NovelToon NovelToon
Rival Tapi Nempel

Rival Tapi Nempel

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Basket / Persahabatan / Slice of Life / Keluarga / Teen School/College
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Kairylee

Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.

Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.

Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.

Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 — Balapan Tengah Malam

Suara mesin meraung, memantul di udara malam yang penuh debu. Lampu sorot temporer menembus kabut tipis, menyapu lintasan sempit yang tampak jauh dari aman. Bau bensin, oli, dan rokok bercampur, berat di hidung.

Sejak awal, Rakha memang tidak menyukai tempat ini.

Ia berdiri di sudut area penonton, tangan dimasukkan ke saku hoodie. Bahunya kaku, rahangnya mengeras. Sorak-sorai meledak di sekeliling terlalu riuh untuk sesuatu yang jelas-jelas berbahaya.

"Gila, Rakha! Ini baru tontonan!" teriak seseorang sambil menepuk bahunya.

Rakha tidak menoleh.

Debu terasa menempel di tenggorokan. Ia menarik napas kasar, menyesali keputusan yang tadi terdengar masuk akal. Acara besar. Katanya langka. Sayang dilewatkan.

Nyatanya, tetap memuakkan.

Pandangannya menyapu lintasan. Motor-motor berjajar di garis start—dimodifikasi berlebihan, meraung seperti menantang batas. Para pembalap berdiri santai, tertawa, seolah lintasan ini tak lebih dari permainan.

Rakha menyilangkan tangan.

'Konyol.'

Ia naik ke bangku paling atas, menjauh dari keramaian. Niatnya sederhana, menonton sebentar.

Lalu pergi.

Namun pandangannya terhenti.

Bukan pada motor yang paling mencolok. Justru sebaliknya. Motor itu tenggelam di antara yang lain tidak berisik, tidak mencari perhatian.

Berdiri tenang di garis start.

Seolah lintasan ini sudah ia kenal luar dalam.

Pembalap itu hampir tidak bergerak. Di tengah kebisingan, justru terlihat paling tenang.

Gas diputar sekali. Pendek. Terkontrol.

Rakha menyipitkan mata.

Rasa familiar itu muncul begitu saja—cepat, tidak diminta. Seperti ingatan yang menyelak masuk sebelum sempat ditahan. Terlalu spesifik untuk disebut kebetulan.

Dan Rakha tahu. Ia tidak perlu melihat lebih lama lagi.

Itu Keenan.

Tangannya mengepal di saku hoodie. Rasa dingin yang sejak tadi menempel perlahan menguap, digantikan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Khawatir.

Rakha menegakkan punggung. Tatapannya mengunci lintasan tajam, menuntut. Seolah ia bisa menarik Keenan keluar dari sana hanya dengan pandangan.

Di bawah, Keenan memusatkan diri pada lampu start. Detik-detik menjelang aba-aba. Napasnya stabil. Teratur.

Lalu perasaan itu datang.

Ia mengernyit, menoleh sekilas.

Dan melihatnya.

Rakha.

Ekspresinya datar. Tanpa persetujuan. Tanpa kompromi. Lebih menusuk daripada sorak penonton di sekelilingnya.

Keenan memalingkan wajah.

Tidak sekarang.

Ia kembali menatap garis start. Mengencangkan genggaman.

Balapan ini tidak menunggu siapa pun.

Dan untuk sesaat, ia memilih mengabaikan satu-satunya orang yang bisa membuatnya ragu. Seseorang yang... menurut akalnya, tak seharusnya berada di tempat seperti ini.

...----------------...

Seketika lampu berubah.

Mesin meledak serempak.

Lintasan hidup.

Motor-motor melesat, menelan jarak dengan kasar. Rakha bangkit dari kursinya tanpa sadar. Ia tak bisa duduk lagi. Tatapannya terkunci pada satu titik—Keenan—yang melesat lebih dulu, meninggalkan kerumunan di belakangnya.

Ada sesuatu yang mengeras di dada Rakha.

Tikungan pertama.

Motor Keenan miring terlalu rendah.

Untuk sepersekian detik, dunia Rakha menyempit. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

'Bodoh.'

Putaran kedua.

Satu pembalap berhasil menyalip Keenan.

Rakha menghela napas tipis. Bukan lega, lebih seperti penundaan yang ia terima dengan enggan. Tertinggal sedikit masih lebih masuk akal daripada memaksakan diri di lintasan seperti ini.

Namun itu tak bertahan lama.

Di jalan lurus berikutnya, Keenan merebut kembali posisinya.

Cepat.

Terlalu cepat.

Rakha menegang.

Itu manuver yang tidak perlu.

Ia tidak bergeser dari tempatnya. Tidak bersuara. Namun sesuatu yang dingin mengendap di dadanya. Ini sudah melewati batas perhitungan. Bukan soal posisi. Bukan soal kemenangan.

Ini kebiasaan buruk Keenan, mengambil risiko saat tak ada yang memintanya.

Putaran terakhir.

Keenan memimpin. Pembalap di belakangnya menempel rapat, nyaris tanpa jarak.

Rakha berdiri kaku. Tatapannya tak lepas dari lintasan. Sorak penonton mengguncang udara, tapi baginya, semuanya teredam.

Tikungan terakhir sebelum garis finis.

Keenan mengambil line terlalu sempit.

Motor itu oleng.

Getaran kasar merambat sepanjang rangka. Untuk sepersekian detik, lintasan menyempit terlalu dekat, terlalu cepat.

Rakha tidak bergerak.

Insting dan skill Keenan mengambil alih. Motor itu ditarik kembali ke jalur, stabil tepat sebelum keluar kendali. Dalam hitungan napas, ia melewati garis finis—unggul tipis.

Keenan menang.

Mesin dimatikan. Debu perlahan turun.

Baru saat itu Rakha sadar betapa kaku tubuhnya, bahunya jatuh satu tingkat.

Rasa kesal masih ada.

Banyak.

Tapi fakta bahwa Keenan berdiri dengan utuh—itu mengalahkan segalanya.

Di bawah, reaksi pertama Keenan bukan pada penonton. Bukan pada motornya. Ia menoleh ke tribun.

Mencari.

Rakha.

Begitu menemukannya, Keenan melepas helm. Rambutnya basah oleh keringat, napas masih berat. Senyum itu muncul—sok santai, sok menang—seperti orang yang tahu ia baru saja lolos dari sesuatu yang seharusnya membuatnya dihajar.

Rakha mendengus pelan.

Tidak ada anggukan.

Tidak ada tepuk tangan.

Ia turun dari tribun.

Langkahnya cepat, tegang, berhenti tepat di balik pagar pembatas. Kabut debu masih menggantung di udara, tapi tatapan Rakha menembusnya—tajam, terkunci pada satu orang.

"Lu gila?" Suaranya rendah. Ditekan.

"Atau emang udah nggak niat hidup?"

Keenan masih bersandar di motornya, helm di tangan. Senyum tipis tersisa di wajahnya lebih seperti tameng daripada kebanggaan.

"Tenang," katanya. "Ini buktinya gue masih napas."

Rakha tertawa singkat. Kosong.

"Lu hampir jatuh di tikungan terakhir."

Nada suaranya datar. Justru itu yang berbahaya.

"Salah sedikit aja, kita nggak akan ngobrol di sini."

Keenan mengangkat bahu, tapi gerakannya tak sepenuhnya santai. "Aman. Gue pegang kendali."

"Bukan soal itu." Rakha memotong. Cepat.

"Kita ada turnamen minggu depan."

Hening.

"Kalau lu sampai kenapa-napa," lanjut Rakha, lebih pelan, "satu tim bakalan kena imbasnya."

Kalimat itu jatuh berat.

Sorak penonton terasa jauh. Debu pelan-pelan mengendap, menyisakan mereka berdua.

Keenan menurunkan pandangan. Senyum itu benar-benar hilang.

"…Gue tau," katanya lirih. "Gue nggak bakalan ceroboh."

Rakha menatapnya lama. Terlalu lama.

"Tapi lu barusan ceroboh."

Keenan terdiam.

Rakha menghembuskan napas pelan, seolah menahan sesuatu yang nyaris lolos.

"Jangan diulangi," katanya akhirnya.

Bukan perintah. Bukan ancaman. Kalimat itu jatuh begitu saja refleks yang seharusnya ia tahan, tapi gagal.

Keenan terdiam sepersekian detik. Lalu senyum itu muncul. Terasa ringan dan lepas.

Bukan senyum kemenangan. Lebih seperti seseorang yang akhirnya bisa bernapas lega.

Rakha menggeleng kecil. "Gue udah nggak tahu lagi cara ngurusin lu."

Keenan diam sejenak. Senyumnya menipis bukan menghilang, hanya mereda.

"Tenang aja," katanya akhirnya, santai, tapi lebih pelan dari biasanya. "Gue nggak minta diurus."

Rakha menatapnya.

"Kehadiran lu aja," lanjut Keenan, menoleh ke lintasan yang mulai sepi, "udah cukup bikin gue mikir dua kali sebelum bertindak tolol."

Hening singkat.

Rakha mendengus. "Jangan kegeeran."

"Bukan," Keenan nyengir tipis. "Gue cuma lagi jujur."

Rakha menghela napas pendek. "Tetep aja bodoh."

Keenan mengangkat bahu. Lalu tanpa banyak pikir, ia mengacak-acak rambut Rakha sebentar.

Rakha langsung menepisnya.

"Jangan sentuh-sentuh," katanya tajam. "Bau bensin."

Keenan tertawa kecil, mengangkat tangan tanda menyerah. Kali ini, ia tidak membalas apa pun.

Rakha perlahan berbalik. Baru dua langkah ia menjauh, suaranya terdengar lagi—lebih rendah.

"Pulang sana," katanya. "Kehadiran lu bikin kepala gue nggak tenang."

Ia tidak menunggu jawaban.

Keenan terkekeh pelan di belakangnya.

"Iya, iya," katanya santai. "Siap, Kapten."

Rakha terus melangkah.

"Mau gue anter pulang juga nggak?" tambah Keenan, setengah bercanda.

Rakha tidak menoleh.

Namun langkahnya melambat hanya sepersekian detik.

Keenan menangkapnya. Senyum kecil muncul, tanpa sok jagoan, tanpa kemenangan yang dipamerkan.

Dan itu sudah lebih dari cukup.

"Hati-hati, Rakha," gumam Keenan pelan.

Tubuh Rakha hampir menghilang ketika sebuah lengan merangkul bahunya dari samping.

"Ngapain lu di sana, Rakh?" tanya temannya heran. "Lu kenal dia?"

Rakha tidak menjawab.

Ia terus berjalan, membiarkan lengan itu tetap di bahunya menjauh dari lintasan, menjauh dari Keenan.

Keenan memperhatikannya sampai siluet Rakha benar-benar lenyap di balik keramaian. Alisnya mengernyit tipis.

"Kirain datang sendirian," gumamnya.

Malam itu, Keenan pulang.

Ia tidak hanya membawa kemenangan,

tapi juga kehadiran seseorang—lebih bermakna daripada balapan singkat itu.

1
Panda
jejak yaa kak

kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭
Kairylee: okee kak, selamat menunggu... semoga memuaskan, soalnya baru nyelam juga disini/Smile//Smile/
total 1 replies
Anna
ih lucu/Chuckle/
r
😚🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!