Alone Claney hidup dalam kesendirian seperti namanya. Ibu suri yang terpikat padanya pun menjodohkan Alone dengan putra mahkota, calon pewaris tahta. Tak seperti cerita Cinderella yang bahagia bertemu pangeran, nestapa justru menghampirinya ketika mengetahui sifat pangeran yang akan menikahinya ternyata kejam dan kasar.
Karena suatu kejadian, seseorang datang menggantikan posisi pangeran sebagai putra mahkota sekaligus suaminya. Berbeda dengan pangeran yang asli, pria ini sungguh lembut dan penuh rasa keadilan yang tinggi. Sayangnya, pria itu hanyalah sesosok yang menyelusup masuk ke dalam istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yu aotian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Dia yang Tak Sama
"Apa masih ada yang ingin kau tanyakan tentang orang-orang di istana dan juga pangeran Julian?" tanyaku padanya.
"Kurasa tidak. Kau sudah menjelaskan semuanya dengan rinci."
"Kalau begitu—"
Belum genap di ujung kalimatku, dia lantas kembali berucap, "Sekarang giliranmu, Nona Alone."
"Eh?" Kerutan samar muncul di antara kedua alisku.
"Ceritakan tentang dirimu!"
Bingung. Dahiku masih membentuk lipatan.
"Bukankah kita akan menjadi pasangan? Kalau begitu ... aku juga perlu mengetahui segala hal tentangmu," ucapnya sambil kembali bertopang dagu seolah siap untuk mendengarkan.
"Kau ... tidak perlu ... mengetahui apa pun tentangku, karena ... pangeran Julian pun tak mengetahui apa pun tentangku," balasku dengan sedikit tergagap.
"Oh ... begitu ya!" tubuhnya yang sempat condong ke depan perlahan merosot ke belakang.
"Meski begitu ... terima kasih telah menanyakan tentang diriku," ungkapku sambil tersenyum getir. Walau aku tahu dia menanyakan ini hanya sebagai formalitas agar menjalani perannya dengan baik, tetapi ini pertama kalinya ada orang yang ingin tahu tentangku.
Setelah kesepakatan itu terjalin, Bright mulai mengemas barang-barangnya untuk ikut bersamaku ke ibukota Veridia. Aku yang telah sedari tadi menunggu di kereta, mendadak gusar karena dia tak kunjung datang.
Tak sabar, aku turun dari kereta sambil menggerutu, "Kenapa dia belum juga muncul?"
"Pangeran tadi mengatakan kalau dia ingin berpamitan dengan anggota kelompoknya, sekaligus memberi alasan tentang kepergiannya selama beberapa waktu," jawab Sam.
"Tapi ini sudah dua jam lamanya!" keluhku.
Aku terus mondar-mandir di depan kereta dengan wajah cemas. Jujur, aku takut dia mendadak berubah pikiran dan membatalkan kesepakatan. Namun, begitu menoleh ke depan, aku terkesima melihatnya berjalan ke arahku dengan langkah tegak penuh kharisma. Rambut depannya yang melambai-lambai diterpa angin, membuat wajahnya tampak bersinar seperti matahari yang dirindukan di musim dingin.
"Maaf membuatmu menunggu, Nona."
"Tidak apa-apa. Aku juga ... baru selesai berdandan," balasku pelan.
Dia lalu mengulurkan tangannya, membantuku untuk naik ke dalam kereta. Aku dan dia kini telah duduk di dalam kereta. Kami akan berangkat ke ibukota, tapi tidak langsung ke istana melainkan tinggal rumahku lebih dulu selama sebulan untuk berlatih banyak hal.
Selama di dalam perjalanan dia tampak sibuk mengikis sebuah batu.
"Apa yang hendak kau lakukan dengan batu itu?"
"Oh, aku sedang membuatkan buah tangan untuk ibu suri. Kau bilang, orang-orang istana hanya tahu Julian sedang bertugas di Amberstone. Maka saat pulang nanti, aku harus memberikan buah tangan yang berhubungan dengan kota tersebut pada ibu suri. Kota Amberstone terkenal dengan berbagai jenis batu ambernya yang indah, kebetulan aku punya satu buah bongkahan batu amber asli yang sejak lama kusimpan, jadi ... kubuatkan saja kalung untuknya," tuturnya sambil terus mengikis batu tersebut hingga tampak menyerupai bentuk oval.
"Betul juga, ya?" Aku tak menyangka dia bisa memikirkan hal yang bahkan tak terbesit di benakku.
"Ah, aku juga membuatkan untukmu, Nona!" Dia merogoh sakunya kemudian mengeluarkan sebuah kalung berliontinkan batu amber warna kuning kecokelatan yang berbentuk hati.
(foto by pinterest)
Aku terperangah seketika. "Cantik sekali. Kapan kau membuatnya?" tanyaku sambil menutup mulutku yang setengah terbuka karena tak bisa menahan rasa takjub.
"Semalam. Batu amber dipercaya mendatangkan kebahagiaan, melindungi dari nasib buruk, dan mengobati berbagai macam penyakit."
Aku tertegun seraya menyentuh buah kalung batu amber yang memancarkan kilauan lembut. "Karena itukah orang Mesir kuno mengatakan batu ini berasal air mata dari dewa matahari Ra?"
Dia mengangguk. "Iya. Orang Yunani memercayai batu amber bisa membantu kita menemukan cinta sejati."
Aku tersentak. Benarkah?
"Tapi ... kenapa kau repot-repot membuatkannya untukku?" tanyaku pelan.
"Karena kita akan menjadi pasangan suami istri, jadi kupikir ... aku harus mengutamakanmu lebih dulu di atas yang lainnya."
Tapi pangeran Julian tidak seperti itu ....
"Apa aku boleh memasangkan kalung ini di lehermu, Nona?" Pertanyaannya langsung membuyarkan lamunanku.
Butuh tiga detik untuk aku menaikkan pandanganku. Saat tatapan kami bersirobok, matanya yang meneduhkan seakan menyihirku untuk segera mengangguk.
"Kalau begitu, tolong balik belakang."
Masih berada dalam kereta, aku pun berganti posisi duduk dengan memunggunginya. Ia mulai menyingkap rambutku ke samping. Kurasakan napasnya berembus lembut menerpa tengkuk leherku saat ia mulai memasangkan kalung itu.
Apa ini? Tiba-tiba saja aku bernapas berlebihan. Jantungku pun terpompa cepat. Saat kalung itu sukses terpasang, aku tak segera berbalik, melainkan terus menyapukan pandangan pada hamparan salju yang diselubungi keremangan malam. Aku tak punya alasan untuk kembali menoleh ke arahnya. Tidak, yang sebenarnya adalah ada getaran aneh yang melingkupiku saat ini. Kurasa ini karena pengaruh udara dingin yang mulai menyentuh kulitku.
Setelah perjalanan panjang yang membutuhkan waktu berjam-jam, akhirnya kami pun sampai di pinggiran kota Veridia yang cukup jauh dari pemukiman warga. Turun dari kereta, Bright mengikuti langkahku sambil memendarkan pandangan ke seluruh arah.
"Rumahku di sana!" Aku menunjuk satu-satunya rumah yang ada di sini. "Tak akan ada yang melihat kau berlatih menunggang kuda di sini."
"Kau tinggal dengan siapa?"
"Sendiri."
"Sendiri?" Dia terkejut.
Aku tersenyum. "Itu sebelum aku pindah ke istana."
Aku membuka kunci rumah lalu mempersilakan dia masuk. Rumah yang didominasi warna putih itu tampak berdebu dan gelap karena sudah lama kutinggal. Kubuka kain putih yang menutupi tiap-tiap perabotan.
Pandangannya terarah pada piano putih yang berada di sudut ruangan. "Kau bisa bermain piano, Nona?"
"Bisa tapi tidak sehebat orang-orang." jawabku, "Oh, iya, di sini ada dua kamar, kau bisa menggunakan kamar sebelah selama sebulan ini."
"Tak perlu repot. Aku bisa tidur di mana saja."
"Tidak bisa. Sekarang kau adalah pangeran Julian, bukan bright!"
"Baiklah!" Bright langsung duduk sambil berpangku kaki dengan sebelah tangan yang bertumpu pada meja bar.
"Pangeran Julian tidak duduk seperti itu!" tegurku.
Ia langsung menurunkan sebelah kakinya hingga menimbulkan bunyi hentakan di lantai.
Sejak saat itu, Bright mulai berlatih menyesuaikan diri sebagai pangeran Julian. Dibantu Theo, Ciro dan Sam, Bright mulai memperagakan kebiasaan-kebiasaan pangeran Julian, seperti cara berjalannya, gaya duduk, caranya memegang peralatan makanan, hingga hal-hal sekecil apa pun yang menjadi ciri khas sang pangeran.
Setiap malam, aku dan dia juga selalu menghabiskan waktu bersama. Duduk saling bersebelahan, aku menuntunnya menirukan tulisan dan tanda tangan pangeran Julian.
"Sedikit lagi ...." Aku mengoreksi hasil tulisannya.
Dia kembali menuliskan sederet kalimat di kertas yang baru, kemudian memperlihatkan padaku.
"Sudah hampir mirip!"
Dia mengulangnya kembali.
"Bagaimana dengan ini?" Dia kembali menyodorkan tanda tangannya.
"Nah, ini baru benar-benar mirip."
Dia tersenyum senang dan melanjutkan tulisannya. Entah mengapa, pandanganku mendadak terpaku padanya yang tengah serius menulis. Tak kusangka dia benar-benar gigih dan pantang menyerah. Tak ada keluhan sedikit pun saat aku terus menuntutnya menjadi semirip mungkin dengan saudaranya.
.
.
.
Like dan komeng
kenapa ga langsung aja, Barbara ini anunya gitu
pastinya luar dalam dilayani🤭
Bgmn y Bright memperlakukan Barbara serba salah y......