Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.
Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.
Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Ketika Pintu Terbuka
Dan malam itu, dengan langkah yang sudah ia siapkan sejak lama, Alden akhirnya benar-benar bersiap menuju rumah yang selama ini hanya hidup di dalam bayangan dan harapannya.
Mobil yang membawa mereka akhirnya melaju pelan meninggalkan halaman homestay.
Sepanjang perjalanan, Alden menatap jalan di depannya tanpa benar-benar melihat. Sorot matanya tajam, tetapi kosong, seolah pikirannya berada di tempat yang jauh.
Tangannya yang terlipat di atas paha bergetar halus.
Di dalam dadanya, segala hal bercampur menjadi satu. Takut, cemas, malu, dan rindu membentuk beban yang sulit ia urai bahkan dengan napas panjang sekalipun.
Semakin mobil melambat, semakin kuat pula debar di dadanya.
Hingga akhirnya kendaraan itu berhenti di tepi jalan, tepat di depan sebuah rumah berwarna putih yang tampak rapi dan asri. Halamannya dipenuhi tanaman bunga yang tertata sederhana namun terawat.
Alden menatap papan nama di depan rumah itu.
~Catering Bu Rahayu~
Seketika napasnya tertahan.
Dunia di sekelilingnya terasa mengecil.
Tangan yang tadi hanya bergetar kini diam tak bergerak, seolah tubuhnya lupa bagaimana cara merespons.
Ini bukan lagi bayangan. Bukan lagi cerita yang ia dengar dari jauh.
Ini nyata.
Rumah itu ada di depannya.
Dan di dalamnya... Anjani mungkin sedang berada di sana.
Alden menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan, berusaha menenangkan detak jantungnya yang terasa seakan ingin meledak di dalam dada.
Ia menoleh ke arah Pak Armanto di sampingnya, seolah mencari kekuatan dan keyakinan.
Pak Armanto mengangguk pelan, memberi isyarat bahwa ia ada di sana, mendukung langkah dan keputusan putranya.
Dengan gerakan sedikit gemetar, Alden meraih topi tadi yang sudah disiapkannya. Ia memakainya perlahan, menutupi rambutnya yang baru tumbuh halus, seakan mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang masih tersisa dalam dirinya.
"Papa sama Ibu tunggu di sini saja," ucap Alden pelan, namun nadanya terdengar lebih mantap dari biasanya.
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan tatapan yang tidak goyah.
"Alden mau masuk sendiri. Mau bicara berdua saja sama dia."
Pak Armanto mengangguk pelan, lalu menepuk punggung tangan anaknya dengan penuh dukungan.
"Pergilah, Alden. Kami tunggu di sini. Lakukan apa yang harus kamu lakukan. Ingat janjimu, jaga emosimu."
Alden tersenyum tipis, hampir tak terlihat, lalu mengangguk kecil.
"Baik, Pa."
Dengan gerakan perlahan, ia membuka pintu mobil.
Udara malam langsung menyambutnya. Lebih dingin dari yang ia duga, atau mungkin hanya terasa begitu karena ketegangan yang sedang ia bawa.
Satu langkah.
Lalu langkah berikutnya.
Tanpa menoleh lagi ke belakang, Alden mulai berjalan menuju pintu rumah berwarna putih itu. Di baliknya tinggal seseorang yang selama bertahun-tahun tak pernah benar-benar pergi dari hatinya. Seseorang yang kini akan ia temui lagi setelah sekian lama, melalui sebuah ketukan yang mungkin akan menentukan segalanya.
Sebuah perasaan asing menyelimutinya.
Rasa takut kehilangan, padahal belum benar-benar memiliki.
Rasa takut ditolak, padahal ia datang hanya untuk meminta maaf.
Dengan kaki yang sedikit gemetar, Alden melangkah memasuki halaman rumah yang tidak terlalu luas itu.
Langkahnya berhenti di teras. Di sana ia berdiri sesaat, menarik napas panjang sebelum akhirnya mengangkat tangan dan menekan tombol bel di samping pintu.
Ding dong...
Suara bel itu menggema pelan di tengah keheningan malam.
Setelahnya, tidak ada apa-apa selain sunyi yang terasa semakin panjang.
Alden berdiri kaku di depan pintu, sementara cahaya lampu teras berwarna kuning hangat jatuh lembut di sekelilingnya. Cahaya itu menerangi sebagian wajahnya, namun tidak mampu meredakan gelisah yang terus bergerak di dalam dada.
Telapak tangannya mulai berkeringat.
Ia diam-diam mengusapnya pada sisi celana, lalu menarik napas perlahan.
Tidak membantu.
Jantungnya justru berdetak semakin cepat dan tidak teratur.
Selama ini ia selalu berpikir bahwa bagian tersulit adalah menemukan Anjani.
Ternyata ia salah.
Bagian tersulit justru berdiri di depan pintu ini, menunggu seseorang dari masa lalu membuka jarak yang telah terbentuk selama sembilan tahun.
Berbagai kemungkinan mulai bermunculan di kepalanya.
Bagaimana jika yang membuka pintu bukan Anjani?
Bagaimana jika Anjani menolak menemuinya?
Bagaimana jika wanita itu menatapnya dengan kebencian yang selama ini pantas ia terima?
Atau lebih buruk lagi...
Bagaimana jika Anjani sudah tidak merasakan apa pun selain asing?
Pikiran itu membuat dadanya terasa semakin sesak.
Alden menelan ludah pelan.
Keraguan dan rasa takut mulai muncul membuatnya berpikir untuk berbalik dan kembali ke mobil.
Namun kakinya tetap bertahan di tempat.
Karena setelah semua yang telah ia lalui untuk sampai ke sini, ia tahu dirinya tidak mungkin mundur lagi.
Apa pun yang menunggunya di balik pintu itu, ia harus menghadapinya.
Dan tepat saat pikiran itu melintas, terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah, mendekat perlahan ke arah pintu.
Klik.
Gagang pintu bergerak.
Pintu itu terbuka perlahan.
Dan di sana...
Anjani berdiri.
Wanita yang kini berdiri di hadapan Alden tampak jauh lebih cantik, lebih dewasa, dan lebih anggun dibandingkan bayangan terakhir yang tersimpan di ingatannya bertahun-tahun lalu.
Wajahnya masih sama. Mata bening itu masih sama. Namun ada ketenangan dan kedewasaan yang kini melekat di setiap rautnya, seolah waktu telah membentuknya menjadi seseorang yang berbeda sekaligus tetap familiar.
Ia mengenakan daster sederhana bermotif bunga, dengan rambut panjang tergerai lembut di bahu, memberi kesan hangat sekaligus bersahaja.
Saat mata mereka bertemu, waktu seolah berhenti.
Dunia di sekitar mereka mendadak sunyi.
Senyum sopan yang tadi terlukis di wajah Anjani perlahan menghilang. Rautnya berubah kaku, lalu pucat dalam hitungan detik ketika perlahan sadar siapa tamu yang berdiri di hadapannya.
Matanya membesar, seakan tidak percaya pada apa yang sedang dilihatnya. Bibirnya sedikit terbuka, mencoba mengucap sesuatu, namun tidak ada suara yang keluar.
Ia menatap pria di hadapannya itu lebih lama, lebih dalam. Menelusuri setiap detail wajahnya, setiap garis yang mungkin pernah ia kenal, seolah sedang memaksa dirinya sendiri untuk yakin bahwa ini bukan ilusi.
Dan dengan suara lirih yang hampir runtuh, ia akhirnya memanggil,
"Al... Alden?"
Suara itu akhirnya keluar, pelan dan ragu, seolah ingin memastikan bahwa yang dilihatnya bukan sekadar bayangan.
Nada itu membawa pertanyaan yang tertahan, benar kah orang di hadapannya ini Alden, atau hanya seseorang yang kebetulan mirip di antara banyak kemungkinan yang tak lagi ia harapkan?
Mendengar namanya disebut dari bibir orang yang dirindukannya selama ini, membuat langkah Alden yang sudah rapi sejak tadi terasa goyah di dalam dirinya sendiri.
Ia ingin maju, tapi tidak.
Yang ia lakukan hanya berdiri, menahan diri di tempat yang sama.
"Halo, Jani," jawabnya akhirnya. "Apa kabar?"
Sederhana. Terlalu sederhana untuk menanggung jarak bertahun-tahun di antaranya.
Anjani masih tidak bergerak.
""Aku nggak salah lihat, kan?" tanyanya lagi, kali ini lebih hati-hati, seperti takut jawaban yang salah akan mengubah sesuatu secara permanen.
Alden mengembuskan napas pelan.
"Sayangnya nggak."
Ia tersenyum tipis.
"Ini benar-benar aku."
Ia menambahkan pelan, hampir seperti kebiasaan lama yang muncul tanpa sadar.
"Aldenbashra Gavinda."
Ia menyebut nama lengkapnya pelan, meyakinkan Anjani jika yang berdiri didepannya adalah dirinya.
Nama itu sama sekali tidak membawa kehangatan. Hanya kepastian bahwa masa lalu benar-benar kembali berdiri di sini.
Dari sana, perubahan di wajah Anjani mulai terasa lebih jelas.
Bukan hanya terkejut, tapi menutup diri sedikit demi sedikit.
Tatapan itu membuat dada Alden terasa sesak.
Kenangan bertahun-tahun lalu seperti diputar ulang di kepala Anjani. Rasa sakit, kecewa, dan luka yang dulu pernah ia tinggalkan tanpa sempat benar-benar ia jelaskan.
"Kenapa?" suara Anjani mulai berubah, lebih tegas, lebih dingin.
"Kenapa kamu datang ke sini? Apa maksud kamu tiba-tiba muncul setelah..." ia berhenti sejenak, menahan emosi yang mulai naik, "setelah bertahun-tahun tanpa kabar?"
Pertanyaan itu jatuh seperti tamparan yang pelan tapi dalam.
Alden tidak langsung menjawab.
Matanya sempat turun, sebelum kembali lagi pada Anjani.
"Aku datang untuk menyelesaikan sesuatu yang belum selesai."
Kalimat itu membuat alis Anjani sedikit mengernyit.
"Belum selesai apa?"
Nada suaranya masih tenang, tapi ada sesuatu yang sudah lama terkunci mulai bergerak di baliknya.
Ia menatap Alden lebih tajam.
"Kamu sendiri kan yang bilang, kalau kamu nggak mau lagi ada hubungan apa pun sama aku," lanjutnya pelan, suaranya mulai bergetar.
"Kamu muak... karena aku ganggu hidup kamu."
Ia berhenti sebentar.
"Itu kan keinginan kamu?" lanjut Anjani pelan, suaranya mulai bergetar.
"Aku sudah turutin itu. Aku nggak pernah ganggu kamu lagi."
Kalimat terakhirnya turun lebih lirih, tapi justru terasa lebih berat.
Bukan karena takut, melainkan karena emosi yang perlahan naik kembali dari masa lalu, hal yang dulu sudah ia paksa untuk ia simpan jauh di belakang hidupnya.
"Jadi sekarang kamu datang untuk apa?"
Alden diam beberapa detik lebih lama dari yang nyaman.
Bukan karena tidak tahu jawabannya, tapi karena semua jawaban terasa tidak pernah cukup benar.
"Aku tahu," akhirnya ia berkata pelan. "Aku yang salah waktu itu."
Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan.
"Aku yang menyuruh kamu pergi. Aku juga yang menyakiti kamu..."
Alden menatapnya lebih langsung.
"Dan itu alasan aku ada di sini sekarang."
"Aku datang untuk minta maaf, Jani."
Anjani tidak langsung menjawab.
Jemarinya yang sejak tadi menggenggam sisi pintu perlahan mengencang.
Kata maaf itu datang terlalu terlambat. Bertahun-tahun terlambat.
Namun mendengarnya langsung dari mulut Alden tetap membuat dadanya bergetar.
"Maaf?" ulang Anjani pelan, suaranya masih dingin namun mulai retak di ujungnya.
"Kamu datang sejauh ini cuma untuk minta maaf?"
Alden menggeleng kecil.
"Bukan cuma itu."
Ia menarik napas panjang, seolah menahan sesuatu yang sudah terlalu lama menekan dadanya.
"Ada hal lain yang harus aku sampaikan," lanjutnya tegas, meski suaranya masih bergetar.
"Hal yang selama bertahun-tahun ini terus mengganggu ku... yang nggak pernah membuat aku tenang sedikit pun."
Ia menatap Anjani lebih dalam, kali ini tanpa ragu.
"Aku minta lima menit untuk bicara," katanya pelan. "Aku mohon."
Ia berhenti sejenak, menahan jeda yang terasa berat di antara mereka.
"Setelah itu aku akan pergi. Aku janji."
Keheningan langsung jatuh di antara keduanya, tidak hanya sunyi, tapi juga penuh sesuatu yang belum sempat diberi nama.
Anjani tidak langsung menjawab.
Ia menatap Alden lebih lama dari sebelumnya. Ada keraguan, ada ketakutan, dan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Namun di balik semua itu, perlahan muncul sesuatu yang lain. Hal yang tidak ia inginkan, tapi juga tidak bisa ia tepis begitu saja yakni rasa penasaran yang belum selesai.
Di dalam dirinya, Anjani sadar akan satu hal yang sulit ia sangkal, yakni kehadiran Alden masih punya pengaruh yang tidak sepenuhnya bisa ia tolak.
Bukan karena ia lupa rasa sakit itu, tetapi karena di balik semuanya, ia masih bisa melihat bahwa Alden yang dulu ia kenal tidak sepenuhnya "jahat" seperti yang pernah ia rasakan.
Ada sisi yang dulu pernah ia percaya. Dan sisi itu, entah kenapa, masih tersisa sampai sekarang.
Bersambung
bantu follow dan baca ya🙏