Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.
Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.
Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Dapur kedai terasa sunyi saat Reya menunduk di hadapanku. Air matanya jatuh, satu demi satu, seperti rintik hujan yang mencoba menghapus dosa kelalaiannya.
"Maaf, Ghea... kami panik. Pelanggan terlalu banyak, dan kami melewatkan proses perebusan rebung itu," isaknya.
Melihat rekaman CCTV kemarin memang membuat dadaku sesak oleh amarah. Sayuran yang tak dicuci bersih, durasi memasak yang dipangkas, sebuah kecerobohan yang hampir saja merenggut nyawa orang lain. Namun, melihat penyesalan di wajah Reya, amarahku meluruh menjadi rasa tanggung jawab yang besar. Aku memeluknya, membiarkan tangisnya pecah di pundakku.
"Gajimu kupotong 25 persen selama tiga bulan, Reya. Sebagai pengingat bahwa di tangan kita, nyawa orang lain dipertaruhkan," ucapku tegas namun lembut. Aku juga memutuskan untuk menghapus menu berisiko dari daftar, yaitu rebung, jengkol, dan singkong. Bagiku, tak ada rasa yang lebih penting daripada keselamatan.
Setelah menempelkan pengumuman permohonan maaf di pintu kedai, sebuah beban berat seolah terangkat dari jiwaku. Wela membaik, keluarganya memaafkan, dan segalanya mulai kembali tenang. Semua ini takkan mungkin terjadi tanpa pria misterius itu.
Jemariku gemetar saat mengetik pesan singkat padanya: "Terima kasih untuk semuanya."
Balasannya hanya sebuah emoji jempol. Hatiku sedikit mencelos; sungguh balasan yang dingin untuk badai yang baru saja kami lalui bersama.
Namun, sesaat kemudian, sebuah ajakan masuk: "Bagaimana jika pukul 16.30 di resto Papawa?"
Sore itu, aku membiarkan diriku menjadi wanita seutuhnya. Aku menanggalkan kaos dan celana kain yang biasa kupakai bekerja, menggantinya dengan dress hitam yang jatuh lembut di tubuhku, serta sebuah bando putih yang menahan helai rambutku. Aku ingin terlihat berbeda di matanya.
Aku datang sepuluh menit lebih awal, namun Ghani sudah duduk di sana, menungguku. Ia hanya mengenakan kaos putih dan celana pendek kargo, sangat santai, berbanding terbalik denganku yang nampak sangat bersiap.
"Sepertinya aku salah kostum," ucapnya sembari tertawa pelan melihat penampilanku.
"Aku hanya... sedikit ingin berdandan," jawabku kikuk, mencoba menyembunyikan wajahku yang mendadak panas.
"Kamu cantik."
Suaranya rendah, namun efeknya seperti ledakan di dalam kepalaku. Aku mendongak, mataku terkunci pada netra hitamnya yang tajam namun tulus.
"Ghea, kamu cantik sekali."
Aku terdiam, lidahku mendadak kelu. "Terima kasih. Kamu juga... tampan. Dan sangat baik."
Ghani tersenyum masam, menggeleng pelan.
"Tidak, aku tidak sebaik itu. Kamu menolong orang karena jiwamu memang tulus. Aku? Aku hanya membantu jika aku punya alasan dan tujuan tertentu."
"Lalu apa alasanmu membantuku?" tanyaku penuh harap. Namun, kedatangan pelayan yang membawa pesanan kami memotong jawaban yang sedang kunantikan.
Kami makan dalam keheningan yang canggung. Untuk memecah suasana, aku bertanya tentang rencananya mengembangkan bisnis. Dan di sanalah, hatiku merasakan retakan kecil yang pertama.
"Aku hanya liburan di sini, Ghea. Kurang dari tujuh hari lagi, aku harus kembali ke Jakarta. Bisnis utamaku ada di sana, mencakup seluruh negeri. Aku tak tahu kapan bisa kembali ke sini lagi."
Duniaku serasa melambat. Jadi, semua kebersamaan ini hanya bagian dari "liburan"-nya? Aku hanyalah persinggahan singkat di sela kesibukannya yang luas? Ternyata selisih tujuh tahun di antara kami bukan hanya soal angka, tapi soal dunia yang berbeda. Dia adalah elang yang terbang melintasi benua, sementara aku hanyalah burung kecil yang baru belajar membangun sarang di kota kecil ini.
"Mumpung masih muda, banyaklah belajar, Ghe," nasehatnya, suaranya terdengar seperti seorang kakak namun juga seperti seseorang yang sedang berpamitan. "Masa depanmu jauh lebih berharga daripada hubungan apa pun."
Aku memainkan sedotan jus jerukku, menelan rasa pahit yang bukan berasal dari buah. "Jadi setelah ini... kita tidak akan bertemu lagi?"
Ghani menatapku, senyumnya nampak samar di antara bayang-bayang senja yang mulai jatuh.
"Bisa iya, bisa tidak. Aku akan mampir jika ada waktu."
Aku mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas, menggesernya ke arahnya. "Ini... gelang batu hitam. Katanya bisa memberikan ketenangan dan keberuntungan. Terimalah, sebagai ucapan terima kasihku."
Ia menerimanya, menatap butiran batu hitam itu dengan saksama. Senja di Papawa Resto mulai meredup, seiring dengan hatiku yang menyadari satu kenyataan pahit: Aku baru saja menemukan jangkarku, tepat di saat ia harus kembali berlayar menuju samudra yang tak bisa kujangkau.