NovelToon NovelToon
Langit Pasar Subuh

Langit Pasar Subuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: Attalla Faza

Dinara Sasikirana kembali memulai hidup baru dari nol pasca perceraiannya dengan Tri Bayu. Rumah tangga yang ia bangun selama 5 tahun harus kandas karena mantan suaminya berniat melakukan poligami.


Dinara mundur demi menyelamatkan harga dirinya, meski ia tak punya apapun yang jadi tujuan hidupnya.

" Kamu nggak mau pulang ke Ngawi aja, Di? " tanya Mela sahabatnya

" Pulang dengan status janda? Yang ada aku di caci maki sama ibu dan bapakku, belum lagi cibiran warga yang anti banget sama janda.

Padahal belum tentu juga aku tertarik sama suami mereka. Makanya aku milih untuk tetap di kota ini, aku harus kerja dan berdiri di kaki sendiri, Mel"

" Bagus Di, aku suka prinsip hidupmu yang nggak menye-menye. Buktikan kalau kamu bisa bangkit dan nggak jadi beban buat mantan suamimu "

Dinara memang sarjana lulusan S1 di bidang marketing, tapi sayangnya ijazah itu tak pernah ia pakai sejak lulus 3 tahun lalu.

Ia terus mencari pekerjaan meski tak mudah, hingga akhirnya ia diterima kerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas Baru Dinara

Siang itu, suasana di Resto Kembang Desa kembali tenang dan tertata rapi seperti sedia kala. Masalah krisis bahan baku yang sempat mengancam operasional pagi tadi berhasil diselesaikan berkat Pak Aji dan Dinara yang menemukan Langit sebagai penyelamat di saat-saat terakhir.

Menu andalan kembali tersaji di meja makan para pengunjung, aroma masakan lezat kembali menguar, dan senyum puas kembali terlihat di wajah para tamu.

Namun, di balik ketenangan itu, pertemuan penting sedang berlangsung di ruang rapat di lantai dua . Di sana berkumpul Pak Edi selaku Manajer, Pak Aji Kepala Bagian Pembelian, Chef Dika mewakili dapur, serta Bu Wiwin dari bagian Keuangan. Topik pembicaraan hanya satu: evaluasi kerja sama dengan pemasok lama dan keputusan resmi mengganti mitra usaha.

Dinara tidak ikut serta dalam pertemuan itu. Kehadirannya sudah diwakilkan sepenuhnya oleh Pak Aji, mengingat ia hanyalah staf pelaksana. Saat itu, Dinara sedang duduk di meja kerjanya, dikelilingi tumpukan nota pembelian, daftar harga, dan kertas-kertas persyaratan kerjasama dengan berbagai vendor.

Tangannya bergerak cekatan memeriksa setiap angka, memastikan tidak ada kesalahan pencatatan, sekaligus menyeleksi data calon pemasok lain yang mungkin bisa diajak bekerja sama.

Setelah berjam-jam menunduk, matanya terasa sedikit perih dan tenggorokannya kering. Dinara pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Ia berjalan menuju area kasir, di dekat sana terdapat ruangan kecil berpenyejuk udara yang difungsikan sebagai ruang istirahat karyawan.

Ruangan itu sederhana, hanya ada meja, beberapa kursi, dan dispenser air. Di sinilah biasanya para pegawai mengisi waktu luang atau sekadar mengobrol santai di sela kesibukan.

Benar saja, Mela sudah ada di sana sambil mengaduk minumannya. Begitu melihat sahabatnya datang, wajah Mela langsung berubah cerah. Ia menggeser duduknya memberi ruang untuk Dinara.

"Wuih, baru kelihatan batang hidungmu! Dari tadi sibuk banget ya, Ra?" sapa Mela sambil menyodorkan satu gelas es kopi yang baru saja ia buat.

Dinara menerima gelas itu dengan senyum lebar, lalu duduk santai sambil menghela napas panjang lega.

"Sumpah ya Mel, tadi tuh rasanya tegang banget. Gegara Pak Anto yang kirim ikan busuk, aku sama Pak Aji sampai harus blusukan ke pasar induk. Kira jalan-jalan di tempat becek cuma buat nyari stok ikan dan kepiting yang layak masak. Bayangin deh, pake baju udah rapi dan wangi, eh kudu ngubek-ngubek pasar " cerita Dinara

Mela tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala, wajahnya menunjukkan rasa iba sekaligus kagum pada sahabatnya. Tak ada lagi Dinara yang nelangsa karena ditolak berkali-kali sama HRD, kini wanita terlihat seperti independen woman yang berdiri di kaki sendiri.

"Ya ampun, parah banget sih Pak Anto itu. Terus gimana kelanjutannya? Besok kita masih ambil barang dari dia nggak?"

Dinara langsung menggeleng cepat sambil menyeruput kopinya, seolah pertanyaan itu tak perlu ditanyakan lagi.

"Kayaknya nggak bakal lagi, Pak Aji sudah kadung kecewa berat, Mel. Beliau itu orangnya teliti banget, dan masalah pagi tadi bikin nama baik Purchasing Dept dipertaruhkan habis-habisan di depan Pak Edi."

"Terus Pak Edi ngamuk banget ya? Padahal orangnya biasanya kalem dan bijak Ra," tanya Mela penasaran.

Dinara mengernyitkan dahi, matanya melirik ke arah tangga yang mengarah ke ruang rapat seolah takut didengar orang lain.

"Justru itu Mel, Pak Edi itu kalau marah bukan teriak-teriak atau banting barang kayak orang tantruman biasa. Dia diem, mukanya datar, tapi tatapannya tajam banget. Percaya deh, diemnya orang baik dan sabar itu jauh lebih nyeremin ketimbang orang yang ngamuk heboh tapi sebentar doang. Pak Aji sampai keringat dingin tadi kalau aku lihat-lihat."

Mela mengangguk paham.

"Nah itu dia. Makanya aku suka kerja di sini, atasan tegas tapi benar. Nggak kayak di Selaya dulu, atasan galak tapi nggak tau apa-apa. By the way Ummi Dasyim apa kabar ya? kita sudah dua bulan disini, jadi lupa sama dia."

Dinara tersenyum kecut, namun tidak ada rasa sedih di matanya, hanya ketegaran yang sudah terbentuk.

"Biarin aja Mel, hidupku sudah jauh lebih tenang sejak nggak ada hubungannya sama mereka. Sekarang fokus kerja, nabung, sama nikmati hari-hari tenang."

Belum sempat obrolan mereka berlanjut lebih jauh, pintu ruang rapat di lantai atas terbuka lebar. Suara langkah kaki terdengar turun ke bawah. Rapat selesai. Tak lama kemudian, Ferdi menghampiri mereka dengan wajah sedikit kaku.

"Mbak Dinara, kita dipanggil sama Pak Aji. Katanya mau bahas hasil rapat tadi sama kita berdua," ucap Ferdi singkat.

Dinara dan Mela saling pandang. Dinara segera berdiri, merapikan sedikit pakaiannya, lalu mengikuti Ferdi menuju ruang kerja Pak Aji. Saat masuk, terlihat jelas wajah Pak Aji yang masih terlihat tegang dan serius. Keringat dingin masih terlihat samar di pelipisnya, tanda bahwa diskusi tadi cukup alot dan berat.

"Silakan duduk, Dinara, Ferdi," ucap Pak Aji tanpa basa-basi, suaranya berat namun tegas. Ia menatap kedua bawahannya bergantian. "Jadi begini, saya sampaikan hasil keputusan rapat kita barusan. Manajemen, dapur, dan keuangan sudah sepakat, kita memutuskan kerja sama dengan Pak Anto dan mulai hari ini kita resmi mengganti pemasok utama seafood dengan Mas Langit dari Pasar Induk Kasturi."

Dinara dan Ferdi mengangguk puas. Itu adalah keputusan terbaik dan paling masuk akal.

"Tapi," lanjut Pak Aji sambil menegakkan punggungnya, nada bicaranya menekan kuat, "itu bukan berarti kita lepas kendali dan percaya sepenuhnya. Ingat kejadian hari ini? Kita hampir celaka cuma gara-gara terlalu percaya sama janji pemasok. Saya tidak mau hal serupa terulang lagi, apalagi Mas Langit itu orang baru, belum kita kenal betul, dan belum pernah bekerjasama sebelumnya. Kita harus tetap waspada dan hati-hati."

"Terus strategi kita ke depannya gimana, Pak?" tanya Ferdi penasaran.

Pak Aji menarik napas dalam, lalu menjelaskan rencananya dengan rinci.

"Solusi yang disepakati adalah pengawasan langsung. Mulai besok, setiap subuh kalian berdua harus datang ke Pasar Induk Kasturi. Tugas utama kalian adalah memastikan pesanan kita, memeriksa kualitasnya langsung dari sumbernya sebelum dikirim ke sini. Saya tidak mau kecolongan lagi dengan cara percaya begitu saja pada barang yang dikirim ke resto."

"Harus subuh banget ya, Pak?" potong Ferdi sedikit keberatan. Ia membayangkan jam tidurnya akan berkurang drastis.

"Lah iya dong, Ferdi," jawab Pak Aji tegas namun sabar. "Mas Langit bilang kalau perahu dan kapal nelayan baru bersandar di dermaga jam empat pagi. Barang dibongkar, dipilah, dan dibawa masuk ke pasar sekitar jam setengah lima pagi. Nah, di situlah kalian harus ada. Datang lebih dulu, bawa daftar belanjaan lengkap dari dapur, pilih yang terbaik, pastikan segar, baru boleh dikirim ke sini.

Memang cara ini terlihat manual dan melelahkan, tapi nama baik restoran kita dipertaruhkan. Resto Kembang Desa itu punya nama besar, punya rating tinggi, pelanggan kita orang-orang yang pilih-pilih. Jangan sampai hanya gegara kelalaian kecil di cabang ini, nama besar resto jadi tercoreng dan berimbas ke semua cabang lain."

Dinara mengerti benar maksud Pak Aji. Ia sendiri sangat paham betapa berharganya kepercayaan yang sudah ia dapatkan di tempat ini. Baginya, kerja keras dan ketelitian adalah harga mati yang harus dibayar demi menjaga posisinya dan masa depannya.

"Terus ini masuk hitungan lembur nggak, Pak? Soalnya kan di luar jam kerja resmi," tanya Ferdi lagi, mencoba memastikan haknya.

Pak Aji tersenyum tipis, mengerti kekhawatiran anak buahnya.

"Sudah saya ajukan permohonannya ke bagian HRD. Mudah-mudahan di-ACC dan ada kompensasinya. Tapi untuk sementara waktu, saya mohon banget kerjasama dan pengertian kalian berdua. Ingat, kalau kita tunjukkan loyalitas dan kerja keras, Pak Edi pasti akan memperjuangkan hak-hak kalian sampai ke ownernya, Pak Haikal. Kalian kan tau sendiri, Pak Edi itu orangnya bijak dan sangat menghargai orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh."

Ferdi terdiam, tak punya alasan lagi untuk menolak meski di dalam hatinya masih terasa berat. Dinara menoleh ke arah Ferdi, lalu tersenyum kecil seolah memberi kode untuk menyanggupi. Bagi Dinara, ini justru kesempatan membuktikan diri lebih jauh lagi.

"Oke deh, kalau begitu kami siap, Pak," ujar Dinara mantap.

"Bagus," Pak Aji mengangguk puas. "Nanti sore saya serahkan uang bensin dan ongkos transportasi harian untuk kalian berdua. Mbak Dinara kan sudah kenal dan sempat ngobrol sama Mas Langit tadi siang, jadi saya harap kamu bisa beradaptasi dengan cepat soal teknis penimbangan, pemilihan barang, dan perjanjian kualitas sama dia. "

"Siap, Pak. Saya janji akan lakukan yang terbaik dan teliti semaksimal mungkin," jawab Dinara tegas.

"Baik, jadi jam 04.30 pagi kalian harus sudah ada di Pasar Induk Kasturi."

" Siap Pak. "

Malam itu, di kontrakan kecil yang sederhana milik Dinara, lampu masih menyala hingga agak larut. Dinara sedang duduk di pinggir kasur, melipat pakaian kerja yang sudah disiapkan rapi. Di sebelahnya, Mela sedang nyemil keripik dan menertawakan keluhan Ferdi yang harus subuh-subuh ke pasar.

"Dih, cuma subuh-subuh dikit aja ngeluh. Padahal dapet uang bensin sama lembur pula,"

" Ya sebenarnya males juga harus jalan subuh, tapi mau gimana lagi. "

"Kamu yakin nggak apa-apa pergi pagi-pagi banget ke pasar? Kan katanya Pasar Kasturi itu tempatnya ramai, kotor, becek, banyak orang macam-macam. Takutnya kamu kenapa-napa."

Dinara tersenyum tenang, lalu menepuk bahu sahabatnya itu pelan.

"Tenang aja Mel. Aku bukan Dinara yang dulu, yang lemah dan cuma bisa nangis kalau ada masalah. Aku sekarang Dinara yang punya tujuan, punya pekerjaan halal, dan punya harga diri yang harus aku bangun sendiri. Lagian kan ada Mas Ferdi yang nemenin. "

Mela mengangguk, meski kekhawatiran masih tersisa di matanya. Tapi semua pekerjaan pasti punya resiko sendiri.

Malam itu Dinara tidur lebih awal. Ia berdoa panjang, memohon kekuatan dan perlindungan pada Tuhan. Di dalam hatinya, ada rasa penasaran bercampur harapan. Pasar Induk Kasturi, tempat yang becek, amis, dan keras itu, entah mengapa terasa memanggil namanya. Ada firasat aneh yang menyelinap, bahwa pasar itu bukan sekadar tempat belanja bahan baku, melainkan awal dari babak baru dalam perjalanan hidupnya.

****

Langit masih gelap pekat, bintang-bintang masih berkedip malas di angkasa. Namun di Pasar Induk Kasturi, kehidupan sudah berjalan sangat sibuk. Suara bising mesin truk, teriakan para pedagang, suara tawa para kuli angkut, dan aroma khas laut yang bercampur dengan bau tanah basah menyambut kedatangan Dinara dan Ferdi. Udara dingin subuh menusuk sampai ke tulang, membuat napas mereka terlihat mengepul di udara.

Pasar itu sangat luas, jauh lebih besar dari pasar biasa yang pernah Dinara kunjungi. Di sini, segala sesuatu terlihat kasar, apa adanya, dan penuh perjuangan. Di sisi kiri kanan jalanan berlumpur, berjejer tumpukan peti kayu berisi es dan hasil laut yang melimpah. Suasana riuh rendah itu justru membuat hati Dinara bergetar. Ada sesuatu yang mempesona melihat semangat orang-orang yang bekerja keras sejak buta hari demi sesuap nasi.

"Wuih, rame banget ya ternyata, Mbak," ucap Ferdi sedikit berteriak agar suaranya terdengar di tengah hiruk-pikuk pasar. "Kita cari Mas Langit yang mana nih? Banyak banget lapak sama orangnya."

Dinara mengedarkan pandangannya, mengingat-ingat lokasi yang ditunjukkan penjual kemarin.

"Kalau nggak salah sih di ujung dekat dermaga, Mas. Tempat penampungan barang yang paling besar dan agak terpisah sedikit dari keramaian utama."

Mereka berjalan hati-hati menyusuri jalanan licin. Sepatu dan celana bagian bawah mereka perlahan-lahan menjadi kotor terkena cipratan air dan lumpur, tapi Dinara tak peduli. Ia terus melangkah dengan kepala tegak, buku catatan dan pulpen tergenggam erat di tangan kanannya.

Tak lama kemudian, mereka sampai di tempat tujuan. Di sana, suasana sedikit lebih tenang namun tetap sibuk. Dan di sanalah ia melihatnya kembali.

Langit berdiri di bawah lampu sorot terang yang digantung di tiang kayu. Ia masih mengenakan pakaian sederhana, kaos yang sudah agak kusam terkena percikan air laut, dan celana pendek kain. Kulitnya yang sawo matang berkilauan terkena cahaya lampu, keringat menetes di pelipisnya, namun raut wajahnya tetap tenang, fokus, dan penuh kendali.

Ia sedang memberi instruksi pada beberapa anak buahnya untuk memilah ikan-ikan besar yang baru saja diturunkan dari truk pendingin miliknya.

Gerakannya lincah namun penuh kehati-hatian. Saat ia memegang seekor ikan besar, kekuatan tangannya terlihat jelas, namun caranya memeriksa kualitas mata dan sisik ikan itu sangat teliti dan lembut. Sosok itu begitu kontras dengan lingkungan sekitarnya yang berantakan. Langit tampak seperti raja di kerajaannya sendiri, menguasai segala sesuatu dengan ketenangan yang mengagumkan.

Dinara berhenti sejenak, terpesona tanpa sadar. Ada rasa hormat yang tumbuh di hatinya melihat pria ini bekerja. Berbeda dengan Mas Tri yang dulu suka bersikap angkuh karena merasa punya jabatan dan harta.

Langit kala subuh tak selalu menyeramkan, sebab ia punya pesonanya sendiri untuk dinikmati.

1
Ma Em
Hancurkan mental Haura dulu Thor setelah itu baru Tri , biar pelakor Haura sadar bahwa dia yg salah sdh merebut dan menyakiti Dinara .
Esti Trianawati
Haura yg angkuh kayanya yg bakalan hancur mentalnya...dinara mentalnya sudah mulai kuat setelah badai yg diciptakan jin dasim .
Farida Dewi
dus jempol bwt ms langit,,Haura butuh ambulance Ng bwt bawa km k IGD ,,shock kn k🤭
Farida Dewi
ciee ada yg malu malu eek kebo 🤭🤣
Farida Dewi
gercep bingitt sih ms langit,,,Ng deketin anakny dulu mlhn deketin biangnya dl,,alias buapaknyaa
ihhh gemezzz deh SM ms langit 🤭
nurul @zna
Mas Langit..... TOP BGT 👍🏻👍🏻👍🏻
my beee🐝
kak atta lagi dong
Aylan
cieee aku juga GK pernah di bawain martabak🤭 kalo pengen beli sendiri😄
ɴᴏᴠɪ
astaga semoga si mas Amad gak muntaber beneran ya 🤣🤣🤣
ɴᴏᴠɪ
kasian mas Tri buang berlian demi batu kali 😄😄
Hatnah Batulicin
jgn lama lama ya Thor..aku selalu nunggu up nya 🥰🥰🥰
ɴᴏᴠɪ
dukung kakak nya mas Tri biar kapok si Haura 🤣🤣 karma berjalan
ɴᴏᴠɪ
curiga mas Langit udh mulai ada rasa sama mba Dinara 🤭🤭
ɴᴏᴠɪ
gitu dnk suka sama Dinara yg strong ,jangan lemah lagi ya .
ɴᴏᴠɪ
Malaikat mah pasti lebih menang dari jin dasyim Din, tenang aja
agnesty ferdiana
cie mas langit jalur ordal🤣
Loly Askhara
ceritane mas langit ngapel sekalian ngobrol sama pak Djarot, aah mas langit pinteran jah 🤭🤭
nurul @zna
Mas Langit mulai PDKT sama camer biar langsung goool... 🤭
Ma Em
Sudah jelas itu Langit emang menyukai Dinara , ayolah kalau emang langit suka sama Dinara cepat lamar lalu resmikan jadi pasangan suami istri agar jin Dashim tdk akan ganggu Dinara lagi .
Vips_momsky: buru2 amat mba...ga sabar pgn kondangan ya 🤭🤭🤭
total 2 replies
gina altira
Mas Langit beneran suka sama Dinara, ayolah gaskeunn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!