. Di udara, pulau-pulau kecil melayang dengan air terjun yang mengalir ke bawah, dipertahankan oleh formasi terbang kuno tingkat tinggi.
Di pusat kota yang paling jauh, terlihat sebuah menara raksasa berbentuk tungku alkimia setinggi ratusan lantai yang menembus awan. Itu adalah Menara Kuil Alkemis Suci.
"Luar biasa..." gumam Su Yue, matanya berbinar melihat pusat peradaban impiannya.
"Tidak seburuk itu untuk ukuran dunia fana," komentar Lin Chen santai, menilai kota itu dengan pandangan seorang dewa kosmis yang sedang berlibur di desa wisata.
"Kita harus mencari markas pendaftaran Turnamen Seratus Api sebelum penginapan penuh," kata Su Yue sambil membuka peta yang ia dapatkan dari cincin Li Jian. "Tempatnya ada di Alun-Alun Teratai Merah, di distrik ketiga."
Lin Chen mengangguk. Mereka berdua menyewa sebuah kereta kuda fana yang ditarik oleh Kuda Angin bertanduk tunggal untuk menuju ke sana. Sepanjang jalan, Lin Chen menyadari bahwa kepadatan energi elemen di kota ini seratus kali lipat lebih tebal daripada di Sekte Pedang Awan.
"Energi di udara ini cukup bagus," ujar Lin Tian. "Tapi untuk menyempurnakan cangkang fisikmu menuju tahap Inti Bintang Tingkat Menengah, kau butuh benda yang jauh lebih langka. Sebuah pusaka elemen atau monster berdarah naga."
"Satu per satu, Guru," balas Lin Chen dalam hati. "Untuk sekarang, mari kita bantu Kakak Senior memenangkan turnamen mainan ini dulu."
Kereta mereka akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan megah berbentuk setengah lingkaran yang terbuat dari marmer merah. Di atas pintu masuknya terpampang tulisan emas: Balai Pendaftaran Turnamen Seratus Api.
Tempat itu luar biasa ramai. Ribuan alkemis muda dari berbagai penjuru benua berkumpul di sana, mengenakan jubah-jubah sekte yang mewah, saling memamerkan tungku dan kekuatan api mereka.
Su Yue mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan kegugupannya, lalu melangkah turun dari kereta, diikuti Lin Chen.
Baru saja mereka masuk ke pelataran balai pendaftaran, perhatian mereka tertarik oleh sebuah keributan di dekat panggung pengumuman.
"Menyingkir! Gadis buta dari desa mana ini yang berani menghalangi jalanku?!"
Seorang gadis bangsawan berpakaian sutra merah menyala, dikelilingi oleh belasan pengawal, sedang mendorong seorang gadis kecil berpakaian lusuh hingga terjatuh ke tanah. Dari tangan gadis kecil yang terjatuh itu, menggelinding sebuah kristal aneh berwarna perak kehitaman yang langsung memancarkan hawa dingin bercampur kilatan petir redup.
Begitu mata Lin Chen melihat kristal perak kehitaman yang menggelinding di lantai marmer itu, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Di dalam Dantiannya, Inti Bintang Petir miliknya bergetar sangat hebat, lebih hebat daripada saat ia melihat Kolam Petir Cair di Hutan Kematian. Sebuah dorongan purba meronta-ronta di dalam darahnya.
"Mustahil..." suara Guru Lin Tian terdengar sangat terkejut untuk pertama kalinya. "Muridku! Kristal batu hitam itu... Itu bukan sekadar elemen duniawi. Itu adalah Batu Meteorit Kekosongan! Benda itu berasal dari luar Benua Langit Azure!"
Lin Chen menyipitkan matanya. Tatapannya kini mengunci kristal hitam di tangan gadis kecil lusuh tersebut. Tampaknya, Kota Suci ini menyembunyikan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar turnamen alkemis.