Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12# Kehangatan yang kembali
Pagi hari Alya sudah rapi, dia tetap stylish dengan outfit sporty ala hijaber muda.
“Pagi semua,” sapanya pada papa Andi, mama Nirma dan Karin.
Mereka semua sudah ada di meja makan, kecuali Alya yang baru saja turun dari lantai atas. Dia langsung duduk di samping sang kakak. “Sepi amat, belum ada kicau mania lagi nih?” celetuk Alya.
“Alya!” Karin menyenggol lengan sang adik, dia sambil melirik mama mereka yang hanya diam saja. sedangkan papa Andi diam-diam tersenyum tipis karena ulah putrinya tersebut.
Papa Andi bukan tidak kasihan pada istrinya, dia juga rindu tidur di ran jang yang sama dengan mama Nirma. Bagaimanapun mama Nirma adalah istri yang sudah menemaninya dua puluh tahun lebih. Namun kali ini dia tidak ingin memanjakan sang istri, papa Andi ingin tahu seberapa besar penyesalan istrinya.
Alya terkekeh pelan melihat ekspresi mamanya, dia tahu kalau mama Nirma sedang menahan diri untuk tidak marah padanya. Putri bungsu mama Nirma tentu tidak menyiakan kesempatan tersebut untuk menjahili mamanya.
Alya lantas berdiri dan pindah duduk di samping sang mama. “Suapin dong, ma!” pintanya membuat mama Nirma melirik tajam. “Sesekali doang, masa iya mbak Karin terus yang di suapi. Ini jari Alya lagi luka,” Alya menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah memakai plester luka.
“Anak siapa sih kamu ini, Alya? Tingkahmu tidak ada mirip-miripnya dengan mama atau papa,” heran mama Nirma.
“Jangan-jangan aku anak yang tertukar, ma?” Alya langsung menangkupkan ke dua tangannya pada pipi dengan ekspresi mulut terbuka.
“Ini anak asal banget kalau nyeplos,” mama Nirma menoyor kening Alya.
“Begini baru mama kicau-kicau mania,” ucap Alya membuat mama Nirma tersenyum, entah kenapa hatinya tiba-tiba menghangat mendapati kelakuan manja putri bungsunya tersebut. Mungkin lebih tepatnya adalah mama Nirma sudah lama tidak mendapati suasana hangat di meja makan bersama anak-anaknya, dia lantas menatap kursi kosong yang ada di hadapannya. Kursi yang selalu menjadi singgasana Rhea saat mereka makan bersama. “Di mana kakakmu sekarang, Alya?” celetuknya membuat papa Andi dan Karin menghentikan dentingan sendok yang beradu dengan piring.
Papa Andi mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan istrinya, begitupun dengan Karin dan Alya yang menatap mama Nirma. Mereka tentu heran, tumben selali mama Nirma menanyakan tentang Rhea kakak sulung mereka.
“Untuk apa mama tanya di mana Rhea?” papa Andi menatap istrinya dengan tatapan penuh arti.
“Ma-mama hanya ingin tahu kondisi Rhea,”
Mama Nirma hanya ingin bertemu Rhea, seberkas rasa rindu tiba-tiba membuatnya ingin menemui putri angkatnya tersebut.
Mama Nirma berkaca-kaca. “Mama hanya ingin minta maaf pada Rhea, pa. Tidak ada alasan selain itu,”
Papa Andi menatap mata sang istri. “Kamu serius dengan ucapanmu, ma?”
Mama Nirma mengangguk. “Papa bisa ikut kalau masih tidak percaya pada mama,”
Papa Andi hanya mengangguk tanpa memberikan jawaban, dia lantas meneruskan kembali sarapan paginya. Giliran Karin yang menatap sang adik dengan ekspresi memelas.
“Apa? Mau tanya soal kak Rhea juga?” sengitnya pada sang kakak.
Alya menghela napas, dia bergantian menoleh pada mama dan kakaknya. “Sudah terlambat kalau mama atau mbak Karin mau ketemu kak Rhea. Tunggu saja beberapa tahun lagi, itu juga kalau kak Rhea mau kembali ke sini.”
“Memangnya mbak Rhea ke mana, Alya?” Karin penasaran.
Alya mengangkat ke dua bahunya. “Mana Alya tahu. Lagian kemarin kak Rhea keburu pergi sebelum aku ketemu dia, kak Rega saja tidak bisa mengejarnya. Malah dia yang nyi um pembatas jalan,”
“Ambil pelajaran dari semua yang terjadi, terutama kamu ma! Kelak di manapun mama bertemu Rhea, mama harus minta maaf.”
Mama Nirma mengangguki ucapan papa Andi, akhirnya pagi itu dia kembali mendengar suara sang suami bicara padanya. Papa Andi bisa melihat penyesalan dari sorot mata sang istri saat tadi dia bertanya tentang keberadaan Rhea.
Selesai sarapan mereka akhirnya melanjutkan aktifitas masing-masing, Alya pergi ke kampus. Namun sebelum itu dia harus mengantar Karin ke Allegra, dia harus menyerahkan surat pengunduran diri pada HRD. Selain itu dia juga harus menyelesaikan beberapa berkas sebelum dia mengundurkan diri.
“Karin berangkat dulu, pa!” pamitnya pada papa Andi.
“Jadi ke rumah sakit dengan Aiden?”
Karin menggeleng. “Kak Aiden bilang situasi belum memungkinkan untuk Karin ikut. Dia ingin bicara lebih dulu dengan om Harun dan tante Indah tentang pernikahan kami,”
Papa Andi mengerti, dia tidak mempermasalahkan gal tersebut. Mereka tahu kalau Aiden tidak akan ingkar janji, kalaupun itu sampai terjadi…papa Andi tahu bagaimana harus bersikap.
***
Hari itu Alya menyetir, kalau biasanya dia dan Karin berdebat tentang hal apapun. Berbeda untuk hari itu, kakak beradik tersebut mulai akur. Pelan-pelan hubungan ke duanya membaik begitu saja.
“Sebenarnya kamu tahu di mana mbak Rhea kan, Alya?”
“Ck…itu lagi yang di bahas,”
“Tidak mungkin seorang Alya tidak tahu hal sekecil itu tentang mbak Rhea,”
Karin kekeh menyakini kalau adik bungsunya itu tahu keberadaan kakak sulung mereka, terlebih sebelumnya Alya minta Rhea untuk datang ke rumah untuk urusan yang entah apa karena Karin tidak tahu.
Alya menghela napas. “Beneran tidak tahu aku ini, mbak.”
Kalaupun tahu, aku tidak bisa mengatakannya padamu ataupun mama. Tapi memang aku tidak tahu di mana kak Rhea.
“Apa harus tanya mbak Almira?” tanya Karin kemudian.
“Sa rap…yang ada mbak Karin jadi ayam geprek kalau nemuin mbak Almira,”
Alya benar, menemui Almira dalam situasi seperti ini sama saja menyerahkan diri ke sarang harimau.
“Masih ada waktu kan, mbak?” tanya Alya diangguki Karin. “Kita mampir ke kantor kak Axel dulu,” lanjutnya.
“Pacar kamu, Alya?”
“Kakak kandunganya kak Rhea,”
Karin terkejut mendengar hal tersebut, dia belum tahu tentang sosok yang di katakan sebagai kakak kandung kakak angkatnya tesebut.
“Jangan bertanya! Karena aku juga tidak tahu. Mbak Almira yang lebih tahu,” ucapnya sebelum Karin mulai kepo padanya.
Alya mencari tempat parkir di depan lobi utama perusahaan karena dia adalah tamu dan bukan karyawan, dia bersama Karin turun dari mobil dan langsung menuju bagian resepsionis.
“Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu?” sapa salah satu resepsionis yang ada di sana.
“Pagi mbak. Emmm…saya mau mencari pak Axel atau pak Rayen, apa mereka sudah sampai?”
“Sudah buat janji?”
Alya menggeleng. “Belum, mbak. Apa bisa di sampaikan pada pak Rayen atau pak Axel kalau Alya, adik angkat Rhea Huan ingin bertemu? Ada hal penting yang harus saya sampaikan terkait adik kandung pak Axel,”
Mendengar nama CEO nya di sebut, perempuan seumuran Karin tersebut langsung mengangkat gagang telp. “Saya tanyakan dulu ke sekertaris beliau,”
“Sebentar lagi pak Rayen turun. Mbak silahkan tunggu di sana!” tunjuk resepsionis kearah sofa tunggu yang ada di lobi.
Alya mengangguk. “Terimakasih,”
Alya dan Karin duduk di sofa yang di tunjuk resepsionis, mereka menunggu di sana.
“Alya!”
Alya dan Karin sama-sama menoleh ke sumber suara, di sana Rayen berdiri dengan ekspresi dingin.
“I-iya kak Rayen,” jawab Alya tergagap.
“Tuan Axel ingin bertemu. Silahkan ikut saya keatas!” Rayen langsung berbalik kembali menuju lift.
Alya langsung menggandeng sang kakak, tujuannya mengajak Karin tentu saja ada niatan tersembunyi. Pernah bertemu dengan Rayen dan Axel Huan membuatnya takut jika harus bertemu mereka sendirian.