Alena Rahmawati tidak pernah menyangka bahwa menemukan dompet seorang pria asing di tengah bioskop tengah malam yang akan akan mengubah kehidupannya.
Demi biaya sekolah adiknya Dimas, Alena menerima tawaran aneh dari Arven Alfarizi, seorang CEO muda yang tampak memiliki segalanya. Sebagai imbalan sejumlah uang, Alena harus membuat Arven jatuh cinta kepada dirinya dalam waktu tiga puluh hari.
Awalnya semua hanya kesepakatan. Namun seiring berjalannya waktu, batas antara sandiwara dan perasaan yang sesungguhnya mulai menghilang. Saat Alena benar-benar jatuh cinta, ia baru mengetahui rahasia yang selama ini Arven sembunyikan.
Mampukah Alena membuat Arven jatuh cinta ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 ( Rahasian Yang Mulai Terbongkar )
Pagi ini Alena terbangun karena bunyi alarm dari ponselnya.
Malam tadi Alena terus memikirkan Tasya, perempuan yang kemarin ia temui itu.
Kata-kata Arven juga terus memenuhi pikiran Alena.
" Karena gue ga pernah ngeliat dia, seperti gue ngeliat seseorang "
Alena menutupi wajahnya dengan bantal.
" Kenapa sih gue mikirin hal receh kayak gini "
" Bukan urusan gue juga kan, gue cuma jalanin misi doang kan. "
Namun semakin Alena mencoba melupakan, Alena justru semakin memikirkan.
Alena kembali membuka ponselnya, namun ia tak menemui pesan Arven pagi ini.
" Tumben ga bawel pagi pagi gini "
Alena membuka room Chat nya bersama dengan Arven.
Alena mengetik sesuatu disana
Namun Alena kembali menghapusnya
Ia mengetik kembali
Kemudian menghapus nya kembali
Akhirnya ia menyerah, ia pun memilih untuk tidak mengirimkan pesan kepada Arven pagi itu.
" Lagi sibuk kali sama si Tasya itu, gue juga bisa cantik kayak dia liat aja "
Segera Alena pun bersiap-siap untuk pergi ke kampus pagi ini.
....
Nabila terus memperhatikan penampilan Alena hari ini, ia merasa ada yang aneh dari sahabatnya itu.
" Lo kesurupan? " tanya Nabila
" Engga, kenapa emang ? "
" Yaa aneh aja, biasanya seorang Alena memakai celana jeans dan kaos kesayangannya itu tiba tiba pakai kemeja dan rok. Mana warna pink pula "
" Terus ini lagi rambutnya, biasanya juga di kuncir satu semua. Ini pake di model model, lo kesambet apa sih Al ? "
Alena menghela nafasnya dengan kasar.
" Kemarin waktu gue ketemu si Arven, ada perempuan cantik banget Bil namanya Tasya "
Belum selesai Alena bercerita, Nabila sudah bisa menebak dari arti pakaian Alena hari ini.
" Alena, lo cemburu sama Tasya itu ? "
" Cemburu apaan sih, kaga cemburu gue "
" Ya kalau ga cemburu ngapain coba lo berubah begini ? "
Nabila tertawa, melihat raut wajah Alena yang sulit ia artikan saat ini.
" Lo itu suka sama dia Alena "
" Engga, gue ga suka sama dia "
" Ya mulut lo bilang engga, tapi hati Lo ? "
Alena diam
" Gue ga boleh suka sama dia Nabila, ga boleh sama sekali "
Alena pun kembali teringat akan perjanjiannya dengan Arven..
...
Setelah selesai kampus, Alena dengan segera mencari Arven di kantornya.
Alena tidak bisa menghubungi Arven, sebab ponselnya mati saat ini.
Saat Alena masuk, disana hanya ada Bayu sekretaris Arven.
" Mas Bayu, Arven kemana ? " tanya Alena
" Lagi kerumah sakit sih Al "
" Emang ga chat kamu ? " tanya Bayu sambil mendekat
" Hp saya mati Mas, emang Arven sakit apa ? "
" Kalau soal itu kamu tanya langsung aja ya, saya takut salah "
" Rumah sakit mana Mas ? Biar saya kesana ? "
" Rumah sakit Pelita Harapan sepertinya "
" Yaudah Mas, saya kesana deh "
Dengan segera Alena pun pergi untuk mencari keberadaan Arven.
Bayu tau jika Alena akan menjadi satu-satunya alasan Arven untuk bertahan, Bayu pun memutuskan untuk memberitahu dimana Arven berada.
...
Ditangan Arven saat ini ada sebuah map berisi hasil pemeriksaan dirinya.
Ucapan Reza terus memenuhi pikiran Arven.
" Kankernya udah nyebar Ar "
" Pasien dengan kondisi seperti ini, udah ga ada harapan Ar buat sembuh "
" Tapi lo bisa bertahan Ar, gue yakin lo bisa "
Arven mengusap wajahnya dengan kasar..
Disebuah lobby rumah sakit, pria itu duduk sendirian sambil memikirkan nasibnya.
Alena yang tiba dirumah sakit langsung mencari keberadaan Arven, saat ia masuk kedalam lobby kedua matanya menangkap sosok Arven yang sedang duduk sendirian disana.
Alena tidak berlari..
Ia hanya berjalan mendekatinya..
Itu bukan Arven yang Alena kenal seperti biasa..
" Arven, lo ngapain disini ? "
Arven terkejut saat melihat Alena..
Buru-buru Arven menyembunyikan map yang ada ditangannya.
" Lo.. Lo ngapain disini Alena ? "
" Tadi gue ke kantor lo, tapi katanya lo kerumah sakit "
Alena melihat wajah Arven yang sedikit pucat..
Bukan seperti Arven yang berwajah dingin..
Bukan pria yang tersenyum santai..
Tapi Alena melihat Arven yang merasa sedang putus asa..
Alena duduk disamping Arven, memperhatikan raut wajah pria itu
" Lo sakit apa ? " Alena memegang kening Arven
" Lo keringat dingin Arven "
Alena mengeluarkan saku tangan miliknya, dan mengusap kening Arven yang berkeringat.
Jagung Arven pun berdebar dengan kencang, dari jarak cukup dekat seperti ini Arven bisa mencium aroma parfum Alena
" Lo ga harus kesini Alena "
" Gue khawatir sama lo Arven "
Arven terdiam..
" Lo ga harus cerita sekarang ko "
" Tapi gue berharap suatu hari lo percaya sama gue "
Untuk beberapa detik, tidak ada percakapan diantara keduanya.
Arven tersenyum kecil.
" Lo terlalu baik buat gue, Alena "
Alena menoleh, ia merasakan ada sesuatu yang menusuk dadanya.
....
Sejak pulang tadi Alena terus memikirkan Arven..
Alena tidak mengerti maksud dari ucapan Arven tadi.
" Sakit apa sih dia ? "
" Kenapa dia ga mau cerita sama gue ? "
Ditengah kacaunya pikiran Alena, ia dikejutkan oleh bunyi notif dari ponselnya.
[Arven : Jangan khawatir, gue ga apa apa ]
[Arven : Misi lo itu bikin gue jatuh cinta, bukan khawatir soal gue]
[Arven : Masih ada 24 hari lagi Alena]
[Arven : Ingat, jangan jatuh cinta sama gue atau misi lo itu gagal ]
Alena cukup lama membaca pesan itu, bahkan ia sendiri tak tau harus membalas apa saat ini.
...
Dikamarnya Arven sedang memandangi kalender yang sudah ia coret pagi tadi..
Diatas meja kerjanya, ada hasil yang enggan ia lihat kembali.
Ponsel Arven mendapatkan notifikasi pesan masuk
Arven pun membuka ponselnya, ia melihat beberapa pesan masuk dari Alena.
[Alena : Nilai gue hari ini berapa ?]
[Alena : Gue udah effort hari ini asal lo tau]
[Alena : Sampai gue dibilang kesurupan sama temen gue, karena gue pakai kemeja dan rok]
[Alena : Yaa mungkin lo suka sama cewe feminim kayak Tasya]
Tanpa Arven sadari ia tersenyum lebar membaca pesan pesan dari Alena.
[Arven : Masih cemburu ternyata]
Tak sampai satu detik Alena membalasnya
[Alena : Gue ga bilang cemburu]
Arven pun kembali membalas
[Arven : Nilai lo 2/10]
Arven tau pasti perempuan itu akan marah marah kali ini.
[Alena : Gue bakar kantor lo besok ya]
[Arven : Hahaha, Lo dapet nilai spesial hari ini.]
[Alena : Oke ga jadi gue bakar kantor Lo ]
Arven tertawa begitu lepas..
Ia pun membuka galer ponselnya, ia melihat foto-foto Alena yang ia ambil secara diam diam..
" Jangan jatuh cinta sama cowok kayak gue Alena, lo cuma bakal sakit hati ".
Arven tak tau menjelaskan perasaannya seperti apa saat ini.
Yang ia tau, Alena mampu membuat jantungnya terus berdebar dengan kencang.
Bahkan Arven selalu menunggu Alena datang menemui dirinya setiap hari.
" Sepertinya, lo berhasil Alena.. "
" Tapi gue takut.. "