NovelToon NovelToon
Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Keluarga & Kasih Sayang / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Rootea

Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!

Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.

Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....

Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.

Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17 - Misi Perjodohan

Untuk menemukan jodoh, memang harus bertemu langsung.

Bisa-bisanya aku tidak langsung sadar bahwa Althea Grendahl adalah figur yang paling cocok untuk peran tokoh utama wanita.

Namanya santer di penjuru Kaelros, banyak dikenal biarpun hanya segelintir orang yang melihat wajahnya secara langsung. Di kuil-kuil kecil dekat wilayah selatan, ternyata namanya sering disebut dalam doa syukur. Di jalanan Valtheris, orang-orang berbicara tentang gadis muda dengan sihir penyembuhan langka yang mampu meredakan rasa sakit hanya lewat sentuhan tangan.

Berkah Kaelros, kabarnya.

Sebagian orang bahkan memberinya julukan vessel of echo—dari kekuatan dan berkah naga yang legendaris.

Rupanya, namanya memang menyebar lebih besar dari kesenangan gadis itu menunjukkan diri di publik. Selaiknya tokoh utama pemalu nan rendah hati, gadis itu tampak tidak memanfaatkan ketenarannya. Bahkan, ia nyaris tidak peduli—atau tidak peka.

Ayahnya, Roland Grendahl, adalah menteri yang mengurus tata upacara kerajaan—segala hal yang berkaitan dengan ritual, seremonial negara, dan hubungan formal antara istana dan rakyat. Dengan wilayah yang didominasi pertanian dan perkebunan, Keluarga Grendahl tersohor akan kebaikan hati mereka, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan pangan. Ketika masa paceklik yang cukup panjang melanda Kaelros, bantuan mereka bahkan dielu-elukan sebagai bantuan dari surga.

Kalau mengacu pada pengalaman bermainku dulu, keluarga seperti ini biasanya masuk kategori “faksi aman”. Tidak punya konflik besar, sering muncul di event awal, dan tidak akan jadi ancaman bagi tokoh utama pria.

(Sepertinya sih begitu)

Yah, pokoknya, semakin ditelusuri, Althea ini sungguh personifikasi pusat cerita utama. Semua tanda mengarah ke sana. Dan dia adalah yang paling cocok untuk mendampingi putra mahkota!

Sebagai mantan pemain veteran, aku akan membantu mereka untuk bersama! Ho ho ho!

Si pesta kemarin mereka sempat berdansa. Tapi, selepas acara itu mereka sama sekali tidak ada kemajuan. Caelian harusnya sudah menunjukkan lebih banyak reaksi. Mereka harusnya sudah ada progres signifikan. Tapi… Caelian begitu sibuk dengan tugas-tugasnya sebagai putra mahkota, dan Althea… aku tidak menyalahkan kalau dia masih segan.

Sebagai cupid kerajaan, aku sudah punya rencana untuk mengakselerasi hubungan ini.

...*...

...*...

...*...

Althea cukup sering datang ke istana—di luar undangan untuk macam-macam kegiatan para bangsawan. Ia terkadang mengantar dokumen untuk ayahnya, atau membawakan keranjang berisi penganan kecil, atau menjemput pria itu pulang. Sungguh hubungan keluarga yang harmonis. Setiap kali datang, gadis itu tidak pernah diiringi rombongan pengawal, hanya satu orang ksatria yang terlihat di dekatnya. Setiap kali datang pula ia selalu terlihat sederhana; tidak berpenampilan megah dan mencolok. Tapi, karena wajahnya cantik dan seolah punya lingkaran cahaya khusus tokoh utama, jadi tentu saja dia selalu terlihat cantik.

Pagi itu aku sudah menunggu di pekarangan depan istana sejak matahari belum tinggi. Begitu Althea melewati jalur batu dengan topi pucat bertali biru muda di kepalanya, aku langsung bergerak.

Tanpa menyapa, tanpa aba-aba, dalam satu lompatan cakarku sukses menarik topinya hingga terlepas.

“Eh—?”

Aku bergegas kabur dengan topi itu terapit di mulut.

Dan sesuai dugaan, Althea mengejarku. Tentu saja, aku tahu ini topi kesukaannya. Gadis itu sering memakainya biarpun musim berganti—dilapis tudung hangat ketika musim dingin tiba, ditambah jaring peneduh di waktu musim panas, dan berhias pita cantik di musim lainnya.

Topi itu kugigit sambil berlari kecil melewati taman. Di saat yang sama, Caelian baru saja keluar dari ruang pertemuan para bangsawan muda.

Timing yang sempurna.

Putra mahkota itu berjalan seperti biasa—postur yang sempurna, langkah yang terkontrol, presensi yang menyedot perhatian tanpa perlu melakukan hal besar. Selalu bergerak tenang dan elegan. Jubah putih bersulam emas bergerak ringan mengikuti langkahnya. Beberapa pelayan yang berpapasan otomatis menundukkan kepala tanpa diminta.

Aku menjatuhkan topi tepat di depan langkahnya.

Langkah Caelian terhenti. Sepasang mata sebiru langit perlahan turun ke arah topi itu, lalu sedikit naik ke arahku.

Aku mengeong ketika mata kami bertemu.

Caelian tidak mengatakan apa-apa ketika memungut topi itu.

Tepat ketika langkah tergesa Althea terdengar dari balik koridor.

“AH—!”

Gadis itu terdengar jelas menahan seruan begitu sadar siapa yang memegang topinya. Dia berhenti beberapa langkah di hadapan sang putra mahkota. Tubuhnya serta merta membungkuk, kain lembut gaunnya sedikit terangkat kala memberi salam.

“Yang Mulia,” ucapnya.

“Lady Althea.” Caelian menyahut diiringi anggukan kecil.

Aku nyaris memutar bola mata melihat interaksi kaku dan super formalitas ini. Ayolah, jalur utama seharusnya bisa lebih baik dari ini.

“Topi ini milikmu?”

Nah!

Telingaku bergerak-gerak antusias begitu Caelian melangkah mendekati Althea sembari menyodorkan topinya.

“Benar, Yang Mulia. Maaf, mengganggu kesibukanmu. Kucing kecil ini cukup usil.” Althea terlihat sedikit gugup ketika menjawab.

Ketika tatapan Caelian sejenak kembali bergeser ke arahku, aku hanya menjilati tungkai depan, berpura-pura tidak dengar, pura-pura tidak paham.

“Kurasa ia melakukannya dengan sengaja.”

Ha ha.

Jantungku sempat mencelos mendengar perkataan Caelian. Yang Mulia Putra Mahkota memang jago. Tentu saja aku tidak memberikan reaksi pada kalimat itu. Salah-salah, aku bisa dicurigai lebih dari seharusnya.

Althea menerima topi itu kembali dengan kedua tangan. Jemari mereka nyaris bersentuhan sebentar sebelum segera terpisah.

“Terima kasih, Yang Mulia.”

Caelian hanya tersenyum dan kembali menganggung samar.

Setelah itu, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Tapi juga tidak ada dari mereka yang langsung beranjak. Aku menatap mereka bergantian. Antara ikut merasakan kecanggungan sekaligus juga….

Ini artinya harapan, kan?

Caelian bukan tipe yang senang membuang waktu tak perlu. Tapi, lihatlah bagaimana putra mahkota itu berdiam dan memperhatikan selama Althea—sedikit canggung—memasang kembali topinya.

“Senang melihatmu kembali, Lady Althea.”

Hanya setelah Althea selesai berbenah, Caelian baru kembali berbicara. Dan setelah mengatakan itu, posturnya yang sempurna pun melangkah pergi.

Aku menyeringai diam-diam.

Tidak buruk.

...*...

...*...

...*...

Kesempatan berikutnya datang tidak lama setelah itu. Masih dalam musim yang sama, aku menemukan Althea duduk sendirian di gazebo belakang. Aku dengar menjelang ulang tahun kaisar, menteri upacara dan ritual kerajaan sedang sibuk-sibuknya, dan Althea jadi lebih sering berkunjung.

Langkahku ringan ketika menghampirinya. Gadis itu mengangkat wajah dari surat di tangan, dan tersenyum cerah.

“Halo, kucing kecil. Kau lapar lagi?” tanyanya.

Aku mengeong pendek sebagai jawaban. Sejak melihatnya di pesta waktu lalu, aku memang beberapa kali mengakrabkan diri pada perempuan ini, dan seperti kebanyakan orang, dia suka memberiku makanan kecil.

Aku melompat ke pangkuannya dan menggosokkan kepala ke lengannya dengan manja. Althea tertawa kecil, lalu mengeluarkan kudapan dari kantong kecilnya.

Lebih dulu aku menghabiskan kukis itu, sebelum melompat turun dan berjalan cepat meninggalkan gazebo.

“Eh? Sudah mau pergi?” Gadis itu berdiri dari kursi batu.

Aku menoleh dan sekali lagi mengeong manja, mengajaknya.

Orang baik hati seperti dia mudah sekali diarahkan.

Ia mengikutiku melewati lorong samping istana, menuju padang rumput yang dikelilingi Cypress berjejer menyerupa pagar. Di balik deretan Cypress itu ada kursi kayu dan lampion kristal yang dinyalakan saat malam tiba. Lalu, tak jauh dari sana, adalah ruang minum teh di mana aku biasa melihat Caelian menerima tamunya.

Seperti juga hari ini.

Dari balik jendela yang dibiarkan terbuka, aku melihat rambut emas itu ditemani pria tambun entah siapa.

Setelah memastikan Althea cukup dekat dengan jendela, aku menyelinap di antara deretan pohon. Dedaunan hijau yang rindang dengan mudah menyembunyikan tubuhku.

“Kucing kecil? Kau di mana?” Suaranya separuh berbisik, mungkin karena sadar ruang minum teh itu tidak jauh dari sana.

Tentu saja aku tidak menyahutinya. Alih-alih, dari antara dahan pohon, aku menjatuhkan cangkang serangga kering. Lebih tepatnya, cangkang cicada yang bentuknya masih sangat bagus dan sangat mirip serangga hidup. Tidak perlu tanya dari mana aku mendapatkannya—sejak jadi kucing waktu luangku sangat banyak dan macam-macam hal terlalu menarik untuk dibiarkan.

Cicada kering itu jatuh tepat di atas kepala Althea. Warna cokelatnya nyaris senada.

Satu cicada kering diikuti yang kedua.

Lalu tiga.

Lalu, cukup banyak sampai mereka berjatuhan di pundak, depan wajah, dan sekeliling gadis itu. Cukup banyak untuk memberi ilusi bahwa ini adalah serangan serangga hidup.

Seketika Althea memekik. Terkejut. Takut. Jijik. Tidak tahu tepatnya yang mana, yang jelas ia menjerit cukup nyaring sampai aku melihat kepala berambut emas Caelian menoleh.

Dari atas pohon, aku tertawa girang.

Merasa sudah cukup mengatur panggung, aku pun turun dan kembali menjejak di tanah.

“Althea?”

Sebuah panggilan terdengar.

“Ada apa?”

Sialnya, itu bukan suara Caelian, tapi… Jovienne!!

Dari antara deret pohon Cypress aku melihat gadis Solmara itu berjalan mendekat, tampak siap sedia menawarkan pertolongan. Persis seperti yang pernah terjadi dalam game, walau kondisinya berbeda.

Aku menghela napas panjang. Separuh bangga dengan kepekaan dan jiwa heroik gadis itu, tapi juga….!!

Cepat-cepat aku berlari ke arahnya, menghalangi langkahnya, dan menggigit gaunnya agar menyingkir dari sana.

Jangan ganggu jodoh orang, Jovienne!!

Rasa-rasanya ingin sekali aku berteriak pada perempuan bebal ini. Sayang, tentu saja Jovienne tidak paham. Dia tampak kesal dan berusaha menarikku lepas.

“Lumi! Kenapa kau menggigit bajuku? Apa yang kau lakukan pada Althea?”

Aku merengut mendengar tuduhan itu.

Tuduhan itu tidak salah, memang, tapi tetap saja tidak menyenangkan mendengarnya. Aku berontak dan mengeong-ngeong pelan. Berusaha mendistraksi Jovienne. Menahannya agar tidak mendekati Althea. Karena, aku yakin, tidak lama lagi, Caelian pasti—

“Cangkang serangga ini tidak akan menyakitimu, Lady Althea.”

Kepalaku menoleh cepat begitu mendengar suara khas itu.

Sesuai perkiraan, Caelian keluar dari ruang teh dan kini berdiri di samping Althea.

Bukan hanya itu! Dia mengambil cicada dari rambut Althea dengan ekspresi yang—hah?!

Dia tersenyum! Lebih lebar dari biasanya. Mata biru secerah langit musim panas itu bahkan tampak berkelip.

Althea merona dan membungkuk meminta maaf karena membuat keributan.

Caelian tertawa ringan.

Lalu, dia membersihkan serpihan daun dan debu yang mengotori rambut cokelat Althea.

Yeah..!!!!

Misi berhasil!!

Oh. OooohhH!

Caelian mengajak Althea ke ruang teh!

Sepertinya ada yang tidak ingin segera berpisah. Aaah. Senangnya. Usahaku membuahkan hasil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!