NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Sang Penguasa

Belenggu Janji Sang Penguasa

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mafia / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Redblue Vixx

Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Gudang Pelabuhan

Pagi itu kabut masih tebal menyelimuti kawasan pelabuhan tua di pinggir Milan. Udara dingin berbau air laut, minyak pelumas, dan kayu lapuk. Di balik tumpukan peti besar yang berderet sepanjang dermaga, sebuah mobil van abu‑abu berhenti jauh dari pandangan. Pintu geser terbuka pelan, Axel dan Leonardo melangkah turun mengenakan jaket tebal dan topi tertutup, berbaur dengan pekerja pelabuhan yang mulai beraktivitas.

“Lihat sana,” bisik Leonardo sambil menunjuk bangunan gudang berukuran raksasa di ujung dermaga. “Itu lokasi yang dilaporkan. Riccardo biasanya masuk lewat pintu samping agar tak mudah terlihat.”

Axel mengamati sekeliling lekat‑lekat. Matanya tajam, mencatat setiap sudut, setiap orang yang lewat. “Ada penjaga di depan dan belakang. Dua orang bersenjata di dekat pintu utama.”

“Siap,” sahut Leonardo. “Kita lewat jalur samping, menaiki tangga besi tua di sisi timur. Dari balkon atas kita bisa melihat seluruh isi gudang tanpa terdeteksi.”

Mereka bergerak cepat namun tenang, menyelinap di balik bayangan peti‑peti barang besar. Kabut masih cukup tebal untuk menutupi gerak‑gerik mereka. Sesampainya di tangga besi berkarat itu, Axel berhenti sesaat mendengar suara mobil sport melaju pelan mendekat.

“Dia datang,” desisnya pelan.

Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pintu samping gudang. Pintu terbuka, turunlah seorang pria berperawakan tegap, wajah tampan namun ada kilat dingin di matanya. Persis deskripsi Livia tentang Riccardo. Di belakangnya turun dua orang pengawal berbadan besar, diikuti sosok yang tak disangka: Giancarlo.

“Jadi dia benar‑benar ikut terlibat langsung,” gumam Axel dalam hati, menahan amarah yang mulai meluap.

Mereka segera naik ke balkon atas, bersembunyi di balik tumpukan papan tua yang berserakan. Dari celah‑celah papan itu, seluruh isi gudang terlihat jelas di bawah sana. Di tengah ruangan luas berlantai semen terbentang peta kota besar lengkap tanda lingkaran merah di lokasi‑lokasi strategis milik keluarga Alexander. Di sebelahnya menumpuk berkas‑berkas dokumen asli maupun palsu yang disusun rapi.

Riccardo berdiri di tengah, bicara dengan nada lantang dan penuh wibawa.

“Kerja sama dengan mitra‑mitra baru berjalan mulus. Semua sudah disiapkan untuk malam pengumuman besar dua minggu lagi,” katanya sambil menunjuk peta. “Begitu acara dimulai, kita sebarkan bukti ‘kejahatan’ masa lalu mereka, sekaligus bocorkan data keuangan yang sudah dipalsukan sedemikian rupa. Nama baik Alexander akan runtuh seketika.”

Giancarlo mengangguk antusias, meski wajahnya terlihat sedikit gelisah. “Semua sudah kami atur agar tak ada jejak yang mengarah ke kita. Elena sudah memastikan tak ada saksi yang berani bicara.”

Riccardo tersenyum dingin. “Bagus. Begitu mereka jatuh, seluruh aset yang terlingkar di sini akan jatuh ke tangan kita. Dan kau akan mendapat bagian yang pantas, Giancarlo. Asal jangan sampai kau atau putrimu lengah sedikit pun.”

“Tentu saja,” jawab Giancarlo cepat. “Kami tahu risikonya.”

Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki lain mendekat dari pintu belakang. Seorang pria bertubuh kecil, wajah tertutup topi lebar, menyerahkan amplop tebal pada Riccardo.

“Ini laporan terbaru dari dalam kediaman mereka,” ucap orang itu pelan. “Axel dan anak buahnya kemarin pergi jauh ke utara, tak pulang sampai larut malam. Kemungkinan besar mereka mulai mencium sesuatu.”

Riccardo mengambil amplop itu, membuka dan membaca isinya sekilas. Senyumnya makin melebar.

“Ternyata mereka lebih cepat dari dugaanku. Tak apa,” katanya santai, lalu menoleh ke arah Giancarlo. “Kalau mereka sudah mulai curiga, kita percepat rencana. Kita tak tunggu dua minggu lagi. Serangan besar dilancarkan lima hari lagi, tepat saat mereka lengah dan persiapan acara belum tuntas.”

Giancarlo tampak terkejut. “Begitu cepat? Apakah sudah cukup siap?”

Riccardo menatapnya tajam. “Siap atau tidak, itu keputusanku. Semakin lama menunggu, semakin besar risiko rencana terbongkar. Ingat, Elena juga harus segera menyelesaikan tugas terakhirnya soal adik‑adik wanita itu. Mereka titik lemah terbesar Alexander sekarang.”

Di balkon atas, darah Axel mendidih mendengar itu. Tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Leonardo segera meremas bahu Axel memberi isyarat tenang, tak boleh bertindak ceroboh sekarang.

Pembicaraan berlanjut sebentar lagi soal detail penyebaran berita bohong, penyuapan saksi, hingga cara memanipulasi transaksi bank. Semakin lama mereka mendengarkan, semakin jelas betapa rumit dan berbahayanya jaringan yang dibangun Riccardo selama bertahun‑tahun.

Tak lama kemudian Riccardo memberi isyarat pertemuan usai. Semua orang bergegas keluar gudang satu per satu, mobil mereka pun perlahan menjauh meninggalkan pelabuhan.

Setelah keadaan sepi kembali dan hanya terdengar suara ombak di kejauhan, Leonardo menoleh ke arah Axel.

“Mereka mempercepat jadwal. Kita tak punya banyak waktu lagi.”

Axel mengangguk mantap, napasnya mulai tenang kembali meski matanya masih menyimpan amarah besar. Ia menunjuk berkas‑berkas yang tertinggal sedikit di sudut meja besar di bawah sana.

“Lihat itu. Masih ada dokumen yang tak sempat mereka bawa. Kita ambil secepatnya sebelum ada yang kembali.”

Mereka segera turun dengan hati‑hati, melintasi lantai gudang yang berdebu dan penuh jejak ban kendaraan. Di meja besar itu tergeletak beberapa lembar rencana rinci jadwal serangan, daftar nama saksi yang disiapkan, hingga salinan surat perintah palsu. Semuanya dimasukkan cepat ke dalam tas kecil yang dibawa Leonardo.

Saat hendak beranjak pergi, Axel berhenti sejenak menatap peta yang belum dilipat. Ia menyadari satu hal penting. Rencana Riccardo tak cuma menghancurkan nama baik, tapi juga berniat melukai fisik anggota keluarga Alexander, terutama saat puncak acara nanti. Bahaya nyata sudah di depan mata.

“Kita harus segera pulang dan bicara dengan semua pihak,” kata Axel serius. “Ayranza dan kedua adiknya jadi sasaran utama. Kita harus memperketat perlindungan luar biasa mulai sekarang.”

Baru saja mereka melangkah menuju pintu keluar, terdengar suara gerendel pintu utama bergerak perlahan. Ada orang yang kembali masuk mendadak. Tanpa pikir panjang, mereka segera bersembunyi di balik tumpukan peti besar di sudut paling gelap ruangan.

Dua orang penjaga masuk membawa obor kecil, berjalan keliling memeriksa keadaan. Salah satu berhenti tepat tak jauh dari tempat persembunyian mereka.

“Tadi Tuan Riccardo sempat bilang ada kemungkinan penyusup,” gumamnya pelan sambil mengamati sekeliling. “Pastikan tak ada yang tertinggal atau terlihat mencurigakan.”

“Tenang saja,” jawab kawannya. “Tak ada yang berani masuk ke gudang ini sembarangan. Kecuali kalau mau nyawa taruhannya.”

Mereka berjalan pelan makin dekat. Napas Axel dan Leonardo tertahan. Hanya berjarak beberapa langkah saja, bahaya tertangkap sangat nyata. Namun untunglah, setelah berkeliling sebentar tanpa menemukan apa‑apa, kedua penjaga itu akhirnya keluar kembali dan mengunci pintu gudang rapat dari luar.

Setelah suara langkah kaki hilang benar‑benar, Axel dan Leonardo baru berani bernapas lega. Mereka segera mencari jalan keluar lain lewat lubang ventilasi besar di dinding belakang yang sudah diperiksa sebelumnya.

Di perjalanan pulang menuju kediaman Alexander, suasana di dalam mobil hening namun penuh ketegangan. Leonardo menyetir dengan fokus tinggi, sesekali melirik kaca spion memastikan tak ada yang mengikuti. Axel duduk di kursi belakang, membaca ulang dokumen yang berhasil dibawa sambil menyusun strategi balasan baru dalam kepalanya.

Sesampainya di kediaman sore hari itu, Ayranza sudah menunggu di teras depan dengan wajah cemas. Begitu melihat mereka turun dari mobil, ia segera bergegas mendekat.

“Bagaimana keadaannya? Apakah aman?” tanyanya cepat.

Axel mengangguk sekilas, namun wajahnya masih serius sekali. “Aman. Tapi kita punya kabar penting dan buruk sekaligus.”

Mereka segera masuk ruang kerja utama tempat Daddy Xavier, Mommy Xena, Angga, dan Arshen sudah berkumpul menunggu. Di sana Axel menceritakan hasil pengintaian secara rinci. Mulai pertemuan Riccardo dengan Giancarlo, percepatan jadwal serangan menjadi lima hari lagi, hingga rencana licik yang menyasar keselamatan mereka sekeluarga.

Setelah selesai bercerita, ruangan itu hening sejenak. Arshen merapatkan diri ke sisi Ayranza, wajahnya pucat mendengar bahaya yang makin dekat. Angga mengepalkan tangannya kuat‑kuat, matanya berkilat marah namun berusaha tenang.

“Kalau begini keadaannya,” kata Daddy Xavier akhirnya memecah keheningan, “kita tak bisa lagi hanya mengandalkan keamanan biasa. Kita butuh perlindungan ekstra dan juga cara membalikkan keadaan secepatnya.”

Axel mengangguk mantap, lalu menatap mereka satu per satu dengan tekad yang bulat.

“Benar. Lima hari lagi akan menjadi pertarungan besar yang menentukan segalanya. Kita akan biarkan Riccardo merasa dirinya hampir menang, tapi sesungguhnya kita sudah menyiapkan jebakan rapi yang tak bisa ia hindari. Dan kali ini takkan ada lagi tempat bersembunyi baginya maupun sekutunya.”

Ayranza menatap Axel lekat‑lekat, merasakan ketenangan yang tumbuh dari tekad kuat itu meski bahaya makin nyata. Di dalam hatinya, ia tahu benar: perjalanan panjang mereka menuju kebenaran dan keamanan hampir sampai di puncaknya. Namun di sisa waktu singkat itu, mereka harus menjaga setiap langkah, setiap kata, bahkan setiap napas agar rencana itu berjalan sempurna.

Di kejauhan, langit Milan mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Sore itu menandai dimulainya hitungan mundur lima hari yang penuh bahaya sekaligus harapan besar.

 

1
KZ2
Kenapa yang Black Eagle di hapus?
KZ2: Siap beb👍🏻
total 2 replies
Fahri Purba
smangt bossqueee.
Fahri Purba
mkanya jjur kw xavier biar gk lari binimu.
Murni Caem
🌟🌟🌟🌟🌟
Murni Caem
jahat x ferguso eh salah fabrizio ini anak² pun diracuni.
Jhony
tor cpetan hlangkan sih cindy, gedek liatny.😡
Jhony
good job👍👍
ShyLvia
smbg amat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!