Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.
Sampai suatu malam…
orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.
Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.
Namun di malam yang sama—
dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.
Lorenzo Moretti.
Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.
Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.
Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—
dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.
Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.
Dia salah.
Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.
Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 — Api Cemburu yang Pertama
Bab 16 — Api Cemburu yang Pertama
Suasana di dalam rumah kecil Nenek Hana mendadak terasa sempit dan menegangkan.
Raka Pradipta berdiri dekat pintu sambil memandang Lorenzo penuh curiga. Sementara Lorenzo membalas tatapan itu dengan dingin tanpa sedikit pun menunjukkan emosi.
Namun justru ketenangan Lorenzo itulah yang terasa paling menakutkan.
Amelia langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Dan itu membuat jantungnya ikut tegang.
“Raka…” Amelia mencoba mencairkan suasana, “aku baik-baik saja sekarang.”
Raka akhirnya mengalihkan pandangannya dari Lorenzo.
“Aku mencari kau ke mana-mana,” ucapnya dengan suara sedikit tinggi. “Semua orang bilang kau dibawa orang kota. Aku pikir sesuatu terjadi padamu.”
Wajah Amelia langsung merasa bersalah.
“Maaf…”
“Aku bahkan hampir melapor ke polisi.”
Marco yang berdiri di belakang Lorenzo langsung menahan senyum kecil.
Polisi?
Kalau polisi tahu siapa Lorenzo sebenarnya, mereka justru akan ketakutan sendiri.
Namun Lorenzo tetap diam.
Tatapannya kini tertuju pada Amelia yang terlihat cukup dekat dengan pria bernama Raka itu.
Dan entah kenapa…
ia tidak menyukai pemandangan tersebut.
“Dia siapa?” tanya Raka lagi sambil melirik Lorenzo.
Amelia tampak ragu beberapa detik sebelum menjawab.
“Namanya Lorenzo.”
“Hanya Lorenzo?”
Marco hampir tertawa mendengar nada curiga itu.
Amelia gugup.
“Iya…”
Raka jelas tidak puas dengan jawaban tersebut.
Tatapannya kembali pada Lorenzo dari atas sampai bawah.
Jas mahal.
Jam mewah.
Tatapan dingin.
Dan puluhan pria bersenjata di luar rumah.
Tidak mungkin pria seperti itu hanya orang biasa.
“Anda pebisnis?” tanya Raka hati-hati.
Lorenzo menjawab singkat.
“Kurang lebih.”
Marco langsung batuk kecil untuk menyembunyikan tawanya.
Jawaban itu technically tidak salah.
Hanya saja “bisnis” Lorenzo jauh dari kata normal.
Raka masih terlihat tidak nyaman.
Terutama saat melihat cara Lorenzo memandang Amelia.
Tatapan itu terlalu tajam.
Terlalu memperhatikan.
Dan sebagai pria…
Raka bisa merasakan sesuatu yang tidak ia sukai.
Nenek Hana yang menyadari suasana mulai canggung segera berkata,
“Raka, duduklah dulu.”
Raka akhirnya duduk, tetapi matanya masih sesekali mengarah pada Lorenzo.
Sementara Amelia mulai merasa pusing sendiri.
Kenapa suasana jadi seperti ini?
“Aku akan membuat teh,” ucap Amelia cepat sambil berdiri.
“Aku bantu,” kata Raka spontan.
Namun sebelum mereka sempat pergi—
“Aku haus.”
Suara Lorenzo yang tiba-tiba membuat semua orang terdiam.
Amelia menoleh bingung.
“Apa?”
“Aku juga ingin teh.”
Nada suara Lorenzo tetap datar.
Namun Marco langsung sadar.
Bosnya sengaja.
Amelia mengangguk cepat.
“I-iya…”
“Aku ikut membantu,” kata Raka lagi.
Lorenzo akhirnya menatap langsung pria itu.
“Tidak perlu.”
Raka mengernyit.
“Aku hanya ingin membantu Amelia.”
“Dia bisa sendiri.”
Suasana kembali tegang.
Amelia sampai ingin menangis melihat dua pria itu saling menatap seperti mau berkelahi.
“Nenek… aku ke dapur dulu…” katanya buru-buru sebelum situasi makin buruk.
Amelia segera masuk ke dapur kecil di belakang rumah.
Ia menghela napas panjang sambil memegang dadanya.
“Kenapa jadi seperti ini…”
Tangannya mulai sibuk menyiapkan teh.
Namun beberapa detik kemudian…
suara langkah kaki terdengar mendekat.
Amelia menoleh dan mendapati Lorenzo berdiri di ambang pintu dapur.
Pria itu terlalu tinggi untuk ruangan kecil tersebut hingga suasana langsung terasa sempit.
“A-ada apa?”
“Aku ingin bicara.”
Jantung Amelia langsung berdetak aneh.
Tentang apa?
Lorenzo melangkah masuk perlahan.
Tatapan abu-abunya tertuju pada Amelia yang terlihat gugup.
“Pria tadi.”
“Raka?”
“Dia menyukaimu.”
Amelia langsung membelalak kaget.
“Apa?!”
Lorenzo tetap tenang.
“Aku bisa melihatnya.”
Wajah Amelia perlahan memerah.
“Tidak… kami hanya teman sejak kecil…”
“Dia tidak menganggapmu sekadar teman.”
Amelia membuka mulut lalu menutupnya lagi.
Karena jujur…
ia memang pernah menyadari perasaan Raka.
Namun Amelia selalu berpura-pura tidak tahu.
“Aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu,” gumamnya pelan.
Tatapan Lorenzo sedikit berubah.
“Kenapa?”
“Aku terlalu sibuk memikirkan hidupku sendiri.”
Jawaban itu membuat Lorenzo diam beberapa detik.
Amelia memang berbeda dari wanita-wanita yang biasa ia temui.
Gadis ini tidak memikirkan kemewahan, cinta, atau perhatian pria.
Ia hanya memikirkan keluarganya.
Dan anehnya…
hal itu membuat Lorenzo semakin tertarik.
“Apa kau menyukainya?” tanya Lorenzo tiba-tiba.
Amelia langsung terdiam.
“Aku…”
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Karena selama ini ia memang dekat dengan Raka.
Namun entah kenapa…
setelah bertemu Lorenzo, pikirannya mulai kacau.
Melihat Amelia tidak langsung menjawab membuat perasaan tidak nyaman muncul di dada Lorenzo.
Dan itu membuatnya kesal pada dirinya sendiri.
Kenapa ia peduli?
“Aku tidak pernah memikirkan hubungan seperti itu,” jawab Amelia akhirnya jujur.
Lorenzo terus menatapnya beberapa detik.
Lalu perlahan mengangguk kecil.
Aneh.
Jawaban itu justru membuat suasana hatinya sedikit membaik.
Namun Amelia malah semakin bingung.
Kenapa pria ini terlihat seperti sedang menginterogasinya?
Dan kenapa dirinya justru gugup menjawab pertanyaan tadi?
Belum sempat Amelia berpikir lebih jauh—
Raka tiba-tiba muncul di depan dapur.
Tatapannya langsung berubah saat melihat Lorenzo berdiri sangat dekat dengan Amelia.
“Aku mengganggu?”
Nada suaranya terdengar tidak suka.
Amelia langsung mundur satu langkah.
“Tidak!”
Namun Raka jelas salah paham.
Tatapannya kini penuh kewaspadaan pada Lorenzo.
“Aku ingin bicara dengan Amelia sebentar.”
Lorenzo tidak bergerak.
“Bicara saja.”
Raka mengernyit.
“Berdua.”
Suasana langsung berubah dingin.
Marco yang diam-diam memperhatikan dari ruang tengah sampai menghela napas pasrah.
Selesai sudah.
Rasa posesif bosnya mulai muncul.
Dan itu berbahaya.
“Amelia ada di bawah perlindunganku,” ucap Lorenzo tenang.
“Tapi dia bukan milikmu.”
Kalimat Raka membuat udara terasa membeku.
Tatapan Lorenzo berubah sangat dingin.
Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke desa…
aura mengerikan pria itu muncul sepenuhnya.
Amelia langsung panik.
“Sudah, hentikan…”
Namun Raka tetap menatap Lorenzo tanpa mundur.
“Aku tidak tahu siapa Anda sebenarnya,” ucap Raka, “tapi Amelia bukan bagian dari dunia seperti Anda.”
Sunyi.
Kalimat itu tepat mengenai sesuatu dalam diri Lorenzo.
Karena jauh di dalam hati…
ia tahu ucapan itu benar.
Amelia terlalu bersih untuk dunianya.
Terlalu lembut.
Dan terlalu baik.
Namun justru karena itu…
Lorenzo tidak ingin melepaskannya.
“Aku tidak akan menyakitinya,” ucap Lorenzo dingin.
“Semua orang berbahaya selalu mengatakan itu.”
Amelia bisa merasakan ketegangan semakin besar.
Ia bahkan takut mereka benar-benar akan berkelahi di rumah kecil neneknya.
“Nenek bisa mendengar kalian…” lirih Amelia panik.
Beberapa detik suasana tetap sunyi.
Lalu Lorenzo akhirnya melangkah mundur perlahan.
Tatapannya terakhir kali tertuju pada Raka.
“Jaga ucapanmu.”
Nada suaranya rendah.
Namun cukup membuat bulu kuduk merinding.
Setelah itu Lorenzo keluar dari dapur.
Raka menghela napas kasar setelah pria itu pergi.
Sementara Amelia justru terlihat semakin pusing.
“Apa yang sebenarnya terjadi…” gumamnya pelan.
Raka menatap Amelia serius.
“Kau percaya padanya?”
Amelia terdiam.
Pertanyaan itu sulit dijawab.
Karena dirinya sendiri belum benar-benar memahami Lorenzo Moretti.
“Aku tidak tahu…” jawab Amelia jujur.
“Tapi dia menyelamatkanku.”
Raka mengusap wajahnya frustrasi.
“Aku hanya takut kau terluka.”
Kalimat itu membuat Amelia merasa bersalah.
Namun di saat bersamaan…
bayangan tatapan dingin Lorenzo tadi terus teringat di kepalanya.
Dan tanpa Amelia sadari…
hatinya mulai perlahan terjebak di antara dua dunia yang sangat berbeda.