*Sinopsis Singkat:*
Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.
Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.
Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Bab 11: Masa Lalu Alya Terbongkar*
Dua minggu berlalu sejak Revan berangkat ke Bali.
Kafe Senja tetap buka seperti biasa, tapi suasananya beda.
Mas Bayu jadi lebih banyak diam.
Alya sibuk bolak-balik antara laptop, telepon editor, dan meja 7 yang kosong.
Book tour di Jakarta tinggal 5 hari lagi.
Semua jadwal udah fix. Poster udah dicetak.
Tapi Alya nggak merasa siap.
Pagi itu, notifikasi Twitter X-nya meledak lagi.
Bedanya, kali ini bukan komentar acak dari netizen.
Ini dari akun besar.
Akun gosip sastra dengan 200 ribu followers.
_“BREAKING: Penulis ‘Senja yang Tertunda’ Alya Maharani ternyata pernah terlibat skandal plagiat 3 tahun lalu.
Bukti chat dan draft lama bocor.
Apa penerbit nggak cek dulu sebelum terbitkan?”_
Di bawahnya ada tangkapan layar.
Chat lama antara Alya dan editornya dulu.
Draft bab pertama yang mirip 80% dengan cerpen milik penulis lain.
Tahun nya 2023. Dua bulan sebelum Dara meninggal.
Alya ngeliat itu, darahnya dingin.
Mas Bayu yang lagi nyapu langsung berhenti.
“Al… itu bener?”
Alya ngangguk pelan. Tenggorokannya kering.
“Bener, Mas. Tapi bukan kayak yang mereka bilang.”
---
Tiga tahun lalu, Alya masih di Jakarta.
Dia kerja di agensi kreatif, nulis iklan siang malam.
Malemnya, dia coba nyuri waktu buat nulis novel pertamanya.
Waktu itu dia ngirim draft ke editor senior, Pak Haris.
Pak Haris bilang,
“Bagus, tapi kurang ‘jualan’. Coba kamu baca cerpen Risa. Ambil feel-nya.”
Alya baca. Terinspirasi. Terlalu terinspirasi.
Dia nggak sadar kalau 3 halaman pertama novelnya hampir mirip.
Waktu ketahuan, penerbit batalin kontrak. Namanya dicoret dari daftar penulis muda potensial.
Pak Haris nggak kena apa-apa.
Alya yang dituduh plagiat.
Dara yang waktu itu masih sehat, marah besar.
“Kamu nggak nyontek, Al. Kamu cuma kecepetan dan capek. Tapi dunia nggak mau denger penjelasan.”
Setelah itu Alya kabur ke Jogja.
Nggak ngasih kabar ke siapa-siapa.
Termasuk ke Dara, yang 2 bulan kemudian masuk ICU.
---
Berita itu nyebar dalam 6 jam.
Artikel, thread, video TikTok.
Semua bilang hal yang sama: _Alya Maharani itu penipu._
Penerbit Alya telepon jam 11 malam.
“Al, kita butuh statement. Kalau nggak, kita tunda book tour.”
Alya duduk di meja 7, HP di tangan, tapi nggak bisa ngetik apa-apa.
Mas Bayu duduk di sebelahnya, nggak ngomong. Cuma ada.
Jam 12 malam, Alya buka Instagram.
Dia live. Tanpa persiapan. Tanpa makeup.
Rambut acak-acakan, mata bengkak.
“Hai,” katanya pelan. 200 orang langsung masuk.
“Aku Alya. Iya, aku yang di berita itu.”
Suara dia gemetar, tapi nggak putus.
“Tiga tahun lalu aku salah. Aku kelelahan, aku bodoh, aku nyerah sama deadline.
Aku nggak nyontek dengan sengaja. Tapi aku nggak ngecek. Dan itu salahku.”
Dia diem sebentar. Ngelap mata.
“Aku kabur waktu itu karena aku malu. Karena aku nggak tahu cara minta maaf.
Dan karena 2 bulan setelah itu, kakakku meninggal.
Aku nggak sempat bilang ke dia kalau aku nyesel.”
Komentar di live mulai berubah.
Dari hujatan jadi diam.
Dari diam jadi _‘kami dengerin kamu, Al’_.
“Aku nggak minta kalian maafin aku,” lanjut Alya.
“Aku cuma mau bilang, kalau aku masih nulis, itu karena aku belajar.
Belajar buat jujur. Belajar buat nggak kabur lagi.
Kalau kalian masih mau benci aku, nggak apa-apa.
Tapi tolong, jangan benci buku itu. Buku itu nggak bersalah.”
Live selesai 17 menit.
Alya matiin HP, terus nangis di bahu Mas Bayu.
---
Besok paginya, penerbit kirim email lagi.
_“Kita tetap jalanin book tour. Tapi kita tambah sesi Q&A tentang kejujuran dalam berkarya.”_
Di Twitter, tagar #MaafkanAlya mulai naik.
Bukan dari fans. Tapi dari sesama penulis yang pernah jatuh dan bangun lagi.
Revan telepon dari Bali jam 3 sore.
Suara dia pelan, tapi jelas.
“Aku lihat live-nya. Kamu hebat, Al.”
Alya ketawa kecil, serak.
“Kamu nggak kecewa?”
“Kecewa kenapa? Kamu manusia, Al. Dan manusia itu berantakan.
Aku suka kamu yang berantakan itu.”
Alya diem. Terus berbisik, “Pulangnya kapan?”
Revan ketawa pelan.
“3 hari lagi. Tunggu aku di meja 7.
Aku bawa cerita dari Bali. Kamu bawa cerita dari Jakarta.
Kita tukar.”
---
Malam itu, Alya buka buku catatan Rani.
Halaman terakhir masih kosong.
Dia tulis satu kalimat, tinta hitam, huruf kecil:
> _Ternyata, jujur itu lebih berat daripada kabur.
> Tapi rasanya… lebih ringan._
Di luar, Jogja hujan lagi.
Di dalam, meja 7 hangat seperti biasa.
---
*[Bersambung:]*
---