Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.
Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.
Namun Ivan tak menyerah.
Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.
Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...
Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Langkah Pertama Menuju Panggung Dunia
Aku berlari menggiring bola, setiap langkahku terasa sangat ringan, tapi penuh keringat, air mata, dan harapan.
"Ivan, umpan!!" teriak Kak Alfian.
Aku langsung mengoper ke Kak Alfian tanpa pikir panjang "Nih!!" seruku.
Bola diterima Kak Alfian, dia menggiring dengan cepat menuju gawang yang tengah dijaga Andika. Aku ikut berlari untuk mencari ruang.
Michel berlari dari samping, lalu dia mencoba menekel kaki Kak Alfian untuk menghentikannya menggiring bola. Tapi, Kak Alfian dengan lihai langsung melompati kaki-kaki Michel dan langsung mengoper ke Kak Teo yang berada di sayap.
"Teo!!" teriak Kak Alfian.
Aku ikut berlari, tapi masih terpukau dengan pertunjukan singkat dari Kak Alfian tadi, triknya itu sangat keren dan sulit "Aku juga bisa!!" batinku.
Kak Alfian, dan aku, berlari menuju kotak penalti.
"Tap... Tap... Tap..." suara kami berlari.
"Woy, ini bola lambung!!" teriak Kak Teo sebelum melepaskan bola lambung ke dalam kotak penalti.
Aku langsung sigap masuk ke dalam kotak penalti. Bola yang diumpankan Kak Teo melesat tinggi ke dalam kotak penalti, bola itu mengarak ke arahku. Bola datang, aku melompat, Andika juga melompat untuk menghalau bola, satu tandukan dan gol.
"Gol!!" teriakku.
Aku lalu mendarat ke tanah. Memandangi bola yang sudah berada di dalam gawang, Andika hanya bisa melihat saat bola itu datang.
"Hampir!!" ujar Andika.
Tiba-tiba Kak Alfian menepuk pundakku lalu berkata dengan memberikan jempol.
"Bagus, tapi masih bisa ditingkatkan!!" seru Kak Alfian kepadaku.
Aku menganggukkan kepalaku "Iyah," ujarku pelan.
"Ayo lanjut lagi!!" teriak Pak Slamet.
Kami lalu melanjutkan latihan lagi. Andika lalu menendang bola kembali ke tengah lapangan, bola itu melesat bagaikan burung elang yang sedang mencari mangsa.
Bola jatuh di kaki Kak Ardi. Dia lalu menggiring bola kembali mendekat ke gawang, dari samping terlihat Kak Reno yang siap sedia menghentikan pergerakan Kak Ardi. Kak Reno dengan cepat langsung mencoba menekel Kak Ardi, sepertinya Kak Ardi tidak menyadari ada Kak Reno yang siap menekelnya, dia terjatuh karena dijatuhkan Kak Reno.
"Bruk!!" suara terjatuh.
"Woy, biasa aja!!" celetuk Kak Ardi yang marah karena dijatuhkan.
Kak Reno menghampiri Kak Ardi, lalu dia mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri tapi.
"Nggak usah, aku bisa sendiri!!" ujar Kak Ardi dengan sinis.
Lalu tiba-tiba muncul Kak Yahya dari samping, dia langsung merebut bola lalu menggiringnya kembali.
"Ayo, maju semua!!" teriak Kak Yahya.
Aku langsung kembali berlari menuju gawang "Huh, latihan terakhir yang keras!!" batinku.
Kak Yahya menggiring bola dengan cepat, dia berlari cepat ke area kotak penalti, dan langsung menendangnya. Bola melesat cepat ke arah gawang. Sementara Andika fokus melihat pergerakan bola; bola dengan cepat mengarah ke kanan, dan beruntung Andika bisa terbang untuk menghalau bola.
"Keren!!" batinku saat melihat aksi dari Andika.
"Cuman segini, Kak?!" celetuk Andika mengejek.
"Wah, wah, wah... Adik kelas nyalinya besar juga ya," ujar Egy sambil bertepuk tangan.
Aku lalu melirik ke Kak Egy, dia bertepuk tangan dengan sinis "Kakak kelas," batinku sambil geleng-geleng kepala.
"Andika, ayo tendang lagi bolanya!!" teriak Kak Reno, sang kapten tim.
"Siap, Kak!!" jawab Andika.
Andika lalu menendang bola kembali. Kemudian kami memulai latihan lagi "Capek banget," batinku sambil berlari kecil ke tengah lapangan.
Kami memulai kembali latihan terakhir yang panjang ini. Kami latihan dari pulang sekolah sampai adzan Maghrib.
"Allahu akbar..." suara adzan.
"Pritt!!" suara peluit Pak Slamet.
"Semuanya kumpul lagi di sini!!" teriak Pak Slamet.
Kami lalu berkumpul ke depan Pak Slamet.
"Baik, anak-anak. Latihan terakhir ini adalah latihan yang paling bagus sejauh ini, kalian berhasil membangun kerja sama tim yang bagus dan juga rapi. Tapi ingat, kalian boleh marah kepada teman satu tim, tapi kalian jangan sampai berlebihan menyampaikannya. Ingat, besok adalah turnamen resmi pertama kalian, jangan membuat sekolah malu. Kalian harus berjuang untuk menjadi yang terbaik. Paham?!" ujar Pak Slamet dengan tegas.
"Paham, Pak!!" seru kami semua.
"Sekarang kalian bisa pulang. Besok kita kumpul lagi di sekolah jam delapan," seru Pak Slamet.
"Baik, Pak!!" ujar kami semua.
Kami lalu pulang ke rumah masing-masing. Aku berjalan pulang, sendirian di bawah langit jingga yang indah "Huh," menghela napas.
"Sebentar lagi... Tapi... Apa aku bisa keluar diam-diam?!" gumamku.
Sambil menggelengkan kepalaku "Nggak bisa!!" seruku pelan.
Aku berjalan sambil menendang batu, dan menatap ke atas. Berharap akan ada keajaiban yang terjadi besok.
Setelah beberapa menit berjalan di bawah langit berwarna jingga, akhirnya aku sampai di depan rumah. Aku melepaskan sepatuku terlebih dahulu sebelum masuk.
"Ibu, aku pulang!!" teriakku.
"Iya, cepet mandi!!" teriak ibu dari dapur.
Aku lalu masuk, berjalan pelan ke kamar mandi.
"Setelah mandi, kamu makan ya!!" ujar ibu.
"Iya," jawabku singkat.
Kemudian aku mandi, dingin. Seusai mandi, aku lalu menarik kursi untuk duduk dan makan.
"Ini," ujar ibu sambil menyodorkan sepiring nasi.
Aku lalu mengambil sepiring nasi yang diberikan ibu. Kemudian aku mulai makan dengan lauk yang sederhana.
"Van," seru ibu sambil mengunyah makanan.
"Iya," sahutku.
"Ibu cuman mau bilang kalau besok ibu mau pergi!!" ujar ibu.
"Hah, pergi. Emangnya ibu besok nggak kerja di rumah bu lastri?!" tanyaku.
"Nggak, besok ibu mau ke rumah kakek kamu. Mau ikut?!" tanya ibu.
"Nggak. Besok ibu berangkat jam enam!!" ujar ibu.
"Jam enam?!" seruku.
"Iya, udah segera dihabiskan makanannya!!" seru ibu.
"Iya, bu!!" jawabku.
Aku senang karena besok ibu tidak ada di rumah, artinya aku besok bisa berangkat ke turnamen tanpa ketahuan ibu "Ini keajaiban buatku!!" batinku.
Setelah makan, aku lalu berjalan ke kamarku. Setelah berada di dalam kamar, aku lalu berbaring "Besok... Turnamen... Harapan baru... Dan!!" batinku sambil berbaring.
Aku lalu tidur. Kemudian keesokan harinya.
"Huahhh!!" aku menguap.
Aku bangun, dengan tubuh yang lumayan lelah karena latihan kemarin. Aku bangun dan segera melihat jam "Udah jam... Masih jam tujuh!!" ujarku sambil mengusap mata.
Aku segera ke dapur untuk makan "Ibu... Ibu!!" panggilku.
"Oh iya, ibu kan lagi pergi ke rumah kakek!!" seruku.
Aku lalu makan, setelah makan aku kemudian mandi.
"Mandi dulu," gumamku.
Aku lalu mandi, setelah mandi aku langsung pergi ke kamar untuk bersiap-siap berkumpul di sekolah.
"Cepet, walaupun masih jam tujuh tapi aku harus sudah siap-siap!!" gumamku sambil berkemas.
"Jerseyku dimana ya... Oh iya, jersey akan dibagikan nanti!!" gumamku.
Setelah hampir 30 menit aku bersiap-siap, akhirnya selesai juga. Aku kemudian bergegas pergi ke sekolah "Langkah pertama," gumamku.
Ivan lalu berangkat. Ini adalah langkah pertamanya menuju panggung dunia, bagaimana kisa Ivan selanjutnya?
Bersambung...