“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”
Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.
— Cinta Ribuan Duri —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 – Runtuh dalam Semalam
Malam itu belum benar-benar berakhir…tapi bagi keluarga Rafa, segalanya sudah hancur.
Di sebuah rumah sakit swasta yang sunyi, lorong-lorong panjang dipenuhi aroma antiseptik yang menusuk. Lampu putih terang memantul dingin di lantai, menciptakan suasana yang menekan.
Di salah satu ruang perawatan intensif — Andreo.Papa Rafa.Terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.Wajahnya pucat.
Napasnya berat. Semua terjadi begitu cepat.
Hanya dalam satu malam… kabar pembatalan kerja sama dari Pak Arham menyebar seperti api yang melahap segalanya.
Investasi ditarik.
Kontrak dihentikan.
Relasi bisnis mulai menjauh.
Dan Andreo…
tidak kuat menerima semuanya.
Brak!
Suara pintu dibuka kasar.
Rafa masuk dengan wajah kusut, matanya merah, langkahnya tidak beraturan. Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan arah hidupnya.
Di dalam ruangan, Laras sudah berdiri dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya dingin.
Namun matanya… penuh amarah yang siap meledak.
“Ini semua gara-gara kamu.”Kalimat pertama yang keluar langsung seperti tamparan.
Rafa terdiam. Belum sempat menjawab— “Kenapa kamu bisa sebodoh itu, Rafa?!” suara Laras meninggi, tak peduli dengan kondisi suaminya yang terbaring. “Kamu pikir kamu siapa sampai berani mempermainkan Ardila?!”
Rafa mengusap wajahnya kasar. “Aku nggak pernah minta semua ini terjadi…” gumamnya lemah.
“Tidak minta?!” Laras tertawa sinis. “Video itu muncul sendiri, gitu?!” Rafa mengepalkan tangan.
“Aku… aku cuma—”
“Kamu cuma apa?!” potong Laras tajam.
Sunyi sejenak. Lalu dengan suara yang lebih pelan, tapi jauh lebih menusuk—
“Ardila itu aset kamu, Rafa.”
Deg.
Kalimat itu jatuh dingin.
Tanpa perasaan.
“Dia bukan cuma istri kamu,” lanjut Laras, “dia adalah kunci dari semua yang kita punya sekarang.”
Rafa menatap ibunya, tidak percaya.
“Aset?” ulangnya lirih.
“Iya!” Laras tidak ragu. “Selama dia masih di sisi kamu, kerja sama dengan Pak Arham aman! Bisnis kita jalan! Semua stabil!”
Rafa tertawa pahit.
Pelan.
Hampir seperti orang yang kehilangan akal.
“Dari awal…” katanya, “aku memang nggak pernah cinta sama dia.”
Sunyi.
Kalimat itu menggantung.
Berat.
Jujur.
Dan menghancurkan.
“Cukup!”
Suara lain tiba-tiba memotong. Semua menoleh.Di sudut ruangan, berdiri seorang wanita paruh baya dengan wajah penuh kekecewaan.
Omah Rianti.Selama ini dikenal lembut.
Sabar.
Selalu menenangkan.
Namun malam ini…
semua itu runtuh.
“Kamu jahat, Rafa,” ucapnya dengan suara bergetar. “Kamu tega melukai istri kamu sendiri.”
Rafa menunduk. Untuk pertama kalinya… ia tidak bisa membela diri.
“Ardila itu perempuan baik,” lanjut Omah Rianti. “Dia sabar, dia setia… tapi kamu balas dengan pengkhianatan?”
Laras mendecak kesal.
“Sudahlah, Bu. Ini bukan soal perasaan,” katanya dingin. “Ini soal kerugian yang kita alami sekarang.”
Omah Rianti menoleh cepat. Tatapannya tajam. “Kerugian?” ulangnya.
“Iya!” Laras mulai kehilangan kesabaran. “Saya tidak peduli Rafa mau selingkuh atau tidak! Yang penting itu jangan sampai ketahuan Ardila!”
Ruangan mendadak hening.Kalimat itu…terlalu kejam untuk diabaikan. Rafa terdiam.
Bahkan ia sendiri terlihat terkejut mendengar ucapan ibunya.
“Sekarang lihat!” lanjut Laras penuh emosi. “Semua hancur! Kerja sama dibatalkan! Perusahaan kita jatuh! Papa kamu sampai masuk rumah sakit!”
Ia menunjuk Andreo yang terbaring lemah.
“Ini akibat dari kebodohan kamu!”
Namun—“Sadar, Laras!”
Suara Omah Rianti kali ini jauh lebih keras.
Menggema di seluruh ruangan.“Kamu dengar nggak apa yang kamu bilang barusan?!” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca. “Kamu menyuruh anak kamu selingkuh?!”
Laras terdiam. Untuk pertama kalinya…
ia kehilangan kata-kata. “Selama ini saya diam,” lanjut Omah Rianti, suaranya gemetar tapi tegas. “Saya pikir kamu hanya keras… tapi ternyata kamu tega.”
Ia menggeleng pelan.Kecewa.Sangat kecewa.
“Kamu bukan cuma merusak rumah tangga anak kamu,” katanya, “kamu juga menghancurkan hidup perempuan lain.”
Laras mengepalkan tangan.“Jangan ceramahin saya!” balasnya tajam. “Kalau bukan karena saya, keluarga ini nggak akan sebesar sekarang!”
“Kalau harus mengorbankan hati orang lain untuk jadi ‘besar’,” balas Omah Rianti lirih, “itu bukan kebanggaan… itu dosa.”
Deg.
Kata-kata itu menusuk.Langsung ke dalam.
Rafa terduduk di kursi.Kepalanya terasa penuh.Semua suara bercampur jadi satu.
Ibunya yang marah.Neneknya yang kecewa.
Dan bayangan Ardila…yang pergi tanpa menoleh.Tangannya gemetar.
Untuk pertama kalinya…
ia merasa benar-benar kehilangan segalanya.
Bukan hanya bisnis.Bukan hanya nama baik.
Tapi juga seseorang yang selama ini…diam-diam selalu ada.Rafa menutup wajahnya. Napasnya berat.
“Semua… sudah terlambat ya…” gumamnya pelan.
Tidak ada yang menjawab.Karena semua orang tahu…Jawabannya adalah iya.
Di atas ranjang, Andreo bergerak lemah.
Matanya terbuka sedikit.“Rafa…” suaranya serak. Semua langsung mendekat.
Rafa berdiri cepat.
“Pa…”
Andreo menatapnya dengan lemah. Namun di balik itu… ada kekecewaan yang dalam.
“Jaga… yang penting…” ucapnya terputus-putus.
Rafa menahan napas.Namun kalimat itu tidak selesai.
Karena Andreo kembali terpejam. Mesin monitor berbunyi pelan.Dan suasana kembali sunyi. Malam itu…
tidak ada lagi yang bisa diperbaiki.Keluarga itu berdiri di ambang kehancuran.Dan untuk pertama kalinya—mereka menyadari…bahwa semua yang mereka bangun selama ini…
bisa runtuh hanya karena satu hal. Pengkhianatan.