NovelToon NovelToon
Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Horor / Teen
Popularitas:37.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy_Ar

​"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
​Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
​Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
​Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
​Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

"Eh, itu berhenti Mas! Mobilnya berhenti!" seru Lala tiba-tiba, menepuk pundak Arash dengan heboh menggunakan telapak tangan dinginnya.

Arash langsung refleks menarik tuas rem kuat-kuat.

Berjarak sekitar seratus meter di depan mereka, sedan hitam milik Devano tampak berhenti di sebuah halaman luas yang tidak terawat.

Tanpa membuang waktu, Arash segera mematikan mesin motornya agar suaranya tidak mengundang perhatian.

Dia menuntun motor *sport* hijaunya mundur beberapa meter, menyembunyikannya di balik rindangnya sebuah pohon beringin tua yang sangat besar dari kejauhan.

Dari posisi tersembunyi itu, Arash melepas helmnya, mengedarkan pandangan penuh selidik ke arah titik pemberhentian Devano.

Rumah yang didatangi oleh Devano ternyata adalah sebuah bangunan rumah tua bergaya kolonial Belanda yang sudah sangat terbengkalai.

Dinding-dinding temboknya yang tebal tampak retak-retak, ditumbuhi lumut kerak hitam, dan sebagian atapnya sudah runtuh dimakan usia.

Jendela-jendela kayunya yang besar tampak lapuk dan tertutup rapat, memberikan kesan mistis yang sangat kental.

Tempat itu terlihat sangat seram, sunyi, seolah-olah waktu telah berhenti berputar di sana selama puluhan tahun.

Arash mengernyitkan dahi.

Entah rumah milik siapa bangunan tua ini, dan untuk apa seorang siswa berprestasi seperti Devano mendatangi tempat sekosong dan sekeramat ini di siang bolong, dalam kondisi membolos sekolah pula.

Rasa penasaran di benak Arash kini semakin membesar, bercampur dengan adrenalin yang meledak-ledak di dalam dadanya.

Dari balik pohon besar dan rindang itu, Arash terus menajamkan pandangannya.

Dari pintu mobil sedan hitam yang terbuka, Arash melihat Devano tidak turun sendirian. Cowok itu dituntun oleh kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah tua tersebut.

Kondisi Devano tampak sangat memprihatinkan. Langkah kakinya terseret-seret, tubuhnya lemas seolah kehilangan seluruh daya hidup, dan wajah di balik kacamatanya terlihat teramat pucat bak mayat hidup.

Kedua orang tuanya memegangi lengannya erat-earat, setengah memapah anak mereka agar bisa berjalan menembus pintu kayu jati yang lapuk itu.

"Mas, jangan masuk. Tunggu di sini aja," kata Lala tiba-tiba, menarik ujung jaket denim Arash untuk mencegah cowok itu melangkah lebih jauh.

"Kalau di sini, kita gak bisa tahu dia kesana ngapain, La," bisik Arash, bersiap memosisikan tubuhnya untuk mengendap-endap mendekati jendela samping rumah kolonial tersebut.

"Tapi Mas, di sana serem banget. Energinya bikin aku merinding, padahal aku udah jadi hantu," rajuk Lala, wajah cantiknya yang pucat terlihat sangat cemas.

"Tapi—"

"Buahahahaa!"

Belum sempat Arash menyelesaikan kalimatnya, sebuah tawa menggelegar dan berat mendadak menyentak keheningan tempat itu.

Suara tawa tersebut begitu besar hingga getarannya terasa sampai ke dada Arash, membuat dedaunan di atas kepala mereka bergemerisik hebat.

Arash dan Lala kompak tersentak. Mereka berdua refleks mendongak ke atas, menatap ke arah dahan-dahan besar pohon beringin tempat mereka bersembunyi.

"Ngapain kalian di sini?" tanya sebuah suara lantang yang terdengar bergaung.

Dari balik rimbunnya dedaunan dan lilitan akar gantung yang gelap, sebuah sosok hitam dan besar perlahan menampakkan diri.

Ukurannya berkali-kali lipat dari manusia normal, dengan sepasang mata merah menyala yang menatap tajam langsung ke arah Arash.

Mahkluk itu seolah bersembunyi di balik kegelapan pohon rindang tersebut sejak tadi, mengawasi gerak-gerik mereka.

‘Allahuakbar, Ya Allah Ya Rabb, lindungi hamba Mu ini Ya Allah.’

Arash menelan saliva dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang. Sebagai anak indigo, dia sudah sering melihat mahluk halus, tetapi berhadapan langsung dengan sosok penjaga tingkat tinggi di tempat sekeramat ini tetap saja menguji nyalinya.

"Kamu sudah punya pegangan, kenapa kesini? Mau tukar tambah?" tanya makhluk itu lagi, suaranya terdengar meremehkan sekaligus penasaran.

Jari hitamnya yang besar menunjuk ke arah Lala yang sedang melayang ketakutan di dekat pundak Arash.

Pegangan? Tukar tambah?

Otak Arash berputar cepat, mencerna setiap kata yang diucapkan oleh mahluk bermata merah tersebut.

Kombinasi antara kondisi Devano yang lemas pucat, kedatangan orang tuanya secara rahasia, dan istilah 'tukar tambah' dari mahluk halus langsung memicu satu kesimpulan ekstrem di kepalanya.

"M—maksudnya pesugihan?" tebak Arash, suaranya sedikit bergetar. "I—ini tempat pesugihan?"

"Hahahahaa! Menurutmu tempat apa, cah bagus?" Tawanya kembali menggelegar, membuat Lala refleks bersembunyi di belakang punggung tegap Arash.

"Aura mu bersih, terang, kenapa kesini? Jangan macem-macem le, nanti kamu bisa tersesat dan tidak bisa pulang."

"Maaf Mbah, saya gak ada niat macam-macam. Saya hanya mengikuti teman saya yang masuk ke dalam sana," jelas Arash,

mencoba bersikap sesopan mungkin agar tidak memancing kemarahan penunggu pohon tersebut, meskipun dalam hati dia sebenarnya sangat gemetaran.

"Teman? Dia?"

Makhluk hitam besar itu mengarahkan telunjuknya yang berkuku panjang ke arah Lala yang mengintip takut-takut dari balik bahu Arash.

Lala yang merasa ditunjuk langsung mengibaskan kedua tangannya dengan heboh di udara.

"Eh eh eh, bukan! Bukan aku, Om! Tapi itu tuh, manusia yang tadi bawa mobil hitam!"

"Lalu kamu siapa nya?" tanya makhluk itu lagi, beralih menatap Lala penuh selidik.

Mendapat pertanyaan itu, jiwa 'cegil' Lala mendadak aktif tanpa memandang situasi.

Dia langsung membenarkan posisi berdiri melayangnya, menangkupkan kedua tangan di pipi pucatnya, lalu tersenyum malu-malu kucing ke arah makhluk besar di atas pohon.

"Saya pacarnya di surga nanti, Om,"

Arash langsung mendengus jengkel, menepuk jidatnya sendiri mendengar jawaban ngawur dari hantu cewek di sampingnya.

Sementara itu, makhluk bermata merah di atas dahan justru tertawa terbahak-bahak, merasa terhibur dengan kelakuan ajaib roh transparan berbaju hitam tersebut.

"Mbah, saya dapet dia juga hasil nemu di jalanan. Gak tahu kenapa dia ngintilin saya terus sampai ke sekolah," kata Arash ketus, melirik tajam ke arah Lala yang masih memasang wajah sok imut.

"Masss, kamu jahaattt banget ih!" Lala langsung cemberut, membuat drama seolah dirinya adalah pihak yang terzalimi di tengah hutan belantara ini.

"Diem deh, La. Ini serius. Aku mau nanya soal Devano!" bisik Arash ketat, memberikan kode agar Lala berhenti bercanda.

Lala langsung berdeham, mencoba kembali ke mode serius meskipun masih melayang naik-turun.

"Oh iya, kembali ke topik awal. Om kenal sama orang-orang yang di dalam mobil tadi gak?" tanya Lala, menengadah menatap makhluk besar itu.

"Mereka cukup sering datang kemari. Aku, sebagai penjaga pintu gerbang rumah ini, cukup hafal dengan wajah siapa saja yang sering datang menukar nasibnya di sini," jawab makhluk itu dengan nada suara yang memberat, memberikan konfirmasi tidak langsung tentang praktik gelap yang terjadi di dalam bangunan kolonial tersebut.

Lala mengangguk-angguk paham, lalu dengan wajah polosnya dia berseru, "Ohhh, jadi Om itu semacam satpam di sini ya?"

Celetukan spontan dari Lala seketika membuat Arash melongo jengah di tempatnya berdiri. Dia hanya bisa membatin pasrah,

‘Ya Allah, ini setan beneran gak ada harga dirinya sama sekali, mahluk sekuno itu dibilang satpam.’’

Arash bersiap menahan napas, khawatir penunggu beringin itu akan murka karena harga dirinya dijatuhkan oleh hantu amnesia bermulut cempreng bernama Lala.

1
Rosy
gemblengannya di mulai besok saja kyai.. sekarang Arash lagi di tungguin sama hantu cegil yg lagi mau curhat 🤭🤭
Rosy
kenapa pake di perjelas segala sih mom...ngeri banget bayanginnya 😭😭😭😭
Rosy
astaghfirullah ternyata Lala lagi ngobrol sama pocong 😭😭🤣🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
yah Arash mau belajar lagi, Lala pasti merasa dibohongi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
eh pocongnya kenapa gak bisa bebas ya 🤔
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Wah Lala nangkring sama mas pocong 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
La diajak jadian tuh 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kau sedang cemburu kah La 🤔🤣
Halimah
Siapa lg nih pocong...Kyk y perlu disekametin jg.
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
walaupun sama² hantu,,,
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅
Vike Kusumaningrum 💜
Siap² Rash, Lala ngambek nanti. pasti katanya kamu menghindar dan ingkar janji 🤭
Vike Kusumaningrum 💜
🤣🤣🤣 siapa nih dulunya 🤣🤔🤭🤭
Vike Kusumaningrum 💜
pocong 🤣🤣🤣🤣🤣😭
Vike Kusumaningrum 💜
Cemburu la ? 🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
heh Lala,,knp kamu ngagetin Arash🫵🫵🫵

bisa kan,,,sapa,,

Assalamualaikum dlu😅😅😅
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
ayooohh Arash,,,banguuunnnn
suci nurfarida
cerita yang menarik dan unik dengan latar belakang spritual, menegangkan, lucu
HR_junior
eee alah JD PD di jadiin tumbal ya..Fira juga ya
HR_junior
knp LG Lo..apa si Fira juga korban ibunya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!