NovelToon NovelToon
The Return Of The Lost Heiress

The Return Of The Lost Heiress

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Keluarga & Kasih Sayang / Drama
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Haena_Llulia

Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.

Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Retakan di Balik Kabut Pelabuhan

Sisa-sisa aroma mesiu yang tipis dan anyir darah perlahan menguap di dalam gudang tua Dermaga Utara, digantikan kembali oleh embusan angin laut yang dingin dan menusuk tulang. Keheningan linear yang sempat terputus oleh desingan peluru berperedam kini merajai atmosfer dengan intensitas yang jauh lebih menekan. Di bawah pendar lampu merkuri yang masih bergetar samar di langit-langit bangunan, Bhaskara berdiri mematung dengan lutut yang lemas. Pemimpin divisi logistik bawah tanah itu menatap nanar ke arah barisan jasad penyerang yang baru saja dibersihkan oleh pasukan bayangan misterius dalam hitungan menit sebuah eksekusi taktis yang begitu rapi, sunyi, dan mematikan hingga tidak menyisakan satu pun selongsong peluru di atas lantai semen yang kusam.

"Siapa... siapa sebenarnya wanita berjubah hitam itu?" bisik Bhaskara dengan suara parau yang bergetar hebat di dalam tenggorokannya yang kering.

Ia memandangi pintu samping gudang yang kini kosong, tempat di mana sosok anggun berwajah pualam dengan kacamata Chanel hitam tebal baru saja melangkah pergi menembus kegelapan malam pelabuhan. Kehadiran wanita itu bagaikan hantu yang memegang kendali atas hidup dan mati; ia datang tanpa nama, menghancurkan ancaman faksi musuh dalam sekejap mata, lalu menghilang sebelum ada satu pun otoritas dunia bawah yang menyadari kehadirannya. Bhaskara segera mengeluarkan ponsel terenkripsinya, mencoba mengetik laporan darurat untuk dikirimkan langsung ke pusat komando Lucien Nightshade, tanpa menyadari bahwa sistem keamanan digital di pelabuhan ini telah diatur ulang sepenuhnya secara mutlak.

Sementara itu, di luar labirin kontainer raksasa yang membentang luas, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom hitam pekat melaju perlahan membelah kabut tebal yang menyelimuti jalur transit darat pelabuhan. Di dalam kabin kendaraan mewah yang kedap suara tersebut, atmosfer terasa begitu dingin dan tegang. Valeria Blackrose duduk dengan punggung tegak di atas kursi kulit premium berdesain minimalis, memancarkan wibawa alami seorang bos besar yang sama sekali tidak terpengaruh oleh sisa-sisa pertumpahan darah yang baru saja dipimpinnya.

Jubah beludru hitam panjang berpotongan oversized yang longgar masih membungkus tubuhnya dengan sangat anggun, menyamarkan seluruh lekuk tubuhnya di balik lipatan kain yang berat dan mahal. Pakaian formal serba hitam dengan kerah tinggi di balik jubahnya menutup rapat seluruh bagian dada serta pundaknya, mempertahankan komitmen kesopanan yang ketat yang menjadi prinsip mutlak penampilannya sejak awal kehidupan kedua ini dimulai. Valeria perlahan menaikkan jemari kirinya yang mengenakan sarung tangan kulit tipis, melepas kacamata Chanel bermerek dengan bingkai hitam tebal dari pangkal hidungnya, lalu meletakkannya di atas meja konsol tengah mobil.

Wajah pualamnya yang putih bersih terpapar oleh temaram lampu interior kabin yang redup. Tidak ada ekspresi kemenangan yang murahan, tidak ada senyuman yang menunjukkan gigi; hanya ada ketenangan mutlak dari seorang penguasa sejati yang menganggap penghancuran faksi penyerang di gudang tadi hanyalah sebuah kalkulasi bisnis yang biasa. Di bawah pencahayaan yang minimalis, tahi lalat kecil di dagunya terlihat jelas, menegaskan garis tegas karakternya yang sarat akan rahasia. Di pergelangan tangannya, gelang Cartier Love berkilau mewah bersanding dengan cincin perak bermotif malam pemberian Lucien Nightshade sebuah kontras yang tajam antara perannya sebagai istri kontrak di dunia atas dan bos mafia bayangan di dunia bawah.

Valeria membuka tablet digitalnya dengan gerakan yang sangat anggun. Jemarinya dengan cepat menyisir draf laporan hasil pembekuan permanen atas seluruh rekening penampung milik faksi saingan yang baru saja ia hancurkan. Melalui sistem perbankan terenkripsi yang ia kendalikan, seluruh sisa aset operasional musuh telah dialihkan sepenuhnya ke dalam rekening bayangan untuk memperkuat posisi finansial aliansi mereka.

‘Lucien tidak boleh mengetahui bahwa aku yang turun tangan langsung malam ini,’ batin Valeria, sepasang mata mafianya yang pekat, kosong, dan sedingin es menatap lurus ke arah kegelapan jalanan di luar jendela. ‘Di dalam draf kontrak dua tahun kita, tugasku adalah mengamankan posisi Blackrose Group di dunia atas dan berdiri sebagai pelindungnya di depan publik kampus Universitas Argarin. Jika dia tahu aku memegang kendali atas pasukan bayangan yang mampu memotong jalur logistiknya, keseimbangan aliansi kita bisa bergeser menjadi kecurigaan.’

Namun, Valeria meremehkan ketajaman intuisi seorang predator tertinggi dunia bawah yang selama ini menjadi pasangannya.

Di lantai teratas Menara Nightshade, pintu lift eksekutif terbuka dengan desauan halus yang memutus keheningan linear di koridor utama. Lucien Nightshade melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadinya dengan keanggunan seorang penguasa tertinggi yang sedang dilingkupi oleh kemarahan yang tertahan. Setelan jas hitam legamnya yang dipotong sempurna membingkai tubuh tinggi tegapnya dengan presisi yang mematikan, memancarkan aura dominan yang sanggup membuat para pengawal di luar ruangan menundukkan kepala dalam-dalam karena ketakutan primitif yang mendalam.

Jam tangan mewah di pergelangan tangannya berkilau samar diterpa cahaya lampu dinding gotik minimalis saat ia melempar sebuah gawai ke atas meja marmer hitamnya. Di layar gawai tersebut, sebuah laporan darurat dari Bhaskara mengenai penyerangan di Dermaga Utara terpampang jelas, lengkap dengan rekaman data enkripsi yang menunjukkan bahwa seluruh sistem keamanan pelabuhan telah diambil alih oleh pihak ketiga tanpa nama.

Aroma parfum kayu cedar milik Lucien yang maskulin dan pekat menyelimuti udara di sekeliling meja kerja saat ia memutar-mutar cincin perak kuno di jari manisnya sebuah gerakan santai namun penuh dengan perhitungan yang berbahaya. Mata elangnya yang biasanya sedingin es kini berkilat tajam oleh rasa penasaran yang mendalam dan protektif.

"Siapa wanita itu...?" Lucien bersuara, nada baritonnya yang berat dan dalam menggema halus di dalam ruangan yang sunyi.

"Bhaskara mengatakan dia bergerak dengan pasukan bayangan yang sangat terlatih. Dia menghancurkan faksi penyerang dalam hitungan menit, menyelamatkan seluruh manifes logistik milikku, lalu membekukan rekening musuh secara permanen melalui kode enkripsi tingkat tinggi yang hanya bisa diakses oleh segelintir orang di negara ini."

Lucien berjalan mendekati dinding kaca raksasa yang menghadap langsung ke arah hamparan gemerlap lampu kota. Ia tahu betul aturan main di dunia bawah: tidak ada yang namanya bantuan cuma-cuma tanpa ada kepentingan besar di baliknya. Bos mafia misterius yang bergerak di balik bayang-bayang pelabuhan malam ini jelas memiliki kekuatan finansial dan otoritas hukum yang sangat masif, mampu bergerak di atas altar hukum dunia atas sekaligus mengeksekusi musuh di kegelapan dunia bawah.

Pintu ruang kerja privatnya bergeser terbuka secara otomatis, memutus rantai analisis di dalam kepala Lucien. Valeria Blackrose melangkah masuk dengan keanggunan mutlaknya yang biasa, kembali mengenakan blazer beludru hitam berpotongan oversized dan kacamata Chanel hitamnya yang bertengger kokoh di pangkal hidungnya. Penampilannya yang tertutup, sopan, dan berwibawa tidak menyisakan satu pun petunjuk bahwa beberapa jam lalu ia baru saja berdiri di tengah pertumpahan darah pelabuhan.

Lucien tidak berbalik, namun sudut bibirnya membentuk senyuman misterius yang dingin namun sarat akan intensitas emosional yang tinggi ketika ia melihat pantulan wajah pualam Valeria di dinding kaca.

"Kau kembali sangat larut malam ini, Tuan Putri," Lucien memecah keheningan, suaranya terdengar begitu dekat dan berwibawa di telinga Valeria saat pria itu perlahan membalikkan tubuh tingginya untuk mengikis jarak di antara mereka.

Valeria menghentikan langkahnya tepat dua langkah di hadapan Lucien, tidak mundur setapak pun meskipun aura menekan yang pekat dari sang predator malam mulai mengepung atmosfer di sekitarnya. Kontak mata di antara sesama penguasa kegelapan ini menciptakan ketegangan emosional yang sangat intens sebuah getaran aneh yang kian membakar batasan kesepakatan tertulis di atas kertas kontrak dua tahun mereka.

"Ada beberapa draf analisis hukum korporasi mengenai yayasan kampus Universitas Argarin yang harus kuselesaikan di kantor hukum pusat, Tuan Nightshade," jawab Valeria dengan nada suara yang jernih, tenang, namun penuh penekanan yang tajam. Ia menaikkan jemarinya, membetulkan letak kacamata Chanel-nya dengan gerakan formal yang penuh wibawa.

"Sebagai istri kontrakmu di dunia atas, aku harus memastikan tidak ada satu pun celah reputasi yang bisa digunakan oleh sisa-sisa pengikut Elara untuk meretakkan aliansi kita besok pagi."

Lucien tertawa rendah, sebuah suara berat yang bergetar di dalam dadanya, memancarkan ketertarikan murni dan komitmen protektif yang kian mendalam kepada wanita di hadapannya. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, membiarkan aroma parfum kayu cedar miliknya menyelimuti udara di sekitar Valeria, sementara mata elangnya menatap lekat-lekat pada tahi lalat kecil di dagu Valeria dan cincin perak yang melingkar di jari manis sang wanita.

"Analisis hukum yang sangat rapi, Valeria," bisik Lucien rendah, nadanya sarat akan janji setia yang membara di balik bayang-bayang mafia. "Namun di dunia bawah, seseorang baru saja menyelamatkan urat nadi logistik utamaku di Dermaga Utara menggunakan sistem perbankan terenkripsi yang sangat kukenal. Kekuatan bayangan itu bergerak tanpa nama, seolah-olah mereka adalah perisai rahasia yang dikirim oleh semesta untuk melindungiku."

Valeria tetap tenang, wajah pualamnya tidak menunjukkan riak emosi sedikit pun di balik lensa kacamata hitamnya, meskipun hatinya mulai merasakan debaran halus yang tidak biasa dari kedekatan emosional mereka yang kian intens. "Dunia bawah selalu dipenuhi oleh para spekulan yang ingin mencari muka di hadapan Nightshade Syndicate, Lucien. Siapa pun bos mafia misterius itu, dia hanya melakukan apa yang semestinya dilakukan untuk menjaga tatanan bisnis di kota ini."

Lucien tersenyum dingin, sebuah senyuman yang sarat akan janji kepatuhan mutlak dan pembuktian takdir yang takkan bisa dihindari oleh siapa pun. Ia mengulurkan tangannya yang kokoh, perlahan menyentuh jemari Valeria yang dingin dengan kelembutan yang sangat kontras dengan reputasi kejamnya di dunia hitam.

"Dua tahun di atas kertas kontrak kita, Valeria," ucap Lucien dengan suara baritonnya yang berat dan penuh wibawa mutlak. "Namun aku bersumpah... siapa pun yang mencoba bermain di balik bayang-bayang untuk melindungiku, atau mencoba mengusik kedudukanmu sebagai ratu di menara ini, mereka akan segera menyadari bahwa seluruh dunia atas maupun dunia bawah telah resmi dikunci di bawah kendali aliansi kita. Dan aku tidak akan pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milikku."

Valeria menatap cincin perak di jarinya yang bersanding manis dengan gelang Cartier-nya. Di balik topeng pualamnya yang dingin, ia tahu bahwa retakan di balik kabut pelabuhan malam ini telah membawa jalinan cinta sejati dan aliansi power couple mereka menuju tahapan yang jauh lebih berbahaya. Drama perundungan sekolah yang kekanak-kanakan dari Elara kini terasa begitu kerdil di bawah kaki mereka, karena di puncak Menara Nightshade ini, fajar yang akan terbit beberapa jam lagi akan menjadi saksi dari sebuah rahasia besar yang perlahan mulai terurai di antara dua penguasa tunggal kegelapan yang takkan pernah bisa digoyahkan lagi oleh siapa pun hingga akhir waktu.

1
Osie
rosalind mak kandung harga bukan yaa?? kok malah jd musuh anak sendiri
Haena_Llulia: kamu tau kan maknya gimana😔
total 1 replies
Osie
ini hana apa udah gak sekolah ya..kok mainnya diperusahaan terus
Haena_Llulia: iya, kayaknya gitu deh. ini jg pasti krn masalah yg muncul
total 1 replies
Osie
eh nyonya rosalind ente emak kandung haena kan??? kok kayak mak tiri ya yg takut kehilangan harta warisan
Haena_Llulia: iya aku juga jadi ngedek dehhh sama dia😡
total 1 replies
Osie
mampir akuh nya..msh nyimak dan moga MC nya sosok tangguh. benar benar tangguh n smart
Haena_Llulia: Terimakasih banyak, aminnnn🙏🤗
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak bebkuhhhh😳🙏❤
total 1 replies
Alia Chans
mampir thor✍️👈
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🙏
total 1 replies
Siru06
mampir thor👍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!