Nasib Shafiya terjebak dalam pernikahan yang dimulai dengan niat dendam dari seorang pria bernama Arash. Kematian kekasihnya yang tidak mendapat pertanggungjawaban dari keluarga Shafiya membuat pria tempramental itu menikahi kekasih yang seharusnya menjadi istri dari tunangannya.
Shafiya harus menerima takdirnya menjalani pernikahan dengan laki-laki yang tidak mencintainya, rumitnya pernikahannya dengan lika-liku drama pernikahan yang dia alami.
Apakah Shafiya akan bertahan dalam pernikahannya? atau justru pada akhirnya Shafiya menyerah karena lelah? tetapi apakah Arash akan melepaskannya?"
Jawabannya hanya ada di bab-bab berikutnya...
Jangan lupa di follow Ig saya.
ainunharahap 12
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 Tidak Boleh Lemah
Krekkk.
Suara pintu kamar terbuka itu membuat Shafiya kaget dan buru-buru menutup kepalanya menggunakan handuk tersebut. Sesuai dugaannya Arash memasuki kamar dan menghampirinya dengan berdiri di hadapannya.
"Kau menceritakan semua kepada Nenek?" tanya Arash memastikan secara langsung.
"Iya," jawab Shafiya berterus terang.
"Hah!" Arash tidak menyangka jika istrinya itu berani melakukan hal itu sampai membuatnya mengusap wajahnya kasar.
"Shafiya apa kau benar-benar menantangku, berani sekali kamu mengatakan semua kepada Nenek, jika aku meninggalkanmu di jalan!" umpat Arash rasanya ingin sekali menerkam istrinya yang masih saja tetap santai.
"Bukan hanya mengatakan kepada Nenek bahwa kamu meninggalkanku di jalan, tetapi juga aku menceritakan bahwa kamu sengaja menikahi dengaku untuk membalas dendam," jawab Shafiya.
"Apa katamu!" pekik Arash sungguh tidak percaya keberanian istrinya itu.
"Kau gila!" bentak Arash.
"Iya, aku kehilangan akal sehat karena mentalku dirusak olehmu," jawab Shafiya.
Arash sampai tidak bisa berkata-kata, pantas saja Nenek sampai menamparnya karena memang perbuatannya sudah di luar batas.
"Oke.... lalu kau pikir dengan menceritakan semua ini kepada Nenek dan maka aku akan berhenti menindasmu, tidak Shafiya ini baru permulaan!" tegas Arash.
Shafiya tidak bisa berkata-kata dan hanya menatap suaminya itu dengan amarah terpendam.
Entah apa yang ada di otak Arash sampai menjadinya bahan pertanggungjawaban atau dendamnya.
Tiba-tiba Arash mencengkram kedua pipi Shafiya dengan satu tangan, wajahnya sudah didekatkan.
"Kau dengarkan aku Shafiya, kematian Chantika adalah pertanggungjawaban darimu, sampai kapanpun itu!" tegas Arash dengan menekan suaranya.
Arash kemudian melepaskan cengkraman pada pipi tersebut.
Uhuk-uhuk-uhuk.
Chantika batuk-batuk, mungkin karena kehujanan jadi kondisi tubuhnya tidak membaik.
Arash sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Shafiya yang membuat Arash memilih kembali keluar dari kamar.
****
Shafiya baru saja menyelesaikan sholat subuh dan sekarang berada di meja makan masih memakai mukenah terlihat menikmati madu.
"Bagaimana tenggorokan kamu masih sakit?" tanya Nenek.
Nenek tidak sengaja melihat Shafiya di dapur seperti mencari-cari sesuatu yang akhirnya mengetahui apa yang dicari cucu menantunya itu membuat Nenek dengan baik hati menyiapkan minuman khusus untuknya.
"Sudah lumayan, terima kasih, Nek!" ucap Shafiya dengan tersenyum.
"Kamu wanita yang sangat cantik, melihat wajah kamu semua orang pasti ingin dekat dengan kamu. Shafiya ini sudah menjadi suratan takdir kamu menikah dengan Arash. Tetapi kembali lagi sama pilihan ada pada kamu," ucap Nenek.
"Tetapi kamu tidak dihadapkan dengan pilihan itu. Karena Arash tidak mungkin menceraikan kamu, tidak mungkin melepaskan kamu, pria yang dikenal dengan dendam tidak akan bisa meredakan egonya. Shafiya saya mengerti bagaimana perasaan kamu dan kamu tidak harus bertanggung jawab atas semua kesalahan yang tidak kamu lakukan, saya hanya berharap kamu bisa bersabar dengan menghadapi semua ini," ucap Nenek hanya bisa memberi pesan dan masukkan kepada Shafiya.
"Terima kasih. Nenek sudah memberikan masukan kepada Shafiya. Dengan keberadaan Nenek di rumah ini sudah membuat Shafiya sedikit waras," ucap Shafiya.
"Nenek percaya kesabaran seseorang akan memenangkan suatu hal yang begitu sulit dan itu juga akan terjadi pada kamu suatu saat nanti," ucap Nenek.
Shafiya menganggukkan kepala mendengar Nenek tampak begitu tulus kepadanya.
******
"Tante mau kemana pagi-pagi seperti ini?" tanya Amelia melihat Nenek menuruni anak tangga.
"Kenapa? Apa kamu berharap bahwa saya akan kembali ke Palembang?" tanya Nenek begitu sinis membaca isi pikiran dari keponakannya itu.
"Tante kenapa harus berpikir negatif kepada saya seolah-olah saya adalah penjahatnya," sahut Amelia.
"Amelia saya merawat kamu dari kamu 10 tahun dan saya tahu bagaimana sifat kamu, cukup kamu saja memiliki sifat seperti itu dan jangan kamu pengaruhi Arash untuk untuk kepuasan hati kamu sendiri!" tegas Nenek.
"Tante saya tidak pernah mempengaruhi Arash. Arash sangat mencintai Chantika, Arash menyimpan dendam di saat kematian Chantika sangat tragis tanpa ada yang menolongnya, orang yang menabraknya melarikan diri, Arash melaporkan semua kejadian ke polisi dan tidak ditemukan bukti apapun di lokasi kejadian sehingga pelakunya sampai saat ini hidup bahagia tertawa lepas yang tidak berdosa sama sekali,"
"Keluarganya yang seharusnya mendukungnya memberikan support untuk menangkap pelaku tabrak lari itu dan mencebloskan ke penjara, justru keluarganya berpihak pada pelaku. Jadi Tante jangan berpikir bahwa saya mempengaruhi Arash atas kematian Chantika!"
"Arash selama 5 tahun belakangan ini, hidup tidak tenang atas kematian yang sia-sia dan dipenuhi dengan rasa amarah, jadi wajar saja jika sudah saatnya dia memberi pelajaran kepada orang-orang yang berkaitan!" tegas Amelia penuh dengan penekanan.
"Benarkah semua yang dilakukan Arash saat ini memang hanya karena Chantika dan bukan karena ingin adanya kepuasan hati kamu yang kamu pendam selama bertahun-tahun?" tanya Nenek.
"Terserah Tante ingin beranggapan seperti apa kepada saya. Jika Arash berhasil memberi keadilan kepada Chantika, sebagai seorang ibu, itu juga merupakan kemenangan untuk saya dan kelegaan hati karena masih ada orang yang memperjuangkan keadilan untuknya," ucap Amelia.
"Kalian lakukan semua yang kalian mau kepada gadis yang tidak berdosa di rumah ini, tetapi ingat satu Amelia, saya tetap berada di rumah ini dan mengawasi semua pergerakan yang kalian lakukan, saya tidak akan membiarkan diri saya bodoh dan menutup mata atas tindakan ketidak kemanusiaan yang kalian lakukan. Saya juga tidak akan membiarkan cucu saya Arash menjadi pria penuh dengan dendam dan kehilangan arah hanya untuk kesenangan orang lain!" tegas Nenek penuh dengan penekanan.
Nenek tidak banyak bicara dan kemudian langsung berlalu dari hadapan Amelia.
"Tante tidak akan bisa menggantikan ku," batin Amelia.
*****
"Syukurlah akhirnya Nenek sudah mengetahui ceritanya bagaimana bisa Shafiya menikah dengan Arash," ucap Zidan.
Nenek mengajak Zidan untuk bertemu di salah satu Restaurant dengan keduanya duduk saling berhadapan dengan makanan dan minuman berada di atas meja bulat itu.
"Nek, sekarang bertindaklah, pisahkan pernikahan mereka yang tidak sah. Aku tidak akan membiarkan Shafiya berada dalam kendali Arash yang aku ketahui Arash seperti apa dan tidak mungkin menikah begitu saja dengan wanita yang tidak dia kenal sementara dia sangat mencintai Chantika," ucap Zidan meminta pertolongan kepada neneknya.
"Zidan, Nenek mengerti perasaan kamu saat ini, tetapi kamu harus mengetahui satu hal bahwa pernikahan itu sah dimata agama. Arash juga berniat mendaftarkan pernikahan itu ke pengadilan," ucap Nenek.
"Nenek harus menghentikan semuanya. Aku mencintai Shafiya dan aku yang harus menikah dengannya bukan Arash!" tegas Zidan.
"Nenek tidak bisa campur tangan atas pernikahan Arash dan Shafiya. Kamu tahu sendiri seperti bagaimana Arash, keras kepala dan tidak akan mendengarkan siapapun selain Amelia!" ucap Nenek.
"Apa hubungannya semua ini dengan tante Amelia. Seharusnya Tante Amelia tidak mengizinkan Arash menikah dengan Shafiya. Karena Tante Amelia mengetahui bagaimana Arash mencintai putrinya," ucap Zidan.
"Karena kamu tidak mengetahui yang sebenarnya bahwa Amelia yang justru menginginkan pernikahan itu terjadi," batin Nenek.
"Jika Nenek tidak bisa melakukan tindakan apapun. Aku tidak akan menyerah, aku akan tetap mengejar Shafiya, membuat mereka berpisah dan membuktikan kepada Shafiya jika aku terlambat datang ke pernikahan itu karena semua berurusan dengan Arash!" tegas Zidan sudah mantap dengan rencananya dan tujuannya yang tidak akan bisa diganggu gugat.
Bersambung....