NovelToon NovelToon
KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:69.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"

Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.

Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.

Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Langkah yang Mantap

"Ega? Kenapa? Kenapa menangis kencang sekali, Sayang? Sini sama Papa," tanya Elang dengan nada suara yang berubah drastis menjadi teramat lembut, hangat, dan sarat akan kecemasan. Ia langsung berlutut di atas lantai marmer tepat di depan sofa, mengambil alih tubuh mungil Ega ke dalam dekapan bidang dadanya, lalu menepuk-nepuk punggung bocah itu dengan gerakan protektif yang begitu alami seolah mereka sudah bersama sejak lama.

Cindy yang duduk di samping Ega langsung memasang topeng wajah yang teramat sedih, panik, dan penuh duka yang menyayat hati siapa pun yang melihatnya. Ia menyeka sudut matanya yang sebenarnya kering dengan ujung jemarinya yang gemetar, melempar tatapan penuh keputusasaan dan rasa bersalah yang mendalam pada Elang. Rambut hitamnya yang diikat asal tampak sedikit berantakan, membingkai wajah pucatnya yang tirus.

"Sepertinya badannya masih terasa sakit semua, Mas," jawab Cindy dengan suara yang bergetar parah, sengaja diatur sedemikian rupa agar terdengar ringkih dan sarat akan penderitaan seorang ibu tunggal yang tidak berdaya di hadapan nasib buruk.

Ia menunduk dalam, mengusap bahu kecil Ega yang masih sesenggukan di pelukan tegap Elang. "Tadi ... tadi sudah aku ajak masuk kembali ke kamar tamu untuk tiduran lagi agar bisa istirahat, tapi ia menolak dengan keras. Ega terus merengek dari subuh bilang mau sama Papanya ... Ia hanya mau dipeluk oleh Mas Elang. Maafkan aku yang tidak berguna ini ya, Mas ... karena anak ini, waktu istirahat dan pagi pertamamu setelah menikah jadi terganggu lagi."

Mendengar penuturan Cindy yang dikemas rapi dalam nada memelas dan penuh duka yang mendalam itu, hati Elang seolah terenyuh, melunak hingga ke titik terdalam. Pria itu mengusap lembut helai-helai rambut tebal Ega, mencium puncak kepala bocah itu dengan penuh kasih sayang seorang ayah. Kulit telapak tangan Elang bisa merasakan hawa hangat yang masih menguar dari kulit dahi Ega.

Demam bocah ini memang belum sepenuhnya turun, dan fakta bahwa anak ini mencarinya sebagai sosok 'Papa' membuat Elang merasa memegang sebuah tanggung jawab mutlak yang tidak boleh ia abaikan atau nomor duakan demi apa pun di dunia ini, termasuk demi perasaan Alin.

"Sudah, tidak apa-apa, Cindy. Jangan meminta maaf terus kepada diriku, ini sama sekali bukan salahmu," sahut Elang lirih, matanya menatap wajah tirus Cindy dengan sisa-sisa kelembaban emosi masa lalu yang kini mendadak kembali bangkit dengan subur. "Sehubungan badan Ega juga masih terasa hangat dan lemas seperti ini, sebaiknya kita ajak ia kembali beristirahat di dalam kamar tamu. Udara di ruang tengah ini terlalu dingin karena embusan AC sentral yang tidak baik untuk kesehatannya."

Elang bangkit berdiri dengan gagah sambil menggendong tubuh kecil Ega yang perlahan mulai meredakan tangisnya karena merasa aman dan nyaman berada di dalam dekapan bidang sang ayah. Pria itu menuntun langkah kakinya menuju kamar tamu yang terletak di sudut lantai satu, diikuti oleh Cindy yang berjalan pelan di belakangnya dengan kepala merunduk.

Namun, saat Elang berjalan membelakanginya di depan, Cindy sempat memperlambat langkah kakinya sejenak di ambang pintu kamar tamu. Ia membalikkan tubuhnya sedikit, menengadah menatap tajam ke arah koridor lantai dua yang tampak sepi, sunyi, dan terkunci rapat dari dalam. Sebuah senyum hangat yang penuh kelicikan dan kemenangan mutlak terukir jelas di bibirnya yang tirus, bersanding kontras dengan binar matanya yang beberapa detik lalu tampak penuh duka nestapa. Cindy merasa berada di atas angin; setiap air mata buatan dan tangisan anak yang ia ciptakan terbukti mampu menggerakkan Elang layaknya boneka yang patuh tanpa bantahan pada kendali emosinya.

***

Sementara itu, di lantai dua, di dalam kamar utama yang luas, mewah, namun terasa begitu dingin, Alin sebenarnya mendengar dengan sangat jelas suara tangisan histeris Ega yang memecah kesunyian rumah beberapa saat lalu. Gerakan tangan kanan Alin yang sedang melipat baju di depan koper besar kainnya mendadak terhenti selama beberapa detik saat suara jeritan pilu anak kecil itu menembus sela-sela pintu kamarnya. Rambut panjangnya yang hitam pekat terurai bebas, bergoyang pelan mengikuti gerakan kepalanya saat ia melirik ke arah pintu.

Namun, tidak ada lagi rasa ingin tahu, rasa cemas, apalagi rasa cemburu yang tersisa di dalam lubuk hati Alin. Riak emosi itu telah mati total, dibunuh tanpa ampun oleh kalimat kejam Elang yang beberapa menit lalu menyatakan dengan tegas bahwa ia tidak pernah mencintainya dan masih mengagungkan sosok Cindy di atas segalanya.

Alin tidak tertarik sedikit pun untuk sekadar melongok keluar, berjalan ke balkon dalam, atau mencari tahu apa yang sedang terjadi di antara tiga orang yang ia anggap sebagai pemilik drama yang sesungguhnya di rumah baru ini. Bagi Alin, lantai bawah sudah berubah menjadi wilayah asing, penuh kepalsuan, yang tidak ingin ia sentuh atau campuri lagi seumur hidupnya.

Alin memilih untuk kembali fokus pada tujuan utamanya bersiap-siap pergi. Dengan gerakan tangan yang teratur, tenang, lambat, dan tanpa ada setitik pun air mata yang membasahi pipinya, ia memasukkan satu per satu pakaian miliknya, peralatan mandi, serta seluruh dokumen penting asli seperti ijazah dan kartu identitas ke dalam koper kain hitam berukuran sedang. Setiap lipatan baju yang ia benamkan ke dalam koper seolah menjadi simbol nyata dari kerelaan dan ketegasan batinnya untuk melepaskan status pernikahan konyol yang salah alamat ini dari hidupnya.

Setelah memastikan semua barang pribadi dan barang berharganya aman terikat di dalam koper, Alin mengganti daster katunnya dengan pakaian bepergian yang sopan dan kasual—sebuah tunik longgar berwarna abu-abu gelap yang dipadukan dengan celana panjang kain hitam. Ia berdiri di depan cermin meja rias, menyisir rambut panjang indahnya yang hitam berkilau dengan rapi, lalu mengikatnya dengan gaya ekor kuda yang simpel ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang bebas dari penutup apa pun. Setelah itu, ia meraih tas selempang kulitnya serta menggenggam handle kopernya dengan cengkeraman tangan yang teramat mantap.

Alin menatap kamar pengantin yang luas itu untuk terakhir kalinya dengan tatapan yang hambar. Ranjang megah berhias sisa-sisa kelopak mawar yang kini berantakan, kaca meja rias besar yang merekam jejak pucat dan dingin wajahnya, semuanya akan ia tinggalkan hari ini tanpa penyesalan. Langkah kakinya bergerak mantap menuju pintu kamar utama. Ia memutar kunci selot dari dalam dengan bunyi klik yang tegas, lalu melangkah keluar menuju koridor lantai dua dengan kepala tegak, dagu terangkat, dan hati yang sudah mengeras sekeras batu karang.

Pagi ini, Alin akan melangkah keluar dari rumah baru itu menuju rumah Nenek Aisyah bukan sebagai wanita lemah yang kalah bertanding dan mengadu sambil menangis pasrah, melainkan sebagai seorang perempuan merdeka dengan harga diri utuh yang menuntut haknya untuk segera dilepaskan dari lingkaran kebohongan pria arogan bernama Elang.

Bersambung ....

Sambil menunggu kelanjutannya, mampir yuk ke karya Dewi Risnawati

"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.

"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.

Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.

Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.

1
vania larasati
lanjut
🌸 𝑥𝑢𝑎𝑛 🌸
😂😂😂😂
merry yuliana
suruh ganti nama jadi burung perkutut aja kak
Naufal Affiq
kalau masih bodoh lagi kau elang,oma sudah mengasih jalan biar kau menjadi pintar,maka jalan kan apa yang harus kamu kerja kan
olyv
elang oon dikasih berlian kayk alin malah milih jalang kayak cindy siap² gigit jari kalo tetap keras kepala
Yul Kin
lanjut kak
Ayudya
nah apa yg di bilang nenek itu bener elang apa ada bukti kalau si Ega itu anak kandung kamu.seorang CEO kok bodoh banget🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
nah pilih yang mana lang
yuni ati
Elang galauu🤣
Teh Euis Tea
nah loh pilih elang km berani ga pilih cindi dan di miskinkan nenekmu atau km pilih alin tg tulus sayang sm nenekmu
Sugiharti Rusli
mungkin karena hubungan yang terjalin selama ini dengan Alin dan keluarganya, membuat nenek Aisyah lebih memilih dirinya jadi cucu menantunya sih,,,
Sugiharti Rusli
kira" nenek Aisyah tuh tahu pasti yah kalo watak Alin juga tegas seperti dirinya, tapi dia bisa menempatkan kapan waktunya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi kalo perusahaannya baru berkembang pesat tapi juga ada di bawah induk perusahaan keluarganya yah,,,
Sugiharti Rusli
memang perusahaan yang di bawah kendali si Elang itu bukannya start up yah, kira" apa hubungannya sama harta milik sang nenek, apa investornya kah,,,
Mommy Ghina: perusahaan start up, tapi masih berinduk dengan perusahaan almarhum suami Nenek Aisyah
total 1 replies
Sugiharti Rusli
ternyata nenek Aisyah meski sudah uzur, tapi wibawanya tetap terlihat yah saat berkata tegas kepada si Elang cucunya
Wiek Soen
setuju dg nenek, CEO kok goblok
Neaaaa(ʘᴗʘ✿)o(〃^▽^〃)o
😬😬, ga bisa berkutik kan bapak elang yg terhormat, berpikir lah secara benaar jangan cuma bulol yg tdk pada tempatnya daaah... hadeeeh.. 😏😏
Nasya
bagus nek tak setuju bgt biar kapok elang
Nasya
hedehh CEO oon
Halimatus Syadiah
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!