Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.
Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.
Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Pengorbanan
Senin pagi di SMA 1 Nusa Bangsa selalu identik dengan pemandangan seragam putih abu-abu yang disetrika licin dan deretan murid yang bergegas menghindari gerbang yang hampir tertutup. Namun bagi Cinta, Senin kali ini terasa berbeda. Ada semangat yang tidak biasa saat ia merapikan dasinya di depan cermin, sebuah perasaan ringan yang dipicu oleh pesan singkat Rian semalam.
Ia sempat melirik bungkus cokelat yang kini sudah kosong di atas meja belajarnya sebelum menyampirkan tas dan berpamitan pada Mamah.
"Tumben anak Mamah senyum-senyum terus dari pagi," goda Mamah sambil menyerahkan kotak bekal.
"Ah, Mamah... cuma semangat saja karena cuacanya cerah," kilas Cinta cepat, meski ia tahu pipinya sedikit merona.
Namun, semangat itu mendadak surut saat Cinta baru saja turun dari angkot di depan gerbang sekolah. Ia melihat beberapa pengurus OSIS sedang melakukan pemeriksaan atribut di depan koridor utama. Secara refleks, tangan Cinta meraba pinggangnya.
Kosong.
Jantung Cinta seolah berhenti berdetak selama sedetik. Ia menggeledah bagian bawah tunik seragamnya dengan panik. Ia lupa memakai sabuk. Benar-benar lupa. Mungkin karena terlalu asyik memikirkan pesan Rian dan cokelat itu, rutinitas paginya yang biasanya sangat teratur menjadi kacau.
"Aduh, bagaimana ini..." bisik Cinta panik. Sebagai sekretaris kelas dan anggota OSIS, tertangkap tidak memakai atribut lengkap adalah sebuah ironi yang memalukan. Apalagi guru piket pagi ini adalah Pak Bakri, guru paling disiplin yang tidak segan-segan menyuruh murid berdiri di depan tiang bendera jika atributnya kurang.
Cinta berjalan masuk dengan langkah gontai, berusaha menutupi bagian pinggangnya dengan tas, berharap keberuntungan berpihak padanya.
Lapangan sekolah sudah mulai dipenuhi murid-murid yang berbaris sesuai kelas masing-masing. Terik matahari pagi mulai terasa menyengat kulit. Di barisan XI MIPA 1, Cinta berdiri dengan gelisah. Ia terus menarik-narik bagian bawah bajunya agar tidak terangkat dan memperlihatkan pinggangnya yang polos tanpa sabuk hitam standar sekolah.
"Cin, kamu kenapa? Kayak orang cacingan, gelisah terus," bisik Sarah yang berdiri di belakangnya.
"Sar, aku lupa pakai sabuk," bisik Cinta dengan nada putus asa.
Sarah melotot. "Hah? Serius? Kamu kan biasanya yang paling rajin merazia orang! Lihat tuh, Pak Bakri sudah mulai keliling barisan depan."
Cinta menoleh sedikit dan benar saja, Pak Bakri sedang berjalan perlahan sambil membawa penggaris kayu, matanya tajam memeriksa setiap detail seragam murid dari ujung rambut sampai ujung kaki. Cinta merasa keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Tiba-tiba, sebuah tepukan ringan mendarat di bahu Cinta. Ia menoleh dan menemukan Rian berdiri tepat di belakangnya. Rian tampak sangat rapi pagi ini, rambutnya yang biasanya berantakan disisir ke belakang, memberikan kesan maskulin yang kuat.
"Kenapa wajahmu pucat begitu?" tanya Rian pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara riuh murid lain.
"Aku... aku tidak pakai sabuk, Rian. Pak Bakri sedang menuju ke sini," jawab Cinta dengan nada gemetar.
Rian terdiam sejenak, matanya melirik ke arah Pak Bakri yang hanya berjarak tiga baris dari mereka. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rian sedikit mundur ke belakang barisan, berlindung di balik punggung lebar Bagas. Tangannya bergerak cepat membuka kancing kemejanya yang tidak dimasukkan, sebuah pelanggaran kecil yang justru menjadi penyelamat kali ini.
"Pakai ini," bisik Rian sambil menyodorkan sabuk itu melalui celah di antara barisan.
Cinta tertegun. "Tapi Rian, nanti kalau kamu tidak pakai, kamu yang akan dihukum!"
"Cepat ambil, Cinta. Pak Bakri sudah di barisan depan kelas kita," tekan Rian dengan suara rendah namun tegas.
"Kamu sekretaris kelas, jangan sampai namamu masuk catatan pelanggaran hanya karena masalah sepele."
Dengan tangan gemetar, Cinta mengambil sabuk itu. Di bawah lindungan Sarah yang sengaja melebarkan barisannya, Cinta dengan cepat melingkarkan sabuk Rian di pinggangnya. Sabuk itu terasa sedikit longgar dan masih terasa hangat karena bekas suhu tubuh Rian. Aroma parfum kayu yang maskulin itu kembali menyeruak, memberikan sensasi aneh yang menenangkan sekaligus mendebarkan di tengah kepanikan.
Baru saja Cinta selesai mengaitkan sabuk itu, Pak Bakri sudah berdiri di depannya.
"Cinta, atribut lengkap?" tanya Pak Bakri sambil menatap tajam.
Cinta menelan ludah, lalu sedikit mengangkat tangannya untuk memperlihatkan sabuk hitam yang melingkar di pinggangnya. "Lengkap, Pak."
Pak Bakri mengangguk puas, lalu beralih ke samping. Saat matanya sampai pada Rian, penggaris kayunya langsung menunjuk ke arah pinggang Rian yang kini hanya tertutup kemeja yang sengaja dikeluarkan untuk menutupi ketiadaan sabuk.
"Rian! Kenapa bajumu tidak dimasukkan? Masukkan sekarang!" perintah Pak Bakri.
Rian menurut. Ia memasukkan kemejanya ke dalam celana, memperlihatkan pinggangnya yang polos tanpa sabuk. Pak Bakri langsung mendengus kesal.
"Tidak pakai sabuk lagi? Baru saja kemarin kamu dipuji karena sudah mulai tertib, sekarang berulah lagi?" Pak Bakri menggelengkan kepala. "Selesai upacara, kamu jangan bubar. Berdiri di tengah lapangan sampai jam pertama berakhir!"
Rian hanya mengangguk tenang, wajahnya tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun. "Baik, Pak."
Upacara bendera berlangsung selama empat puluh lima menit yang terasa seperti selamanya bagi Cinta. Setiap kali ia merasakan tekanan sabuk di pinggangnya, hatinya terasa perih. Ia terus-menerus melirik ke arah Rian yang berdiri tegap di barisannya, seolah hukuman yang menantinya bukanlah masalah besar.
...****************...
Saat bel bubar upacara berbunyi, seluruh murid bersorak dan berhamburan menuju kelas masing-masing untuk menghindari terik matahari. Namun, sesuai perintah, Rian tetap berdiri diam di posisinya. Tengah lapangan sepak bola itu kini terasa sangat luas dan gersang, dengan matahari yang mulai membakar tepat di atas kepala.
Cinta tidak langsung pergi. Ia berdiri di pinggir koridor, memandangi sosok Rian dari kejauhan.
"Cin, ayo masuk. Nanti kita kena marah juga kalau di sini terus," ajak Sarah sambil menarik lengan Cinta.
"Sar, dia dihukum karena aku. Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja," ucap Cinta lirih.
Cinta memberanikan diri berjalan mendekati lapangan. Ia berdiri di batas garis putih, cukup dekat agar Rian bisa mendengarnya.
"Rian..." panggil Cinta pelan.
Rian menoleh sedikit, matanya menyipit karena silau matahari. "Kenapa masih di sini? Masuk ke kelas, Cinta. Pak Gunawan sebentar lagi masuk untuk jam Matematika."
"Aku akan bilang ke Pak Bakri kalau itu sebenarnya sabukmu. Aku tidak mau kamu kepanasan di sini," ucap Cinta, matanya mulai berkaca-kaca.
Rian justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat tulus di tengah panasnya lapangan. "Jangan konyol. Kalau kamu mengaku, kita berdua yang dihukum. Lebih baik satu orang yang berdiri di sini daripada harus melihat sekretaris kelas yang hebat ini dijemur, kan?"
"Tapi ini tidak adil untukmu..."
"Cinta," potong Rian lembut. "Anggap saja ini latihan fisik karate tambahan untukku. Aku sudah biasa berdiri berjam-jam. Sudah, masuklah. Nanti kuis Matematikamu berantakan kalau kamu terus memikirkanku."
Cinta terdiam. Ia merasakan sebuah bentuk perlindungan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rian, cowok yang awalnya ia anggap sebagai pengacau, kini justru menjadi orang yang rela berkorban.
Skip
Selama jam pelajaran Matematika, pikiran Cinta benar-benar tidak fokus. Ia terus-menerus menatap ke arah jendela kelas yang menghadap langsung ke lapangan. Di sana, di tengah terik matahari yang kini sudah sangat menyengat, Rian masih berdiri tegak. Beberapa helai rambutnya mulai basah oleh keringat, dan wajahnya tampak memerah, namun ia tidak bergeming sedikit pun.
Saat jam pertama berakhir dan Pak Bakri akhirnya meniup peluit tanda hukuman selesai, Cinta langsung berlari keluar kelas. Ia membawa botol air mineral dingin yang sengaja ia beli di kantin saat pergantian jam tadi.
Rian berjalan menuju koridor dengan langkah yang sedikit agak berat. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya, membuat kemeja putihnya menempel di kulit.
"Rian!" Cinta menghampirinya dan segera menyodorkan botol air mineral itu.
Rian menerimanya dan langsung meminumnya hingga separuh botol dalam satu tegukan panjang. Ia menghela napas lega, membiarkan tetesan air dingin membasahi dagunya.
"Terima kasih," ucap Rian sambil menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.
Cinta mengambil sapu tangan dari sakunya dan tanpa sadar mulai menyeka keringat di leher Rian. Gerakannya terhenti saat ia menyadari apa yang sedang ia lakukan, namun Rian tidak menjauh. Rian justru menatapnya dengan sorot mata yang hangat.
"Maafkan aku, Rian. Aku benar-benar merasa bersalah," bisik Cinta.
Rian meraih tangan Cinta yang memegang sapu tangan, menghentikan gerakannya dengan lembut. "Sudah kubilang, jangan minta maaf."
Cinta segera melepas sabuk yang masih melingkar di pinggangnya setelah memastikan lorong sudah sepi. Lalu ia menyerahkannya kembali kepada Rian.
"Ini. Milikmu," kata Cinta.
Rian menerima sabuk itu, namun ia tidak langsung memakainya. Ia justru menatap sabuk itu sebentar sebelum menatap Cinta kembali. "Simpan saja dulu. Pakai sampai pulang sekolah nanti."
"Tapi kamu?"
"Aku bisa pakai tali rapia kalau perlu, atau biar saja bajuku dikeluarkan. Pak Bakri tidak akan merazia orang yang baru saja selesai dihukum," Rian mengedipkan sebelah matanya dengan jahil.
Cinta tersenyum lebar. Ia merasa bahwa di balik garis putih lapangan tadi, ia tidak hanya melihat sebuah hukuman, tapi ia melihat sebuah pernyataan. Bahwa bagi Rian, melindunginya adalah prioritas yang lebih tinggi daripada menaati aturan.