NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN SANDERA: MEMPELAI PENGGANTI SANG MILIARDER

PERNIKAHAN SANDERA: MEMPELAI PENGGANTI SANG MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.

Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.

Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.

Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.

Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.

Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:

Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 — Restu yang Belum Dimiliki

Jantung Naya masih berdebar tidak menentu.

Ucapan Adrian beberapa menit lalu terus terngiang di dalam benaknya.

"Kamu adalah istriku."

Kalimat sederhana itu seharusnya terdengar biasa bagi pasangan yang telah menikah. Namun bagi Naya, kata-kata tersebut terasa begitu asing sekaligus menghangatkan hati.

Sejak hari pertama memasuki rumah megah ini, yang ia terima hanyalah penolakan, tuduhan, dan tatapan dingin.

Karena itu, perubahan sikap Adrian membuatnya bingung.

Naya menundukkan kepala sambil menatap perban putih di punggung tangannya.

Luka itu masih terasa perih, tetapi entah mengapa rasa sakit di hatinya mulai berkurang sedikit demi sedikit.

Suara pintu yang tertutup membuyarkan lamunannya.

Adrian telah pergi menuju ruang keluarga untuk menemui ibunya.

Naya mengembuskan napas perlahan.

Meski pria itu mulai berubah, ia tahu jalan yang harus mereka lalui masih sangat panjang.

Terlalu banyak luka yang telah terjadi.

Terlalu banyak kesalahpahaman yang belum terselesaikan.

---

Sementara itu...

Di ruang keluarga utama, suasana terasa jauh lebih tegang.

Helena Wijaya duduk anggun di sofa utama dengan secangkir teh hangat di tangannya.

Meski usianya sudah memasuki kepala lima, aura wibawa wanita itu masih sangat kuat.

Tatapan matanya tajam.

Gesturnya tenang.

Namun siapa pun yang mengenalnya tahu bahwa Helena adalah sosok yang sangat sulit dipengaruhi.

Adrian menghentikan kursi rodanya tepat di hadapan sang ibu.

"Ibu ingin bertemu denganku?"

Helena meletakkan cangkir tehnya.

"Aku baru kembali dari acara yayasan sosial pagi ini."

"Lalu?"

"Aku mendengar banyak hal."

Adrian sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.

"Ibu ingin membahas Naya."

"Bukankah itu jelas?"

Helena menyandarkan tubuhnya ke sofa.

"Aku mendengar kau memecat Bi Sumi."

"Dia melanggar perintahku."

Helena tersenyum tipis.

"Itu alasan yang terlalu sederhana untuk seorang Adrian Amarta."

Keheningan sejenak memenuhi ruangan.

"Aku mengenalmu sejak kau lahir."

Tatapan Helena semakin tajam.

"Kau tidak pernah mencampurkan urusan pribadi dengan keputusan rumah tangga."

Adrian tidak menjawab.

Helena melanjutkan.

"Tapi sekarang kau mulai berubah karena gadis itu."

Rahang Adrian sedikit mengeras.

"Naya adalah istriku."

"Status hukum, iya."

Jawaban Helena membuat suasana semakin dingin.

"Tapi apakah dia benar-benar wanita yang pantas berada di sampingmu?"

Tatapan Adrian langsung berubah tajam.

"Ibu."

"Aku hanya mengatakan kenyataan."

Helena tetap tenang.

"Keluarga kita memiliki nama besar."

"Perusahaan kita diawasi banyak pihak."

"Lalu tiba-tiba kau menikahi seorang gadis biasa yang bahkan tidak berasal dari keluarga terpandang."

Adrian menggenggam sandaran kursi rodanya.

"Dia tidak membutuhkan status apa pun untuk mendapatkan penghormatanku."

Kalimat itu membuat Helena terdiam sesaat.

Sudah lama ia tidak melihat putranya membela seseorang seperti ini.

Dan hal itu justru membuatnya semakin penasaran.

"Kalau begitu aku ingin mengenalnya."

Adrian menatap ibunya.

"Maksud Ibu?"

"Bawa Naya makan malam bersama besok."

Helena berdiri perlahan.

"Aku ingin melihat sendiri wanita yang berhasil mengubah putraku."

---

Di tempat lain.

Wajah Ketrin dipenuhi amarah.

Sejak meninggalkan kediaman Amarta kemarin, emosinya belum juga mereda.

Dia masih tidak percaya Adrian berani mempermalukannya di depan para pelayan.

Semua karena Naya.

Perempuan yang menurutnya tidak memiliki apa-apa.

Brak!

Sebuah bingkai foto kembali terlempar ke lantai.

"Kau pikir kau menang, Naya?"

Tatapan Ketrin berubah gelap.

"Aku belum kalah."

Ponselnya bergetar.

Sebuah nama muncul di layar.

Arman.

Pria yang selama ini menjadi tangan kanan keluarga mereka.

Ketrin segera mengangkat panggilan itu.

"Ada apa?"

Suara Arman terdengar pelan.

"Saya sudah mendapatkan informasi yang Anda minta."

Ketrin langsung berdiri.

"Cepat katakan."

"Sebelum menikah dengan Tuan Adrian, Naya pernah bekerja di sebuah klinik kecil di pinggiran kota."

"Lalu?"

"Di sana masih ada beberapa orang yang mengenalnya."

Senyuman licik perlahan muncul di wajah Ketrin.

Sebuah ide mulai terbentuk di kepalanya.

Ide yang bisa menghancurkan reputasi Naya sekaligus mengembalikan posisi yang selama ini ia incar.

"Bagus."

Tatapannya penuh kebencian.

"Kalau begitu saatnya kita mulai permainan yang sebenarnya."

---

Malam harinya.

Naya sedang merapikan lemari pakaian ketika ponselnya bergetar.

Ia terkejut melihat nama Adrian muncul di layar.

Dengan ragu, ia menerima panggilan tersebut.

"Halo?"

"Naya."

Suara berat Adrian terdengar dari seberang.

"Iya, Tuan?"

"Aku akan pulang sedikit terlambat malam ini."

Naya terdiam.

Ini pertama kalinya Adrian memberi tahu keberadaannya.

Seolah mereka adalah pasangan sungguhan.

"Baik."

"Dan satu hal lagi."

"Apa, Tuan?"

Adrian terdiam sesaat.

"Besok malam, makan malam bersama ibuku."

Mata Naya langsung membesar.

Jantungnya kembali berdegup kencang.

"Ibu Anda?"

"Ya."

Naya menggigit bibir bawahnya.

Perasaan gugup langsung menyerangnya.

Ia belum pernah bertemu Helena Wijaya secara langsung.

Dan dari cerita para pelayan, wanita itu dikenal sangat tegas.

"Tuan..."

"Hm?"

"Bagaimana jika beliau tidak menyukai saya?"

Keheningan sesaat terdengar dari seberang telepon.

Lalu suara Adrian terdengar lebih lembut dari biasanya.

"Kalau begitu itu urusanku."

Jantung Naya kembali berdebar.

Sementara itu, jauh di luar sana, seseorang sedang menyusun rencana untuk menghancurkan hidupnya.

Dan tanpa disadari Naya...

Makan malam bersama Helena besok akan menjadi awal dari ujian terbesar yang pernah ia hadapi.

Bersambung ke Bab 9

1
falea sezi
😒 telat lu bangke
Dinatha: saya follow ya🙏
total 4 replies
Satisuci Ituaku
mksih kk
Rani Saraswaty
knp cpt bgt tau sih??? 🤭
Satisuci Ituaku: mksih udah mampir kk
total 1 replies
Rani Saraswaty
kan kaya...mudah tuh cari yg bw lari uangnya...knp repot2...seluruh kluarga bs msk sel
Satisuci Ituaku
siap kk mksih udh mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!